
Memiliki anak adalah impian setiap pasangan yang sudah menikah. Meski berat, tapi Nini harus
menerima kenyataannya. Dia tetap bersyukur dan menjalani harinya dengan damai. Memang dia
tidak bisa memiliki anak, tapi paling tidak dia memiliki suami yang baik dan pengertian.
Sebagai seorang lelaki yang sukses dan memiliki istri yang cantik, Johan juga ingin mempunyai
seorang anak sebagai penerus keturunannya. Akan tetapi keinginannya ditepis sejauh mungkin. Dia
tidak ingin membuat Nini tersiksa. Baginya memiliki wanita sebaik Nini sudah cukup. Jika Tuhan
berkenan, mungkin suatu saat nanti keajaiban bisa saja terjadi.
Kini Maya dan Lisa selalu menemani Nini setiap hari Sabtu dan Minggu untuk mengunjungi panti.
Sudah hampir 3 bulan sejak Johan menyampaikan kabar duka itu. Nini sudah terlihat ceria seperti
dulu lagi.
“Mau ke panti lagi ya sayang?” tanya Johan saat masuk ke dalam kamar. Dia baru saja berolahraga di
sekitar taman rumah. Dilihatnya Nini yang sibuk menghitung bungkusan baju.
“Iya nih sayang. Hari ini kita mau bagiin kaos buat anak-anak. Besok hari Minggu akan ada kunjungan
dari Amerika loh.” Ujar Nini dengan wajah berseri.
“Amerika?” Johan mengernyit sambil duduk merengangkan otot-ototnya.
“Iya. Jadi selama ini ada seorang pendonor dana yang baik banget. Dia berkebangsaan Indonesia,
hanya saja sudah lama menetap di sana. Nah, sudah hampir 12 tahun dia menikah tapi belum
dikaruniai anak. Besok dia akan mengunjungi panti sekaligus mengangkat seorang anak.” Jelas Nini.
“Ohh, siapa namanya?” tanya Johan lagi.
“Kalau gak salah namanya ibu Sulistiawati.” Nini kembali menghitung jumlah bungkusan itu.
“Ohh, emang dari namanya sih asli Indonesia tuh. Ehh, semua baju kok warnanya sama?” Johan baru
menyadari kalau semua kaos berwarna kuning.
“Iya. Sengaja aku pesan warna yang sama, biar terlihat kompak. Ada juga kok yang ukuran dewasa
buat aku, mbak Lisa,Maya,ibu Tia dan para pengurus panti lainnya.” Senyum ceria Nini tergambar.
“Buat aku mana?” Johan menunjuk dirinya sendiri.
“Emang kamu juga mau?”
“Mau dong, besok aku pengen lihat seorang wanita seperti ibu itu. Siapa tahu bisa jadi contoh buat
kita kan?” Johan mengangkat kedua bahunya.
Seketika wajah Nini yang tadinya ceria berubah sedih. Perasaan tersinggung menghampirinya, dia
kembali menghitung baju-baju tadi agar Johan tidak melihat kesedihan di wajahnya.
“Iya. Kamu ada benarnya juga.” Ujar Nini pelan
Johan tidak melihat wajah sedih istrinya. Dia tertawa kecil dan menuju kamar mandi untuk
membersihkan dirinya.
Nini menundukkan kepalanya sedih. Dia terduduk di sofa dan membayangkan kejadian yang
menimpanya malam itu. Tangannya mengelus perut ratanya.
Andai malam itu kamu bisa diselamatkan, mungkin saat ini kamu sudah membesar.
Pelupuk matanya basah. Bayangan Amel saat tertawa puas menghantui pikirannya.
Jahat kamu Amel, sampai hati kamu membunuh anakku yang tidak bersalah.
Nini menghembuskan nafasnya pelan. Berusaha mengontrol emosinya.
“Baiklah, aku harus bisa menerima kenyataan ini.” Ucapnya lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
Panti asuhan terlihat ramai. Bukan karena pengunjungnya, tetapi sorak gembira anak-anak saat
menerima baju dari Nini. Maya dan Lisa juga turut membagikan baju-baju itu. Bahkan ide untuk
memakai pakaian yang sama, datang dari Lisa. Mereka menghitung semua biayanya dan membagi 3,
termasuk segala biaya untuk acara besok.
“Kenapa harus repot-repot buat acara nak? Kan ini Cuma kunjungan seperti biasanya.” Ujar ibu Tia
saat mereka bersantai di taman panti.
“Bu, ini bukan kunjungan biasa. Yang pertama, orang ini bersedia datang jauh-jauh dari Amerika.
Yang kedua, dia akan mengangkat seorang anak dari panti ini. Dan yang ketiga, ini juga sebagai acara
perpisahan untuk anak yang akan dipilihnya nanti. Jadi, ibu jangan menolak acara ini.” Ucap Nini
tegas.
