Janji Suci

Janji Suci
Bab 81


__ADS_3

Semuanya sudah kembali membaik. Meski begitu, Johan tetap mengawasi Nini tanpa


sepengetahuannya.


Beberapa hari lagi akan diadakan pernikahan Doni dan Maya. Lisa dan Nini turut disibukkan dengan


resepsinya. Lisa bertugas membuat gaun pengantin terbaik. Sedangkan Nini membantu memilih


desain interior. Maya memilih tema cherry blossom.


“Mbak udah makan?” tanya Maya saat berkunjung ke butik Lisa.


“Belum Maya. Kan tadi kamu sendiri yang bilang hari ini mau traktir kita makan siang?” Lisa


menggeleng sambil merapikan sisa-sisa benangnya.


“Tau tuh si Maya pura-pura lupa nih.” Sambung Nini dari balik gaun yang mereka kerjakan tadi.


“Hahaha, kan kalau udah makan berarti syukur dong duit aku gak jadi keluar.” Maya melambaikan


tangan.


“Yuk ah. Takut keburu penuh kursi di sana.” Cengir Lisa.


Mereka berjalan keluar,masuk ke dalam mobil Maya. Siap meluncur menuju restoran Italia


langganan Maya.


“Di sana.” Tunjuk Maya pada tempat favoritenya. Di sudut dekat jendela yang berhadapan dengan


jalanan.


“Aku mau pesan makanan yang paling mahal boleh gak?” tanya Nini saat mereka sudah duduk.


“Boleh kok mbak. Asal bayar sendiri.” Maya cekikikan sendiri menutup mulutnya.


“Ihhh, yang udah mau nikah jangan pelit dong.” Sambar Lisa.


Maya melambaikan tangan pada seorang pelayan wanita.


“Silahkan.” Pelayan itu bersikap sopan. Sambil menunggu mereka memesan.


Sesuai permintaanya, Nini memesan menu paling spesial. Diikuti Maya dan Lisa.


“Gimana sama persiapan surat-suratnya May, udah beres apa belum?” tanya Nini sembari


menunggu pesanan datang.


“Udah dong mbak. Urusan si Doni itu mah.” Maya melambai dan tersenyum simpul.


“Kalau kursusnya udah?” Lisa ikut bertanya.


“Udah juga lah mbak. Tinggal gaun pengantinnya yang belum.” Mereka pun tertawa.


“Cincin sama yang lainnya?” Lisa kembali bertanya.


“Kan udah aku bilang mbak. Tinggal gaunnya doang yang belum.” Maya memutar bola matanya


kesal.


“Si Doni kerjanya cepet ya?” Lisa tertawa. “Dijamin deh, setelah nikah nanti pasti yang lain juga


cepet kok kerjanya. Hahha” sambungnya lagi.


Maya menahan malunya sambil meremas jemarinya.


“Oh ya. Sekedar info aja ni ya. Aku udah hamil..” wajah Lisa sangat bahagia.


“Wah selamat ya mbak. Udah berapa lama? Kok kita baru dikasih tahu sih?” Maya memancungkan


bibirnya.


“Belum juga sebulan Maya. Eh, tapi makasih ya buat ucapannya.” Lisa kembali tersenyum bahagia.


“Selamat ya mbak.” Nini merasa bahagia tapi juga sedih. Dia ingin memiliki anak.


“Iya Nini. Kamu sama Johan kapan sih?” Lisa bertanya polos. Dia memang tidak tahu kelemahan Nini.


“Ahh, mbak Nini masih belum siap aja jadi seorang ibu. Mbak Lisa sendiri kan tahu, insiden waktu


itu.” Maya mencoba membuat Nini tidak berkecil hati.


“Nini, maafkan aku ya.” Lisa mengelus punggung tangan Nini.


“Kok malah mbak Lisa yang minta maaf?” Maya mengernyitkan dahinya,menatap mereka

__ADS_1


bergantian.


“Panjang ceritanya Maya.” Nini menatap pelayan yang datang membawa makanan.


“Ehh, makasih ya.” Ucap Maya pada wanita itu.


“Sebenarnya ada apa ini mbak?” Maya kembali bertanya saat pelayan itu pergi.


“Makan aja dulu Maya. Habis ini baru mbak ceritakan.” Nini menatap Lisa yang sudah menunduk.


Maya semakin curiga melihat Nini dan Lisa yang tampak canggung.


“Apa ada yang belum mbak ceritakan sama aku?”


“Aku janji, sehabis makan ini aku bakal cerita semuanya.” Nini mulai makan.


“Kamu gak kerjakan?” Lisa juga mulai makan.


“Gak mbak. Aku dikasih cuti sama Pak Adit sampai kelar acara nikahnya.” Maya juga sudah


menikmati makanan.


Mereka berbincang ringan tentang pernikahan Maya sambil menghabiskan makan siang.


Namun, di hati Maya terselip rasa penasaran tentang cerita yang akan disampaikan Nini sehabis ini.


Tidak butuh waktu terlalu lama, akhirnya mereka pun selesai.


“Mbak enaknya bicara di mana ya?” Maya masih menagih janji Nini.


“Di taman aja yuk.” Usul Lisa. Dia menatap Nini seperti ingin memohon sesuatu.


“Iya. Kita turuti saja keinginan bumil. Heheh.” Nini berusaha mencairkan suasana.


Perasaan Lisa mulai berkecamuk. Dia takut, Maya akan marah padanya.


Sampailah mereka di sebuah taman kecil kota itu. Sebelum memilih tempat yang tepat, mereka


masih membeli es krim. Mendadak Lisa ingin memakan es krim.


