Janji Suci

Janji Suci
Bab 39


__ADS_3

Semuanya sudah sibuk dengan urusan masing-masing mempersiapkan diri mengikuti pasta pernikahan. Para pelayan membantu majikan mereka untuk menyiapkan segala sesuatunya.


Begitu juga dengan Nini. Dia sudah selesai mandi. Ada beberapa pelayan yang sudah bersiap untuk meriasnya.


" Tidak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri kok, lagian kan bukan aku pengantinnya."


"Maaf non. Kami hanya melakukan apa yang nyonya perintahkan." jawab seorang pelayan wanita


"Tapi aku bisa sendiri." Nini menolak dirias orang lain.


"Lakukan apa yang dia minta. Jika dia menolak jangan paksakan." Johan keluar dari ruangan pakaian sambil mengancing kamejanya.


Nini menoleh pada pelayan-pelayan itu, lalu meminta mereka untuk pergi. Mereka hanya menurut saja dan pergi dengan langkah berat, takut akan dimarahi nyonya nanti.


Nini mendekati suaminya, membantu mengancingkan baju suaminya. Dia masih memakai handuk.


"Pergilah bersiap, jam 3 tepat kita sudah harus sampai." kata Johan pada Nini yang masih sibuk merapikan kerak bajunya.


"Iya. Aku mau dandan dulu sebelum memakai gaun mahal yang kau belikan kemarin." Nini menutup mulutnya menahan tawa


"Kau ingin mengejekku?" tanya Johan namun tangannya sudah melingkar di pinggang istrinya


"Tentu tidak. Lepaskan tanganmu, ini bukan saatnya untuk bermain." suara Nini berubah tegas.


Nini melangkah menuju meja rias, mendandani dirinya.


" Aku juga ingin memakai make up pria." Johan mendekati istrinya menyandarkan tangannya pada meja rias


" Nanti aku pakaikan kalau sudah selesai." jawab Nini tanpa menoleh sedikitpun ke arah Johan, dia sedang fokus dengan make upnya.


"Baiklah istriku." Johan memberi senyum pada Nini.


Hahaha istriku? Batin Nini merasa geli dengan panggilan itu


30 menit berlalu, Nini baru saja selesai merias wajahnya. Johan yang dari tadi menunggu sudah sangat malas. Nini berdiri dari kursinya lalu menarik tangan Johan kembali menuju meja rias.


Suaminya hanya pasrah saja. Nini memberikan sentuhan lembut pada wajah suaminya. Belum sampai 5 menit, tapi Nini sudah menghentikan aktivitasnya


" Sudah." kata Nini lalu membereskan barang-barang itu


" Cepat banget?" Johan bertanya tidak percaya. Dia melihat wajahnya di cermin,memang sudah terlihat sangat rapi. Rambutnya pun sudah disisir.


" Cepat ya kalau aku, tapi kamu aku nunggunya sampe bosan." Johan menggeleng pelan lalu tersenyum.


" Kamu kan pria beda sama wanita." Nini berlalu menuju ruangan pakaian.


Tentu beda, pria dan wanita sebutannya saja sudah berbeda. Batin Johan


Nini memakai gaunnya dengan hati-hati. Saat ingin menarik kancingnya, dia sangat kesusahan. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar.


"Bantu aku menarik kancing ini." kata Nini menunjuk bagian belakangnya.


Johan yang sedang duduk ingin memakai sepatu langsung berdiri dan membantu istrinya.


Sebelum menarik kancing gaun itu, Johan masih sempat bercanda mengelus lembut punggung istrinya.


"Ihhh cepetan."Nini sedikit meronta kesal


"Iya" Johan sudah menarik kancing itu. Lalu kembali pada posisinya yang tadi untuk memakai sepatu.


Johan sangat berbeda dengan para konglomerat besar lainnya. Banyak yang tidak mau memakai sepatu sendiri. Tapi baginya, jika dia masih bisa melakukan apa yang dia bisa maka para pelayan tidak perlu membantu.

__ADS_1


Nini meraih sepatu yang dibeli Johan kemarin. Berwarna silver dengan hiasan permata kecil yang bertaburan membuat sepatu itu terlihat sangat elegant. Nini memasangkannya pada kaki. Terlihat sangat cocok dengan gaun panjangnya yang berwarna merah. Dia berjalan keluar dengan hati-hati.


Joham berdecak kagum dalam hatinya, melihat Nini yang sangat cantik dan elegant. Gaun panjang berwarna merah, make up yang sangat sesuai tidaklah menor, rambutnya di sirkam rapi ke atas. Lehernya yang putih dan jenjang terlihat sangat cantik.


Johan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah kalung emas yang sangat cantik dengan hiasan berlian kecil berebentuk bintang. Dilingkarkan pada leher istrinya.


"Wow perfect." kata Johan setelah melihat keserasian kalung itu pada Nini


Pertama kalinya Johan berkata begitu pada istrinya.


Ada perasaan haru di dalam hati wanita itu, tapi dia berusaha cepat mengendalikan diri.


Johan pun sudah sangat rapi dan tampan.


"Ayo turun!" ajak Johan sembari memberikan lengannya untuk digandeng Nini.


"Sebentar aku ambilkan dulu tasku." dengan sedikit tergesa Nini mengambil tas yang sudah disiapkan tadi.


Pertama kalinya Johan memberikan hadiah dan pujian pada dirinya. Nini masih melirik sebentar pada suaminya.


