
Meskipun sikap Johan begitu dingin, itu tidak membuat Maya malu atau salah tingkah. Dia sudah biasa berhadapan dengan Adit jadi sikap Johan barusan tidaklah seberapa.
Johan yang dari tadi berdiri di samping Nini mendengar percakapan mereka
"Jadi ini pernikahan pak Adit ya?" Nini bertanya lagi ingin meyakinkan
"Iya mbak, ihhh kenapa sih dari tadi tanya mulu." Maya sepertinya sudah bosan ingin meyakinkan Nini
"Berarti pak Adit itu sepupunya..." Nini terdiam sesaat melirik pada Johan di sampingnya.
"Iya aku sepupunya, kenapa?" Johan yang mendengar langsung menjawab dengan suara datar.
Maya yang dari tadi berusaha menahan rasa ingin tahunya tentang laki-laki di sebelah Nini menyenggol pelan lengan Nini.
"Mbak." bisik Maya pelan agar tidak didengar Johan
"Iya May. Kenapa?" tanya Nini dengan suara setengah berbisik juga
"Siapa sih dia, pacar mbak kan?"
"Aku suaminya." jawaban Johan membuat kedua wanita itu terdiam kaku
"Suami?" Maya hanya melihat pada Nini dengan melongo
Nini diam seribu bahasa memikirkan kata apa yany harus dikeluarkan pada Maya.
"Iya kami sudah menikah." kata Johan lagi mengangkat tangan kanan Nini dan menunjuk jari manisnya yang ada cincin
Aku selama ini lihat cincin itu, tapi aku kira mbak Nini hanya iseng memakainya.
Maya menggangguk pura-pura paham. Tapi sebenarnya dia ingin mengintrogasi Nini saat itu juga.
"Hadirin yang berbahagia, kita telah mendengar beberapa sambutan dari keluarga kedua mempelai. Sekarang mari kita semua berdiri menyambut kedatangan pasangan suami istri yang sangat serasi. Inilah mereka, Adit dan Lisa...." Suara mc penuh semangat memenuhi hotel mewah itu.
Musik mengalun lembut.
Adit dan Lisa berjalan pelan, diikuti beberapa pelayan wanita yang mengangkat gaun pengantin panjang itu. Seperti perarakan raja dan ratu.
Semua mata tertuju pada mereka, suara tepuk tangan menggema. Bunga-bunga disiramkan pada keduanya.
Lisa tersenyum begitu bahagia sedangkan Adit tetap dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
Nini terpana dengan keserasian pasangan itu. Musik yang mengalun lembut itu sudah sering dia dengar, maka mulutnya pelan mengucapkan liriknya.
Ada perasaan haru dalam hati Nini, dia pernah bermimpi menikah dengan lelaki yang dicintai lalu merayakan pesta pernikahan yang mewah diiringi lagu romantis kesukaannya.
Matanya berkaca secepat mungkin Nini menguasai diri. Johan tidak peduli dengan semua yang dilihatnya. Pikirannya pun teringat pada Jessika. Bayang-bayang kenangan beberapa tahun lalu ketika Jessika mengatakan ingin merayakan pesta pernikahannya yang paling mewah.
Nini sudah tidak tahan lagi dia berlari menuju kamar mandi. Johan tidak menyadari kepergian istrinya.
Maya sudah bergabung bersama temannya yang lain.
Ketika tidak ada satupun yang melihat Nini, Amel justru sudah mengikuti langkahnya.
"Kenapa aku bersedih gini?" Nini mengusap wajahnya dengan tisu ketika sudah sampai di kamar mandi.
Amel bersandar pada pintu melihat situasi aman dia melangkah dan mengunci pintu.
"Aku pikir kau bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Amel membuat Nini berbalik.
"Sejak kapan kau di sini?" Nini meraih tasnya ingin berjalan keluar
"Sejak kau mengeluh dan menangis." kata Amel lalu sengaja dia tunjukan senyum mengejek
Nini berjalan menuju pintu hendak keluar. Dia menggoyang gagang pintu itu dengan keras lalu berbalik melihat Amel.
Amel mengeluarkan kuncinya lalu tertawa. Sekali lagi tawa itu terdengar seperti mengejek
"Aku tidak akan memberikan ini padamu."
