Janji Suci

Janji Suci
Bab 62


__ADS_3

Beberapa jam setelah kejadian itu, Nini memutuskan untuk menemui Amel.


Dia berjalan keluar dari rumah yang megah itu. Hangatnya matahari senja menyentuh kulit putihnya.


Johan sedang keluar bersama ibu. Nini mengambil kesempatan ini agar bisa berbicara langsung dengan Amel, sebelum wanita itu dipecat.


Beberapa pelayan yang sedang duduk santai di depan teras langsung berdiri dan menundukkan kepala padanya.


Nini masih berusaha tersenyum pada mereka, meski keadaan hatinya sedang kacau.


"Ibu Idah ada?" tanya Nini pada mereka.


"Tidak ada non. Sedang mengontrol para pelayan di rumah utama." jawab seorang pelayan sopan.


" Di mana kamar Amel?" tanya Nini lagi masih dengan wajah ceria.


Para pelayan itu saling pandang. Mereka semua sudah tahu tentang rumor yang beredar, kalau Amel ingin merebut Johan dari Nini.


"Mari saya antarkan non." tawar seorang pelayan kepada Nini.


Pelayan itu mengetuk pelan pintu kamar Amel. Tidak lama kemudian, pintu dibukakan.


"Ehhh, non Nini." tegur Amel sok sopan.


Pelayan itu mempersilahkan Nini. Dan dia pun pamit pergi.


Amel melirik sepintas pelayan itu, dan menatap Nini yang sudah berdiri di hadapannya.


"Mari masuk. Masalah tidak boleh diselesaikan di luar begini bukan?" senyum Amel sok imut.


Nini melangkah masuk, masih tanpa suara.


Dia mengamati kamar itu. Cukup mewah bila diberikan untuk pelayan.


"Duduk." Amel menyodorkan sebuah kursi.


"Tidak perlu." Nini melipat kedua tangannya dan menatap tajam Amel.


"Woahh, ada apa denganmu Nini? Hahaha.. Aku jadi takut." Amel tertawa renyah.


Nini berjalan mendekati Amel.


"Katakan apa maumu?" tanya Nini geram.


"Aku? Hahaha." Amel menunjuk dirinya sendiri


"Bukankah sudah aku bilang, aku hanya ingin merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."


"Jangan mimpi. Johan adalah suamiku. Dan aku tidak akan membiarkan wanita sepertimu merebutnya."


"Ohhh.. Calm down dear, that was just a prank. Hahahah." Amel melambaikan tangannya.


"Jaga ucapanmu Amel. Aku tidak bercanda." Nini menatap lekat wajah Amel.


Kali ini Amel memilih tidak akan takut lagi dengan ancaman Nini. Sudah cukup waktu itu dia mempermainkannya. Dia bertekad akan menghamcurkan Nini.


"Ini baru permulaan Nini. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu lebih menderita." Amel juga menatap tajam Nini.

__ADS_1


"Silahkan berharap. Suamiku tidak akan lagi jatuh dalam pelukanmu."


"Ah... Aku sudah tidak lagi peduli dengan Johan. Sejak dulu, aku tidak mencintainya. Aku hanya ingin menjadi menantu dari keluarga kaya ini. Tapi, aku sudah tidak lagi menginginkan itu." Amel tersenyum miring.


"Apa maumu?" Nini mengerutkan dahinya.


"Aku hanya ingin melihatmu menderita sayang. Sungguh menyenangkan tadi aku bisa langsung menyaksikan kamu menangis. Hahahah, wajahmu sangat lucu Nini." Amel menjauh dari Nini. Dia memilih duduk di atas ranjang dan memangku kaki kanannya. Menopang dagunya lalu menatap Nini yang sudah berbalik ke arahnya.


"Kau memang kejam Amel." tubuh Nini bergetar menahan murkanya.


(Bayangin guys, kalau kalian jadi Nini. Apa yang akan kalian lakukan?🤧)


"Aku tidak kejam. Aku hanya ingin memberimu pelajaran. Oh ya gimana rasanya tadi lihat Johan peluk aku?" Amel menutup mulutnya seolah tersipu malu.


"Di mana letak harga dirimu?" tanya Nini kesal.


"Alahhh.. Jangan jadi penceramah murahan Nini. Percuma, aku tidak akan mendengarkanmu." Amel menatap sinis dengan senyuman mengejek.


"Tidak ada gunanya aku menceramahimu wanita rendahan. Aku mengatakannya karena kau ingin merusak kebahgiaanku. Dengar, aku bukan wanita lemah seperti yang kamu pikirkan. Silahkan susun lagi rencana busukmu, aku siap melawanmu." Nini berbalik ingin keluar dari ruangan itu.


"Sungguh?" kalimat Amel menghentikan langkah Nini.


"Kau ingin tahu rencanaku selanjutnya? Hahah." Amel meraih ponselnya dan mencari foto-foto mesra tadi. Kemudian berjalan mendekati Nini dan menunjukkannya.


