
Hari-hari yang dilalui Nini terasa berat. Dia merasa bingung harus berbagi dengan siapa. Bukan tentang Amel yang memeluk suaminya, tapi tentang ancaman Amel.
Apalagi setelah mendengar cerita dari ibu Idah kalau keluarga Hartono tidak pernah membuat masalah.
Amel tidak jadi dipecat atas keinginan Nini. Tapi dengan syarat dia tidak boleh masuk atau mendekati kamar milik Johan dan Nini.
Akhir-akhir ini pun Nini rutin mengikuti jadwal pemeriksaan kandungannya.
Kata dokter Jeslin, janinnya sehat. Tapi alangkah lebih baik Nini beristirahat dan mengurangi beban pikirannya.
Dia bahkan tidak diijinkan keluar kamar sembarangan oleh Johan.
Selama hampir 5 hari terkurung, Nini pun merasa jenuh.
Dia sering diajak Johan ke kantornya, tapi sama saja akan membosankan.
Nini meraih ponselnya. Memikirkan siapa teman obrolan yang paling tepat.
"Ibu Idah. Ahhh gak mungkin aku cerita sama dia. Ibu Tia. Aduhhh, gak mungkin juga. Hemmmm.. Maya." Nini menemukan orangnya.
Dia mencari nama Maya di daftar kontaknya dan langsung menghubungi.
"Hallo mbak Nini.. Astaga, mbak kemana aja? Aku rindu." belum sempat Nini menyapa, suara Maya sudah lebih dulu terdengar.
"Maaf May. Kamu di mana?" tanya Nini
"Di kantor mbak." Maya menepuk dahinya pelan.
"Ohh.. Besok hari Sabtu, ada kesibukkan?"
"Gak ada mbak. Kenapa?"
"Bisa main ke sini gak? Aku lagi butuh teman curhat."
"Ohh, ok deh mbak. Mau jam berapa? Biar aku meluncur." Maya tersenyum bahagia.
"Jam 9 atau 10an lah." Nini menggigit jarinya, takut saja kalau di jam begitu Maya masih sibuk.
"Siip mbak. Ya sudah, aku lanjut kerja dulu. Bye mbak Nini." Maya langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Wajahnya terlihat ceria.
Nini menyandarkan tubuhnya penuh pada sofa. Merasa sedikit tenang karena masih ada teman yang bisa diajak curhat.
Bahkan sampai hari ini, Johan belum tahu kalau Amel sedang mengancam nama baik keluarganya.
Hari yang ditunggu pun tiba. 24 jam terasa seperti mimpi. Sangatlah cepat.
Nini sudah berdandan cantik. Dia baru saja menghabiskan sarapannya dan meminum segelas susu.
"Mau kemana kamu, kok udah cantik banget?" tanya Johan sembari mencium kening istrinya.
"Teman aku mau ke sini. Ingatkan yang namanya Maya?" Nini menatap Johan yang tampaknya sedang berpikir.
"Iya ingat kok. Kan teman kamu cuma satu. Hehe." Johan mencubit pelan pipi istrinya.
Maya memarkirkan mobil Nissan March miliknya yang berwarna merah.
Dengan ragu dia melangkah masuk. Takut saja dia keliru dengan alamat kiriman Nini.
__ADS_1
Dia bertanya pada seorang penjaga rumah yang memakai pakaian serba hitam.
Maya menggangguk dan berdecak kagum dengan interior bangunan yang bertema prancis kuno itu.
"Permisi ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan wanita pada Maya.
" Saya sudah membuat janji dengan mbak Nini."
"Oh, mari saya antar." pelayan itu menjadi pamong menuju kamar tidur Johan dan Nini.
Maya menikmati setiap ornamen bertema Eropa yang tersusun sepanjang lorong menuju kamar.
Ada beberapa pintu kamar yang tersusun seperti kamar-kamar hotel. Maya melongo bingung.
Banyak banget kamarnya.
"Di sini Nona." pelayan itu menunjuk dengan hormat pada daun pintu.
Maya menggangguk dan mengetuk pelan pintu itu.
Pelayan tadi sudah pergi.
Maya bingung, dia mengetuk lagi sebanyak 3 kali.
Nini yang mendengar ketukkan itu langsung tahu. Karena para pelayan hanya akan mengetuk sebanyak 3 kali dan langsung membuka pintu.
Dia berdiri menghampiri pintu itu dan membukanya.
Maya membelalakkan matanya.
"Mbak Nini.." teriaknya senang sambil merentangkan kedua tangannya minta dipeluk.
"Kalau kamu suka teriak, di sini aja. Kebetulan ruangan ini kedap suara." Nini menggerutu
"Wahh, canggih banget ya. Pake ada kedap suara segala. Jadi kalau mau kikuk-kikuk gak kedengaran dong. Hahahah" Maya menyenggol pelan lengan Nini.
