Janji Suci

Janji Suci
Bab 49


__ADS_3

Nini dan ibu sedang menyiapkan makan malam.


"Ayah kemana bu?" tanya Nini sambil menyusun makanan di atas meja


"Lagi ada rapat mendadak nak. Gak tahulah tentang apa."


"Jadi malam ini, makannya tanpa ayah dong?"


"Aduh sayang, kamu kayak baru pertama kali aja deh." Ibu menggeleng pelan


"Heheh. Pengen aja malam ini bareng ayah." Nini memandang hidangan yang ada di meja itu.


"Sudah. Sana panggil Andika sama suamimu."


"Siap komandan." Nini menggoda ibunya dengan bersikap seperti prajurit yang hormat pada pimpinannya. Ibu hanya tertawa melihat Nini yang seperti anak kecil.


Johan dan Andika sedang bersantai di teras depan. Mereka sedang bercerita tentang sesuatu.


"Makan yuk." Nini berdiri di depan pintu


"Iya. Ayo kak Johan."Andika sudah berdiri. Johan masih duduk dan menatap Nini seperti menginginkan sesuatu.


"Dik. Kamu duluan aja ya nanti kita susul kok." Nini yang mengerti dengan suaminya langsung meminta Andika duluan.


"Kenapa?" Nini mendekati Johan yang masih duduk.


"Aku pikir lebih baik aku tidak perlu ikut makan bersama."


"Maksudmu?" Nini menatap lekat suaminya


"Sepertinya orangtuamu tidak menyukai aku." Johan pun membalas tatapan istrinya.


Nini memegang tangan Johan.


"Tidak. Mereka tetap menerimamu. Hanya saja, mereka masih butuh waktu."


"Kalian makan saja dulu. Aku akan menyusul."


"Tidak.. Aku mohon jangan bersikap begini. Aku yang akan bingung. Kau suamiku dan mereka orangtuaku."


"Hmmmm.. Ya sudah, ayo." Johan langsung memilih mengalah karena dia tahu sebentar lagi Nini pasti akan menangis.


"Ayo sini nak." Ibu memanggil Johan dan mempersilahkan dia duduk.


Johan mencari ayah yang tidak kunjung bergabung.


"Ayah malam ini makan di luar nak. Ada kegiatan penting." ibu seperti langsung tahu maksud tatapan Johan.


"Ayo makan." sekali lagi ibu mempersilahkan Johan untuk makan.


Selesai makan, Nini dan ibu merapikan meja makan. Fany sudah kembali menuju kamarnya. Andika dan Johan pun kembali ke teras.


"Nak, apa kalian saling mencintai?" tatapan ibu membuat Nini menunduk malu.


"Aku tidak tahu bu."

__ADS_1


"Apa kau sudah mencintai suamimu?"


Nini mengangkat kepalanya, memandang ibu.


"Sepertinya begitu ibu. Hampir 2 bulan aku tidur dan bangun dalam pelukannya. Mustahil bagiku untuk tidak mencintainya." Nini berbalik membelakangi ibunya.


"Nak.." ibu berjalan mendekati Nini dan memegang bahunya. "Maafkan ayahmu, dia memang kecewa. Tapi percayalah dia tidak akan bisa membencimu."


"Ibu maafkan aku." Nini berbalik dan memeluk ibunya. "Aku tidak bermaksud membuat ayah dan ibu terluka. Jika memang kalian tidak menyetujui pernikahan ini, aku siap berpisah dengannya bu."


"Jangan sayang. Kami memang orangtuamu, tapi dia adalah teman hidupmu. Sampai kamu mati bahkan dialah yang akan menjadi temanmu." Ibu membalas pelukan anaknya dan mencium kepalanya.


"Ibu, apakah ayah tidak akan menerima Johan?"


"Jangan menangis sayang. Ibu yakin besok ayahmu akan menerima suamimu. " Ibu mengangkat kepala Nini dan menghapus air mata anaknya.


Johan yang tadinya ingin ke kamar mandi, ternyata mendengar semuanya. Dia langsung menghindar cepat ketika Nini dan ibu selesai berbincang.


"Kak Johan,aku duluan ya ke kamar." Andika pamit ketika Johan kembali ke teras.


"Iya. Selamat malam."


Andika hanya melambaikan tangan dan berlalu.


