
Sampai di rumah para pelayan langsung menyambut kedatangan mereka.
Semua barang-barang dibawakan menuju kamar.
Nini turun menggendong Michele.
"Bibi, bawa Michele ke kamar dong, Michele pengen liat ayah dan ibu Pinky."
"Iya sayang. Mereka juga udah kangen sama kamu dan Pinky."
Ketika menaiki tangga, Nini agak kesusahan. Tubuh Michele sedikit gempal dan lumayan berat.
Ibu Isma menggeleng lalu menyuruh seorang pelayan pria untuk menggendong cucunya.
Michele menurut saja.
"Mana ayah dan ibu Pinky bi?" tanya Michele ketika masuk ke dalam kamar dan melihat ranjang itu sudah tidak ada lagi sepasang boneka beruang.
" Ada kok sayang, tapi bibi simpan di dalam sana." Nini menunjuk ruangan pakaian
Michele berlari dengan semangat menuju tempat itu. Dia melongo kebingungan karena yang ditemuinya hanyalah deretan lemari besar dan rak sepatu tinggi.
Nini mengikutinya lalu menggendong menuju ruangan pakaiannya. Dia membuka sebuah lemari besar lalu meraih dua boneka itu. Dia memang sengaja menyimpannya demi Michele.
Gadis kecil itu langsung memeluk erat sepasang boneka pengantin itu.
"Boleh Michele bawa pulang gak bi?" mata Michele berbinar penuh harap.
"Boleh sayang." Nini menundukkan kepalanya memandang gadis kecil itu mencium lembut keningnya.
Suara ketukan pintu terdengar. Nini menarik tangan Michele keluar, membuka pintu kamar itu.
Amel sudah berdiri melipat kedua tangannya di dada.
" Ayo sayang. Ibumu sudah menunggu." Amel langsung menarik tangan Michele tanpa mempedulikan Nini.
"Ehh. Nanti aja aku yang antar dia." cegah Nini, dia sudah sangat kesal dengan Amel sejak tadi di mall.
"Lepasin gak? Ibunya udah nunggu tu." Amel melirik pada tangan Nini.
"Nanti aku yang anterin, kamu kok bawel banget sih jadi pengasuh?" Nini berpura-pura memancing emosi gadis menyebalkan itu
"Jaga bicaramu! Aku bukan pengasuhnya." Amel melotot pada Nini
Michele hanya melihat keduanya sambil memeluk erat boneka kesayangannya.
Nini segera menyadari bahwa ini bukan saat yang tepat, dia langasung mengacak lembut rambut Michele
"Kamu balik aja ya, nanti malam tidurnya di sini."
" Iya bibi, Michele pergi dulu ya." Michele melambaikan tangannya pada Nini.
Amel memegang tangan keponakannya, sebelum pergi dia masih menantang mata Nini dengan sangat kesal. Nini pura-pura cuek seolah tidak ada yang melihatnya.
" Siapa sih dia?" Nini menutup pintu sedikit kasar.
"Apa jangan-jangan dia itu kekasih Johan? Ahh, tidak mungkin. Wajahnya sangat berbeda dengan wanita di foto itu." Nini mengingat kembali kotak kayu kecil yang berhasil didapatkan kembali dari pelayan waktu itu.
Dengan susah payah dia membujuk pelayan itu. Dia juga pandai menyembunyikan benda itu sampai Johan pun tidak tahu.
Nini berjalan kembali menuju ruangan pakaiannya. Di sudut kamar itu ada sebuah lemari besar. Kunci lemari itu dipegangnya sendiri dan dia tidak memperbolehkan pelayan membersihkannya.
Johan yang selalu sibuk tidak terlalu memikirkan tentang kebersihan ruangan itu, yang terpenting baginya adalah bekerja.
Nini membuka kotak itu meraih foto mesra Johan bersama wanita cantik itu.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu hadir dalam mimpiku waktu itu?" Nini menghembuskan nafasnya kasar kemudian terduduk di lantai bersandar pada lemari.
Apa aku bisa dicintai Johan?
Perlahan hati terasa sakit melihat foto itu terus-menerus.
__ADS_1
"Kenapa dengan hatiku? " Nini menyentuh dadanya
"Bohong, aku tidak mungkin cemburu. Aku bahkan belum mencintainya lalu kenapa aku harus cemburu?" Nini mengusap wajahnya.
Dia kembali menatap foto itu menatap lekat wajah wanita yang berinisial J.
Suara langkah kaki bersepatu menyadarkan dia. Secepat mungkin Nini merapikan benda itu lalu memasukkannya dalam lemari seperti tadi, dia tahu itu pasti Johan.
" Kenapa kamu di situ?" tanya Johan ketika melihat Nini yang berdiri seperti orang bodoh
"Aku tadi mencari...." Nini berusaha mencari alasan
Johan langsung berbalik tanpa mempedulikan Nini. Dia melepaskan jas dan menggantungnya pada tiang gantung khusus jas dan jaket di ruangan pakaiannya.
Nini mengelus dadanya merasa lega dengan kepergian Johan. Dia keluar melihat Johan yang sudah duduk bersandar pada sofa sambil memainkan ponsel
"Ciee yang hp baru." Nini sengaja menggoda agar Johan jangan lagi bertanya
"Biasa aja, belum pernah lihat ya orang yang ganti hpnya tiap jam?" Johan malas meladeni istrinya
" Emang ada?" tanya Nini penasaran
" Ada kok, orang kaya yang belagu. Hahaha."
" Ishhh.."
Johan menarik tangan istrinya ketika melewatinya. Tubuh Nini terjatuh tepat di dada Johan.
