Janji Suci

Janji Suci
Bab 78


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian...


Pukul 23:00 Nini masih terjaga. Malam ini dia sendiri di kamarnya. Johan sedang melakukan


pertemuan penting di luar kota. Sudah 3 hari dan besok suaminya sudah pulang. Beberapa malam


sebelumnya Nini masih bisa tidur dengan nyenyak,entah mengapa malam ini dia tidak bisa


memejamkan matanya dengan tenang.


Khawatir pada suaminya juga tidak. Yang jelas malam ini dia tidak bisa tidur tanpa alasan.


“Mending nonton tv aja. Kasihan udah dibeli mahal, eh malah Cuma dijadikan pajangan.” Dia duduk


di sofa lalu menghidupkan tv dengan remote.


Tidak ada satu pun acara yang menarik baginya. Nini mematikan lagi benda itu dan kembali ke


tempat tidur.


Sambil mengigit jarinya, dia memegang ponsel.


“Telepon apa jangan ya?”


“Chat aja kali yah. Siapa tau dia masih sibuk?”


“Tapi dianya kangen gak sama aku?” Nini memanyunkan bibir lalu meletakkan lagi ponselnya.


“Masa dari kemarin aja dia gak ada niat gitu hubungi aku? Kalo dia kangen pasti dia cari dong. Tau


ah, sibuk banget mungkin.” Banyak pertanyaan muncul dalam pikirannya.


Meski begitu, dia tetap yakin. Suaminya tidak akan melakukan hal yang jahat.


“Loh.. kenapa? Aku berhak kok mau chat atau teleponan sama dia kapan aja. Dia suami aku.” Nini


menunjuk dirinya sendiri.


Tapi lagi-lagi dia merasa canggung. Maklum dia sendiri pernah menjadi orang sibuk, maka dia juga


tahu seperti apa jadinya kalau diganggu.


Cukup lama Nini berdebat dengan pikirannya sendiri, ia pun tertidur. Menjelang pagi dirasanya


seperti ada yang berbeda. Seseorang tengah memeluknya erat.


Nini membuka matanya perlahan. Rasa takut melingkupi seluruh jiwa dan raganya.


“Johan??” Nini melebarkan matanya tidak percaya.


Dia terduduk lalu mengusap berulang kali wajahnya. Dia juga mengucek matanya terus menerus.


Johan tidur begitu tenang.


Nini mendekatkan wajahnya menatap mata suaminya. Jarak mereka sudah sangat dekat. Johan


membuka matanya tiba-tiba, membuat Nini kaget dan jatuh sampai tersungkur di lantai.


“Ya ampun...” Johan bangun mendekati istrinya dengan wajah cemas.


“Ihhhh...” Nini menjerit kesal. Tubuhnya terbentur sudut tempat tidur.


“Kamu gak papa?” Johan meraba tangan dan kaki Nini.


“Sakittt...” melotot pada suaminya. Kedudukkan Nini memang terasa sangat sakit.


“Lagian kamu ngapain sih liatin aku kayak tadi?” Johan mengangkat tubuh istrinya perlahan.


Kecemasan memenuhi hati Johan. Karena Nini memiliki rahim yang sangat rentan. Cara jatuhnya tadi


juga cukup parah.


Nini meringis kesakitan tanpa menjawab pertanyaan Johan. Dia berjalan menuju kamar mandi.


“Sayang?” Johan mengekor dari belakang.

__ADS_1


Nini menepis kasar tangan suaminya dan berjalan memegang perut.


“Ya Tuhan. Kamu kok Cuma diam aja Ni? “Johan mengerutkan dahinya lalu menarik paksa tangan


Nini.


“Hahahaha.. Muka kamu.” Nini terpingkal sambil menggeleng.


“Becanda Han. Hahah, lagian kamu kayak hantu. Tiba-tiba aja udah tidur di sebelah aku.” Cengir Nini


lalu memeluk suaminya.


“Aku kangen sama kamu. Makanya pas habis rapat tadi jam 9, aku langsung minta Doni pulang.


Sampe sini udah hampir jam 1. Kamunya udah nyenyak banget, gak tega aku bangunin.” Jelas Johan.


“Pantesan, aku juga gak bisa tidur tadi.” Nini melepaskan pelukkannya lalu menarik tangan Johan


kembali ke tempat tidur.


“Kangen ya?” Johan sedikit jail.


“Ihhh, yang tadi ngaku kangen situ apa saya?” mereka sudah kembali tidur.


Seperti biasa, Nini akan selalu tidur dalam dekapan suaminya.


“Hahaha, ngaku aja kangen. Sampai gak bisa tidur gitu.” Johan mencubit hidung Nini.


“Lahhh. Emang kenapa kalau aku kangen?”


“Ya manjain dong.” Tanpa menunggu basa-basi, Johan langsung menyambar bibir istrinya.