Nini memeluk suaminya dari belakang, melingkarkan tangannya di leher Johan.


"Apa kau akan mengahbiskan malammu di sini?" Nini berbisik pelan pada Johan.


"Kenapa kau sepertinya sangat berbeda." Johan menggengam erat tangan istrinya


"Kau memang sudah berubah. Aku seperti ingin...." belum selesai kalimatnya,Nini meletakkan jari telunjuk pada bibirnya.


"Jaga ucapanmu. Rumahku kecil dan dengan mudah didengar orang."


"Haha... Baiklah aku diam."


Nini menarik tangan suaminya menuju kamar. Wanita itu langsung memeluk erat suaminya ketika pintu kamar ditutup.


"Ada apa Nini? Kau berbeda sekali malam ini." Johan belum membalas pelukan istrinya.


"Aku merindukanmu. Aku takut kau pergi dari hidupku. Katakan, apa yang akan kau lakukan jika ayah tidak menyetujui hubungan kita?"


Johan mengangkat dagu istrinya. Menatapnya dalam penuh arti.


" Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan melakukan apapun sampai ayah setuju. Tapi jika kau yang menginginkan aku pergi, maka aku akan melakukannya."


"Apa maksudmu?"


"Aku mendengar semua perkataanmu pada ibu tadi." Johan melepas dagu isrtinya dan berjalan menuju jendela.


"Semuanya?"


"Ya, semuanya. Bahkan saat kau rela berpisah asal ayah dan ibu tidak kecewa." Johan menghembuskan nafasnya pelan.


Nini semakin terpukul. Kali ini dia benar-benar dilema. Mana yang harus dia pilih. Ayah cinta pertama dalam hidupnya atau Johan yang akan menjadi cinta terakhirnya.

__ADS_1


"Jadi kau tidak akan menepati janjimu?" Nini sudah berada tepat di belakang suaminya.


"Aku akan berusaha menepatinya. Tapi jika kau tidak ingin bertahan, maka percuma bagiku."


"Jahat.!!!" Nini memukul tubuh Johan dari belakang. Lelaki itu tetap diam, dia membiarkan istrinya berbuat sesukanya.


"Kau lupa pada janjimu waktu itu. Kau bilang padaku tidak pernah mengingkari janji pada manusia apalagi pada Tuhan." Nini sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.


Johan berbalik dan memeluk tubuh istrinya.


"Aku akan berusaha. Apa kau tidak mendengar perkataanku tadi? Aku hanya akan pergi jika kau menginginkan itu."


"Dengan mudahnya. Apa kau tidak berniat bertahan?"


"Jika kau memintanya, maka aku akan bertahan."


"Lepaskan aku." Nini mendorong kasar tubuh Johan


"Ada apa lagi" Johan memelas. Dia sudah mulai kesal, tapi masih bisa menahannya


"Kenapa semuanya harus sesuai keinginanku? "


"Karena aku ingin kau bahagia."


"Jika kebahagiaanku ada padamu?"


"Maafkan aku. Baikah, apapun yang terjadi aku akan tetap bersamamu. Sekalipun kau mengusir aku dari hidupmu."


"Aku tidak akan pernah melakukan itu." air mata Nini kembali berjatuhan.


"Baiklah. Aku akan selalu ada untkmu." Johan mendekap tubuh istrinya.


"Apa kau berjanji?"


"Tentu. Aku berjanji."


Nini membalas pelukan hangat suaminya.


Malam sudah semakin larut. Semua penghuni rumah sudah hanyut dalam mimpi mereka. Tapi Nini dan Johan masih sibuk melepas kerinduan mereka.


"Aku mencintaimu." bisik Johan lirih pada telinga istrinya.


Nini yang sudah lemas hanya terdiam memeluk tubuh hangat suaminya.


Johan mencium lembut kepala istrinya.


"Apa kau juga mencintaiku?" Johan menggoyang pelan bahu Nini


"Tidr Johan. Udah jam berapa ini? Aku capek." Nini mendengus kesal pada dada suaminya.


"Kau bahkan langsung kembali menyebalkan." Johan tertawa pelan mendengar jawaban istrinya.


Nini mencubit pelan perut suaminya. Beberapa detik kemudian dia sudah tertidur.


"Kapan kau akan memberikan aku anak?" Johan kembali mencium kening istrinya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2