Janji Suci

Janji Suci
Bab 50


__ADS_3

Hari yang baru dan harapan yang baru. Nini bangun dari tidurnya mendapati Johan yang masih memeluknya erat.


"Johan, bangun.." Nini menepuk pelan pipi suaminya.


Johan tidak bergeming sedikitpun hanya hembusan nafasnya yang terdengar.


"Uhh, baiklah turunkan tanganmu. Aku ingin membantu ibu." Nini mengangkat tangan suaminya yang terasa berat.


Sebelum membantu ibu, Nini memilih mandi terlebih dahulu. Para pelayan hanya tersenyum geli. Mereka menerka apa yang terjadi malam tadi.


"Heh.. Ngapain kalian senyam-senyum gitu?" Fany yang melihat kelakuan mereka langsung marah.


"Kenapa sih non Fany, emang gak boleh ya?" seorang pelayan menjawab dengan culas. Kemudian berbalik pada teman-temannya dan kembali tertawa pelan.


"Aku aduin ibu. Mau?" Fany bersandar pada pintu dapur yang besar itu.


"Yeee... Becanda non."


"Makanya punya pacar terus nikah biar tahu gimana rasanya." Fany pun tertawa pelan. Dia sengaja menyindir para pelayan itu.


"Emang non Fany tahu alasan kenapa kita tertawa?"


"Iya dong tahu. Kayak aku baru kenal kalian aja. Udah ah lanjut kerja dulu." Fany pun berbalik pergi menuju kamarnya.


Nini menyibakkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Dia masih berdiri di depan kamar mandi.


"Duh yang langsung mandi." tegur ibu dengan senyum sedikit jail


"Ibu.. Aku cuma merasa gerah aja. Heheh" wajah Nini sudah tersipu malu


"Iya deh ibu tahu. Kapan kamu ngasih cucu kedua buat ayah dan ibu?"


"Aduh ibu apaan sih kok nanya gitu sih. Tuh kan aku ditertawain mereka." Nini menunjuk pada pelayan ibunya.


"Udah cuekin aja mereka. Jomblo emang gitu, suka baper sendiri." ibu Laurent tertawa. Para pelayannya pun ikut tertawa


"Gak ibadah bu?" Nini kembali bertanya sebelum masuk ke kamarnya.


" Nanti sore aja. Biar sekalian sama ayah kamu ya. Ibu pengen sore ini kita barengan."


"Iya bu. Ya sudah aku masuk dulu ya." Nini berjalan masuk meninggalkan ibu dan asistennya yang sibuk memasak


"Belum bangun juga?" tanya Nini ketika sampai di kamar. Dilihatnya Johan masih saja tidur.


"Johan bangun, Ini bukan di rumahmu. Apa kata orangtuaku kalau kamu malas-malasan gini?" Nini menggoyangkan tubuh suaminya kencang.


"Badan aku pegal Ni." Johan meremas bahunya.


Nini mengerutkan dahinya. Memijat pelan bahu suaminya.


"Ngapain aja kamu?"


"Gak kok." Johan tidak ingin memberitahu istrinya kalau dia bekerja keras kemarin.


"Ya sudah bangun dong." Nini menepuk bahu Johan lalu beranjak memakai pakaiannya.

__ADS_1


Johan duduk dan memperhatikan istrinya. Matanya terbuka lebar memperhatikan jari manis Nini yang tidak dilingkari cincin.


"Di mana cincinmu?"


"Ohh, ada kok." Nini baru menyadari kalau dia tidak memakai benda penting itu.


"Di mana?" suara Johan terdengar berat. Itu pertanda kalau dia marah


" Aku simpan. Gak hilang kok." Nini berlari kecil mengambil dompetnya. Kemarin dia menyimpan kalung dan cincinnya di situ.


"Ini dia." Nini menunjukkan 2 benda itu sekaligus pada suaminya.


"Hemmm.. Ya sudah."Johan bangun mengambil handuk bekas Nini tadi.


"Mau ngapain dengan handuk itu?" Nini terlihat bingung


"Mandi dong." Johan langsung keluar tanpa menunggu jawaban istrinya.


"Selamat pagi semuanya." sapa Johan lembut pada ibu dan orang-orang yang ada di dapur.


"Pagi nak." ibu melirik handuk yang ada di bahu Johan. Dia mengerti dan mengganguk ketika Johan mengatakan ingin mandi.


Para pelayan kembali tertawa kecil.


"Jaga sikap kalian di depan menantuku. Kalau dia tersinggung bagaimana?" ibu agak kesal dengan pelayannya yang terus saja tertawa


"Maaf bu."