Maya lebih dulu berjalan. Sementara Lisa dan Nini masih berbicara di belakangnya.


“Ada apa mbak?” Nini langsung mengerti dengan maksud tatapan Lisa tadi.


“Nini, biarkan aku yang menceritakan semuanya. Aku takut.” Ungkap Lisa.


“Tapi aku juga penyebab kematian anakmu Nini.”


“Gak mbak, Amel lah yang menyebabkan semuanya.” Nini menarik tangan Lisa mendekati Maya


yang sudah duduk manis.


“Sini mbak.” Maya mempersilahkan keduanya duduk di sampingnya. “Jadi gimana?” tagihnya lagi


sambil menatap Nini.


Nini menatap Lisa lalu menghembuskan nafasnya.


“Jadi gini Maya, kamu belum tahu kan tentang mbak yang diculik dari rumah sakit?” Nini


memandang Maya.


“Jadi, mbak diculik juga waktu itu?” Maya melongo tidak percaya.


Lisa menatap nanar es krimnya.


“Iya Maya, tapi semuanya sudah beres. Itu juga terjadi karena salah paham kok.” Nini mengelus


tangan Maya.


“Tapi siapa pelakunya mbak?” Maya terlihat sangat antusia.


“Pelakunya aku Maya.” Suara Lisa serak.


“Maksud mbak?” Maya mengernyitkan dahinya.


“Aku yang menculik Nini malam itu.” Lisa memejamkan matanya.


“Mbak kok tega banget?” Maya menggeleng dan berdiri.


“Sudah Maya. Itu juga karena mbak Lisa dihasut sama Amel.” Nini menarik tangan Maya agar


kembali duduk.


“Astaga, rahasia sepenting ini kalian sembunyikan dari aku?” Maya mengusaal wajahnya

__ADS_1


“Maafkan aku.” Lisa menunduk.


“Mbak.. Karena ulah kalian, sekarang mbak Nini gak bisa lagi punya anak.” Maya menunduk mantap


Lisa.


“Nini gak bisa hamil?” Lisa menatap Nini.


“Iya mbak. Tapi itu bukan kesalahan siapa-siapa. Mungkin ini juga bagian dari rencana Tuhan.” Nini


memilih mwnyudahi perdebatan ini.


“Ini adalah bagian dari rencana manusia mbak. Tuhan gak mungkin sejahat itu, membunuh bayi yang


tidak bersalah.” Maya melipat kedua tangannya ,memalingkan pandangannya jauh.


“Maafkan aku.” Lisa merasa bersalah.


“Mbak gak salah kok.” Nini mengusap tangan Lisa meyakinkan.


“Gak salah gimana mbak? Jelas-jelas mbak Lisa juga sekongkol dengan Amel.” Maya mencibir kesal.


“Maya, sudah dong. Lagian aku juga udah gak marah lagi kok. Tolong, sekarang ini kita sudah


menjadi teman. “ Nini mengerutkan dahinya memohon.


“Aku Cuma gak nyangka aja, mbak Lisa ternyata tega melakukan ini sama mbak.”


“Aku memang salah Nini. Harusnya kamu gak perlu memaafkan aku.” Lisa mengusap air matanya


yang mulai jatuh.


“Kenapa mbak ngomong gitu? Aku gak mau mbak kepikiran masalah yang sudah berlalu itu. Lagian


manusia kan wajar kok berbuat salah.” Nini menggeleng.


“Apa mbak Lisa udah nyesel?” suara Maya melemah.


“Aku benar-benar menyesal Maya. “ Lisa kembali mengusap air matanya.


“Maafkan aku ya.” Lisa memohon pada Nini dan Maya.


“Aku gak ada hak untuk marah sama mbak. Mbak Nini aja udah maafin. Masa iya aku harus marah?”


Maya tersenyum simpul. “Aku Cuma gak nyangka aja, kalau mbak Lisa dengam mudahnya terhasut.”


“Aku memang termakan omongan Amel.” Lisa menatap nanar pepohonan di hadapannya.


“Emang si Amel sialan itu ngomong apa mbak?” Maya kembali duduk.


“Dia bilang Adit sangan mencintai Nini, dan tidak akan bisa mencintai siapa pun selagi Nini masih


hidup.”


Mendengar perkataan Lisa, Maya merapatkan bibirnya. Dia sendiri sudah tahu sejak lama kalau Adit


memang pernah menyukai Nini.


“Aku cemburu dan bertekad membunuh Nini malam itu. Tapi hati kecilku tidak bisa berbohong,


meski aku membencinya namun aku juga tidak bisa melukai orang sebaik Nini.”


“Untung saja Adit dan Johan dengan cepat menemukan kami, jika tidak. Mungkin aku akan menyesal


seumur hidupku.” Lisa memejamkan matanya sesaat dan menggeleng pelan.


Nini mengelus bahu Lisa.


“Sudahlah mbak. Yang penting, sekarang semuanya baik-baik saja.”


“Apanya yang baik mbak? Buktinya mbak gak bisa punya anak kan?” Maya masih sedikit kesal.


“Tapi aku Sudah didiagnosa demikian sebelum aku diculik kok.” Sanggah Nini.


“Hemmm... iya deh. Intinya biang keroknya adalah Amel.” Maya menggangguk paham.


“Mbak, maafin aku ya tadi sempat marah sama mbak.” Maya menatap Lisa.


“Iya. Wajar kok, kalau kamu marah.” Kata Lisa.


“Sekarang, tidak ada lagi masalah di antara kita.” Nini memegang tangan mereka dan


menyatukannya.


Ketiganya berpelukan erat.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2