
Sudah hampir jam 1 siang, mobil metalic hitam sudah terparkir di halaman panti asuhan Kasih Bunda.
Seli turun dengan bahagianya, begitu pun Nini dan Johan.
Ibu Isma hanya menggeleng kepala.
"Kalian kemana saja? Ibu hampir menelpon supir untuk menjemput ibu."
"Maaf bu. Kami tadi mengajak Seli jalan-jalan." Nini mendekati ibu Tia dan ibu Isma
"Iya sayang. Ibu tidak marah, hanya saja sekarang ibu harus segera pulang ada arisan dengan teman." meski sedikit kesal, hati ibu Isma langsung luluh melihat wajah bersalah Nini.
"Ayo kita pulang." kata ibu Isma lalu menoleh ke ibu tTia. "Bu Tia kami pulang dulu ya, kalau ada keperluan lain segera hubungi saya ya."
"Baiklah bu. Hati-hati ya nak Johan nyetirnya. Jaga istri dan ibumu." ibu Tia sedikit tertawa berkata begitu karena melihat wajah Nini yang langsung salah tingkah.
Mereka meninggalkan panti itu. Ibu Isma sedang membalas beberapa pesan dari teman arisannya. Nini menatap keluar tanpa membuka kaca jendela mobil.
"Apa ibu mau aku antar ke tempat arisan?" tanya Johan pada ibunya.
"Iya sayang kalau tidak merepotkanmu." jawab ibu Isma, lalu memasukkan ponsel dalam tasnya.
"Tentu tidak bu, aku anak ibu kenapa harus berbicara begitu?." jawab Johan dengan sedikit kesal. Bagi dia ibu ataupun ayahnya tidak akan pernah merepotkan dia, apalagi kalau hanya mengantar.
"Hahah.. Antarkan ibu ke restoran XXX."
"Oke bu. Sedikit terlambat tidak masalahkan?"
" Ya, nak. Apa tidak ada kesibukan hari ini?" tanya ibu Isma lagi.
"Tidak bu. Setelah ini kami akan langsung pulang."
"Ajaklah istrimu jalan lagi nak, hari masih siang." kata ibu Isma penuh harap.
"Baiklah bu." kata Johan lalu melirik Nini.
"Hahah, ibu dia sudah tidur." Johan melihat Nini yang ternyata sudah tidur nyenyak.
"Sungguh?" ibu Isma tidak yakin.
Johan hanya mengangkat bahunya.
"Pulanglah, dia mungkin kecapean." kata ibu Isma sambil sedikit maju, melihat menantunya yang terlelap.
"Iya ibu."
Mereka sudah sampai pada restoran mewah itu. Johan ingin membukakan pintu untuk ibunya, tapi ditolak.
"Tidak usah nak, ibu bisa sendiri."
"Habis ini mau aku jemput bu?" tanya Johan sebelum ibu Isma melangkah masuk.
"Tidak usah nak. Ayahmu yang akan menjemput."
"Ya sudah bu, aku pamit."
Ibu Isma menggangguk sambil melambaikan tangan "Hati-hati sayang."
Johan menggangguk, lalu pergi meninggalkan restoran itu.
Sampai di depan rumah, Johan memarkirkan mobilnya. Sebelum turun, dia memperhatikan Nini yang tidur begitu nyaman.
Orang ini, di dalam mobil pun tidur senyaman ini.
Johan hanya menggeleng pelan. Dia membuka sabuk pengaman mereka berdua. Lalu turun dan menggendong istrinya.
Tubuh Johan jauh lebih tinggi dan besar dari Nini, jadi dia tidak kesusahan menggendong istrinya.
__ADS_1
Johan membaringkan Nini di atas tempat tidur. Dia kembali memperhatikan wajah cantik istrinya itu.
*K*amu benar-benar cantik, bahkan sekarang kamu sudah membuatku ingin mencintaimu.
Johan mengecup lembut bibir istrinya.
Dia berdiri menuju kamar mandi ingin membersihkan dirinya, sambil bersantai dengan waktu senggang.
***
Nini berada pada sebuah hamparan luas yang ditumbuhi banyak gandum, terlihat subur.
Seorang wanita mendekatinya,menarik tangannya membawanya pada seorang pria yang membelakangi mereka.
Wanita itu menepuk bahu pria itu, membuatnya berbalik menghadap keduanya. Pria itu adalah Johan, suaminya sendiri.
Wanita cantik itu tersenyum bahagia. Dia meraih tangan Johan untuk menggenggam tangan Bini.Johan melakukannya, walau raut wajahnya terlihat sedikit berat hati.
Wanita itu mengganggukkan kepalanya perlahan, meminta agar Johan mau melakukan itu. Johan menatapnya, lalu beralih menatap Nini yang kebingungan.
"Tetaplah bersamanya." kata wanita itu pada Nini
"Siapa kamu?" tanya Nini.
Wanita itu hanya tersenyum, lalu berjalan meninggalkan keduanya.
"Tunggu, siapa kamu?" Nini berusaha mengejarnya tapi tangan Johan menariknya kuat hingga wanita itu menghilang.
***
" Siapa kamu?" Nini menggeleng kepalanya, meronta di atas tempat tidur.