"Maaf maaf.. Huhh dari tadi aja bu mereka tu tertawain kak Nini." Fany muncul tiba-tiba membuka kulkas lalu mengambil roti dan selai.


Para pelayan mencibirkan bibir mereka.


"Iya ibu maaf." mereka saling bertatapan.


Johan keluar dengan handuk yang melingkar sampai pinggangnya dan memakai kembali bajunya yang tadi. Dia malu bertelanjang dada di depan banyak orang. Wajahnya terlihat semakin tampan karena sudah segar.


Para pelayan sangat terpukau.


"Ehhh ni cewe-cewe keterlaluan. Jaga mata kalian, itu suami orang." Fany memperhatikan mata para pembantu ibunya. "Hampir keluar tu mata kalian. Huhh sini aku keluarin biar dijaga itu pandangan." Fany menunjuk dengan garpu di tangannya.


"Yee non Fany. Kan cuma lihat gak diambil juga." seorang pelayan menjawab santai.


Johan berlalu meninggalkan mereka. Dia tidak sempat mendengar ocehan para wanita itu.


Ibu juga sedang di depan melihat pelayannya yang sedang membersihkan rumah makan itu.


"Iya. Pertanyaannya, kalian malu gak ganjen sama suami orang?"


"Siapa yang ganjen Non. Orang cuma lihat kok."


"Aku laporin kak Nini aja deh. Biar diomelin." Fany berpura-pura ingin bangun


"Jangan non. Kami takut."


"Makanya jaga itu mata. Jangan genit ah." Fany sudah mulai kesal dengan pelayan-pelayan itu.

__ADS_1


"Hehehe.. Habis kak Johan ganteng banget. Kita kan cuma sekedar mengagumi."


"Ihhh.. Kagum kok sama suami majikan?" Fany melotot kesal ke arah mereka.


"Yang penting kan kita udah jujur. Ya kan?" mereka saling bertanya satu sama lain.


"Iya kagum aja kalian. Awas ketahuan istrinya ya. Dan aku gak denger ya kalian kagum sama pacar aku." Fany mengingatkan. Karena kekasihnya juga memang tidak kalah tampannya.


Para pelayan itu hanya saling melirik dan senyum-senyum.


Suara mobil ayah terdengar. Fany beranjak pergi menyambut sang ayah.


"Pagi ayah." Fany memasang senyum sok imutnya.


Ayah hanya melirik sebentar tanpa menjawab. Lelaki paruh baya itu tahu maksud dari sikap anaknya itu. Fany berlari berusaha mensejajari langkah ayahnya.


"Ayah..."


"Kekasihmu juga ikut Fan. Dia bawahan, kalau ayah saja ikut itu berarti dia sudah lebih dulu di sana." ayah menggeleng pelan.


"Hehe.." Fany hanya tertawa. Tapi wajahnya terlihat kaku.


"Sudah." ayah menepuk pelan kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. "Buatkan ayahmu kopi." ayah berjalan menuju kamar mandi.


"Fany, bilang sama Nini ayah rindu kopi buatannya." ayah berbalik meliahat Fany


"Baik ayah."


"Buatkan 2. Untuk aku dan suaminya." ayah tersenyum kecil. Hampir tidak terlihat.


Fany menghembuskan nafasnya lega. Dia sangat bahagia. Ini berarti ayah akan menerima Johan.


Dia berlari penuh semangat menuju kamar Nini.


Tokk tokk tokkk...!!!


"Kak Nini, buka pintunya. Ada perintah khusus dari baginda." Fany sedikit cekikikan


"Ada apa?" Nini membuka pintu kamarnya.


"Ayaj rindu kopi buatan kakak. Dan ayah bilang buatkan 2. Satunya untuk ayah dan satunya untuk kak Johan." Fany memasang senyum bahagianya.


"Kamu gak becandakan?" Nini ingin memastikan kalau Fany tidak bercanda


"Ya ampun kak. Sejak kapan sih aku berani bercanda bawa nama ayah?" Fany mengangkat kedua alisnya tinggi.


"Baiklah. Aku membuatnya." Nini kembali masuk ke kamar.


Fany pun berjalan menuju dapur.


"Johan, ayah ingin minum kopi sama kamu." mata Nini berbinar senang.


"Baiklah. Aku harus menyiapkan hatiku." Johan meremas pelan tangan istrinya.


"Ayahku tidak sekejam seperti yang kamu pikirkan." Nini mencium pipi suaminya.

__ADS_1


"Tunggulah ayah di ruang tengah." kata Nini lalu berjalan keluar.


Bersambung.....


__ADS_2