Janji Suci

Janji Suci
Bab 53


__ADS_3

Berita kehamilan Nini membuat semua orang bahagia, terlebih lagi ibu Isma. Hampir setiap hari dia selalu menghubungi anak dan menantunya, meminta mereka segera pulang.


Johan yang sedang duduk santai menikati udara malam dikagetkan dengan suara dering ponselnya. Lagi-lagi telepon dari sang ibu.


"Hallo bu." ucap Johan lembut


"Hallo nak."


"Ada apa kok telepon malam-malam gini bu?"


"Kapan pulang sayang?" tanya ibu dengan penuh harap.


Johan memperhatikan keadaan sekitarnya. Orang-orang rumah sudah tidur semua.


"Bu, aku pengen sesuatu. Apa ibu bisa mengabulkannya?" tanya Johan dengan suara setengah berbisik


"Katakan sayang."


"Aku ingin mengadakan pesta pernikahan kami di sini bu. Tapi aku juga ingin ayah dan ibu hadir."


Ibu Isma mengernyitkan dahinya keheranan.


"Kenapa kamu mintanya aneh gitu?"


"Aku ingin membuat Nini bahagia bu. Pernikahan kami waktu itu sangat mendesak dan tidak diketahui publik. Kali ini aku ingin melakukan pernikahan layaknya kekasih yang saling mencintai bu."


"Baiklah sayang. Ibu setuju. Katakan kapan kamu ingin menggelar acara itu, agar ayah dan ibu bisa mengatur semuanya." ibu Isma merasa terharu. Dia tidak menyangka Nini dengan cepatnya bisa membuat Johan jatuh cinta.


"Kalau bisa secepatnya bu. Sebelum perut Nini semakin membesar. Aku tidak ingin membuatnya kelelahan."


"Baiklah sayang. Besok ibu akan mengatakannya pada ayah. Dan kalau bisa maka dalam minggu ini semua bisa dilakukan."


"Terima kasih bu." Johan menutup teleponnya.


Dia mengirim pesan pada Doni. Meminta agar dia membantu orangtuanya melakukan persiapan.


****


Nini tengah asyik menikmati udara sejuk di sekitar kolam ikan kecil ayahnya. Sesekali dia melempar makanan ikan yang sudah di siapkan di dekat kolam itu.


Wanita itu tertawa tanpa suara. Mengingat kembali kenangan pahit ketika dia dan Johan belum saling mencintai.


Sentuhan lembut di bahunya menyadarkan dia. Tidak lain adalah suaminya tercinta.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Johan. Dia duduk di sebelah istrinya membawa rujak mangga segar.

__ADS_1


Nini tidak menghiraukan pertanyaan Johan. Matanya tertuju pada rujak itu. Air liurnya meleleh. Tangannya merebut mangkok kaca itu.


"Bukan buat kamu ini." Johan sedikit menggeser rujak itu.


"Buat siapa dong?" wajah Nini langsung cemberut. Dia sudah tidak tahan lagi.


"Buat aku dong. Kalau kamu mau ya bikin sendiri." Johan memasukkan potongan kecil ke dalam mulutnya. Rasa masam membuat wajah Johan terlihat sangat lucu.


Nini tidak lagi memperhatikan wajah itu. Dia sudah mulai kesal dengan perilaku suaminya. Johan hanya tertawa pelan.


"Iya deh sayang. Ini buat kamu kok." Johan menyodorkan potongan kecil pada mulut Nini.


"Kenapa sih harus bikin orang kesal dulu." ucap Nini dengan wajah cemberutnya. Tapi dia sudah menikmati potongan buah yang disuapkan suaminya.


"Becanda sayang. Udah lama kan gak lihat wajah kamu kalo lagi marah. Hahaha." Johan membelai lembut rambut istrinya.


"Nini." ucap Johan lembut.


"Hemmm." Nini masih menikmati rujak itu.


"Aku sudah membicarakan tentang pernikahan kita nanti sama ibu semalam."


"Lalu?"


"Ibu mau. Mungkin dalam waktu dekat mereka akan datang."


"Orangtua kita harus saling mengenal kan?" Johan menggengam jemari tangan istrinya.


Nini menggangguk pelan. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Johan.


"Aku mencintaimu." Johan mengecup lembut kepala Nini.