“Ibu mengalah, semuanya ibu serahkan kepada kalian bertiga. Terima kasih ya.” Mata ibu Tia
memandang mereka bertiga.
“Iya bu. Kami senang kok melakukan hal seperti ini.” Sahut Lisa.
Maya hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
****
Keesokkan harinya...
Nini dan Johan sudah mengenakan kaos berwarna kuning polos. Sudah hampir jam 8 pagi, hari ini
mereka terpaksa tidak mengikuti ibadah demi melancarkan acara nanti siang.
Sesampainya di panti, Nini langsung bergegas membantu ibu Tia dan para karyawan panti untuk
menyusun kursi di taman.
Johan pun ikut bergabung dengan beberapa lelaki yang sibuk mendekor panggung kecil. Semua yang
hadir di sana memakai kaos berwarna kuning pemberian Nini dan kedua temannya kemarin.
“Mbak, maaf ya aku telat.” Ucap Maya pada Nini.
“Gak papa kok. Oh ya, mbak Lisa mana?” Nini menyapu halaman dengan pandangannya.
“Gak tau tuh mbak. Aku kira mbak Lisa udah datang sama mbak Nini.”
“Mungkin bentar lagi. Ayo kita ke dapur, siapin makanannya.” Ajak Nini sambil menarik tangan
Maya.
Johan mempehatikan istrinya yang tampak bersemangat. Sebuah senyum bahagia telukis di
wajahnya.
Lisa dan Adit memasuki halaman panti dengan mobil Lamborghini Huracan berwarna orange. Semua
tatapan tertuju pada mereka, kecuali Johan.
Wajah Lisa tersemu merah saat mendapati dia dan suaminya ditatap orang-orang.
“Selamat pagi semuanya.” Ucap Adit pada semua oran tapi matanya tertuju pada Johan.
“ Selamat pagi.” Balas ibu Tia dengan senyum bahagia. Ternyata Lisa menepati janjinya untuk
membawa suaminya hari ini.
Lisa mengenakan kaos kuning yang sama dengan orang-orang, tapi Adit memakai kaos hitam pas di
tubuhnya yang atletis. Dia tidak suka dengan pakaian bewarna cerah, terlalu feminim baginya.
Senyum ejekkan terlihat jelas di wajah Adit pada Johan yang memakai kaos kuning.
“Apa kabar adik?” Adit menghampiri Johan yang sedang memperhatikan para pendekor.
“Tidak perlu basa-basi. Aku muak.” Johan tidak mengindahkan sapaan Adit.
“Hahaha, kau masih membenciku?” Adit berdiri tepat di samping Johan.
“Apa untungnya bagiku?” Johan mendelik kesal.
“Kalau begitu kau harus bersikap biasa saja.” Adit mengangkat kedua bahunya tinggi.
Adit hanya melirik kepergiannya dengan senyum sinis.
“Tony bersikap biasa saja padaku, lantas kenapa kau masih membenciku adik kecil?” gumam Adit
pelan.
Tepat jam 10, orang yang ditunggu pun datang. Ibu Sulistiawati. Para anak-anak bernyanyi riang di
atas panggung menyambut kedatangannya. Beberapa lagu dikolaborasikan dengan gerakkan sesuai
irama, agar menarik. Selesai acara penyambutan yang diselingi dengan sepatah dua kata dari ibu Tia
sebagai ucapan terima kasih. Kini tiba acara makan bersama, anak-anak masih terlihat ceria.
Selesai acara makan, ibu Tia menaiki panggung sederhana itu. Raut wajah wanita paruh baya itu
terlihat sedih. Nini mengerutkan dahinya bingung.
Dengan berat hati, ibu Tia mengumumkan siapa yang akan dibawa ke Amerika besok.
“Marselia Putri.” Ucap ibu Tia lirih.
Nini membelalakkan matanya tidak percaya. Johan mengusap pelan bahu istrinya.
“ Seli di mana bu?” Nini menghampiri ibu Tia, saat wanita paruh baya itu turun dari panggung.
“Di kamar nak, dia sedang mengemas barang-barangnya.” Wajah ibu Tia masih bersedih.
Nini berlari menuju kamar Seli. Tepat di depan pintu, dia mengusap wajahnya agar tidak terlihat
sedih.
“Sel.” panggilnya lembut sambil tersenyum palsu. Dia harus terlihat kuat, agar Seli juga kuat.
“Kakak.” Wajah Seli justru terlihat senang. Dia berlari menghampiri Nini dan memeluk pinggang
kakaknya erat.
Nini mengusap air matanya cepat dan berusaha tetap senyum.
“Selamat ya sayang. Kamu terpilih menjadi anak angkat ibu Sulistiawati.” Nini setengah berlutut .
“Iya kak. Kata ibu Tia, Amerika itu jauh. Jadi aku harus segera menyiapkan semuanya.”
“Emmmm.. Sel, kalau misalnya kamu dikasih ponsel sama ibu angkat kamu, tolong ya hubungi
kakak.” Nini memberikan kartu namanya.
