
Johan kembali menarik tangan Nini kasar ketika sudah sampai di rumah.
Nini sudah punya nyali untuk melawannya karena sudah di rumah. Tadi dia hanya menahan malunya pada orang banyak.
Dia berusaha melepaskan tangan Johan yang terus menariknya.
"Sakit tanganku. Kamu kenapa tiba-tiba kasar begini?" tanya Nini mengikuti langkah kakinya.
Mereka sudah sampai di depan pintu kamar. Johan langsung menendang kasar pintu itu lalu menarik masuk Nini. Dia membanting keras pintu itu sampai tertutup.
Dengan kasar dia membanting tubuh Nini di atas ranjang.
Dia melonggarkan dasinya membuka kameja dan menindih tubuh istrinya. Nini memalingkan wajah menghindari ciuman Johan. Selama ini dia mau melayani Johan karena masih diperlakukan lembut, tapi hari ini berbeda.
Nini mendorong tubuh Johan yang kekar itu sekuat tenaga.
"Kamu kenapa?? Tolong jawab aku." Nini terus mendorong tubuh Johan.
Gerakan itu membuat gaun Nini tersobek cukup panjang. Gaun panjangnya sangat ketat .
Merasa kasihan dengan Nini, johan bangun dan berdiri menghadap jendela. Nini bangun merapikan rambutnya yang berantakkan juga gaunnya yang sudah sobek itu.
"Mulai sekarang berhenti bekerja." Johan sudah bisa mengendalikan amarahnya.
Kelemahannya sekarang adalah air mata Nini entah sejak kapan yang jelas hatinya akan luluh ketika melihat wanita itu menangis.
Nini mendongak menatap punggung Johan. Dia menggeleng kepalanya.
"Apa kau dengar perkataanku?" tanya Johan lagi membalikkan tubuhnya pada Nini yang juga sudah berdiri di tepi ranjang
"Tidak. Aku tidak bisa melakukannya." Nini meggeleng cepat.
"Kenapa?" tanya Johan menyelidik.
" Aku susah payah mendapatkan jabatanku yang sekarang." jawab Nini membalas tatapan Johan
"Turuti perintahku. Kau istriku!!!" Johan kembali marah pada Nini
__ADS_1
"Tidakk!! Aku tidak akan mau melakukannya. Aku mencintai pekerjaanku dan duniaku. Semuanya berjalan baik sebelum kau hadir." tuduh Nini seolah Johanlah yang membuatnya seperti sekarang.
"Terserah apa maumu. Yang jelas mulai hari ini berhenti bekerja pada ******** itu."
"Tega sekali kau berkata begitu pada saudaramu." Nini tidak percaya
"Aku bilang berhenti kerja. Jangan banyak protes." kata Johan maraih kameja yang tadi dibukanya
"Berikan aku alasan yang pasti kenapa aku harus berhenti bekerja?" Nini memberanikan diri bertanya
"Kau tidak perlu tahu segalanya, yang kau lakukan sekarang hanya menuruti keinginanku.!"
"Tidak.. Aku tidak akan melakukannya. Kau tidak berhak melarangku melakukan apa yang aku mau. Kita sudah berjanji untuk menjalani hidup seperti biasanyakan?"
Johan menatap Nini. Kata janji membuatnya kembali mengingat momen saat mengijinkan Nini tetap bekerja meski sudah menikah.
"Aku tidak berkata kalau itu janji, aku hanya mengijinkanmu. Itu berarti sewaktu-waktu aku bisa menghentikanmu."
"Jangan aku mohon. Susah payah aku berjuang demi membuktikan pada orangtuaku bahwa aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri."
Sebuah pukulan keras menghantam hati Nini. Dia baru teringat beberapa waktu lalu Adit mencium keningnya.
"Jawab aku!!!" Johan sudah semakin dekat dia berteriak keras di telinga Nini
Nini hanya tunduk memejamkan matanya. Belum sempat menjawab, ponsel Nini berdering ada panggilan masuk. Johan berjalan mendekati tas istrinya lalu melihat panggilan dari siapa.
Dengan segera dia membanting keras ponsel itu entah tenaga apa yang dimilikinya sampai ponsel itu hancur.
Nini membelalakan matanya melihat Johan yang semakin menjadi-jadi jika dia hanya diam.