"Ehemmm." Johan berdehem dengan suara yang cukup besar.
Maya langsung terdiam kaku. Tawanya langsung berubah jadi diam. Ingin menyapa pun rasanya enggan. Dia merasa malu dengan perkataannya barusan.
Nini dan Johan hanya menahan tawa.
Maya meletakkan kedua tangannya di belakang sambil meremas jemari.
"Aku pamit ya sayang." Johan mencium kening Nini tepat di hadapan Maya.
Wanita single itu menelan ludahnya. Membayangkan betapa bahagianya dimanja suami.
"Kamu jaga istriku yang sedang hamil ini ya. Aku percaya sama kamu." Johan menepuk pelan bahu Maya. Dan berlalu dengan pakaian olahraganya.
"Mbak hamil?" tanya Maya terkerjut saat Johan sudah pergi.
Nini hanya mengangguk pelan. Lalu menarik tangan Maya menuju sofa.
"Mbak, ini rumah apa istana?" tanya Maya lagi.
"Setiap rumahkan istana bagi penghuninya?" Nini memicingkan matanya pada Maya.
" Iya, tapi ini kok bagus banget ya." Maya kagum. Pujiannya terdengar tulus.
__ADS_1
"Iya. Aku juga awalnya kagum. Tapi sudahlah, kami ke sini cuma mau bahas rumah?" Nini menatap Maya sambil geleng-geleng.
"Heheh. Gak mbak." Maya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nini meraih ponselnya ingin memesan minuman dan makanan bagi Maya, tapi ditolak dengan alasan dia baru saja makan sebelum datang.
Dengan segenap hati, Nini mulai menceritakan seluruh masalahnya. Sampai pada ancaman yang mengganggu pikirannya.
"Sialan tuh cewe. Yanga mana sih dia mbak? Biar aku kenalan sama dia." tawar Maya dengan keyakinan.
"Jangan May, dia itu jahat." ujar Nini khawatir.
"Ahhh, aku gak takut mbak." Maya menggeram. Dia tidak terima jika Nini diperlakukan begitu.
"Udah ahh.. Tahan amarahmu, aku juga marah. Tapi gak ada gunanya."
"Mbak..... Kalau dia mau nyebarin fotonya ke publik bilangin aja dia juga yang malu nantinya. Karena cuma cewe murahan yang mau tidur dengan suami orang. Nama baik dia juga rusak sebagai wanita. Akan banyak berita miring yang beredar dan yang lebih parahnya lagi, tidak akan ada pria yang mau menikahi dia. Barang murahan kok, ya peminatnya juga yang kere." ujar Maya penuh amarah.
"Hmmmm, jadi sekarang aku harus gimana Maya?" Nini menopang dagunya.
"Kenalin aku sama dia mbak. Sekarang juga."
"Jangan dong. Ntar dia malah bilang kalau aku penakut dan cuma bisa aduin sama orang lain."
"Kalau gitu, mbak pecat aja dia. Kita lihat sampai mana keberaniannya muncul." Maya mendapat ide itu.
"Kita lihat mau sejauh mana dia licik. Kalau foto-foto itu tersebar, kan gampang. Keluarga kaya raya seperti suami mbak ini, pasti punya orang pintar yang mengendalikan sistem komunikasi negara. Bisa dihapus kok sebelum orang pada tahu." Maya tersenyum lebar.
"Kamu benar ya Maya. Kok aku bisa sampe gak kepikiran?" Nini merasa sedikit malu.
"Itu karena mbak terlalu fokus sama ancamannya. Tanpa mencari solusi terbaik."Maya memeluk bahu Nini dengan akrabnya.
"Terima Kasih ya Maya." Nini memeluk teman yang sudah dianggap adiknya itu.
Setelah puas berbagi cerita, Maya pun berpamitan pulang.
Nini mengantarnya sampai di depan pintu utama rumah itu.
Doni memperhatikan Maya dari kejauhan. Kebetulan dia tadi diajak Johan berolahraga ringan di sekitar halaman rumah keluarga Hartono.
"Cantik ya." kata Doni pada Johan.
"Yang mana?" Johan mengernyitkan dahinya.
"Bukan Nini. Tapi itu yang sedang dipeluk istrimu." Doni menjelaskan agar Johan jangan salah paham.
"Oh.. Itu temannya Nini. Kenapa?" Johan sedikit tersenyum.
Dari maksud pertanyaan Doni, dia sudah tahu.
"Emang kamu udah bisa move on dari mantanmu itu?" tanya Johan dengan nada mengejek.
"Sudah." jawab Doni santai.
"Sejak kapan?" Johan merasa heran.
"Barusan, sejak aku melihat wanita cantik itu. Eh.. Namanya siapa Han?" Doni masih memandang Maya.
"Usaha dong. Jadi cowo kok mau yang gampanga aja." tantang Johan pada sahabatnya.
__ADS_1
Bersambung......