"Siapa kamu?"
terus kalimat itu berulang. Tubuhnya sudah dipenuhi butiran keringat, dia seperti baru habis berolahraga berat.
"Ada apa?" tanya Johan sambil menepuk pelan pipi istrinya.
Nini terbangun. Dia mengusap wajahnya, melihat Johan yang duduk disamping.
" Ada apa denganmu?" Johan mengernyitkan dahinya, melihat Nini.
Belum sempat Nini menjawab, Johan memberikan air pada istrinya agar lebih tenang.
"Apa kau mimpi buruk?" tanya Johan lagi setelah Nini meneguk hampir setengah gelas air.
"Tidak." Nini menggelengkan kepala. Dia masih tunduk mencoba mengingat wajah wanita dalam mimpinya. Sekarang dia ingat, wanita itu adalah wanita yang ada di foto bersama Johan.
"Ada apa denganmu?" Johan kembali bertanya penasaran sekaligus kesal menunggu jawaban dari Nini.
" Siapa wanita yang ada denganmu di dalam foto itu?" Nini langsung bertanya
"Kenapa kau justru menanyakan dia?" suara Johan mulai meninggi, dia semakin kesal dengan Nini.
"Aku tadi mimpi bertemu dengannya, mimpi iyu seperti nyata." Nini menatap Johan.
"Lalu?" tanya Johan sedikit khawatir
"Dia menggadeng tanganku,membawa aku padamu. Lalu memintaku untuk terus bersamamu. Setelah itu dia pergi dan menghilang." Nini mengusap wajahnya.
Johan sedikit mendekat pada Nini, memegang wajah Nini dengan kedua tangannya menatap lama mata istrinya lalu memeluk wanita itu erat.
Nini tersentak kaget, dia tidak membalas pelukan suaminya.
" Ada apa ini?" tanya Nini
"Aku berjanji akan belajar mencintaimu." Johan mencium bahu istrinya. Nini hanya terdiam tanpa berbicara apapun.
__ADS_1
Dia masih kesal dengan Johan yang belum menjawab pertanyaannya tadi tentang siapa gadis itu.
"Lepaskan aku." bisik Nini pada Johan yang belum juga melepas pelukannya.
"Kau mau kemana?" tanya Johan melihat Nini yang sudah turun dari ranjang
"Aku ingin mandi." kata Nini menunjuk pintu kamar mandi.
"Ahh baiklah."
Nini berjalan menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Nini berjalan menuju ruangan pakaian. Waktu hampir menunjukkan jam 3 tepat. Nini sudah memakai pakaian rumahnya, dia keluar dan melihat Johan yang sedang duduk sambil membaca buku kesehatan.
Nini mengabaikannya, berjalan menuju pintu ingin keluar sebentar.
"Mau kemana?" tanya Johan masih menatap buku itu
"Aku ingin mencari angin sebentar." jawab Nini memengang gagang pintu siap membukanya.
"Apa kau kurang puas dengan jalan-jalan tadi?" tanya Johan lagi sambil mengangkat kepalanya tanpa menoleh pada Nini.
"Aku hanya ingin berkeliling sebentar, tidak mungkin aku terkurung di kamar ini sampai malam kan?" Nini sudah mulai kesal pada suaminya
" Ya silahkan pergilah." Johan melambaikan tangan
Ketika Nini membuka pintu Johan mencegahnya.
"Tunggu!" Johan menutup bukunya, berjalan mendekati nNni.
Dia menarik Nini masuk dan menutup pintunya.
" Kenapa?" tanya Nini sedikit cemas
Johan menyandarkan tubuh Nini pada dinding.
"Ehh kenapa??" wajah Nini mulai memerah
Johan mengelus lembut pipi Nini.
"Apa kau mau berjanji untuk belajar mencintaiku?" tanya Johan sambil mendekatkan hidungnya pada hidung Nini
"Tentu." jawaban yang keluar dari mulut Nini. Dia berharap Johan akan segera melepaskannya
"Sungguh?"
Belum sempat Nini menjawab, Johan sudah mencium bibirnya. Nini berusaha menghindarinya, tapi tangan Johan dengan cepat meraih wajah Nini.
Setelah beberapa menit berciuman, Nini akhirnya berhasil melepaskan diri.
Dia melap bibirnya, lalu menatap sebal pada Johan yang terlihat senyum penuh kemenangan.
" Pergilah. Puaskan berkelilingmu sore ini, dan puaskan hasratku nanti malam." Johan membukakan pintu mempersilahkan Nini keluar.
Nini masih berdiri pada tempatnya, wajahnya terlihat kesal tapi juga malu.
"Kau tidak ingin keluar?" tanya Johan mengernyitkan dahinya
Johan mendekati Nini, merapikan rambut panjang istrinya yang sedikit berantakan akibat ulahnya tadi.
" Sudah. Pergilah!" Suara Johan terdengar lembut.
Nini menatap Johan, rasa kesalnya sudah menghilang,tapi dia semakin malu dengan sikap Johan.
Nini berjalan keluar. Aroma tubuhnya tercium ketika melewati Johan.
Percayalah,aku akan belajar mencintaimu. Janji johan dalam hatinya
__ADS_1
Bersambung......