
Setelah kejadian kemarin, Johan dan Nini tampaknya sudah semakin dekat. Bahkan semalam mereka melakukan hubungan suami istri lagi. Yah meskipun sedikit berdebat.
Saat sarapan pagi bersama, ayah dan ibu merasa senang melihat wajah Johan yang tampaknya sangat bahagia.
" Makin bersinar aja auramu Han." Goda ibunya saat sedang makan bersama.
" Ahh. Ibu bisa aja, emang bisa ya ibu bedain aura bersinar dan gelap?" tanya Johan sambil menikmati sarapannya
" Bisa sayang. Buktinya sekarang iya kan ayah?" ibunya menyenggol pelan ayah.
" Udah bu jangan gangguin anak-anak kita. Apa ibu gak lihat wajah Nini udah merah menahan malu?" ayahnya Johan juga ikut menggoda
Nini hanya senyum dan pura-pura menikmati makanan itu. Meskipun sebenarnya dia ingin sekali cepat-cepat menghabiskan makanannya.
" Emmm." Johan melihat jam yang melingkar di tangannya. " Bentar lagi jam 7 ni, apa kamu gak telat?" tanya Johan pada istrinya.
Nini hampir tersedak, dia cepat-cepat mengambil air dan meneguknya.
" Ayah ibu aku pamit ya." Nini langsung berdiri dan hampir berlari dengan secepat mungkin dia berbalik dan mencium pipi Johan.
Johan tersentak kaget tapi langsung senyum. Dia tahu maksud Nini, mereka harus pura-pura mesra di depan keluarganya.
" Gak diantar Han?" tanya ibu
"ohh.. Dia gak mau bu, jadi gak papa kok." Wajah Johan terlihat santai meski sebenarnya dia sangat bahagia
Nini sudah masuk ke dalam mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi.
Tinggal 15 menit lagi jam 8, untunglah Nini sudah sampai di tempat parkiran.
Nini melangkah dengan sedikit tergesa.
"Mbak Nini!!" teriak Naya dari kejauhan.
Nini membalikkan tubuhnya melihat Maya yang juga tergesa-gesa.
"Huhhh.. Selamat pagi mbak." Maya menghembuskan nafasnya kecapean.
"Iya pagi. Kenapa sih buru-buru amat." Nini bertanya namun wajahnya terlihat acuh.
" Gak papa mbak, takut telat aja. Hehe."
"Hemm.. Udah ahh masuk." Nini menarik tangan Maya
Sampai di dalam kantor, keduanya penasaran dengan beberapa karyawan yang sedang asyik bercerita.
" Ehh ada apa?" Maya menepuk kasar bahu seorang karyawan pria.
Pria itu balik dan memasang wajah maranhya namun langsung senyum melihat Nini yang berdiri di samping Maya.
" Ibu belum tahu ya?" mata lelaki itu tertuju pada Nini
"Ehh aku yang nanya kenapa jawabnya ke mbak Nini?" Maya menepuk lagi bahu pria itu.
__ADS_1
"Ohh, maaf ya bu. Ini ada undangan pernikahan dari bos kita." pria itu menyodorkan undangan.
Maya langsung membuka mulutnya terkejut dan cepat-cepat menutupnya dengan tangan.
Nini juga merasa sedikit terkejut dengan undangan itu
"Kapan ni acaranya?" Tanya Maya lagi pada pria itu.
" 2 hari lagi bu." pria itu berkata dengan sangat sopan. " Dan di undangan itu mengharuskan kita semua hadir." pria itu menunjuk kalimat terakhir pada undangan tadi.
" Di ruangan kita ada gak undangannya?" kali ini tetap Maya yang bertanya sedangkan Nini hanya diam, merasa heran kok ada wanita yang mau sama bosnya yang sedikit gila dan sangat sombong itu.
" Ada semua kok bu."
"Ayo mbak." Maya menarik tangan Nini menuju ruangan kerja masing-masing.
"Gak nyangka ya, ternyata CEO kita yang tampan bakalan nikah." kata Maya ketika sudah sampai di depan pintu ruangan Nini
" Kenapa? Dia kan juga manusia Maya." kata Nini dengan nada santai
"Iya juga sih mbak. Aku pikir jodohnya sama mbak loh. Hehe padahal udah cocok banget kelihatannya." Maya cengengesan di depan Nini.
" Jaga bicaramu Maya. Kalo ada yang denger gimana?" wajah Nini langsung pucat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu
"Iya deh mbak. Maaf. Aku ke ruangan kerja dulu ya. Bye mbak." Maya melambaikan tangan pada wanita yang sudah dianggap kakaknya itu.
