
Hari sudah semakin petang. Matahari perlahan mulai tenggelam, lampu-lampu di taman sudah dinyalakan serentak.
Pondok tempat Nini berdiri saat itu juga sudah diterangi oleh cahaya lampu hias di sekitarnya.
Nini memutuskan untuk pulang. Udara terasa dingin, dia memeluk tubuhnya sendiri sembari berjalan menyusuri taman di sekitar rumah itu.
Dia sudah sampai di pintu utama rumah induk. Di dalam sana ayah dan ibu sedang asyik bercerita di ruang tengah. Nini melangkahkan kakinya masuk.
"Dari mana nak? Kok bisa sampai kedinginan begitu?" tanya ibu khawatir ketika melihat Nini yang masuk sambil memeluk tubuhnya seperti anak kecil yang kedinginan.
"Aku dari taman belakang bu, jalan-jalan sebentar." jawab Nini sedikit kaku
"Sendirian? Gak ada Johan?" tanya ibu lagi
"Iya bu, aku yang minta sendiri aja biar terbiasa gitu."
"Ya sudah, segera masuk dan mandi. Habis itu kita makan malam bersama ya, tolong sampaikan pada Johan."
"Baik ibu." Nini sedikit menundukan kepalanya kemudian menaiki tangga menuju kamar
Di kamar Johan tidak terlihat, Nini masuk menengok ke dalam ruangan pakaian, tapi tidak ada Johan di sana. Dia berjalan menuju kamar mandi mengetuk pintu perlahan, tapi tidak ada suara juga.
"Kenapa mencariku?" suara Johan membuat Nini kaget dan berbalik ke arahnya.
Johan baru saja masuk.
"Dari mana kamu?" tanya Nini kesal
"Kangen ya?" Johan menahan tawanya, berjalan mendekati Nini.
"Gak kok, cuma nanya aja." jawab Nini sambil berjalan menuju ranjang, dia tahu dari tatapan Johan, sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk.
Belum sempat menghindar, tangan Johan dengan cepatnya manarik tangan Nini dengan kuat membuat Nini langsung berada dipelukannya.
"Aku mau mandi, kata ibu malam ini kita akan makan bersama." Nini mencoba mencari akal
"Ayo mandi bersama. Makan malam biasanya dilakukan jam 7. Sekarang baru jam 6, kita masih punya waktu 1 jam." nafas Johan sudah mulai memburu, dia sepertinya sudah mulai suka dengan tubuh istrinya.
Bagaimana tidak, tubuh Nini sangat sempurna. Langsing, namun padat di bagian-bagian tertentu yang membuat para lelaki akan terangsang.
"Tidak..!" Nini melepaskan tangan Johan dengan kasar. Wajahnya cemberut, tangannya memeluk kedua dadanya.
"Kenapa tidak?" Johan sudah memeluknya dari belakang, bibirnya tertempel pada telinga Nini.
Nini merasakan geli dengan sentuhan di telinganya itu, sekali lagi dia menghindar.
Johan tertawa pelan melihat reaksi istrinya itu. Bahkan wajah Nini semakin cemberut melihat Johan yang tertawa begitu, seolah sedang mengejeknya.
"Aku tidak mau mandi denganmu, kau duluan saja."
"Aku becanda. Apa kau tidak lihat aku sudah berganti pakaian?" tanya Johan sambil menunjuk bajunya
Setelah melihat itu, Nini baru menyadari.
"Pergilah, kita akan bekerja sebelum tidur saja." senyum nakal di wajah Johan membuat Nini sedikit merinding.
Nini berjalan cepat menuju kamar mandi dengan tangan masih menutup dadanya.
Lihatlah dia bertingkah seolah aku belum menyentuhnya. Johan menggeleng kepalanya pelan
Kurang ajar, dia masih saja ingin mempermainkan aku.
Nini mengunci pintu kamar mandi, berjaga saja kalau Johan akan iseng masuk ke dalam kamar mandi.
Hampir 20 menit, Nini keluar dari kamar mandi. Johan sedang duduk di sofa membaca buku.
Nini berjalan menuju ruangan ganti. Dia memilih pakaian dan memakainya.
__ADS_1
Keluar dari ruangan itu, dia melihat Johan masih dalam posisi yang sama.
Handuk masih melingkar di kepalanya. Dia melepaskan handuk itu lalu melap rambutnya yang basah.
"Harusnya jangan dulu keramas." kalimat Johan terdengar jahil
Nini tahu maksud pembicaraan itu, tapi dia cuek saja tidak ingin membalas nanti yang ada justru dia yang kesal.
" Kenapa diam?" tanya Johan lagi dengan senyum nakalnya.
Nini hanya menatapnya sesaat, lalu berjalan menuju meja rias menyisir rambutnya.
Johan semakin gemas dengan sikap cuek istrinya itu, rasanya dia ingin sesegera mungkin menerkam tubuh seksi istrinya.
Nini masih terus menyisir rambut panjangnya.
Suasana menjadi hening, hanya ada suara jarum jam.
Suara ketukan pintu membuat keduanya memandang ke arah pintu.
Seorang pelayan membuka pintu dan menyampaikan pesan dari tuan besar dan nyonya.
"Kami akan segera menyusul." kata Johan melambaikan tangan pada pelayan itu.
Tanpa berbicara, Nini sudah berjalan duluan keluar kamar.
Johan mengejarnya mencekal tangan Nini dengan kasar.
"Apa kau lupa yang aku katakan?" tanya Johan sambil menggertakkan giginya menahan amarah
"Lepaskan aku. Kau membuat tanganku sakit." Nini berusaha melepaskan tangan suaminya.
"Gandeng tanganku sekarang!" perintah Johan tegas memberikan tangannya.
