
Johan menanti dengan sabar sekaligus tegang kedatangan ayah mertuanya.
Nini membawa 2 gelas kopi menghampiri suaminya yang terlihat gelisah.
"Tenanglah. Aku yakin ayah sedang mempertimbangkan semuanya." wajah Nini terlihat tenang. Segaris senyum yang tergambar di wajahnya membuat Johan merasa lebih baik.
"Tentu." Johan membalas senyum pada istrinya.
"Ehemmmm." ayah berdehem pelan tapi didengar oleh keduanya.
Nini menoleh pada ayahnya. Lalu keluar menuju dapur.
Ayah mengambil posisi duduk tepat di hadapan Johan.
"Minumlah." ayah mengangkat gelasnya dan mempersilahkan Johan.
Mereka sudah meneguk kopi itu masing-masing.
"Kau terlihat lebih segar dari kemarin." ayah mulai membuka pembicaraannya. Matanya menatap tajam pada Johan. Suaranya memang terdengar santai tapi tatapannya seperti ingin menerkam.
Johan hanya membalas dengan senyum. Dia sendiri bingung harus berkata apa.
Ayah bersandar pada sofa, tapi tatapannya masih tertuju pada Johan.
"Apa kau mencintai anakku?"
"Aku belum yakin. Tapi sepertinya sudah pak."
Ayah hanya tersenyum sinis. Mengalihkan pandangannya pada sebuah potret wanita kecil.
"Lihat." ayah menunjuk potret itu. "Itu Nini sewaktu masih kecil. Anakku tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Aku tidak pernah menyangka dia akan menjadi sosok yang sangat keras kepala."
Johan menatap serius ayah mertuanya sambil mencerna dengan baik setiap kalimat yang keluar.
"Kami terlalu memanjakannya. Sikapnya yang keras kepala timbul akibat keinginannya yang selalu kami penuhi. Tapi beruntunglah dia sangat menyayangi aku dan ibunya." ayah kembali menatap Johan dengan lekat.
"Apa kau siap bertahan dengan sikapnya?"
"Aku siap pak." mata 2 lelaki itu saling bertemu.
"Kau yakin tidak akan menyakitinya?
Johan terdiam. Dia teringat kejadian beberapa waktu lalu.
"Maafkan aku. Aku pernah tidak bisa mengontrol emosiku dan..." Johan memejamkan matanya pelan. Terasa berat dengan pengakuan semacam ini.
"Dan kau memukulnya?" wajah ayah sudah menujukkan kalau dia sangat marah.
Johan menundukkan kepalanya.
Ternyata seperti ini amarah ayahnya jika tahu dia dipukul orang lain.
"Iya. Aku memukulnya." Johan mengangkat kepalanya menatap ayah. " Tapi aku menyesalinya."
"Kau tahu. Aku tidak pernah memukul anak-anakku."
"Maafkan aku pak."
"Kau pikir kau pantas menjadi pendamping anakku lelaki kasar?" perkataan ayah sepertinya membuat Johan tersinggung. Sekuat mungkin dia menahan emosinya.
"Maafkan aku." hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.
Ayah mengusap wajahnya pelan. Dia tidak bisa membayangkan.
"Kalau begini, aku tidak bisa menjamin kau bisa membahagiakan dia."
__ADS_1
"Aku akan berusaha semampuku. Untuk membahagiakan dia." wajah Johan terlihat sangat memohon.
Nini yang dari tadi mengintip, menggigit jarinya. Dia merasa sangat gugup.
"Baru 2 bulan kalian menikah, tapi kau sudah memukulnya. Bagaimana jika 20 tahun ke depan?"
"Aku berjanji, hari itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku memukul Nini."
"Kenapa aku harus percaya pada orang asing sepertimu?"
"Aku bukan orang asing. Aku adalah suami putrimu." Johan berusaha menahan amarahnya.
"Nini mengenalmu. Tapi aku tidak."
Mata mereka saling memandang penuh amarah. Tapi Johan mencoba mengontrol sebisa mungkin.
Dia mertuaku. Aku harus bisa menahan perasaanku.
"Cukup..!!!" Nini menjerit menutup telinganya. Dia terduduk dan menangis.
Ayah dan Johan berlari menghampirinya.
"Sudah ayah.. Aku yang salah. Dia berhak melakukan itu karena aku istrinya." Nini menatap ayahnya.
Johan benar-benar tidak lagi kuat ditambah dengan Nini yang menangis.
"Maafkan saya pak. Apapun akan saya lakukan asal anda mau menerima saya sebagai menantu anda." tangan Johan merangkul istrinya. Tapi matanya tertuju pada ayah yang berdiri di hadapan mereka.
"Aku tidak mungkin percaya pada lelaki yang telah memukul anakku."
"Ayah.. Aku mohon. Jika ayah tidak menerimanya maka jangan harap akan ada lelaki lain lagi dalam hidupku." Nini masih saja menangis. Tangannya menggengam erat tangan ayahnya.
Ibu, Fany, Andika, dan para pelayan hanya diam membisu. Tidak ada satu pun yang berani ikut campur.
"Jadi ayah tidak akan menerimanya? Aku dan Johan sudah resmi menikah."
"Tapi bagi ayah tidak." pak Haris berbalik. Langkah kakinya terhenti ketika ibu berteriak memanggil Nini. Anaknya pingsan.
Johan langsung menggendong istrinya menuju kamar.
Ayah semakin khawatir dengan Nini.
