Janji Suci

Janji Suci
Bab 56


__ADS_3

"Nini.." Johan menepuk pelan pipi istrinya yang sedang tertidur nyanyak.


"Hemmm.." Nini menepis kasar tangan suaminya.


"Bangun.. Waktunya makan siang." Johan berbisik pelan


Nini membuka matanya dengan malas.


"Maaf aku ketiduran." kata Nini sambil duduk dan merapikan rambut serta mengusap wajahnya.


"Iya. Makan yuk, udah waktunya ni." Johan menunjuk jam di tangannya.


Nini tidak memperhatikan gerakan suaminya. Dia hanya menggangguk pelan.


"Ayo." Johan menarik tangan Nini.


"Kita makan di mana?" tanya Nini mengikuti langkah suaminya.


"Di tempat favoriteku." Johan melirik sebentar pada Nini.


"Doni gak ikut?" tanya Nini lagi ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Gak.. Ganggu aja nanti. Udah ah jangan bawel. Pasang sabuk pengamanmu." Johan menunjuk sabuk yang masih diabaikan Nini.


Mobil metalic hitam itu meluncur meninggalkan halaman kantor.


"Di sini." kata Johan ketika sudah sampai. Dia membuka sabuk pengamannya bersiap turun.


Nini masih memperhatikan restoran itu. Dia teringat kalau tempat itu pernah dikunjungi dia dan Maya.


"Restoran Italia." ucapnya pelan.


Nini menatap sekelilingnya ketika dipersilahkan duduk oleh Johan. Matanya berhenti pada tempat dulu di mana dia dan Maya pernah duduk bersama.


"Kenapa?" tanya Johan. Sejak tadi dia perhatikan wajah istrinya terlihat murung.


"Tidak apa-apa." Nini mengalihkan pandangannya dan menatap suaminya.


Johan berbalik melihat ke arah tatapan Nini tadi. Tidak ada yang menarik menurutnya.


"Kau pernah ke tempat ini?" tanya Johan lagi


"Pernah. Sama Maya."


"Sering?"


"Cuma sekali kok." Nini tersenyum simpul.


Seorang pelayan menyapa mereka dan mempersilahkan mereka memilih menu-menu spesial.


"Mau makan apa?" tanya Johan masih tetap fokus pada daftar menu itu.


"Apa aja."


Johan mengangkat kepalanya. Memperhatikan istrinya yang tampak tidak bersemangat.


Dia kenapa? Batin Johan


Johan memperhatikan daftar menu itu lagi.


"Fettucine al Grancio. Dua ya." ucap Johan pada pelayan itu.


"Minumnya tuan?" Pelayan itu menunjuk daftar minuman.


"Negroni." jawab Johan


"Aku air putih aja." Nini menjawab pelayan itu.


"Baiklah, akan segera kami antarkan." pelayan itu menundukkan kepala lalu pergi menuju dapur.

__ADS_1


Nini masih asyik memperhatikan sekelilingnya.


"Kamu punya sosmed?" tanya Johan. Matanya nampak serius menatap layar ponselnya.


"Punya dong."


"Apa namanya?" Johan menyodorkan ponselnya agar Nini mencari sendiri.


"Emmm.. Kamu aja deh yang ngetik."


"Ayolah." Johan berdecak kesal.


Nini menerimanya lalu mencari dan langsung memfollow.


"Udah ni." kata Nini sambil menyerahkan kembali ponsel itu.


"Langsung buka akun sosmed kamu." perintah Johan, dia masih mengutak-atik ponselnya.


Nini mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Sejak kemarin dia memang belum membuka ponselnya.


"Hemmmm.. Ya deh aku follback."


"Ganti foto profil kamu pake ini." Johan menunjukkan foto pernikahan mereka.


"Ishhh.. Emang wajib ya?" Nini menggerutu


"Wajib. Status kamu aja masih single, cepat ganti semuanya." Johan mendelik kesal.


"Lohh, kan gak penting juga. Itu cuma sosmed."


"Ganti foto profilnya sekarang, biar jangan ada yang macam-macam sama kamu." tegas Johan.


"Kirim fotonya lewat chat." wajah Nini sudah sangat merah. Dia menahan emosinya.


"Kamu bahkan tidak punya foto pernikahan kita?" Johan keheranan. Dia menggeleng pelan.


"Permisi tuan dan nyonya." tegur pelayan tadi. Dia menyodorkan makanan dan minuman yang dipesan tadi.


"Terima kasih." senyum canggung Nini terlihat jelas.


Johan masih menatap istrinya dengan datar. Dia tidak mempedulikan hidangan lezat itu.