"Apa maumu?" tubuh Nini sudah gementar dia sudah sangat marah. Cepat-cepat dia mengontrol emosinya
"Kau ingin tahu mauku? Haha mauku sederhana saja, aku ingin kau pergi jauh dari kehidupan Johan." kata Amel tegas matanya menatap penuh amarah pada Nini
Tidak mau kalah Nini pun membalas tatapan Amel
"Kau wanita yang tidak punya harga diri, sekalipun aku pergi dari hidupnya jangan mimpi untuk mendapatkan cintanya."
"Hahaha cinta? Kau pikir Johan mencintaimu gadis malang? Apa kau tahu satu-satunya wanita yang dicintai suamimu?" Amel merasa lucu dengan perkataan Nini, dia sudah tahu semuanya dari Anna bahwa Johan tidak akan mungkin mencintai wanita lain. Kalaupun mungkin tidak akan secepat ini.
Nini menghembuskan nafasnya dalam, dia tahu Johan tidak mencintainya seharusnya kalimat bodoh itu tidak keluar dari mulutnya. Nini kembali teringat pada foto wanita itu.
"Lalu kau pikir Johan akan mencintaimu?" kali ini Nini kembali tegar
__ADS_1
"Dengar, aku tidak peduli dia mencintaiku atau tidak, yang penting sekarang akulah istri sah dari lelaki yang kau gilai itu." Nini melotot pada Amel. Kalau saja dia bisa, mungkin dia ingin memukul Amel.
"Kasian sekali dirimu, kau berusaha tegar di hadapan semua orang tapi ternyata di belakang kau menangis. Dasar wanita lemah." Amel mencibir pada Nini
"Jaga ucapanmu. Aku bukan wanita lemah seperti yang kau pikirkan, saat ini juga aku bisa meremukkan seluruh tulang-tulangmu." nada suara Nini mengancam. Dia berjalan maju mendekati Amel yang sudah ketakutan.
Mendengar perkataan Nini tadi, dia baru teringat tempat asal Nini terkenal dengan penduduknya yang kasar dan suka berperang bahkan sampai sekarang. Ada lagi cerita yang dia dengar, dari kota Nini itu juga ada tradisi kanibal yang masih dilakukan sampai hari ini.
Amel menelan ludahnya wajah Nini yang berubah merah membuat dia semakin takut.
Dengan cepat dia menyerahkan kunci pada Nini.
"Katakan padaku Amel, siapa kau sebenarnya?" pertanyaan Nini terdengar seperti sangat menakutkan
"Aku adalah wanita yang dijodohkan dengan Johan, tapi dia tidak menginginkan itu." suara Amel terdengar gementar. Tubuhnya dingin detak jantungnya semakin cepat
Nini yang melihat keadaan Amel demikian berusaha menahan tawanya.
Ternyata dengan sedikit membual saja sudah bisa membuatnya takut. Hahaha
"Lantas kau tuduh aku yang merebutnya??" Nini sudah berjalan menuju pintu membukanya
"Dengarkan aku Amel, aku bukan perebut kebahagiaan orang lain. Jika memang Johan takdirku, kau harus bisa menerima itu." Nini pun berjalan keluar meninggalkan Amel yang masih saja ketakutan.
Amel mengumpat kesal pada Nini. Dia mengepalkan tangannya menahan kebencian yang semakin besar pada Nini.
Dia meraih sebuah vas bunga kecil yang tersimpan di atas wastafel dilemparkannya pada kaca sampai picah.
"Ahhhh, aku semakin benci wanita ****** itu. Harusnya aku bisa dengan cepat membaca raut wajahnya yang menahan tawa. Sekarang dia pasti sedang tertawa puas karena aku takut padanya. Bodoh.. Bodoh.. Bodoh.." tubuh Amel gementar menahan emosi.
Nini yang sudah merasa lega berdiri dengan tenang di lorong menuju kamar mandi. Dia merapikan rambutnya lalu megusap lembut wajahnya.
Setelah merasa aman, Nini berjalan keluar mencari keberadaan keluarganya.
Sudah sampai acara bebas. Suara nyanyian artis terkenal di tanah air menggema memenuhi ruangan penuh suka cita itu.
Sudah semakin banyak tamu yang berdatangan, Nini agak kesusahan mencari suaminya.
Dering ponsel tidak terdengar oleh Nini, suara musik sangat besar.
Nini masih saja terus berputar,kalau pun tidak bertemu dengan keluarga suaminya, paling tidak dia bisa bertemu dengan Maya.
__ADS_1
"Baiklah, aku jalan saja. Pasti akan bertemu kok." kata Nini lalu memegang gaun panjangnya.
Bersambung.....