Mereka sudah turun, baru ada Michele dan Tony di sana.


" Wahh bibi cantik banget." Michele berteriak kagum melihat Nini yang sangat cantik.


Tony hanya senyum meyakini wanita pendamping adiknya memang cantik.


" Apa mereka belum juga selesai?" tanya Johan pada kakaknya. mereka sudah sama-sama berdiri di ruangan tengah


" Iya. Maklum wanita." Tony mengangkat bahunya.


Michele yang tadinya duduk langsung menghampiri Nini.


"Bibi cantik deh, kalau besar nanti Michele pengen kayak bibi."


" Ayo berangkat." kata ibu ketika mereka sudah ramai-ramai turun dari tangga


Tidak ada yang ingin kalah dengan penampilannya hari ini.


Semua terlihat sangat cantik. Barang-barang yang dikenakan pun terlihat mahal dan tentunya mewah.


Amel memperhatikan Nini dari atas sampai bawah. Matanya berhenti sebentar pada kalung yang dipakai Nini.


Sialan, kenapa dia lebih cantik dariku?


Seorang pelayan yang juga ikut bertugas untuk menjaga Michele nantinya. Dia sudah menggendong tuan putri kecil itu. Semuanya sudah berjalan menuju mobil. Masing-masing menggandeng pasangannya, hanya Amel yang tidak punya pasangan.


"Amel berangkatnya sama siapa?" tanya ibu lembut pada Amel


" Sama siapa aja bu." Amel menjawab dengan sedikit terbata.


" Biarkan saja bu,mobil kita kan banyak dia bisa meminta para supir untuk mengantarnya sendiri." kata Johan tanpa mempedulikan perasaan Amel.


"Apa tidak masalah jika kau menumpang mobil lain?" Anna bertanya pada adiknya


"Tidak kak. Aku bisa." Amel berusaha tegar di hadapan semua orang.


Mereka sudah memasuki mobil masing-masing.


Amel melihat Nini dan Johan yang masuk ke dalam mobil berdua. Hatinya menjerit tidak terima diperlakukan begini oleh Johan.


Semua karena kehadiranmu wanita sialan. Amel memaki Nini dalam hatinya

__ADS_1


Semua sudah berangkat. Amel sendiri menumpang pada sebuah mobil mewah,dia memilih keluar dari halaman rumah paling terakhir.


Di dalam mobil Nini merasa gelisah dengan 2 acara yang dilangsungkan pada jam yang sama.


"Kamu kenapa?" tanya Johan ketika melihat Nini yang sedang gelisah


" Acara bosku dan mbak Lisa bertepatan di jam yang sama."


"Ohh, kan sudah aku bilang kamu hadir saja dulu di acara Lisa setelah itu kamu bisa pergi lebih awal. Nanti aku yang antar kamu pada bosmu itu." mata Johan tetap fokus pada jalanan


Nini hanya menggangguk tanpa berbicara lagi.


Hampir 40 menit perjalanan, sampailah mereka di sebuah hotel mewah. Sudah banyak mobil yang terparkir rapi di sana.


Nini mengernyitkan dahinya.


*I*nikan hotel tempat nikahnya pada Adit.


"Ayo turun." Johan melepaskan sabuk pengaman


Nini juga melakukannya. Sudah jam 3.05 mereka sedikit terlambat. Tapi acara baru saja dimulai.


Banyak artis dan orang-orang kaya lainnya yang hadir di sana.


Semua pelayan yang hadir di sana tidak perlu lagi meminta undangan pada Johan dan keluarganya. Mereka sudah tahu betul siapa keluarga Hartono. Meskipun mereka selalu bersaing dalam dunia bisnis,tapi di depan publik mereka selalu menunjukkan sikap yang hangat layaknya kakak dan adik.


Hari ini saja, ayah Johan yang menjadi suara perwakilan keluarga besar mempelai pria untuk mengucapkan terima kasih pada tamu undangan.


Nini menepuk tangannya meriah melihat ayah mertuanya yang begitu gagah berdiri di depan sana. Johan terlihat cuek saja sebenarnya dia malas datang ke acara ini. Hanya saja demi mendampingi istrinya dia terpaksa harus hadir.


Nini masih bingung dengan acara ini. Belum juga dia tahu kalau Adit adalah sepupu suaminya.


Maya dari kejauhan mengamati Nini.


*I*tu mbak nini bukan ya? Kok sama cowo ganteng, bukannya dia gak ada pacar?


Dengan ragu Maya mendekati Nini yang sedang sibuk memikirkan kebingungannya sendiri


"Mbak Nini?" tegur Maya ketika sudah berada dekat dengan Nini


Nini balik dan semakin heran karena Maya juga ada di sini.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Nini semakin tidak mengerti


Johan melihat ke arah Maya memicingkan matanya


*S*iapa wanita ini?


"Lohh inikan acara nikahan pak Adit mbak." jawab Maya santai


Dia masih memperhatikan Johan dan Nini bergantian.


*P*asti ini kekasih mbak Nini. Mereka aja pakai baju sama warna. Ehhh ganteng banget ya. Hemm mbak Nini ternyata diam-diam punya pacar.


Nini menoleh pada Johan.


"Eh kenalin ini Maya junior di tempat kerjaku."


Maya memberikan tangannya sebagai tanda pengenalan. Johan membalasnya dengan wajah datar


Nini merasa malu dengan sikap Johan yang kurang sopan pada temannya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2