
Lisa menatap gelas berisi jus lemon di tangannya.
"Gimana hubungan kalian?" tanya ibu Anita yang tidak lain adalah ibu Aditya.
"Baik ibu." jawabnya masih menatap minuman itu.
Lisa diajak ibu Anita untuk makan siang bersama di restoran.
"Benarkah?" ibu Anita memegang tangan Lisa. Menatapnya lekat, berharap agar menantunya bisa jujur.
"Iya bu." Lisa senyum dengan terpaksa.
"Maafkan Adit sayang." ada penyesalan yang tergambar jelas di wajah wanita berusia 50an itu.
"Aku mencintainya ibu. Aku tidak akan menyerah." sekuat hati Lisa meyakinkan. Meski sebenarnya dia sudah tidak sanggup lagi.
Ibu Anita tersenyum simpul. Sebagai seorang ibu, dia tahu segalanya tentang Adit.
Mereka memang tidak sedekat Johan dan ibunya, tapi ibu Anita punya mata-mata untuk mengawasi setiap pergerakkan Adit.
Bahkan ibu Anita lebih dulu tahu siapa wanita yang Adit cintai.
"Bersabarlah sayang. Percayalah kekuatan cinta mampu mengalahkan segalanya." mata ibu Anita menunjukkan ketulusan.
"Terima kasih ibu." Lisa merasa kembali mendapat kekuatan.
"Apa yang ibu katakan padamu?" tanya Adit ketika pulang kerja.
Siang tadi, ibu Anita meminta Adit juga ikut bergabung bersama dia dan Lisa. Tapi Adit menolaknya mentah-mentah.
"Kamu bertanya karena peduli atau hanya karena penasaran?" Lisa menatap Adit yang sudah melonggarkan dasinya.
"Sejak kapan aku peduli padamu?" tatapan Adit tajam.
"Maka aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu." Lisa hendak keluar dari kamar.
Tapi tangan Adit menariknya kasar, dan menghempaskannya di atas ranjang.
"Aku sudah bersikap baik padamu Lisa. Masih untung aku tidak berbuat kasar padamu." Adit menindih tubuh Lisa.
"Jadi kau ingin aku menghargaimu?" Lisa memberanikan diri menghadapi suaminya.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku."Adit mencengkram erat kedua tangan Lisa.
Meski sakit, tapi Lisa masih bisa menahannya. Ini tidak sebanding dengan sakit hatinya selama ini.
"Aku tidak ingin menjawabnya Adit." Lisa membalas tatapan Adit dengan keberanian.
Dia sudah berani menatapku. Batin Adit.
"Jangan salahkan aku." Adit menarik tubuh Lisa dan membuangnya kasar hingga tersungkur dilantai.
Lisa menggeram menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dia mengumpulkan sisa keberaniannya dan berdiri. Menatap Adit yang juga berdiri.
"Bunuh saja jika kau ingin." Lisa menangis.
"Aku ingin, tapi aku masih waras Lisa." Adit mendekat.
"Katakan apa yang kalian bicarakan tadi siang."
Lisa menepis tangan Adit yang ingin mencekiknya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu tahu Adit."
"Kau sudah berani denganku sekarang?" Adit tersenyum sinis.
"Iya. Aku sudah tidak tahan lagi diperlakukan seenaknya Adit. Aku manusia, aku istrimu. Bahkan seorang ******* sekalipun ingin dihargai. Kau tidak perlu menghormatiku, cukup hargai perasaanku." Air mata Lisa berlinang deras.
"Kau ingin aku menghargaimu?" Adit tertawa.
"Ya. Aku ingin dihargai sebagai seorang istri."
"Akan aku lakukan jika kau memang menghargai aku." Adit mendekati Lisa.
Dia menatap wajah cantik yang penuh penderitaan itu.
Aku mohon cintai aku Adit. Batin Lisa penuh harap.
Adit memilih keluar.
Hatinya tersentuh melihat Lisa yang tampak kecewa.
Dia sudah tahu semuanya. Tentang perjodohannya dengan Lisa itu memang karena keinginan Lisa bukan kedua orangtuanya.
Bisnis hanya dijadikan alasan.
Di ruangan kerjanya, Adit duduk memikirkan Lisa.
Dia sudah bersimpati pada Lisa. Pikirannya membayangkan Nini yang pernah menangis saat pesta pernikahannya.
"Apa mungkin Lisa sama menderitanya dengan Nini waktu itu?" Adit mengusap pelan wajahnya.
"Atau lebih parah lagi?" dia membanting kasar pena yang ada di tangannya.
