
Suara alarm dari ponsel Nini membuat keributan di kamar itu. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Nini dan Johan sama-sama menggeliat menutup telinga masing-masing.
"Emmhh... Berisik!!" Johan membuka matanya dengan malas dan menutupnya lagi.
Tangannya menuju sumber suara itu. Meraba-raba sana sini. Bukannya memegang ponsel, tangan Johan justru memegang benda asing. Dia tidak melepasnya, justru semakin memainkannya.
Nini merasa ada tangan yang berputar-putar di atas dadanya. Dia membuka mata sebelahnya dan mencubit gemas tangan itu
"Auhh.. Sakit." Johan mengeluh kesakitan lalu bangkit setengah duduk.
"Lepaskan tanganmu." Nini masih dalam posisi tidur.
"Kau istriku. Terserah aku mau menyentuh bagian mana pun."
"Aku gak mau disentuh sama kamu. Aku kan gak cinta sama kamu."
" Terserah. Yang penting sekarang kamu itu istri aku. Jadi gak ada penolakan." tangan Johan memegang lengan Nini tapi dengan cepat gadis itu lompat dari ranjang menghindari suaminya.
"Maaf. Aku belum siap."
"Aku harus tunggu sampai kamu siap?" Johan tiba-tiba terangsang karena benda yang tidak sengaja dipegangnya tadi.
"Iya." jawab Nini santai sambil berjalan menuju kamar mandi.
Dengan cepat Johan berjalan menuju ke arahnya memeluk erat dari belakang.
Nini menggeliat ingin melepaskannya, tapi tubuh Johan yang lebih besar membuatnya kalah.
Kini, mereka sudah kembali ke ranjang. Johan sudah menindih tubuh Nini.
"Harusnya kau sudah bisa pelajari sikapku dari awal. Kalau aku tidak suka menunggu." kata Johan dengan senyum sinisnya.
Nini membuang mukanya dari pandangan Johan yang sudah sangat dekat.
"Aku tidak ingin membuang waktu lagi." hidungnya yang mancung sudah menyentuh pipi Nini.
Johan terus mencium pipi dan telinga Nini bergantian. Darah di dalam tubuh Nini seperti berdesir begitu cepat, dia masih belum menatap Johan. Digigitnya bibir bagian bawah sambil memejamkan mata.
"Aku mohon lepaskan aku." suara Nini terdengar lirih
"Kenapa?" tanya Johan.
"Aku belum siap. Maaf aku belum menerimamu sebagai suamiku." kata Nini jujur
"Pagi ini saja. Setelah itu aku tidak akan memaksamu." bisik Johan lembut.
Nini memalingkan wajahnya menatap mata Johan. Sesaat dia menggeleng perlahan.
__ADS_1
"Pagi ini saja setelahnya aku tidak akan meminta lagi."
Belum sempat Nini menjawab Johan sudah mencium bibirnya.
Nini menikmati setiap ciuman Johan yang lembut itu. Tangan Johan turun mencari benda yang tadi dipegangnya. Terus berlanjut semakin memanas,dan terjadilah apa yang memang harus terjadi 😁
Sudah hampir jam 6. Sehabis melakukan hal tadi, Nini tidak sempat lagi tidur. Dia berbalik menatap Johan yang sedang tidur sambil memeluknya erat.
Nini menurunkan tangan Johan dari perutnya. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap melakukan rutinitasnya sebagai seorang manajer.
Johan membuka matanya perlahan. Sudah tidak ada lagi Nini di sana.
"Jam berapa sekarang?" Johan mengucek matanya lalu melihat jam di dinding, sudah hampir jam 8 pagi
Dia pasti sudah berangkat.
Johan pun bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bekerja seperti biasa.
Di kantor Nini tampak murung. Dia kembali membayangkan apa yang tadi pagi mereka lakukan. Ada penyesalan di hatinya.
*A*ku memang harus siap melayaninya ketika dia menginginkan. Aku adalah istrinya. Apa yang telah kami perbuat, itu suci di mata Tuhan dan wajar bagi manusia.
Nini menundukkan kepalanya dalam. Air matanya jatuh.
Tapi kenapa harus dengan dia? aku tidak mencintainya..
Johan sudah tiba di kantor. Para karyawan yang bertemu dengannya menyapa hormat dan menundukkan kepala. Seperti biasa Johan akan membalas sapaan mereka dengan hangat memberikan senyuman yang membuatnya akan terlihat semakin tampan.
Banyak karyawan wanitanya yang tergila-gila dengan Johan. Selain tampan, dia juga kaya dan sangat baik kepada siapa pun. Mereka selalu berusaha mencari perhatian dari Johan. Apalagi mereka tahu sejak kepergian Jessika, belum ada yang membuatnya jatuh cinta.