"Tuh kan ayah. Kenapa sih ayah tega sama Nini?" ibu mengomeli suaminya. Dia meremas jemarinya.
Fany mengambil minyak angin dan mengolesinya pada kepala dan hidung kakaknya. Tiba-tiba Nini membuka matanya pelan dan berlari menuju kamar mandi. Johan pun menyusul langkah istrinya, diikuti yang lainnya juga.
Nini merasa mual dengan bau minyak angin itu. Dia muntah-muntah pada wastafel.
"Sayang kamu kenapa?" ibu semakin khawatir dengan anaknya. Dia menatap marah pada suaminya. Bersiap ingin mengomelinya lagi.
"Ibu udah deh. Jangan makin memperparah keadaan dong. Kak Nini tuh kasihan." Fany menahan ibunya yang sudah mulai emosi.
Johan memeluk bahu istrinya. Memijit pelan.
"Kamu udah baikkan apa belum?"
"Bau minyaknya gak enak. Masih tercium ni." Nini kembali muntah.
"Ayo basuh wajahmu dulu. Tadi Fany mengolesnya pada dahi dan hidungmu."
Nini menuruti saran suaminya. Keadannya sudah agak membaik.
Johan memperhatikan tubuh istrinya. Dia fokus pada leher dan dada. Lelaki itu maju dan menyentuh leher Nini.
"Sebentar." Johan menahan Nini yang ingin menghindar.
__ADS_1
Astaga.. Istriku hamil.
Wajah tegangnya berubah ceria. Semua orang di sana kebingungan. Terlebih ayah.
"Kita belum selesai bicara." Ayah memandang Johan
"Baiklah ayah." Johan menjawab dengan sangat bahagia.
"Siapa yang kau panggil ayah?"
"Lelaki hebat dalam hidup istriku." segala emosinya sudah hilang. Dia benar-benar bahagia.
"Apa kau mencintai anakku?" ayah kembali bertanya dengan nada serius.
"Aku sangat mencintainya ayah."
Pak Haris berbalik menuju ruang tengah. Johan mengikuti langkahnya.
"Jaga anakku." suara ayah terdengar berat.
"Jadi aku diterima?"
"Berjanjilah dulu. Apakah kau tidak akan memukulnya lagi?" ayah berbalik menghadap Johan
"Aku berjanji. Sampai kapan pun aku tidak akan memukul istriku."
" Suatu saat kau akan berada di posisiku. Aku harap kau bisa menepati janjimu. Percayalah, tidak ada orangtua yang sanggup melihat anaknya terluka dan menangis." ayah menepuk bahu Johan
"Aku akan menepatinya. Sekali lagi aku mohon maafkan aku." Johan mencium punggung tangan ayah.
"Apa aku bisa memanggil dengan sebutan ayah juga?" Johan bertanya lagi.
"Tentu. Kau suami anakku." keduanya tertawa bahagia.
Sudah tidak ada lagi ketengangan. Nini sangat bahagia. Johan yang tahu tentang kehamilan istrinya masih menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu semuanya.
Sore harinya mereka pergi beribadah bersama.
Nini yang paling bahagia dari semuanya. Dia memeluk ayahnya ketika selsai makan malam.
"Aku pikir ayah tidak akan menerimanya."
"Ayah terpaksa menerimanya. Semua demi kamu sayang."
"Apa ayah sudah memaafkan aku?"
"Sudah. Jika belum maka ayah tidak akan menerima suamimu."
Ayah mengusap lembut kepala Nini.
"Rasanya seperti mimpi nak. Waktu berjalan terlalu cepat. Beberapa tahun yang lalu ayah memelukmu sebagai putri kecil milik ayah seorang. Tapi sekarang, kau sudah menjadi wanita dewasa yang sudah menjadi milik orang lain. Rasanya berat nak, hanya saja ayah harus tetap iklas."
"Masih ada Fany ayah." Nini mengangkat kepalanya menatap ayah. Mereka sedang duduk di teras depan menatap bintang di langit.
"Tentu. Tapi kalian sudah tumbuh dewasa. Fany pun sebentar lagi akan menempuh hidupnya sendiri. Begitu juga dengan adikmu Andika. Sejujurnya ayah merindukan masa di mana kalian semua hanya mencintai ayah dan ibu." wajah tua itu terlihat sangat bersedih. Hatinya merasakan sepi yang menusuk. Mau tidak mau dia harus melepaskan anak-anaknya menjalani hidup mereka sendiri.
Nini melepas pelukannya. Dia tidak ingin melihat wajah ayahnya yang bersedih itu. Rasanya tidak sanggup.
"Tapi jika kalian bahagia. Maka ayah dan ibu akan lebih bahagia lagi. Jangan marah pada ayah atas perkataan ayah pada suamimu tadi. Sejujurnya ayah hanya ingin melihat sejauh mana dia mempertahankan kamu. Apapun yang terjadi, ayah tetap harus menerima dia sebagai suamimu. Karena ikatan yang dibuat di Surga tidak akan bisa diputuskan di dunia." ayah bangkit berdiri ingin masuk ke dalam.
"Nini, jangan lagi keras kepala. Ingat sayang kau sekarang sudah menjadi seorang istri bukan lagi seorang anak remaja." ayah memberikan senyum pada anaknya lalu masuk meninggalkan Nini yang terpaku menatap langit.
"Terima kasih ayah." air mata Nini jatuh.
Bersambung........
__ADS_1