Nini menggigit bibir bawahnya, berpikir untuk mencari alasan yang tepat agar Johan tidak marah.


"Aku lupa mengirimnya." Nini tidak berani menatap mata suaminya.


"Baiklah. Aku terima alasanmu. Akan aku kirim sekarang juga dan langsung kau ganti foto profil semua akun sosmedmu." Johan manggut-manggut.


"Aku lapar." Nini langsung meraih garpu dan menyantap hidangan itu.


"Kalau kamu mau marah, nanti aja pas di rumah ya. Enak ni makanannya. Sayang kalau disia-siakan." Nini menikmati makanan itu.


Kekesalan Johan langsung hilang melihat Nini yang tampak menikmati makanan itu. Dia tahu itu pasti bawaan anaknya.


Harusnya aku bisa mengontrol diriku. Jangan terbawa emosi hanya karena masalah sepele. Dia istriku, dan sekarang sedang mengandung anakku. Batin Johan.


"Kamu suka?" Johan menatap serius istrinya.


"Emmmm.. Suka banget. Eh,kamu kok gak makan?" tanya Nini heran, melihat Johan yang belum menyentuh makanannya.


"Ohh.. Iya. Hehehe, yuk makan." Johan mengangkat garpunya dan mulai menyobek daging kepiting itu.


Selesai makan, Johan membayar semua harga makanan itu.


"Yuk pulang." Johan memberikan lengannya untuk diraih sang istri.


Nini menyambutnya dengan senyum.


Langkah Johan terhenti saat berpapasan dengan Adit dan Lisa. Dia langsung membuang wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


Nini yang melihat keduanya langsung menyapa.


"Pak Adit, mbak Lisa?" tegur Nini.


Lisa memandang Adit sebentar lalu membalas senyum pada Nini dan Johan. Dia melirik tangan Nini yang menggandeng mesra Johan.


"Hallo. Kalian apa kabar?" sapa Adit dengan kalimat yang sangat lembut.


Dari nada suaranya, Johan tahu dia sedang ingin mengejek mereka.


"Baik kok pak." Nini tersenyum bahagia.


"Ayo jalan." Johan berjalan lalu menarik kasar tangan istrinya.


Lisa hanya tertunduk.


Nini berjalan dengan terbata mengikuti Johan.


"Kamu kenapa?" tanya Nini jengkel.


"Masuk." Johan membuka pintu mobilnya.


Nini masuk. Duduk dan memasang sabuk pengaman.


"Kamu kenapa Johan?" tanya Nini lagi saat mereka sudah keluar dari halaman restoran mewah itu.


Johan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia masih saja diam.


"Kamu kenapa??" Nini hampir berteriak.


"Aku tidak ingin berdebat." suara datar Johan membuat Nini terdiam kaku.


"Antarkan aku pulang ke rumah." Nini menundukkan kepalanya. Mencoba menahan air matanya.


Aku benci diriku yang dengan mudahnya menangis. Tahan Nini tahan...


"Tentu. Aku tidak ingin terjadi kekacauan di kantorku." jawab Johan sinis.


Nini mengangkat kepalanya menatap Johan.


"Maksudmu?"


Johan tetap diam. Dia memang tidak mau berdebat.


"Turunkan aku di sini." Nini sudah melepaskan sabuk pengamannya.


"Jangan aneh-aneh."


"Kamu kenapa Johan??" air matanya sudah tidak bisa lagi dibendung.


"Aku kenapa? Aku biasa saja Nini." Johan mengangkat bahunya.


Nini memukul lengan suaminya dengan kasar.


"Aku benci kamu." Nini terus memukul.


"Hentikan. Heii.." Johan berusaha mengendalikan kemudinya lalu mencari tempat untuk memarkir mobil. Dia menangkap kedua tangan Nini. Dan menatapnya tajam.


"Aku benci kamu. Kenapa sih kamu gak bisa menjawab pertanyaanku? Apa susahnya?" isak tangis Nini semakin menjadi.


"Maafkan aku." tatapan tajam itu berubah. Dia tidak sanggup melihat Nini yang terus saja menangis.


"Kenapa Johan? Tadi kita masih baik-baik saja, lalu kenapa kau berubah kasar saat bertemu dengan pak Adit dan mbak Lisa?" tangis Nini sesenggukan.


"Aku cemburu." kata Johan dan langsung memeluk Nini erat.


"Tolong jangan minta lagi alasannya kenapa aku cemburu." Johan mencium kepala istrinya.


Nini hanya terdiam. Dia sudah tahu alasan kenapa Johan cemburu. Dia berpikir karena Adit pernah menciumnya. Sampai saat ini dia tidak tahu kalau Adit mencintainya.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2