
82
“Hadirin yang berbahagia. Mari kita sambut kedua mempelai kita, untuk menuju pelaminan yang
penuh dengan sukacita.” Riuh para tamu undangan bertepuk tangan menyambut Doni dan Maya.
Mereka berdua berjalan beriringan. Pernikahan yang sangat megah.
Adit selaku CEO dari Maya, memberikan dengan gratis hotel bintang 5 miliknya untuk dijadikan
tempat berlangsungnya resepsi. Sedangkan Johan juga tidak mau kalah. Dia memberikan sebuah
rumah yang sangat mewah sebagai hadiah pernikahan sekaligus hadiah atas kesetiaan Doni selama
ini.
Bukan hanya hotel, Adit juga turut membantu banyak biaya dalam acara itu. Baginya, Doni dan Maya
sudah menjadi teman dekatnya.
Sesuai dengan temanya cherry blassom, Nini dan Lisa memakai gaun yang berwarna sama dengan
bunga tersebut.
Masing-masing dengan pasangannya, mereka masuk ke dalam ruangan yang sudah ramai itu.
Hampir semua mata tertuju pada keempat orang itu. Pasangan yang sangat sempurna. 2 orang
wanita yang cantik dan seksi, serta pasangan mereka yang tampan dan juga gagah. Eitsss, jangan
lupa. Sama-sama berpengaruh.
Berbeda dengan pernikahan Adit waktu itu. Kali ini, tidak ada pertengkaran maupun perdebatan.
Bahkan Adit dan Johan sudah berbaikkan. Ya, meski tidak ada yang saling meminta maaf, tapi
mereka sudah berbicara layaknya kedua teman.
“Gak nyangka ya. Si Doni berhasil mendapatkan wanita pujaannya.” Johan mengangkat gelasnya
yang berisi anggur.
“Yah.. Dia memang pria yang sejati. Tidak mudah menyerah.” Sahut Adit sambil mengangkat juga
gelasnya.
“Untuk Doni.” Kata mereka bersamaan.
Lisa dan Nini hanya tertawa kecil melihat suami mereka sudah berbaikkan.
“Habis nikahannya Doni, kita bulan madu bareng yuk.” Ajak Lisa mendadak.
“Hahah. Mbak kan lagi hamil, masih aja mikirin bulan madu?” Nini menggeleng lalu kembali
meneguk minumannya.
“Emang kalau udah hamil gak boleh bulan madu lagi?” Lisa mengerutkan bibirnya.
“Bisa dong.” Sambung Adit.
“Ya udah rencanain aja dulu tempatnya.” Johan menyetujui ide Lisa.
“Kalau soal itu sih serahkan pada ahlinya.” Adit tertawa sambil menunjuk Doni yang sedang sibuk di
atas pelaminan.
Kedua mempelai tersebut sedang diberi aba-aba untuk memotong kue pengantin.
“Serius ni mau bulan madu bareng?” tanya Nini ingin meyakinkan.
“Tentu. Apa salahnya kita pergi ke luar negeri. Kebetulan sekarang di sana musim dingin.” Sahut
Johan meyakinkan.
“Oh ya? Wahh, pasti seru tuh. Soalnya aku belum pernah tuh sampai ke Amerika atau Eropa.” Nini
mengangkat kedua bahunya.
“Masa sih?” Lisa mengeryitkan dahinya.
“Iya mbak. Kalau pun keluar negeri, paling Cuma di sekitar Asia aja. Itu juga dulu waktu masih kerja
sama pak Adit.”
“Johan gak ajak jalan ya?” Lisa memiringkan bibirnya mengejek Johan.
“Belum sempat Lisa. Nanti juga kita jalan-jalan kok. Gampang.” Johan membuang pandangannya
jauh.
“Hahaha. Baru ingat lagi ni aku. Nanti kalau mau jalan bareng, kita pake pesawatnya Johan aja.” Usul
Adit.
__ADS_1
“Kenapa harus pake peswat aku? Kamu juga punya kan?” Johan melirik kesal pada Adit.
