Janji Suci

Janji Suci
Bab 66


__ADS_3

Sentuhan lembut di tangan Nini, membuatnya tersadar. Perlahan dia membuka matanya.


Seseorang dengan wajah lesuh menatapnya.


"Sayang." ucap Johan.


Terasa remuk seluruh tubuh Nini. Dia merasa lemah. Sudah seminggu lebih dia tertidur tanpa menyadarkan diri.


Selang-selang melingkar diseluruh tubuhnya.


Terbayang kembali kejadian yang menimpanya waktu itu. Nini mengguncangkan tubuhnya.


"Nini." Johan memeluk tubuh istrinya yang sudah mulai kurus.


Dekapan orang tersayang membuatnya merasa lebih baik.


"Tenang sayang. Ada aku di sini." Johan meneteskan air matanya.


"Aku takut." bisik Nini lirih.


Johan merasa sedikit lega. Paling tidak keadaan Nini sudah agak stabil dengan berbicara begitu.


"Jangan takut. Aku selalu ada untukmu."


Nini merasa damai berada dalam pelukan hangat itu.


Johan menghubungi para dokter.


Selang beberapa saat, dokter Jeslin datang dengan 2 orang dokter lainnya.


Dokter Jeslin selaku dokter spesialis kandungan, hanya bisa mengontrol.


Mereka memeriksa Nini dengan teliti. Kemudian berjalan keluar.


"Keadaan fisiknya sudah stabil tuan. Hanya saja mentalnya masih terganggu. Saya harap anda dan keluarga harus merahasiakan tentang janinnya yang tidak terselamatkan. Anda juga pernah menjadi dokter, saya pikir anda sudah berpengalaman." dokter lelaki paruh baya itu memukul pelan bahu Johan. Sebagai tanda prihatin.


"Terima kasih dokter." ucap Johan dengan tatapan hampa.


Johan kembali masuk, mendapati Nini yang terbaring.


"Kapan aku pulang?" tanya Nini saat Johan duduk di sampingnya.


"Mungkin besok atau lusa. Kamu yang sabar ya sayang." Johan mencium kening istrinya.


Nini menantikan saat kepulangan itu.


Keesokkan harinya, selang-selang di sekitar tubuh Nini sudah dilepaskan.


Johan merasa lega.


"Hari ini aku bisa pulang sayang?" tanya Nini saat semua perawat dan dokter keluar.


"Belum sayang, bersabarlah untuk beberapa hari ke depan." tutur Johan lembut.


"Ahhh.. aku merasa bosan Han. Badanku sakit semua." keluh Nini.


"Iya sayang. Habis ini aku akan menyewa tukang pijit terbaik. Agar tubuhmu merasa lebih baik."


"Iya. Terima kasih."


"Johan.. Kamu bisa pulang hari ini. Kasihan dirimu sudah tampak lusuh." dokter Jeslin menghampiri mereka.


"Ahh.. Aku akan di sini sampai istriku pulih." Johan menggenggam erat jemari Nini.

__ADS_1


"Dia sudah pulih Han. Jangan khawatir, aku akan menjaganya."


"Sudah berapa hari dia di sini dok?" tanya Nini sembari menatapa mereka bergantian.


"Sudah hampir 1 minggu Nini. Lihatlah dia sangat berantakkan seperti tidak terurus." dokter Jeslin terlihat prihatin.


"Pulanglah sayang. Aku sudah lebih baik." Nini memengang tangan suaminya memohon.


"Tidak. Aku ingin bersamamu." bantah Johan lembut.


"Kalau begini nanti malah kamu yang sakit Han." dokter Jeslin mengingatkan. Dia sudah mengganggap Johan seperti adiknya sendiri.


"Pulanglah. Jangan khawatir sayang. Aku akan baik-baik saja."


"Baiklah, aku akan pulang. Tapi aku akan mengutus para pengawal ke tempat ini." Johan menghela nafasnya pelan.


"Lihatlah sikapmu.. Kau berbuat seolah rumah sakit ini milik orang lain. Jangan ragu Han, aku yang akan mengontrol istrimu." dokter Jeslin menggeleng.


"Baiklah, aku percayakan istriku padamu kak. Jaga dia baik-baik." Johan mengalah.


Dia mencium kening Nini dan berpamitan pada Jeslin.


"Aku pulang ya." Johan melambaikan tangan pada kedua wanita itu.


"Istirahatlah Nini. Aku akan mengontrolmu setiap 2 jam sekali." dokter Jeslin menyelimuti Nini.


Lampu ruangan VIP itu tidak dimatikan ketika si pasien tidur. Mereka sudah tahu tentang phobia yanh diderita Nini.


Lelaki paruh baya berpenampilan seperti pemulung sedang duduk di depan rumah sakit. Sejak tadi dia terus memperhatikan pintu utama Rumah sakit yang megah itu.


Dia mengangkat ponselnya dan menghubungi seseorang ketika Johan meninggalkan halaman parkir.


