
Lisa menelan ludahnya. Terasa getir dan menyakitkan. Dia tidak sanggup menatap suaminya yang sedang duduk di depannya.
Adit tidak mempedulikan Lisa. Dia fokus pada ponselnya.
Seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan buku menu pada mereka. Adit masih menatap ponselnya.
"Pesankan untukku. Apa saja aku makan." kata Adit datar.
Lisa membuka buku itu dan memesan. Dia juga bahkan tidak lagi fokus pada menu makanan itu.
Mereka saling diam membisu.
"Aku pikir kau tidak akan menyapa mereka." Lisa membuka pembicaraan. Dia hanya ingin semuanya baik-baik saja.
"Tentu aku harus menyapa. Johan adikku dan Nini..." Adit manatap sinis istrinya. Senyum kejamnya tergambar.
"Wanita yang aku cintai."
Lisa meremas jemarinya. Menahan sakit hati yang dia rasakan saat ini. Berkali-kali Adit selalu mengatakan kalau dia hanya mencintai Nini.
Hari ini bahkan mereka bertemu. Perlahan muncul kebencian di hati Lisa pada Nini.
Hidangan datang. Mereka masih diam.
Adit menyantap makanan itu tanpa menegur istrinya.
Selera makan Lisa hilang.
Harusnya aku tidak perlu menerima ajakannya untuk makan bersama. Batin Lisa
"Kau tidak ingin makan?" tanya Adit dengan tatapan dinginnya.
"Aku tidak lapar." Lisa menatap hidangan itu. Benar, sudah tidak ada lagi rasa laparnya.
"Ibu yang tadi memaksa aku untuk mengajakmu makan siang bersama. Jangan berharap lebih." bahkan wajah Adit tidak akan berubah sekalipun. Tetap dingin dan menakutkan.
"Aku sudah selesai." Adit melihat jam tangannya.
"Kau makan saja dulu. Akan aku bayar semuanya. Maaf, aku sedang buru-buru. Pulanglah dengan taksi." Adit berdiri meninggalkan Lisa sendirian.
Dengan sekuat hati Lisa menahan tangisnya. Hatinya terasa sakit diperlakukan demikian. Wanita cantik itu meraih tasnya dan keluar.
Dia mengusap air matanya yang mulai berjatuhan.
Di tempat parkir, masih ada mobil Adit.
Lisa tidak mempedulikan itu. Dia tahu, Adit tidak buru-buru. Lelaki itu hanya ingin menghindar dari dirinya.
Lisa melambaikan tangannya pada sebuah taksi yang lewat.
Adit melihatnya dari dalam mobil. Matanya masih memperhatikan wanita itu sampai masuk ke dalam taksi dan menghilang di antara kendaraan lain.
Sesampainya di rumah, Lisa berlari menuju kamar dan membanting tubuhnya di atas ranjang.
Isak tangisnya disembunyikan dengan bantal yang menutup seluruh wajahnya.
__ADS_1
Hingga malam menjemput, Lisa masih terbaring tetap dengan posisinya. Tanpa sadar dia tertidur.
Adit pulang dengan kepenatan di seluruh tubuhnya. Sepulang dari restoran tadi ada pertemuan penting yang menguras hampir seluruh tenaga dan emosinya.
Keadaan kamar masih gelap. Dia menyalakan lampu kamar. Terlihat Lisa masih dengan gaun merah mudanya dan sedang tertidur nyenyak.
Adit tidak mengacuhkannya. Dia melonggarkan dasinya dan membuka pakaiannya. Kelelahannya harus di manjakan dengan berendam air hangat.
Adit dan Lisa tinggal di rumah yang berbeda dengan orangtua mereka. Ada beberapa asisten di rumah itu yang membantu pekerjaan rumah mereka.
Adit sengaja meminta rumah sendiri agar tidak perlu direpotkan dengan ibunya yang akan menuntut cucu.
Hampir 1 bulan pernikahan mereka, dia bahkan belum menyentuh tubuh Lisa. Adit tidak bisa membohongi perasaannya. Dia hanya mencintai Nini. Meski terkenal sebagai ******** yang suka tidur dengan banyak perempuan, tapi Adit memilih tidak menyentuh Lisa. Alasannya karena dia tidak ingin memiliki anak dari Lisa.
Adit berendam lama dengan air hangat. Dia mencoba memperbaiki pikirannya yang sedang kacau.
Pikirannya tentang kemajuan perusahaan ini dan tentang Lisa yang tidak bisa dia cintai. Serta Nini dan Johan yang tampaknya sudah saling mencintai.
Adit menyiram wajahnya dengan air. Memejamkan matanya. Membayangkan wajah Lisa tadi di restoran.
"Ahhh.. Sialan!!" Adit menggeleng kepalanya. Membuka matanya. Kembali terbayang wajah Lisa saat dia menahan sakit hatinya.
"Lisa... Aku benci dirimu. Awalnya aku mengira kau menikah denganku karena cinta. Tapi aku keliru. Ternyata kau tidak jauh berbeda dengan wanita lainnya. Hartalah yang kau inginkan." mata Adit memerah.
Lisa membuka matanya saat Adit menendang pelan bokongnya.
"Bangun kau."
"Emmm." Lisa memicingkan matanya. Dia melihat Adit sudah memakai pakaian santai.
Wanita malang itu bangun. Dengan terpaksa lagi dia harus tidur di sofa. Tubuhnya sakit, tapi dia tetap bertahan.
Dia sangat mencintai suaminya. Sayangnya, Adit salah pengertian. Memang mereka dijodohkan karena keperluan bisnis. Tapi Lisa sudah menyukai Adit sejak dulu. Sejak pertama kali mereka bertemu.