"Apa kau senang dengan kebohongan ini?" tanya Nini menggandeng kasar tangan Johan.
Secepat mungkin keduanya memasang wajah seolah semua baik-baik saja.
Makan malam pun dimulai. Mereka menikmati makanan itu dengan penuh rasa syukur. Selesai makan, ibu menyampaikan keinginannya
" Sayang," mata ibu tertuju pada Nini
"Iya bu." jawab Nini takzim
"Apakah kalian sudah bisa memberikan kami cucu kedua?" tanya ibu sambil mengelus lembut punggung tangan Nini.
Nini hanya diam, pertanyaan ibu membuatnya syok.
"Ahh.. Ibu kami baru saja menikah seminggu, apa tidak terlalu buru-buru?" Johan berusaha mencari alasan
"Ibumu tahu nak, setidaknya berikan kepada kami penghibur di rumah ini. Michele jauh, dia juga sudah semakin besar sebentar lagi pasti akan masuk sekolah." kali ini ayah yang bersuara.
"Doakan saja ayah ibu, kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin." senyum jahat terlihat di wajah Johan, dia memandang Nini sebagai suatu isyarat
Setelah berbincang mengenai beberapa hal, mereka menuju kamar masing-masing.
Sampai di depan pintu Nini melepaskan tangannya yang menggandeng Johan.
"Ada apa?" tanya Johan lalu membuka pintunya
"Kenapa kau bertingkah seolah kita saling mencintai?" Nini benar-benar marah pada suaminya.
"Lalu kau akan membicarakan hal ini di luar kamar?" tanya Johan menatap datar pada Nini. Dia melangkah masuk mendekati ranjang lalu berbalik pada Nini " Kenapa kau bersikap seperti anak remaja? Masuklah selesaikan masalah kita di dalam." Johan mendekati Nini menarik tangannya masuk lalu menutup pintu.
Dia menggiring istrinya menuju tepi ranjang.
"Duduklah, katakan apa sebenarnya maumu?" mata Johan menyapu seluruh wajah Nini dan berhenti pada bibir tipis itu.
__ADS_1
"Aku belum siap." Nini menjawabnya tegas
"Baiklah aku tidak akan memaksamu." kata Johan lalu menarik selimut dan mengambil posisi tidur.
Nini menggeser tubuhnya dan ikut tidur. Keduanya berada dalam satu selimut tapi saling membelakangi.
Johan berusaha tidur tapi tidak bisa, begitu juga dengan Nini.
"Ahhh." Johan bangun membuka selimutnya, turun dari tempat tidur.
Nini langsung membalikkan tubuhnya melihat pada Johan
"Mau kemana kau?" tanya Nini ketika Johan sudah ingin membuka pintu.
"Mencari seorang pelayan untuk ku tiduri malam ini." kata Johan berusaha memancing Nini.
Berhasil, wajah Nini langsung berubah murung, hatinya sangat terluka mendengar perkataan suaminya.
" Apa maksudmu?" tanya Nini dengan suara yang terdengar sedikit serak.
"Aku harus memuaskan hasratku sebagai lelaki normal. Jika harus menunggumu siap dulu,aku akan mati muda." Johan berpura-pura kesal
"Baiklah, silahkan pergi." Nini kembali membelakangi Johan, dia memang tidak menangis namun hatinya terluka. Meski dia memang belum mencintai Johan, tapi dia tidak ingin diperlakukan seperti ini.
Johan masih berdiri sambil memegang pinggangnya, dia tahu Nini tidak iklas.
"Kau ini." Johan langsung memeluk tubuh Nini erat.
"Lepaskan aku, pergilah dengan pelayanmu. Aku lihat banyak yang cantik." Nini merajuk menahan air matanya
"Sungguh?" tanya Johan sedikit jahil dia meremas pelan dada istrinya.
"Pergi carilah orang yang ingin memuaskanmu."
"Tentu,aku akan melakukannya jika kau mau. Tapi jangan berdusta Nini, kau tidak relakan?" tanya Johan sambil menyebut namanya untuk pertama kali.
"Lepaskan tanganmu.!" Nini mengalihkan pembicaraan.
Johan terus melakukannya tanpa menghiraukan Nini yang terus saja mengomel.
Dia menyentuh bagian-bagian sensitif Nini agar terangsang. Bibirnya menggigit pelan telinga Nini
"Apa kau masih belum siap?" bisik Johan lirih
Darah di seluruh tubuh Nini seakan berdesir cepat. Pemanasan awal Johan sudah membuatnya terbuai.
Nini tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia membalikkan tubuhnya menghadap Johan.
"Kau sudah siap rupanya." kata Johan sambil memasang senyum penuh gairah.
Johan sudah berada di atas tubuh Nini, keduanya salin bertatapan. Tangan Johan menyisir lembut rambut istrinya. Mulailah dia mencium bibir Nini, mereka saling membalas ciuman yang semakin memanas itu.
Johan berpindah dari bibir menuju leher, dada dan seterusnya hingga membuat Nini mendesis penuh nikmat.
Semakin lama semakin memanas, baik Johan maupun Nini sama-sama menikmatinya.
Johan melakukan apa yang menjadi inti dari hal ini. Nini mendesah pelan menutup mulutnya. Johan menarik tangan Nini lembut dan mencium bibirnya
"Teriak sepuasmu, ruangan ini kedap suara."kata Johan setelah melepas ciumannya.
Johan terus bekerja, dia semakin semangat mendengar desahan demi desahan istrinya.
"Ahhh.." Johan mendesah pelan ketika selesai.
Dia terbaring di samping Nini yang sudah lemas. Dia mendekat dan memeluk erat tubuh Nini, mencium lembut kening istrinya.
Mereka pun tertidur.
__ADS_1
Bersambung.....