“Jangan pelit Han. Aku ini kakakmu.” Dengan PDnya mengangkat kerah bajunya.
“Cihhh.. Dasar orang kaya.” Omel Nini lalu beralih pandang pada Doni dan Maya.
“Ehh, kita ke sana yuk foto bareng mereka. Udah selesai tuh semua acaranya.” Ajak Lisa sambil
menggandeng tangan suaminya.
“Yuk.” Nini pun ikut menggandeng suaminya.
“Happy Wedding.” Ucap Nini dan Lisa bersamaan lalu memeluk Maya.
“Makasih ya mbak.” Maya menatap mereka haru.
“Eh Doni. Selamat ya.” Nini juga memberi salam kepada Doni lalu diikuti yang lainnya.
“Ok. Sekarang kita selvi.” Lisa mengangkat ponselnya.
Beramai-ramai mereka memasang gaya masing-masing.
“Mana nih photografernya?” Nini memalingkan pandangannya ke sana kemari.
“Hei sini.” Lisa melambai pada tukang foto sewa itu.
“Kamu harusnya menatap di sekitar pelaminan.” Omel Nini.
“Udah ah.” Johan menatap sinis.
“Maaf ya semuanya. Ayo atur posisi.” Fotografer itu megarahkan.
“Ok. Lagi.” Katanya lagi.
“Mana coba lihat.” Maya memanggil pria itu.
“Bagus kok bu.” Pria itu hanya tertawa
“Maklumlah ya mas. Orang lagi berbahagia.” Lisa tersenyum.
“Hahah.. iya bu.” Sahut pria itu lalu kembali memotret para tamu.
“Ehh. Habis nikahan ini, kita nanti ngumpul ya di restoran biasa.” Kata Nini semangat.
“Mau ngapain mbak? Ohh, mau ditraktir ya.” Cengir Maya.
“Heh.. Ada yang mau diomongin.” Nini melambaikan tangan.
“Ya kan sekalian traktir.” Sambung Doni santai.
“Ihhhh, cowok kok minta traktir sama cewe?” Lisa memukul pelan bahu Doni.
“Ya kan sama istri para bod kita?” Doni mengangkat kedua alisnya.
“Huh. Modus.” Kata Nini, kemudian mereka tertawa.
“Kalian sambut dulu para tamu.” Johan menarik tangan Nini turun dari pelaminan.
Adit dan Lisa pun mengikuti mereka.
Acara semakin riuh, Johan mengundang seorang artis papan atas untuk menghadiri pesta itu. Banyak
orang bersorak gembira. Lelaki berambut gondrong itu, memang memiliki banyak penggemar.
Beberapa lagi romantis sebagai pembuka, membuat orang-orang semakin hanyut dengan suasana
yang hangat dan bersahabat itu. Kemudian diisi lagi dengan lagu-lagunya yang kebanyakan
bergendre Reggae, membuat para penonton bergoyang mengikuti irama.
“Han, bisa reggae?”tanya Nini sedikit berteriak.
“Gak bisa.” Johan sedikit tertawa.
“Masa sih?” Nini menarik paksa tangan suaminya.
“Ya ampun. Aku gak tahu sayang.” Johan menepuk jidatnya. Tapi tetap mengikuti langkah istrinya.
“Aku ajarin kok.” Nini mulai bergoyang.
Johan tertawa merasa geli dengan tingkah Nini. Dia belum pernah melihat istrinya berjoged seperti
itu.
Nini menarik tangan Johan. Menggoyangkannya. Tampak tawa ceria menghiasi wajah cantiknya.
Johan memperhatikan istrinya yang bahagia itu. Ada perasaan haru di dalam hatinya.
Teruslah seperti ini sayang. Batin Johan.
Lisa yang melihat Nini dan Johan tampak asyik, ikut menarik Adit untuk bergabung.
“Yuk joged.” Pintanya dengan manja.