"Iya dia menciumku. Lalu apa urusanmu? Kau suamiku tapi kau sendiri tidak pernah mau menjawab pertanyaannku tentang Amel dan wanita yang ada di foto itu. Aku seperti orang bodoh yang setiap saat memikirkan wanita itu ." amarah Nini meluap
"Siapa yang menyuruhmu memikirkannya?" Johan mendekat lagi. Tapi Nini tetap berdiri di posisinya
"Hatiku yang menyuruh. Aku ingin mencintaimu tapi aku tidak bisa. Bayangan wanita itu selalu menggangguku, tapi kau sama sekali tidak mau menceritakannya."
"Bukan urusanmu untuk tahu tentang masa laluku."
__ADS_1
"Maka bukan urusanmu juga jika ada lelaki yang menciumku."
Plakkk...!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nini. Dia sampai jatuh tersungkur di lantai.
" Aku pikir ibu telah memilihkan aku seorang wanita yang terhormat. Ternyata aku salah,hari ini kau sendiri yang membuktikan bahwa kau adalah wanita murahan. Tadinya aku baru saja ingin mencintaimu tapi sekarang tidak lagi."
Hati Nini semakin sakit.Dia memegang pipinya yang merah bangkit berdiri menatap suaminya. Dia bahkan tidak percaya Johan terlalu cepat menilainya dan mengambil keputusan yang menyakitkan itu
"Apa ini yang kau lakukan ketika marah hah?? Kau tidak perlu susah payah belajar mencintaiku, aku tidak mengharapkan cinta dari pria kejam sepertimu. Dan aku bukan wanita murahan. Camkan itu!!!" Nini berlari keluar dengan penampilannya yang sekarang sangat berantakkan.
Air matanya jatuh berderai terus mengalir. Dia sudah berdiri di depan mobilnya. Dia mengumpat kesal ketika sadar bahwa dia tidak membawa kunci mobil. Dia merobek gaunnya yang sudah sobek itu agar bisa membuatnya lebih leluasa bergerak. Melempar sepatu mahal pembelian Johan ke sembarang arah. Dia berlari masuk kembali.
Masuk ke dalam kamar mengambil kunci di dalam laci. Tangan Johan mencegahnya ketika ingin keluar. Nini menepis tangan itu kuat
"Lepaskan aku. Lelaki istimewa sepertimu tidak pantas bersanding dengan wanita murahan ini." Nini menunjuk dirinya sendiri. Air matanya kembali jatuh.
Ada penyesalan besar dalam hati Johan. Dia terduduk lemas membiarkan Nini pergi.
Dengan kecepatan sedang Nini mengendarai mobilnya. Meskipun perasaannya sekarang bercampur aduk dia masih tetap bisa menguasai diri. Air matanya terus saja mengalir dia tidak tahu harus kemana, sebentar lagi matahari akan tenggelam. Nini terus melajukan mobilnya ke sembarang arah.
"Aku harus bagaimana sekarang? Bahkan ponselku sudah rusak." katanya di tengah isak tangis.
Dia memilih berhenti di taman tempatnya pertama kali meminta Johan menemuinya. Dia melangkahkan kakinya pelan menuju air pancuran.
Penampilannya benar-benar berantakkan. Orang-orang di taman itu melihatnya prihatin. Mereka mengira wanita itu baru saja diputuskan pacarnya.
Sampailah dia pada bangku kayu yang menghadap air pancuran buatan itu. Nini setengah tertidur menangis sesegukan.
"Tidak masalah jika kau tidak mencintaiku tapi kenapa kau tega mengatakan kalau aku wanita murahan?" air matanya membasahi tangannya yang menopang pipinya
"Aku berniat mencintaimu dan ingin menyerahkan seluruh hidupku padamu tapi kau membuatku terluka. Kau bahkan memukulku."
"Ayah dan ibuku bahkan tidak pernah membentakku, tapi hari ini aku dipermalukan di depan umum. Aku di sakiti. Batin dan fisikku benar-benar terluka."
Nini terus menangis. Hari sudah semakin gelap. Nini bangun mangusap sisa air matanya. Dia berjalan lagi mencari tempat untuk menghilangkan sakit hatinya.
Bersambung........
__ADS_1