Capeknya hilang kalau sudah lihat wajah cantik istrinya.


Hanya berbalut selimut tebal,Nini membuka matanya perlahan. Tubuh hangat suaminya membuat


dia semakin ingin berlama-lama.


Jari tangannya bergerak memutar di sekitar dada Johan.


“Mau lagi ya?” senyum nakal Johan tersungging.


Nini memiringkan bibirnya lalu melepaskan Johan.


“Mau kemana?” tanya Johan.


“Mandi.” Jawab Nini ketus, lalu berlari tanpa sehelai benang pun menuju kamar mandi.


Matahari di luar sudah sangat tinggi. Tapi gorden kamar belum juga dibuka. Cengir Johan lebar lalu


menghempaskan selimut , dan mengikuti istrinya. Mandi bareng.


Puas-puasnya mereka bermain di dalam kamar mandi, Nini memilih menyerah. Perutnya sudah


mulai lapar.


Maka Johan hanya bisa menuruti istrinya.


Seharian penuh Johan beristirahat di rumah. Dia memaksa Nini untuk menemaninya di kamar.


Menjelang makan siang, akhirnya Nini merasa jenuh. Sementara Johan tertidur nyenyak,


mengembalikan staminanya.


“Han, aku ke dapur sebentar ya minum air.” Menepuk pelan pipi suaminya sambil berbisik.


Johan tertidur nyenyak dan tidak sadar. Nini melepaskan dirinya perlahan lalu berjalan menuju


dapur sambil mengendap-endap.


Setelah merasa aman, Nini menghembuskan nafasnya lega. Lalu dengan langkah ringan menuju


dapur. Sesampainya di ruang makan, Nini bertemu para pelayan yang sibuk menyiapkan makan


siang.

__ADS_1


“Ayah dan ibu ada ya?” tanya Nini pada seorang pelayan.


“Ada non.” Sahut pelayan itu lalu kembali bekerja.


Nini berjalan melewati mereka. Dia ingin mencari ibu Idah. Biasanya jam segini ibu Idah sedang sibuk


di dapur.


Dan memang benar. Ibu Idah tampak sangat sibuk memasukkan buah dan sayuran ke dalam freezer.


Wanita paruh baya itu mengarahkan 2 pria yang memakai kameja berwarna merah berlogo


perusahaan ternama.


Seorang pelayan wanita mengikuti ibu Idah sambil terus mencatat. Nini bersandar pada pintu,


mengamati kesibukkan di ruangan itu. Ibu Idah tidak menyadari dirinya sedang diperhatikan.


Rasa penasaran Nini yang tinggi akan logo yang sering dilihatnya pada celemek para pelayan,


membuat dia mendekati ibu Idah.


“Nini...” suara seorang pria yang memakai baju merah tadi seperti terkejut. Wajah pria itu terlihat


seperti orang yang memenangkan undian 100 juta.


“Derry?” bibir Nini bergetar. Dia enggan menyebut nama itu. Akan tetapi reflek terucap. Matanya


membelalak dan mulutnya ternganga.


“Kamu?” ucap mereka bersamaan. Nini memandang seluruh tubuh Derry dari atas sampai bawah.


Sedangkan Derry tidak berkedip sedikitpun melihat Nini yang semakin cantik.


“Permisi non.” Ibu Idah mendekati keduanya.


Nini dan Derry cepat tersadar kembali.


“Kamu kerja di Jakarta juga?” tanya Nini.


“”Iya nih. Udah hampir 3 tahun.” Wajah Derry seperti malu.


“Jadi, udah berapa kali antar sayur dan buah ke sini?”


“Sering kok. Sejak awal kerja di Jakarta, aku langsung di terima jadi supir mobil box di sebuah mall.


Dan setiap seminggu sekali, kita sering antar bahan makanan ke sini.”ujar Derry.


“Oh, astaga. Ternyata kita sangat dekat tapi tidak kita sadari ya?” Nini sedikit tertawa.


“kamu ngapain di sini?” sejak tadi Derry penasaran.


“Aku..”


“Non, anda dipanggil tuan Johan untuk makan bersama.” Ibu Idah memotong perkataan Nini.


“Oh.. baiklah bu. Derr aku pergi dulu yah. Bye.” Nini melambaikan tangan dan berlalu.


Sedangkan Derry masih memperhatikannya dengan lamat. Ada kerinduan terbesar dalam hatinya.


Dia menyesal telah menyakiti Nini waktu itu.


Ternyata wanita yang dia pilih itu, juga mengkhianati cintanya. Demi menebus kesalahannya, Derry


memutuskan untuk mencari Nini di Jakarta.


Selama 3 tahun tidak juga bertemu, dia memilih menyerah. Dan akhirnya mereka bertemu, di luar


dugaan.


Derry berpikir, Nini masih mau menerimanya. Tanpa diketahui, Nini adalah menantu dari direktur


utama tempatnya bekerja.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2