"Ahhhh.... Maafkan aku Lisa."
"Aku tidak akan menyerah." dia tersungkur di lantai.
"Tuhan, bantu aku untuk meyakinkan dia. Aku sangat mencintainya." Suara Lisa terdengar dari balik pintu.
Adit berdiri terpaku. Perasaan bersalah timbul di dalam hatinya. Saat itu juga dia ingin masuk dan memeluk erat istrinya. Meminta maaf dan mengusap air mata wanita malang itu.
Dia menahan diri. Menunggu waktu yang tepat untuk meminta maaf.
"Aku memang bodoh. Seharusnya aku melupakan Nini. Dan memulai hidupku dengan Lisa, yang tulus mencintaiku." Adit meramas dahinya pelan.
****
Lain dengan Adit dan Lisa.
Johan dan Nini justru sedang asyik bermesraan.
"Besok jam berapa berangkatnya?" tanya Nini sembari duduk di atas pangkuan suaminya.
"Jam 10 sayang." Johan mencium rambut Nini.
"Yahhhh... Sepi dong aku." wajah Nini cemberut.
"Cuma seminggu kok."
"Lama Han. Kamu kira seminggu itu cepat?"
"Cepat kok, kalau kamu gak mikirin aku." Johan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Nini.
__ADS_1
"Hemmmm." jawab Nini ketus.
Nini tidak ingin suaminya jauh. Setidaknya dengan kehadiran Johan di sampingnya, bisa membantu dia melupakan sejenak masalahnya dengan Amel.
Tapi, mulai besok Johan harus pergi ke China untuk sebuah pertemuan penting.
Ayah terpaksa mengutusnya mewakili perusahaan mereka. Akhir-akhir ini sang direktur utama PT. Prospero merasa kurang sehat.
Dokter menyarankan beliau untuk lebih banyak beristirahat. Dikarenakan faktor usia.
"Kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan lupa minum susu dan istirahat yang cukup." nasehat Johan saat menjelang tidur.
"Iya Han. Kamu juga jaga diri. Soalnya di sana kan banyak cewe cantik." Nini menahan tawanya.
"Hahaha.. Apa gunanya sih? Istri aku juga tidak kalah cantiknya." Johan mengelus lembut kepala Nini.
Tidak lama kemudian, Nini sudah terlelap. Johan masih membuka matanya.
Rasa khawatir memenuhi hatinya. Tidak seperti biasanya. Dulu saat Nini pergi ke kotanya, Johan tidak setakut ini.
Dia hanya takut terjadi sesuatu yang buruk.
Tuhan, jaga dia. Batin Johan.
Dia mencium kepala Nini yang tenggelam dalam peluknya.
"Aku mencintaimu." bisiknya lembut.
****
Perasaan takut semakin besar di dalam hati Johan. Dia sendiri bingung.
Nini sedang membantu para pelayan merapikan barang bawaan suaminya. Johan bersandar pada pintu kamar dan memperhatikan gerakkan istrinya.
"Kenapa?" tanya Nini heran setelah menyadari tingkah suaminya.
"Aku hanya takut. Jika terjadi sesuatu denganmu." Johan mendekati Nini dan duduk di atas ranjang. Tepat di samping Kopernya.
"Jangan takut sayang. Ada banyak pelayan di sini yang akan menjagaku." Nini memegang pipi suaminya.
"Permisi tuan dan nona." Seorang pelayan masuk membawakan sarapan.
"Makanlah dulu sebelum pergi sayang." Nini menarik tangan Johan mendekati meja yang sudah disimpan makanan tadi.
Johan menurut. Dia tidak berselera. Tapi demi istrinya, dia harus menghabiskan sarapan itu.
Masih ada beberapa pelayan di sana yang sibuk membersihkan kamar mereka.
"Kalian keluarlah dulu." perintah Johan sambil menunjuk piring bekas makannya bersama Nini tadi.
Mereka semua keluar. Piring tadi sudah dibawa oleh salah satu pelayan.
Johan mendekati Nini. Merangkul pinggang istrinya. Dia ******* habis bibir istrinya.
Dalam waktu yang singkat mereka bercinta.
Setelahnya Johan harus menyiapkan diri menuju Negeri tirai bambu.
Nini tampak biasa saja. Suasan hatinya memang tidak menginginkan suaminya pergi.
Johan melambaikan tangannya pada Nini saat mobil membawanya meninggalkan istana keluarga Hartono.
__ADS_1
Perasaan gelisah tanpa sebab itu kembali mengganggunya.
Bersambung.......