"Lihatlah."


Nini ingin merampas ponsel itu, tapi Amel lebih dulu menghindarinya.


"Eitsss.. Hahaha, santai aja dong non Nini." ejek Amel lagi.


"Kau bukan manusia Amel." Nini menggeram.


"Monster berwujud manusia."


"Hahahaha... jawabanmu itu, sungguh lucu Nini." Amel memegang perutnya.


Nini menatap Amel, menunggu apa yang akan dikatakan.


"Nini, bagaimana pendapatmu jika aku menyebarkan foto ini?" tanya Amel sambil menggonyangkan ponselnya.


Nini masih diam. Dia melipat kedua tangannya.


"Hemmm.. Pasti orang-orang akan mengatakan kalau tuan Johan yang terhormat itu ternyata masuk dalam daftar lelaki hidung belang."


"Tutup mulutmu."kecam Nini


"Lalu, kau tahu selanjutnya? Aku akan dinikahkan dengan Johan demi menjaga nama baik keluarga ini. Tidak masalah jika aku hanya menjadi selirnya. Yang pentingkan status kita sama, yaitu istri Johanes Putra Hartono. Seru kan?" Amel menyunggingkan senyumnya lagi.


Nini mempertimbangkan ancaman Amel barusan.


"Jadi, minta sama suamimu yang tampan itu jangan pecat aku. Atau foto-foto ini akan beredar hanya dalam hitungan detik." suara Amel terdengar santai tapi penuh dengan ancaman.


"Silahkan. Jika kau ingin melakukannya. Aku pastikan hukum yang akan mengurus semuanya. Jangan lupa Amel, kau bekerja pada keluarga yang sangat kaya. Mustahil bukan, jika setiap sudut ruangan di sini tidak ada cctv." Nini pun tersenyum dan berlalu.


Amel terlihat geram.


Benar juga perkataannya. Bagaimana kalau perbuatanku itu terekam?

__ADS_1


Nini meninggalkan bangunan putih itu dengan perasaan yang kacau. Meski demikian, dia tetap tersenyum pada para pelayan yang menyapanya.


Baginya, orang-orang tidak perlu tahu kalau dia sedang terpuruk.


Nini menghitung langkah kakinya. Sampai pada hitungan ke 35 dia berhenti. Ada sepasang kaki dengan sepatu flats berwarna hitam. Dia mengangkat wajahnya.


Ibu Idah tampak memberinya senyum. Nini pun membalasnya.


"Tadi, ada yang bilang non menanyakan saya."


"Oh.. Iya bu. Emmm, cuma pengen cerita aja gitu. Aku bosan di rumah sendirian." ujar Nini


"Tadi saya sibuk non. Maaf ya." ibu Idah menunduk kecil.


"Kalo sekarang?"


"Sudah tidak lagi non."


"Ohh, temani aku keliling taman ya bu." Nini memohon dengan mengatup kedua tangannya.


"Jangan bersikap begitu non. Saya adalah pelayan anda, tentu saya akan menuruti keinginan anda."


"Heheh.. iya bu." Nini cekikikan sendiri.


Mereka berdua berkeliling taman itu sambil bercerita banyak tentang keluarga Hartono.


"Bu, nama asli ayah dan ibu apa ya?"


"Nama tuan besar adalah Fransisco Wijaya Hartono. Hanya saja, orang-orang lebih akrab memanggilnya tuan Hartono."


"Ohh.. Kalau ibu?"


"Chrismas Dwi Sartika Atmaja. Beliau juga anak seorang konglomerat ternama negara ini non."


Kini ibu Idah mempersilahkan Nini duduk pada sebuah kursi taman. Mereka duduk berdampingan.


"Oh ya, kalau kak Tony?" tanya Nini penasaran.


"Antonio Christian Hartono." jawab ibu Idah.


"Nama mereka kayak campuran eropa gitu ya bu."


"Iya non. Konon katanya, kakek dari tuan besar adalah orang eropa asli. Tepatnya orang italia. Nah kalau nyonya adalah turunan tiongkok."


"Emmm.. gitu ya. Pantesan ya, ganteng dan cantik mereka semua. Heheh."


"Ahh, non juga cantik kok. Malah sangat cantik. Tidak heran jika non mendapatkan suami setampan tuan Johan."


"Hahah ibu bisa aja." Nini menengadah menatap langit yang mulai gelap.


Pikirannya masih kacau dengan ancaman Amel tadi.


Mereka adalah keluarga terpandang. Aku tidak boleh membiarkan Amel mempermalukan kelurga ini hanya karena kelicikkannya. Batin Nini.


"Sudah gelap non. Mari saya antar ke dalam. Sepertinya tuan Johan dan nyonya besar sudah kembali."


"Ahh.. Iya bu." Nini mengikuti saran ibu Idah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2