Janji Suci

Janji Suci
Bab 38


__ADS_3

Nini membuka matanya perlahan. Hari sudah pagi. Suara burung diluar sudah sangat berisik baginya.


Nini menguap lebar, mengusap matanya pelan. Tangan Johan memeluk erat pinggangnya. Dia menyibak selimut, tampak tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun. Dia melirik pada suaminya.


Keterlaluan deh, apa gak bisa kamu pakaiin aku baju?


Nini membuang jauh tangan Johan. Kemudian berjalan menuju kamar mandi membersihkan dirinya.


Perbuatan Nini tadi membuat Johan tersadar. Lengannya sedikit ngilu. Dia melihat Nini sudah masuk ke dalam kamar mandi


Untung saja kau lebih cepat, kalau tidak habislah kau masih sepagi ini.


Johan menarik selimutnya lalu tertidur lagi.


Di dalam kamar mandi, Nini berendam air hangat sambil memikirkan tentang Amel dan wanita di foto itu.


Siapa mereka sebenarnya?


Hari ini acara pernikahan Adit dan Lisa. Tepat jam 3 nanti resepsi tersebut akan diadakan di sebuah hotel bintang 5 milik keluarga Adit.


Waktu baru akan menunjuk jam 9.


Nini kembali mengunjungi danau di belakang rumah. Dia memandang ikan-ikan yang berenang kesana kemari.


"Pekerjaan makin banyak, tapi aku udah janji sama ayah dan ibu akan pulang tahun ini." Nini menopang wajahnya dengan tangan kiri, tangan kanannya mengetuk pagar kayu tempatnya bersandar sekarang.


Nini menghembuskan nafasnya pelan merentangkan kedua tangannya,memejamkan matanya dan menengadah ke langit.


Dia tidak menyadari keberadaan suaminya.


Johan mendekati perlahan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


"Muahh" Johan mencium pipi Nini


"Ihhhh..." Nini membuka matanya lalu mendorong tubuh suaminya


"Kenapa?" Johan menarik kasar lengan Nini


"Ganggu meditasi orang tau gak?" bibir Nini komat kamit seperti membaca mantra


"Gitu aja marah, dasar cerewet." Johan menarik hidung Nini sampai kepala Nini tertunduk ke bawah


"Ahhhh.... Sakitt" Nini memukul tangan Johan pelan


"Hahaha.. Makanya jangan cerewet." bukannya kasian Johan malah tertawa.


Hidung Nini berwarna merah ketika Johan melepaskannya. Johan semakin gemas melihat istrinya yang terlihat semakin cantik ketika sedang marah.


Nini membanting kakinya kesal, lalu berjalan menuju rumah.


Amel yang memperhatikan kemesraan mereka dari jauh serasa ingin sekali membunuh Nini.


Wanita perebut..


Nini memegang hidungnya yang masih terasa ngilu. Johan berlari menyenggol bahu istrinya


"Auhhh.. Issshhh kamu kenapa sih?" Nini bertanya dengan setengah berteriak


Johan terus berlari menuju rumah. Nini memilih diam tanpa menghiraukan kegilaan suaminya pagi ini.

__ADS_1


Diam-diam ada rasa bahagia dalam hatinya. Dia sekarang sudah terbiasa dengan suaminya yang jail.


senyum tipis menghiasi wajahnya. Langkah demi langkah dia menuju rumah utama sambil menikmati udara pagi.


Semua keluarga tampak berkumpul di teras belakang. Nini dapat melihatnya dengan jelas karena rumah ini didominan oleh kaca yang jernih. Dia langsung berjalan menuju ke sana, tiba-tiba Amel muncul mensejajari langkahnya


"Apa kau bahagia?" tanya Amel yang membuat Nini kaget


"Bahagia apanya?" Nini balik bertanya


"Telah merebut kebahagiaan orang lain." Amel berjalan lebih dulu menuju teras belakang.


Nini berdiri terpaku di tempatnya, mencerna dengan baik kalimat Amel tadi.


Siapa sih wanita stres itu?


Akhirnya Nini mengurungkan niatnya untuk bergabung. Dia memutar haluan menaiki tangga menuju kamarnya.


Tawa bahagia di teras belakang sama sekali tidak merubah hati Amel. Dia justru semakin terluka melihat Johan yang terus mencari istrinya. Jangankan berbicara, menatapnya saja tidak sama sekali.


Sebenarnya Johan sama sekali tidak berniat melakukan itu pada Amel, tapi sikap Amel kemarin yang tidak menyukai istrinya membuat Johan sangat marah.


Nini duduk murung di tepi ranjangnya.


Merebut kebahagiaan orang lain.. Siapa yang aku rebut kebahagiaannya?


