Janji Suci

Janji Suci
Bab 59


__ADS_3

"Gimana hasil pemeriksaannya tadi sayang?"


tanya Johan saat mereka menjelang tidur.


"Aman kok. Cuma kata dokter aku gak boleh banyak pikiran." Nini sudah tenggelam dalam pelukan suaminya.


"Syukurlah." Johan mencium kening Nini.


"Han..." panggil Nini lembut.


"Iya."


"Kamu kenal dokter Jeslin?" Nini mendongak menatap suaminya.


"Kenal dong. Dia kan kerja di rumah sakit kita." wajah Johan berubah seketika.


Melihat perubahan itu, Nini tahu ada sesuatu yang disembunyikan suaminya.


"Apa kamu kenal baik dengannya?" tanya Nini lagi. Tatapannya semakin tajam.


Johan melepaskan pelukannya dan bangun. Dia bersandar pada head board. Mengusap pelan wajahnya.


"Han?" Nini pun bangun dan menatap Johan yang tampak pucat.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang dokter Jeslin?" Johan tidak berani menatap istrinya. Dia hanya melirik.


"Apa salahnya? Aku hanya ingin tahu kok." Nini mengangkat kedua bahunya. Kecurigaan mulai tumbuh di dalam pikirannya.


"Dia hanya kepala rumah sakit biasa." kata Johan lalu kembali berbaring. Menarik selimutnya dan membelakangi Nini.


"Apa dia juga dekat dengan Jessika?" Nini memberanikan dirinya untuk bertanya.


Johan mengibaskan selimutnya dengan kasar. Kembali terduduk dan menatap Nini.


"Iya. Dia adalah kakak Jessika."


"Ooohh.... Tinggal jawab gitu aja susah." Nini berbaring dan membelakangi Johan.


"Kenapa sih kamu masih aja bahas tentang Jessika?" tanya Johan dengan kesal.


Nini hanya diam.


"Diakan sudah mati Nini. Apa lagi yang buat kamu tidak tenang?"


Nini masih diam.


"Kamu cemburu? Hahaha, ayolah masa iya kamu cemburunya sama mayat?"


Nini tetap diam.


"Nini..." Johan menggoyang pelan tubuh istrinya.


"Tapi kamu masih sayangkan sama dia?" tanya Nini masih dengan posisi membelakangi Johan.


"Ya... Wajarkan toh kami berpisah juga karena takdir bukan karena keinginan kami."


Nini berbalik menatap datar suaminya.


"Katanya kamu pengen lupain dia."


"Aku sudah mencintai kamu. Tapi aku masih sayang sama Jessika. Dan aku rasa itu wajar."


"Oh ya? Tadi kamu bilang masa iya aku cemburu sama mayat. Terus sekarang kamu pikir wajar gitu kalau kamu sayang sama mayat?" Nini bangun menghadap Johan


"Astaga Nini. Kamu kok..." Johan terdiam. Dia kembali tersadar kalau Nini sedang hamil.

__ADS_1


Kebanyakan wanita yang hamil muda sangat sensitif. Terlalu banyak perubahan yang harus bisa Johan sesuaikan. Salah satunya ya seperti ini, cemburu tidak jelas.


"Emmm.. Maafkan aku sayang. Aku memang sudah melupakan Jessika. Dan..."


"Dan masih kamu simpan fotonya." sambung Nini dengan judes. Hatinya terasa panas mengingat kembali temuannya kemarin.


"Foto?" Johan mengerutkan dahi dan alisnya.


"Iya foto yang kamu sisipkan pada buku berjudul kanker. Di kantormu." Nini membalikkan tubuhnya membelakangi Johan.


"Aku lupa.. Astaga, maafkan aku. Baiklah besok aku akan membuang foto itu." Johan memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.


"Jangan." Nini memegang tangan suaminya.


"Kok jangan?" Johan kembali merasa heran.


"Kamu berhak menyimpannya. Harusnya aku yang sadar diri. Jawab jujur, apa kau masih mencintai Jessika?"


"Aku mencintaimu Nini." Johan berbisik lirih di telinga Nini.


"Jawab pertanyaanku."


"Aku mencintaimu Nini. Bagiku Jessika hanyalah puing-puing masa lalu. Memang aku masih menyayanginya. Tapi hanya sebagai kenangan yang tidak boleh aku lupakan. Sekarang aku harus menjalani hidup baruku." Johan membalikkan tubuh Nini menghadap dirinya.


"Dan hidupku saat ini adalah kamu. Jessika sudah hidup tenang di sana. Aku mohon, jangan lagi membahas seseorang yang tidak mungkin lagi ada."


"Lalu bagaimana dengan Amel?" wajah Nini kembali murung.


"Jangan takut sayang. Dia hanya pelayan biasa di sini."


"Dia mengancamku Han.. Dia bilang ingin merebut kamu." Nini menggeleng pelan.


"Apa kamu yakin dia bisa merebut aku darimu?" Johan memegang dagu istrinya. Mendekatkan wajahnya siap mencium bibir mungil itu.


"Tidak. Aku yakin kau hanya milikku seorang." Nini memejamkan matanya. Bersiap menerima serangan yang akan diberikan suaminya.


****


Suara ketukkan pintu menyadarkan Nini dari tidurnya.