Nini hanya menggeleng pelan,lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Pasti dia adalah wanita hebat yang bisa meruntuhkan hati pak Adit." ujar Nini. Dia sangat bahagia, Setidaknya rumor tentang dia dan Adit sudah akan berakhir.
***
Johan berjalan memasuki kantornya. Membalas sapaan hormat dari para karyawan. Hari ini dia terlihat sedikit berbeda. Bukan penampilannya, tapi kebahagiaan yang nampak di wajahnya. Dia membalas senyum pada semua orang hampir setiap saat.
" Pak Johan jatuh cinta kali ya?" bisik seorang wanita pada temannya
" Gak tau tuh. Tapi cara senyumnya kayak beda gitu ya. Wajahnya juga udah kelihatan ceria kayak dulu lagi." jawab teman wanita itu
" Huh.. Iri deh aku sama cewe yang udah bisa rebut hati direktur kita."
"Sssshh.. Kalo kedengaran gimana? Ayo kerja lagi." wanita itu melambaikan tangan pada temannya.
Doni membukakan pintu bagi sahabatnya. Sejak kedatangan Johan tadi dia melihat ada perubahan di wajah pria tampan itu.
" Selamat pagi bos." kalimat Doni sedikit mengejek
" Apa maksudmu hah?" Johan seperti ingin meninju kepala sahabatnya.
" Ada apa denganmu bos? Kau tampak berbeda hari ini." Doni menahan tawanya takut kalau Johan tiba-tiba akan memukulnya
" Apa yang berbeda?" Johan mengangkat kedua tangannya lalu melihat ke sekeliling tubuhnya.
"Haha.. Bukan penampilanmu Han. Kau selalu terlihat tampan dalam keadaan apapun. Tapi hari ini ada yang berbeda denganmu, kau tampak lebih ceria dari hari-hari sebelumnya." Doni menggeleng pelan dan tertawa bahagia.
__ADS_1
" Berhenti menggodaku Doni. Aku sudah jijik dengan perkataanmu seperti itu. Pergi ke tempatmu bekerja aku ingin bekerja sekarang." Johan melambaikan tangannya mengusir Doni
" Baiklah bos." Doni kembali menggoda sahabatnya lalu berbalik.
" Eittss.." Doni menghentikan langkahnya dan berbalik lagi pada Johan
" Ada apa lagi Doni???" Wajah Johan sudah terlihat kesal
" Astaga langit baru saja cerah kenapa harus mendung lagi Han??" Doni tertawa
" Katakan apa lagi?"
"Ada undangan pernikahan untukmu. Sudah aku simpan di dalam laci kerjamu."
" Dari siapa?"
" Sepupumu Aditya." Doni sedikit menahan tawa lalu bergegas keluar ketika Johan sudah memegang cangkir kopi. Doni tahu jika sudah sangat marah Johan akan melempar cangkir itu padanya sekarang juga.
" Sialan.. Doni sini kamu." Johan semakin marah karena sahabatnya sudah lebih dulu keluar sebelum amarahnya terlampiaskan
" Kenapa dia mengundangku? Apa penting baginya?" Johan meraih undangan itu dan membuangnya pada tempat sampah.
Ponselnya berdering, ada panggilan masuk. Hohan semakin kesal melihat panggilan dari Aditya.
" Ada apa?" tanya Johan ketus
" Haha kenapa sekasar itu adikku?" tanya Adit dengan nada mengejek
" Katakan ada apa?" Suara Johan semakin tinggi
" Datanglah ke acara nikahku Johan. Kalau kau merasa kurang terhormat dengan undangan tulisan, aku akan datang ke tempat kerjamu sekarang."
" Jangan injakkan kakimu di kantorku. Aku tidak butuh kau hadir di sini." nada suara Johan penuh emosi
"Haha baiklah adikku. Aku harap kau akan datang." Adit langsung menutup teleponnya.
Johan membanting ponselnya keras.
Doni berlari masuk mendengar keributan di dalam ruangan Johan.
" Ada apa Han?" Doni berlari menuju Johan yang sudah bergetar sangat emosional
" Pergilah Doni aku sedang ingin sendiri." suara Johan sedikit berbisik matanya menatap keluar jendela.
" Baiklah Han." Doni merasa khawatir dengan sahabatnya.
Johan sangat membenci Adit. Dia masih teringat kejadian beberapa tahun lalu ketika Adit mencium Jessika tepat di depan matanya.
Jessika memang sudah tiada, tapi rasa bencinya pada Adit masih saja terbayang. Johan semakin marah mengingat senyuman kemenangan Adit ketika mencium Jessika kekasihnya kala itu.
"******** itu." Mata Johan sangat merah.
Bersambung.....
__ADS_1