"Turunlah! Orang-orang mencarimu. Sejak malam tadi kau belum juga berkumpul dengan mereka." Suara Johan mengagetkan Nini


Wanita itu menyembunyikan perasaan gundahnya.


"Aku boleh bertanya sesuatu?" Nini menyentuh tangan suaminya


"Emmm tentu."


"Wanita yang mana?" Johan berpura-pura tidak tahu


" Yang datang bersama kak Tony dan keluarga kecilnya."


" Ohh, itu Amel sepupu kak Anna. Kenapa?" Johan sudah duduk di samping istrinya


Nini manggut-manggut.


"Ayo turun ke bawah." Nini bangkit berdiri menarik tangan suaminya.


Johan menatap penuh curiga pada Nini. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Nini.


Dengan cepat dia menghempaskan tubuh Nini di atas ranjang. Posisinya sudah berada tepat di atas tubu istrinya.


"Katakan padaku, kenapa kau bertanya tentang wanita itu?" hidungnya sudah menyapu seluruh wajah istrinya


Nini memalingkan wajahnya menghindari Johan


"Aku gak boleh tanya ya?"


"Katakan sekarang juga!" Suara Johan terdengar memaksa


"Baiklah akan aku katakan tapi kau turun dulu." Nini melotot pada Johan.


"Hemmm.. Katakan" perintah Johan ketika mereka sudah duduk seperti tadi

__ADS_1


"Dia bilang aku merebut kebahagiaan orang lain." Nini mengangkat kedua bahunya


"Apa? Hahahahha.." Johan tertawa sejadi-jadinya.


Nini tahu itu hanya tertawa yang dibuat-buat. Dia mengangkat kedua alisnya melihat suaminya yang memang sudah seperti orang gila.


"Lalu karena itu kau tidak ingin bergabung?" tanya Johan masih dengan tawa sisanya


"Iya. Aku pengen tahu aja kenapa kok dia ngatain itu sama aku?"


"Udahlah gak penting." Johan melambaikan tangannya ke udara.


"Siapa dia sebenarnya?" Nini tidak bergeming sama sekali. Dia masih pada tempatnya duduk tadi


"Apa pedulimu padanya?"


"Hahah.. Iya aku tidak perlu peduli karena perkataannya tadi tidaklah menyakitiku." air mata Nini jatuh. Ternyata hatinya sakit dikatakan demikian. Dia merasa marah karena Johan sendiri tidak pernah mau menjawab setiap pertanyaannya tentang wanita di foto itu maupun Amel yang sekarang.


"Yahh nangis lagi deh. Apa cuma ini senjatamu istriku?" wajah Johan terlihat marah tapi hatinya tidak tega melihat Nini yang terus saja menangis.


"Kamu tersinggung dengan kata-katanya?" Johan bertanya lagi


"Atau ada lagi yang lebih menyakitkan?"


Tentu. Aku benci kamu yang tidak ingin menjawab semua pertanyaanku.


Nini terus saja menangis. Johan semakin kesal dibuatnya karena tidak menjawab satu pun pertanyaannya.


Johan duduk di sofa membelakangi istrinya.


"Katakan apa maumu Nini. Keluargaku menunggu kita di sana."


Nini mengusap air matanya setelah merasa agak baik, dia pun keluar tanpa mengajak suaminya.


"Heii lihatlah dirimu yang tidak sopan pada suami sendiri." Johan mengejar Nini lalu menggenggam tangan Nini.


Mata Amel dengan cepat menangkap mereka berdua.


Tidak mungkin mereka saling mencintai. Aku tahu mereka hanya berakting. Amel berusaha meyakinkan dirinnya


Menyadari mereka sedang diperhatikan Amel, Johan memeluk pinggang Nini. Tentu semakin panas hati wanita itu.


Michele berlari menjemput Nini. Dia menarik tangan bibinya menuju meja yang telah disiapkan teh dan beberapa cemilan lainnya.


"Baiklah sayang. Pelan-pelan nanti kamu jatuh loh." kata Nini ketika Michele menarik paksa tangannya.


"Bibi sakit apa?" tanya Michele polos


Wajah Nini langsung berubah merah ketika ditanya demikian. Semua orang di situ menahan tawa mereka sambil menunggu jawaban apa yang akan diberi Nini.


"Bibi sakit pinggang sayang." Johan yang menjawab pertanyaan Michele


"Apa karena kemarin bibi gendong Michele naik tangga?" anak itu bertanya lagi dengan polos


Bukan sayang, tapi karena menahan beratnya tubuh pamanmu ini. Batin Nini


"Ohh iya bener pasti karena itu. Sekarangkan Michele udah gede." Johan kembali membual.


Gadis kecil yang masih polos itu hanya percaya saja pada pamannya

__ADS_1


Sekali lagi mereka tertawa. Amel juga terpaksa ikut tertawa menutupi perasaannya.


Bersambung.....


__ADS_2