Seiring berjalannya waktu, Nini merasa seperti wanita yang paling bahagia di dunia. Mendapatkan suami yang mencintainya, memiliki orangtua dan mertua yang menyayanginya. Dan sekarang, dia sedang mengandung.


Sesuai rencana, pernikahan yang diinginkan Johan berlangsung. Pesta yang digelar pun sederhana saja. Nini tidak ingin pesta yang mewah.


Ayah dan ibu Johan pun hadir dalam acara itu.


Beberapa hari setelah acara itu, Johan beserta keluarganya berpamitan pulang. Nini juga harus kembali mengikuti suaminya.


Sebagai orangtua tentu merasakan kesedihan yang terdalam ketika melepas anaknya untuk memulai hidup yang baru.


Isak tangis Nini pecah dalam pelukan sang ibu. Dia juga merasa sedih harus berpisah dengan keluarganya.


"Apakah kau akan mengijinkan anakku berkunjung ke sini suatu hari nanti?" tanya ayah Nini pada Johan ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara.

__ADS_1


Johan menatap mata tua itu.


"Tentu. Aku tidak akan membuat ayah dan ibu tersiksa karena sebuah kerinduan."


"Aku percaya padamu. Jaga anakku baik-baik. Sekarang aku sudah tidak lagi berhak atas hidupnya. Jika kau sudah tidak lagi menginginkan dia, aku mohon jangan buat dia terluka." suara ayah Haris terdengar serak.


Johan menghela nafasnya pelan. Dia memang belum merasakan apa yang dirasakan ayah mertuanya, tapi suatu saat nanti dia akan merasakan itu.


"Ayah, aku berjanji. Akan mencintai Nini sepenuh hatiku. Aku tidak akan melukainya. Aku tidak akan mengecewakan ayah." janji Johan penuh dengan kepastian.


"Terima kasih. Jangan ingkari janjimu." ayah menepuk pelan bahu Johan.


"Tidak akan pernah. Aku selalu menghormati janjiku sekecil apa pun itu." Johan senyum.


Mereka kembali tenggelam dalam diam. Sampai tiba di bandara.


Ayah menatap Nini, putri keduanya. Seperti ada sebuah kesedihan yang tergambar di sana.


"Nak, turuti suamimu. Jangan membuatnya marah dengan sikapmu yang keras kepala itu." ayah menepuk lembut kepala Nini.


"Iya ayah. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku." kata Nini sambil mengusap perutnya.


"Suatu saat berkunjunglah ke rumah kita. Ada kerinduan terbesar yang menantimu." belum selesai kalimat ayah, Nini sudah berhambur dalam pelukan ayahnya. Dia kembali menangis.


Ayah menepuk pelan tubuh anaknya. Dia pun bersedih. Tapi sebagai pria, dia harus bisa kuat di depan semua orang apa lagi anaknya.


"Sudah jangan bersedih. Ayah yakin kamu akan bahagia di sana. Jangan lupakan kami ya sayang." mendengar perkataan ayah, Nini semakin menangis.


Ibu Laurent sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya.


"Jangan lagi keras kepala ya sayang. Turuti dan hormati suamimu." kata ibu. Dia pun memeluk anak keduanya.


Semua yang hadir di sana merasa sedih. Fany hanya bisa menangis.


"Sudah jangan terlalu bersedih ayah ibu. Kak Nini pasti akan ke sini lagi nanti." Andika mencoba membujuk. Orang-orang yang ada di bandara memperhatikan mereka.


Johan merangkul bahu istrinya. Tidak lupa dia juga memeluk kedua mertuanya dan bersalaman dengan adik-adik iparnya. Begitu juga dengan ibu Isma dan ayah Hartono, mereka berpamitan satu sama lain.


Keluarga Nini melambaikan tangan. Masih menatap mereka sampai menghilang.


Pesawat pribadi milik keluarga Hartono sudah terparkir. Semua persiapan sudah dilakukan. Tinggal menunggu penumpangnya saja.


Pesawat itu lepas landas setelah beberapa menit mereka masuk. Dan semua sudah dipastikan aman.


Nini menatap keluar jendela. Air matanya kembali jatuh menatap kota tempat kelahirannya.

__ADS_1


"Sampai bertemu lagi." ucapnya lirih.


Bersambung.....


__ADS_2