" Temani aku mandi." Johan mengusap rambut Nini lembut
"Hahaha.. Kamu ini kayak Michele aja. Udah tua juga." Nini berusaha menghindari suaminya
"Aku mau malam ini dimanjain istriku." Johan sudah sedikit berbisik. Matanya mulai memerah.
Nini yang sudah tahu apa kemauan suaminya, langsung menggeleng cepat.
"Jangan, malam ini kita harus makan bersama. Michele juga ingin tidur di sini."
"15 menit lagi tepat jam 5. Kita masih punya waktu 2 jam sebelum turun makan malam." senyum licik terlihat jelas di wajah Johan
Nini menggeleng cepat. Berusaha bangun untuk menghindari niat suaminya.
Tangan Johan dengan cepat menangkap kembali tubuh Nini. Dia semakin mempererat pelukannya.
"Kau juga bahkan belum mandi." kata Johan berpura-pura menutup hidungnya.
Nini memukul pelan dada suaminya, dia tahu Johan hanya ingin membuatnya kesal.
"Ayo sekarang. Jangan membuang waktu lagi." Johan bersemangat menggendong Nini menuju kamar mandi.
Nini hanya pasrah saja.
Sampai di dalam kamar mandi, Johan mulai bereaksi. Nini hanya mendesah pelan menikmati perlakuan suaminya.
Hampir 1 jam di dalam kamar mandi, Johan belum juga puas. Selesai mandi belum juga memakai pakaian, Johan sudah melakukannya lagi pada Nini.
"Sudah, aku capek." keluh Nini pelan setengah berbisik.
" Diamlah, aku ingin mewujudkan keinginan orangtuaku." Johan mencium bibir istrinya.
Kembali menikmati setiap inci tubuh seksi istrinya.
Nini semakin lemas dan terlelap. Johan masih bekerja sampai mencapai kepuasannya.
"Ahh.." Johan tidur telentang di samping Nini. Dia sudah selesai.
Dia menatap Nini yang tidur dengan begitu tenang. Mengecup lembut kedua mata istrinya lalu mengusap pipi mulus itu.
"Aku masih ingat betul pertama kali wajahmu yang canggung ketika masuk ke kamar ini." Katanya lirih. Lalu mencium lagi kening istrinya.
Sudah hampir jam 7, Johan sudah memakai pakaiannya. Melihat Nini yang kelelahan, dia tidak tega membangunkannya.
__ADS_1
Sekali lagi dia mencium kening Nini sebelum turun.
"Aku sudah nyaman dengamu." bisiknya pelan.
Ibu memperhatikan Johan yang turun tanpa istrinya.
"Dimana Nini?" tanya ibu penasaran
" Dia sudah tidur bu, kecapean meladeni aku." Johan memasang senyum sinisnya.
Ayah dan ibu saling menatap sedikit menahan tawa. Tony hanya menggeleng mendegar perkataan adiknya.
"Bibi sakit ya?" tanya Michele yang tidak mengerti dengan maksud Johan
" Iya sayang, bibi lagi gak enak badan." Anna yang menjawab pertanyaan anaknya agar tidak ada lagi pertanyaan berikut.
Amel menahan perasaan marahnya.
Johan sudah tahu sejak siang tadi Amel tidak suka dengan Nini, dia sengaja mengatakan hal tadi di depan semua orang.
Amel meremas jemarinya kuat di bawah meja. Dia benar-benar marah dengan perkataan Johan tadi.
Makan malam pun berlangsung.
Johan sangat menikmati makan malamnya, begitu juga dengan yang lainnya. Hanya Amel yang menderita.
"Paman, aku tidurnya sama paman dan bibi ya?" pinta Michele setelah selesai makan.
Mereka semua sedang bersantai di ruangan keluarga sambil menonton tv.
"Ahh, sayang. Bibimu lagi sakit. Kalau kamu ke sana takutnya ketularan sakit bibi." Johan menarik pelan hidung keponakan cantiknya
"Kan Michele calon dokter. Nanti bakalan sembuh kok." Michele melirik pada Johan dengan penuh harapan
Bagaiman ini? Nini belum juga memakai baju.
"Paman janji besok malam kita bakalan bobo bareng." Johan menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Michele tertunduk mentapa bonekanya dengan kecewa.
Anna menggendong anaknya berusaha membujuk
"Lain kali aja sayang. Lagian kita kan masih ke sini nanti, gak usah cemberut gitu." Anna menggoyang lembut dagu Michele
Johan merasa bersalah, dia tahu Michele sudah merasa nyaman dengan istrinya.
"Michele tidurnya sama oma dan opa aja, nanti oma bakal ceritain yang seru-seru." kali ini pak Hartono yang bersuara.
Ibu Isma mencubit paha suaminya
"Mau cerita apa?" bisiknya pelan agar tidak terdengar cucunya
" Apa aja bu, yang penting cucu kita jangan cemberut gitu." pak Hartono juga berbisik pelan pada telinga istrinya
Michele mengangkat wajahnya menatap oma dan opanya.
"Beneran oma mau cerita?" suara Michele sudah kembali semangat
" Iya dong sayang, oma mu ini punya banyak cerita." pak Hartono merentangkan kedua tangannya
"Asyikk.. Michele mau kok." anak itu sudah berlari menuju pangkuan opanya.
Amel masih terdiam, memandang lurus ke tv. Tidak ada yang peduli dengannya. Bukan karena mereka tidak ingin memperhatikan, hanya saja mereka mengira Amel sedang menikmati acara tv.
Hampir jam 10 mereka sudah menuju kamar masing-masing.
Amel masih sempat melirik punggung Johan.
Harusnya aku yang memelukmu erat. Harusnya aku yang tidur denganmu.
Batin amel.
__ADS_1
Bersambung.....