Saat itu dia dan Jessika berteman. Mereka sangat dekat. Hampir semua suka dan duka mereka berbagi bersama.
Awal pertama Lisa bertemu Adit, saat ulang tahun Johan yang ke 22. Acaranya tidak terlalu mewah. Hanya mengundang beberapa teman dekat, termasuk Lisa.
Adit yang terlihat dewasa dan tampan, dengan mudah merebut hati wanita mana pun termasuk Lisa. Meski perawakannya agak menakutkan tapi bagi Lisa itu bukanlah suatu masalah. Dia mencintai Adit dengan tulus dan tanpa alasan.
"Mandi sana." suara Adit membuat Lisa tersadar.
Lisa hanya menuruti perintah suaminya. Saat mandi, dia menangis lagi. Adit bahkan tidak ingin memandangnya walau hanya sebentar. Dia menatap bayangannya di cermin yang tertempel di dinding kamar mandi.
"Apa aku terlalu hina untuk dicintai?" air mata Lisa terus berderai.
"Kenapa aku tidak punya keberanian sedikit pun untuk protes di depannya. Aku berhak cemburu dan marah. Karena dia adalah suamiku." Lisa memukul dadanya yang terasa sesak. Pada siapa dia bisa melampiaskan sakit hatinya?
"Aku harus kuat.. Aku harus bisa memperjuangkan suamiku." dia menatap bayangannya lagi. Mengusap air matanya.
Lisa mengumpulkan seluruh keberanian di dalam dirinya untuk menghadapi Adit.
Dia merapatkan handuk di dadanya lalu berjalan keluar.
Adit sudah tertidur, entah nyenyak atau tidak.
__ADS_1
Lisa menghembuskan nafasnya pelan.
Sudah saatnya. Batin Lisa.
"Aditya." ucap Lisa dengan suara gementar. Bahkan seluruh tubuhnya bergetar menahan takut.
Adit membuka matanya lalu menatap Lisa yang hanya memakai handuk.
"Aku istrimu." kata Lisa.
Adit memperhatikan dengan memicingkan kedua matanya keheranan.
"Lalu?" tanya Adit dengan suara datar.
"Aku ingin menuntut hak ku." dengan susah payah Lisa melangkahkan kakinya mendekati Adit yang sudah turun dari ranjangnya.
"Hahahah.. Hak apa maksudmu, harta? Kau tidak perlu memintanya, aku akan memberikan sebagian besar warisan orangtuaku. Agar kau puas." perkataan Adit telak membuat Lisa semakin terpukul.
"Bukan hartamu. Aku tidak butuh itu. Aku hanya membutuhkan cintamu Adit." Lisa menangis lagi.
"Omong kosong. Apa kau pikir aku tidak tahu keinginan wanita sepertimu?" Adit menunjuk istrinya dengan telunjuk.
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku terlahir dari keluarga yang kaya juga."
"Aku rasa kau sudah tahu, kalau manusia tidak akan pernah puas." senyum sinis Adit mengejek Lisa.
"Aku mencintaimu." suara Lisa melemah. Tangannya memegang dadanya yang mulai terasa sesak.
"Aku tidak akan bisa mencintaimu Lisa. Aku benci dirimu."
"Pandanglah aku sebentar saja. Jika kau tidak ingin menganggapku sebagai istrimu, setidaknya anggaplah aku sebagai temanmu." suara Lisa memohon. Kakinya terasa lemas. Dia terjatuh seperti berlutut.
Masih terus menangis. Suara isakkannya memenuhi ruangan itu.
Adit masih berdiri pada posisinya. Hatinya sedikit tersentuh, tapi dia kembali membenci ketika berpikir kalau Lisa hanya ingin berakting.
"Ada sesuatu yang harus kau ketahui Adit. Orangtuaku tidak mau aku menikah denganmu." Lisa memberanikan dirinya menatap Adit.
"Mereka menjodohkan aku dengan anak para konglomerat lainnya. Bahkan dengan anak orang terkaya di Asia. Tapi aku menolak semuanya. Alasanku karena aku hanya ingin menikah dengan orang yang aku cintai yaitu kamu Aditya. Aku membujuk papa agar mencari cara supaya bisa berbisnis dengan ayahmu. Dan memaksa papa untuk menyusun rencana agar perjodohan ini terjadi. Beruntungnya semua berjalan lancar." Lisa berusah bangkit, berjalan mendekati Adit yang menatapnya dingin.
"Selama bertahun-tahun aku berharap dan berdoa agar bisa disandingkan denganmu. Aku memikirkanmu setiap saat. Tapi kau? Bahkan sedetikpun tidak pernah terlintas di benakmu untuk mengingat aku."
"Kalau kau tahu begitu, kenapa kau tetap ingin menikah denganku?" Adit menatap tajam mata Lisa yang sudah sembab dan merah.
Mata cantik itu masih terus mengeluarkan air mata.
"Dengarkan aku Lisa. Entah sebanyak apa pun air matamu yang keluar, hatiku bahkan tidak tersentuh. Jangan paksakan dirimu untuk mencintaiku." Adit menepuk pelan bahu Lisa.
"Tidurlah di sini. Sekarang kau temanku, aku akan pergi ke kamar lain. Bukankah teman yang berbeda jenis kelamin harus tidur terpisah?" Adit menatap Lisa sesaat lalu berjalan keluar.
Lisa tidak bergeming seperti patung. Hatinya semakin terluka. Dia menatap pintu yang sudah ditutup suaminya itu.
Api kebencian pada Nini semakin membesar.
"Sudah saatnya aku berperang." tubuh Lisa bergetar penuh amarah.
__ADS_1
Bersambung.....