"Dia sudah berangkat." katanya .


Seorang perawat masuk ke dalam ruangan VIP tempat Nini berbaring. Jam 2 dini hari, keadaan rumah sakit tampak sepi.


Nini kaget. Dia memberontak tapi perawat itu dengan cepat mengikatnya dengan tali.


Kemudian perawat itu menelpon seseorang dengan sedikit berbisik.


Listrik di rumah sakit itu padam seluruhnya. Semua orang tercengang. Ada yang sengaja melakukannya.


Saat listrik dinyalakan oleh pihak keamanan RS itu, kamar Nini sudah kosong.


Dokter Jeslin teringat. Dia berlari menuju ruang penginapan Nini.


Wanita itu melongo saat melihat keadaan ruangan yang kosong itu.


"Celaka." dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Johan kaget saat menerima telepon dari Jeslin.


Dia berlari keluar memanggil para pengawalnya menuju rumah sakit.


Para perawat dan dokter di sana sudah tegang. Entah apa yang akan terjadi jika Nini benar-benar diculik.


"Dimana dokter Jeslin??" teriak Johan penuh amarah.


"Han.. Maafkan aku.." Jeslin berlari mendekati Johan.


"Apa aku bilang tadi?? Kenapa kau menyuruhku pulang?" seluruh urat di wajah Johan nampak membesar.


"Cepat geledah seluruh rumah sakit ini." Johan memerintahkan para pengawalnya.

__ADS_1


Dokter Jeslin masih tertunduk merasa bersalah.


"Kau.. Cepat periksa sistim keamanan di sini." suara Johan menggelegar memenuhi ruangan.


Para dokter dan petugas medis lainnya berlari menghampiri komputer yang tersambung dengan cctv.


Johan memicingkan matanya. Memperhatikan gerakan perawat yang masuk ke dalam ruangan Nini. Sayang, tiba-tiba listrik padam dan hilang sudah jejak wanita itu.


"Sialann..." Johan memukuk keras meja di hadapannya.


"Periksa lagi rekaman cctv. Lihat setiap pengunjung di sini. Pasti ada yang mencurigakan." Johan mengusap kasar wajahnya.


Dia hampir gila.


"Coba lihat ruangan ganti para perawat. Cepat..!!!"


Dan tertangkap sudah sosok yang menculik Nini.


Wanita itu tampak asing bagi Johan.


"Apa dia bekerja di sini?" tanya Johan tidak sabar.


"Tidak tuan. Kami tidak mengenalnya." seorang pengawas cctv di RS itu menjawab.


"Sialan. Percuma aku mempercayakan kalian untuk mengurus semuanya. Lebih baik aku tutup rumah sakit ini." Johan memporak-porandakkan isi ruangan itu.


Semua orang yang ada di sana hanya menunduk pasrah.


"Kenapa kalian malah bengong? Cepat cari tahu siapa wanita itu!!!" teriaknya lagi penuh amarah.


Sementara itu di rumah kediaman keluarga Hartono, semua tampak menegang. Bahkan ibu Isma hampir stroke mendengar kabar buruk itu.


Untunglah sang ayah dengan cepat membantu ibu untuk bersandar.


Ibu Idah meremas jemarinya sambil terus mondar-mandir. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan majikan kesayangannya itu.


Wanita paruh baya itu memutuskan untuk menemui Amel. Dia sudah menaruh curiga pada gadis itu. Sejak awal kedatangannya selalu ada masalah.


Amel tertidur nyenyak. Seperti tidak ada masalah yang terjadi malam ini.


Ibu Idah menggedor pintunya kencang.


Amel mendengus kesal. Lalu mengusap matanya dan membuka pintu itu.


"Ada apa?" tanya Amel dengan kasar.


Ibu Idah masul dan mencengkram lengan Amel.


"Siapa dalang dari semua ini?" ibu Idah tampak menahan emosinya.


"Maksudmu?" Amel terlihat bodoh. Dia melepaskan tangan ibu Idah.


"Aku tahu. Kamulah penyebab kejadian tadi. Di mana keberadaan non Nini?" ibu semakin kesal.


"Heh.. Jangan asal tuduh ya. Kamu kira cuma saya satu-satunya orang yang membenci nona mu itu?" Amel mencibir.


"Di mana non Nini?" ibu Idah semakin memperbesar volume suaranya.


"Tahu.. Ihhh, ngotot amat ni orang. Dibilang gak tahu ya berarti gak tahu."


"Jangan macam-macam ya kamu." kecam ibu Idah lalu pergi dari kamar itu.


Amel melirik kepergian ibu Idah sambil menahan senyumnya.

__ADS_1


"Iya. Awalnya aku ingin menyakiti nona muda mu itu. Tapi ternyata tidak perlu menguras seluruh tenagaku. Ada juga orang lain yang membenci dia. Hahaha." Amel kembali berbaring.


Bersambung......


__ADS_2