"Menurutmu seperti apa tipe wanita direktur kita?" bisik seorang karyawan wanita kepada teman di sampingnya
"Entahlah. Yang jelas bukan kita." keduanya saling tatap dan tertawa perlahan takut ada yang dengar.
Johan masuk ke dalam ruangannya. Di sana sudah tampak Doni yang sibuk membersihkan ruangan.
"Kenapa kau tidak meminta OB kita?" tanya Johan sambil berjalan menuju meja kerjanya
"Tidak. Aku tidak ingin hal yang buruk terjadi lagi. Biarkan saja, toh aku juga senang melakukan ini." Doni mengangkat wajahnya memasang senyum tulus. Johan hanya mengganggukkan kepalanya perlahan.
Doni masih asyik bekerja dengan alat penghisap debu itu. Dia masih ingat betul kejadian di mana seorang OB paruh baya terekam cctv bekerja di ruangan itu, yang mencuri dokumen penting perusahaan untuk diberikan kepada Adit. Waktu itu dia ingin menghabisi nyawa orang itu. Hanya saja Johan tidak ingin itu terjadi. Dia justru memberikan sejumlah uang yang cukup besar kepada orang itu asal orang tersebut mau berjanji tidak akan melakukan kejahatan lagi. Sejak saat itu, orang tersebut menghilang entah kemana.
Doni menggeleng kepalanya perlahan membayangkan betapa baik bos sekaligus sahabatnya itu.
"Ada apa denganmu? Aku perhatikan kau sepertinya sedang bahagia. Apa kau jatuh cinta?" tanya Johan penuh kecurigaan sambil menopang dagunya dengan satu tangan.
"Tidak ada apa-apa. Bagaimana dengan pernikahanmu apa semua baik-baik saja?" Doni justru balik bertanya
__ADS_1
"Hahaha apa yang spesial. Semuanya baik-baik saja, aku menikah pun belum sampai seminggu Don."
" Apa kau sudah memakannya?" tanya Doni dengan suara sedikit berbisik. Dia sudah duduk di sofa. pekerjaannya sudah beres
"Tentu. Aku bahkan tidak menyangka dia masih utuh. Akulah yang pertama."
"Sungguh? Kamu bilang umurnya 26, wahh dia masih utuh maka dia memang termasuk wanita idaman." mata Doni menggambarkan bahwa dia sungguh kagum
"Biasa aja. Cuma itu yang membuatnya spesial selain dari itu aku harus membutuhkan tenaga yang banyak untuk menghadapi sikapnya." kata Johan sambil mengangkat bahunya
"Apa maksudmu?" tanya Doni tidak mengerti
"Dia terlalu keras kepala dan suka membuatku kesal. Bahkan hampir setiap saat aku dibikinnya marah. Baru saja beberapa hari menikah sudah begini, gimana kalau sampai tua nanti ya, apa aku akan bertahan dengan ini?"
"Oh ya? Jadi kalian bertengkar terus?"
Johan mengganggukkan kepala.
"Lalu bagimana jadinya kalian sampai melakukan itu dan kapan?" kali ini Doni semakin penasaran
"Tadi pagi, aku tidak sengaja menyentuh bagian sensitifnya. Aku normal, tentu langsung saja aku terangsang dan terjadilah." Johan menjawab dengan santai.
"Apa dia tidak melawan?"
"Nenurutmu?" Johan bertanya balik
Doni mengangkat bahunya tinggi "Mana aku tahu."
"Kau tidak perlu tahu dia menolak atau tidak. Yang jelas aku sudah mendapatkannya hahahah."
Doni menatap sahabatnya beberapa detik
*A*ku harap kau sudah bisa melupakan masa lalumu dan hidup dengan bahagia Han.
"Han." panggil Doni setelah itu
"Ya." jawab Johan singkat sambil menghidupkan laptobnya
"Aku yakin suatu saat kau akan merindukan sikap istrimu yang kau bilang suka membuatmu kesal."
Johan mengangkat alis sebelahnya melirik Doni, pertanda kalau dia tidak mengerti
"Kau akan terbiasa dengan sikapnya. Dan suatu saat jika dia pergi atau berubah karena sesuatu,aku yakin kau akan merindukan itu." D0oni berkata dengan tulus. Dia berdiri menatap lagi sahabatnya, lalu menundukkan kepala dan berbalik meninggalkan ruangan itu.
Johan hanya melambaikan tangannya ke udara, dia tidak percaya dengan perkataan Doni barusan.
Bersambung.....
__ADS_1