Sudah hampir jam 8 pagi. Nini mengusap wajahnya. Johan sudah tidak ada lagi di sampingnya.


Seorang pelayan masuk membawakan sarapan pagi untuk Nini.


"Di mana suamiku?" tanya Nini pada pelayan itu.


"Sedang olahraga di taman belakang non. Tadi tuan yang menyuruh saya mengantar sarapan untuk non." pelayan itu menundukkan kepalanya.


"Hmmmm.. Terima kasih ya." ucapnya tulus, dan berharap pelayan itu segera keluar. Karena dia tidak memakai pakaian.


Pelayan itu menudukkan kepalanya lebih dalam, lalu keluar.


Setelah merasa aman, Nini berlari kecil menuju kamar mandi tanpa sehelai benang pun.


Nini meraih handuk baju berwarna putih dan mengenakannya sehabis mandi.


Matanya tertuju pada meja saat keluar dari kamar mandi. Di atasnya sudah terhidang bubur ayam yang masih hangat.


Nini menelan ludahnya. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung mendekat dan menghabisi makanan itu.


"Emmmm... Enak banget ni." kata Nini saat suapan terakhirnya.


"Pengen nambah ah." Nini masih berpikir sebentar.


"Tapi kan ini cuma sarapan. Masa sih aku habisin 2 porsi?"

__ADS_1


"Udah ah. Bodoh amat. Aku gak bisa tahan lagi." Nini meraih ponselnya lalu mengirim pesan pada ibu Idah.


Tidak lama kemudian, ibu Idah masuk dengan membawa nampan yang berisi bubur ayam.


Mata Nini terbuka lebar. Dia seperti orang yang memenangkan undian. Air liurnya meleleh lagi.


"Silahkan dinikmati non." ibu Idah sangat bahagia melihat Nini yang melahap habis bubur ayam itu.


"Siang nanti non mau makan apa?" tanya ibu Idah ingin memastikan.


"Emmm... Apa aja deh bu yang penting ada potongan daging ayam. Hehe."


Ibu Idah manggut-manggut. Dia tahu majikannya pasti ngidam.


"Baiklah non." sahut ibu Idah. Dia masih berdiri di tempat itu menunggu Nini menyelesaikan sarapan keduanya.


"Ahhh.. Kenyang bu. Makasih ya." Nini meneguk air putih.


"Habis ini non harus minum susu." ibu Idah mengingatkan. Tadi dia mendapat perintah dari ibu Isma, agar rutin memberi susu pada Nini setiap pagi dan malam.


"Aduh, masih kenyang ni Bu." Nini mengelus perutnya.


"Iya non. Jam 10 aja ya. Biar perut non sudah lebih longgar."


"Iya deh bu."


"Saya pamit ya non." ibu Idah menundukkan kepalanya sopan.


Nini membalasnya dengan senyum.


"Masih pake handuk ni." Nini tersadar kalau dia belum memakai pakaian atau pun dalaman.


Rasa kantuk membuatnya malas untuk bergerak. Bahkan ingin berjalan menuju ranjang pun dia tidak sanggup lagi. Dia menguap lebar. Tubuhnya terasa berat.


"Tidur di sini aja deh." Nini menepuk tepi sofa dan menjatuhkan dirinya, lalu tertidur dengan nyenyak.


Johan masuk dengan tubuhnya yang berkeringat. Hari ini adalah hari Sabtu. Tadi dia berolahraga bersama ayah dan ibu di taman. Niatnya ingin mengajak Nini, tapi dia tidak tega membangunkan istriny.


Mata Johan menyapu seluruh ruangan kamarnya. Ranjangnya masih berantakkan. Nini pun tidak ada di sana.


Johan meraih ponselnya yang ada di atas meja di dekat pintu kamar. Dia menghubungi seorang pelayan dan meminta mereka membersihkan kamarnya.


"Kemana lagi si Nini." gumamnya setelah mematikan telepon.


"Astaga." Johan menggeleng pelan. Melihat Nini yang tidur telentang dengan handuk.


Para pelayan masuk. Ada juga Amel. Wanita itu terlihat cemberut menyaksikan Johan yang sedang membelai mesra kepala Nini di atas pangkuannya.


"Cepat rapikan tempat tidurku." perintah Johan tegas.


Para pelayan itu sigap mengganti sprei dan mengatur rapi bantal-bantal itu.


Belum sampai 10 menit, pekerjaan itu sudah selesai.


Johan menggendong tubuh istrinya menuju tempat tidur. Pelayan yang lain sibuk membersihkan ruangan itu. Tapi Amel berdiri terpaku di sudut kamar, memperhatikan kemesraan pasutri itu.


"Cepatlah keluar, aku ingin memanjakan istriku." senyum sinis Johan jelas tertuju pada Amel.


Dengan hati yang panas Amel melangkah keluar dari ruangan itu.


Johan meliriknya lalu tertawa tanpa suara. Dia kembali fokus pada wajah cantik istrinya.


"Sejak semalam tingkahmu semakin aneh ya." Johan mencubit pelan hidung Nini.


Wanita itu tidak bergeming.

__ADS_1


"Jangan buat ayah pusing ya sayang." kata Johan lagi. Tapi tatapannya sudah turun ke perut Nini. Dia mengelus lembut perut istrinya.


Bersambung......


__ADS_2