“Iya kak, makasih. “ Seli menerima lalu menyimpannya dalam koper.
__ADS_1
Nini kembali mendekati Seli dan mengusap lembut kepalanya.
“Kakak harap,kamu akan tetap menjadi anak baik ya setibanya di sana.” Ucap Nini lembut.
“Tentu kak. Aku akan menuruti semua perkataan kakak selama ini. Menghormati orang yang lebih
tua,menghargai semua orang,rajin berdoa dan belajar, harus jujur karena bohong itu dosa.” Seli
menghitung dengan jarinya.
“Intinya, Seli harus tetap menjadi anak yang baik.” Nini menghembuskan nafasnya pelan.
Seli menggangguk patuh lalu kembali mengemaskan barang-barangnya.
Nini menatap Johan yang sedari tadi bersandar di pintu, memperhatikan mereka. Seulas senyum
tersungging di wajah Johan sebagai bentuk penguatan bagi Nini.
Acara sudah berakhir, Seli juga sudah selesai dengan persiapannya.
“Untuk sementara kami masih tinggal di hotel, menunggu paspor dan surat-surat lain tentang Seli.”
Jelas ibu Sulistiawati kepada mereka semua.
“Iya bu. Liburan nanti seringlah berkunjung ke sini, kami akan merasa bahagia.” Ucap ibu Tia.
Mereka mengantar kepergian Seli bersama ibu angkatnya dengan kesedihan. Para anak-anak
melambaikan tangan dan bersorak gembira. Pikiran mereka masih terlalu polos untuk mengartikan
momen ini. Seli pun melambaikan tangan dengan wajah bahagia.
Nini merasa sedih. Johan memeluk bahu istrinya.
“Kamu yang sabar ya. Mungkin ini yang terbaik demi masa depannya.” Ucap Johan lirih.
Nini hanya menggangguk dengan tatapan kosong. Kini berkurang lagi orang yang dia sayang.
Dulu,Nini bertemu dengan Seli di persimpangan jalan dekat dengan gang menuju panti asuhan.
Saat itu, Seli berusia 5 tahun menjelang 6 tahun. Sejak pertemuan itu, Nini mulai simpatik dengan
gadis polos yang rada bawel.
****
Nini yang waktu itu terburu-buru menuju kantor, hampir menabrak seorang gadis kecil bergigi
ompong.
“Astaga, kamu gak papa?” wajah Nini pucat.
“Gak papa kok. Cuma ini yang sakit.” Gadis cilik itu menunjuk kakinya yang biru lebam.
“Ya Tuhan, sini kakak antar ke rumah sakit. Atau ke rumah kamu aja ya?” Nini berusaha merangkul
anak itu.
“Rumah aku dekat kok. Aku bisa pulang sendiri.” Anak itu bahkan masih tersenyum di antara
ringisannya menahan sakit.
Nini terkesima dengan anak yang baru dia temui hari itu.
“ Siapa nama kamu sayang?”
“Seli kak.” Senyum lebar menampakkan gigi ompongnya.
“Ya udah seli. Kakak antar ya, kakak janji siang nanti kakak bakal temui orangtua Seli.” Ucap Nini
dengan sungguh.
Nini menggendong tubuh Seli dengan enteng. Karena Seli memang kurus.
Seli menunjuk setiap jalan menuju rumahnya. Hingga sampailah mereka di depan panti asuhan.
“Mana rumah Seli?” Nini mengedarkan pandangannya di sekitar lingkungan itu.
Seli yang lincah, membuka pintu mobil tanpa menjawab pertanyaan Nini. Anak itu berlari menuju
pintu gerbang panti dan berbalik melambaikan tangan.
“Panti asuhan Kasih Bunda.” Nini mengeja pelan.
Nini juga turut melambaikan tangannya dan berlalu.
Siang harinya saat jam makan siang, Nini kembali ke panti itu membawa beberapa obat untuk luka
lebam Seli.
Seorang wanita paruh baya yang tidak lain ibu Tia, sedang sibuk memanggil anak-anak untuk makan
siang.
“Selamat siang.” Nini menyapa sopan.
“Selamat siang..” ibu Tia berbalik dan menatap heran wanita cantik dengan penampilan yang rapi.
“Seli ada ya bu?” tanya Nini sedikit gugup.
“Maaf, anda siapa?” ibu Tia tidak lagi memikirkan anak-anak yang tidak mau makan.
“Saya Nini bu. Tadi pagi tidak sengaja menyerempet Seli.” Nini menggigit bibir bawahnya. Dia sudah
menyiapkan hatinya jika memang harus diomelin atau dituntut, karena dia memang bersalah.
Ibu Tia justru tersenyum dan mengajak Nini bertemu dengan Seli. Sejak hari itulah Nini berjanji akan
__ADS_1
selalu ada untuk panti asuhan itu.
Bersambung....