__ADS_1
“Emang kamu bisa?” Adit mengernyit.
“Nggak sih. Tapi apa salahnya kita coba?” Lisa mengangkat kedua bahunya.
“Udah ah. Duduk dan lihat saja.” Adit bukannya tidak mau. Tapi dia malu, banyak anak buahnya di
sini. Masa iya seorang CEO bersikap konyol. Masih mending kalau dia bisa joged.
“Yahhh...” Lisa memanyunkan bibirnya. Dia menopang dagunya dengan tangan kiri. Sementara
tangan kanannya terus menarik jas Adit.
“Sayang, kamu lihat deh. Johan aja gak suka. Dia terpaksa melakukan itu demi Nini.” Adit bergidik
kesal.
“Johan aja rela.” Wajah Lisa semakin cemberut.
“Yah biarin. Mungkin dia gak malu sama anak buahnya.”
“Lakuin sekali aja demi anak kita.” Lisa merengek.
Kalau sudah bawa-bawa anak, maka Adit mengalah. Dia terpaksa menuruti istrinya.
Lisa memeluk sebentar pinggang suaminya lalu berlari kecil menuju lantai dansa.
Dengan tingkah konyol mereka menyesuaikan gerakkan mengikuti yang lain. Lisa tertawa terbahak,
saat Adit terus melakukan kesalahan.
Suara tawa Lisa menggema di telinga Adit. Dia merasa senang melihat istrinya bahagia begitu.
Sekali lagi, dia sengaja melakukan kesalahan agar Lisa tertawa. Dan berhasil. Dia tidak lagi
menghiraukan gengsinya. Sekarang yang dia pikirkan adalah kebahagiaan Lisa.
“Udah ah.” Lisa memegang perutnya lalu menarik Adit kembali duduk.
“Kamu kenapa?” tanya Adit khawatir.
“Gak papa. Aku Cuma capek aja tertawa tadi.” Lisa menenangkan dirinya.
Adit memeluk istrinya dan mencium kepalanya.
“Dit.. Kita dilihatin orang-orang ni.” Lisa menggigit bibir bawahnya.
“Biarkan saja. Aku sangat bahagia melihat kamu tertawa seperti tadi.” Bisik Adit.
“Iya tapi lepasin dong pelukkan kamu.” Keluh Lisa menahan malunya.
“Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu Lisa.” Adit mempererat pelukkannya.
Jam 12 malam, acara pun selesai.
Masing-masing kembali dengan pasangannya.
“Bakalan kerja berat kamu malam ini Don.” Goda Johan sebelum mereka masuk ke mobil.
Doni dan Maya mengantar kepergian mereka sampai di dekat mobil.
“Setan kamu Han.” Doni menumbuk pelan bahu Johan sambil melihat ke arah Maya dan Nini yang
masih berbincang di belakang.
“Haha. Ketahuan nih dari raut wajah kamu.” Johan menunjuk wajah Doni yang merah padam.
“Udah ah. Kamu juga pulang sana. Aku tahu kok, kamu juga bakal bekerja malam ini.” Doni kembali
mengejek Johan.
“Tentu. Aku harus bekerja semaksimal mungkin, agar istriku bisa memiliki anak.” Johan mengangkat
kedua bahunya. Lalu tertawa.
“Jangan lupa ya.” Ucap Nini sambil melambaikan tangan pada Maya.
Doni memeluk pinggang istrinya lalu ikut melambaikan tangan pada Johan dan Nini yang keluar
dengan mobil metalic hitam.
Adit dan Lisa tadi pulang lebih dulu. Alasannya demi menjaga kesehatan bayi mereka, maka Lisa
tidak boleh bergadang.
“Gimana sayang?” Bisik Doni nakal pada istrinya menjelang tidur.
“Gimana apanya?” Maya melotot.
“Heheh.. pasti kamu udah tau.” Wajah Doni sumringah.
“Tidur!! Aku capek. Besok aja.” Maya menarik selimutnya.
Doni hanya melongo dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Bersambung......