Janji Suci

Janji Suci
Bab 71


__ADS_3

"Cause i'm not givin up


i'm not givin up, givin up


not no yet.


Even when i'm down to my last breath


Even when they say theres nothin' left


So don't give up on."


Sorak ceria anak-anak panti asuhan Kasih Bunda.


Nini, Lisa dan Maya tampak riang dikelilingi oleh wajah-wajah polos dan ceria itu.


"I'm not givin up


i'm not givin up, givin up


No,not me


Even when no body else believes


I'm not goin down that easly


So don't give up on me."


"Horeee...!!" teriak mereka serempak dibarengi tepuk tangan.


Johan mengamati dari jarak dekat sambil tersenyum bahagia.


Sungguh, aku sangat beruntung. Memiliki wanita sebaik dia. Batin Johan.


"Terima kasih nak. Ibu sangat bahagia dengan kunjungan kalian hari ini. Semua tampak berbahagia." ucap ibu Tia.


Mereka sedang menikmati hidangan makan siang yang dipesan dari restoran ternama. Dan itu semua pemberian Johan gratis.


"Ibu, ini juga merupakan hiburan bagi aku." Nini tersenyum bahagia.


Lisa menatap kedekatan Nini dan ibu Tia. Kini dia menyadari bahwa Nini memang wanita baik, tidak ada salahnya jika banyak lelaki yang ingin mempunyai istri sebaik dia.


"Mbak Nini emang baik dari dulu kok bu." sambar Maya dengan wajah cerianya.


Mereka semua menikmati makanan itu dengan kebahagiaan.


****


"Nini.." ucap Lisa saat mereka sedang membersihkan sisa sampah di sekitar taman panti.


Maya dan Johan sedang berada pada jarak yang cukup jauh.


"Iya mbak?" sahut Nini, dia masih fokus dengan pekerjaannya.


"Maafkan aku ya." wajah Lisa terlihat bersalah.


Nini menghentikan gerakannya, memandang Lisa dengan heran.


"Maaf untuk apa?"


"Maaf, karena aku sudah hampir mencelakaimu." Lisa menundukkan kepalanya dalam.


"Mbak, aku pikir itu tidak perlu lagi dibahas. Semuanya sudah beres, lagian aku udah maafin mbak kok." segaris senyum terlukis di wajah cantik Nini.


"Terima kasih Nini." Lisa memberikan setengah senyuman.


Nini melanjutkan pekerjaannya, begitu juga dengan Lisa.

__ADS_1


"Kita semua pamit ya bu." ujar Nini saat menjelang senja.


"Iya nak. Terima kasih untuk hari ini. Seringlah berkunjung." sahut ibu Tia sambil mengusap bahu Nini lembut.


"Mari bu." pamit Johan dan yang lainnya bersamaan.


Maya dan Lisa mengendarai mobil mereka masing-masing.


Lagu klasik berjudul How Do I Live, menemani Lisa menuju rumah suaminya, Aditya. Dia memutar lagu itu dengan volume sedang.


Lisa memang suka pada lagu-lagu klasik. Baginya jauh lebih menarik dari lagu yang katanya lagi hitz sekarang.


"Hai." sapa Lisa lembut pada suaminya.


Adit menyambut kedatangan istrinya dengan senyum bahagia.


"Bagaimana harimu, apakah menyenangkan?" Adit sedang duduk santai di balkon kamar menikmati secangkir kopi hitam.


"Luar biasa. Aku sangat senang." Lisa memeluk leher suaminya.


Adit mengusap tangan Lisa.


"Aku mandi dulu ya." Lisa mengecup pipi kanan Adit.


"Silahkan." Adit menatap lekat istrinya.


Semenjak kejadian itu, Adit mulai mencintai istrinya. Dia menerima dengan lapang kehadiran Lisa.


Lagi pula Lisa adalah wanita yang cantik dan juga baik. Apa yang telah diperbuatnya waktu itu, adalah kesalahan Adit sendiri. Memang dia berhak memperjuangkan hubungan mereka.


Sehabis mandi, Lisa berdiri di balik jendela kamar menatap keluar.


Dia menyesal sekaligus bersyukur. Pikirannya kembali mengenang kejadian malam itu, di mana dia memutuskan untuk mengakhiri semua.


"Andai aku bertindak lebih bodoh mungkin seumur hidupku, aku akan menyesal." gumamnya pelan.



(Anggap aja ke gini adegannya😁)


"Jika kau tidak melakukannya, mungkin aku belum mencintaimu." bisik Adit lirih.


"Maksudmu?" Lisa mengerutkan dahi.


"Karena keberanianmu itu aku percaya, kau memang tulus mencintaiku Lisa." Adit membalik tubuh istrinya.


"Apa harus sejahat itu?" bibir Lisa berkedut.


"Hahaha.. Jangan seperti itu Lisa. Aku memang membutuhkan pembuktian yang lebih besar agar aku percaya." Adit mengusap bibir Lisa.


"Hemmm.." gumam Lisa pelan.


Adit meraih dagu Lisa dan mulai mencium bibir istrinya.


Dering ponsel Adit mengganggu aktivitas mereka.


Lisa tampak kesal, dia melirik panggilan itu.


Adit tertawa pelan dan menggeleng.


"Siapa?" Lisa merapatkan kedua alisnya.


"Hahah.. Bukam siapa-siapa?" Adit membuang ponselnya pelan.


Lisa menepis tangan suaminya yang hendak menyentuh tubuhnya lagi.


"Kamu kenapa?" Adit mengangkat alis sebelahnya.

__ADS_1


"Kamu masih berhubungan dengan wanita lain?" Lisa mengernyitkan wajahnya.


"Udah gak lagi kok." suara Adit terdengar ringan.


"Bohong. Buktinya dia masih menghubungimu." Lisa membelakangi Adit.


"Iya, dia masih terus menghubungiku karena aku sudah tidak lagi peduli dengannya." Adit memeluk lagi pinggang istrinya.


"Berapa wanita yang kamu permainkan Adit?" mata Lisa berkaca-kaca.


"Banyak. Tapi, tidak ada satu pun yang tulus. Semua sama saja. Hanya menginginkan uang. Bahkan wanita yang tadi menelponku, dia tidak takut kehilangan diriku. Dia hanya takut kehilangan uangku." seringai Adit penuh benci.


"Apa aku bisa percaya kalau kau sudah setia?"


Adit tertawa kecil, membalikkan tubuh Lisa.


"Terserah, kau mau percaya atau tidak. Tapi akan aku buktikan, aku tidak lagi berhubungan dengan wanita lain. Hanya kamu seorang." Adit menatap lekat mata istrinya.


"Bukan gombalkan?" alis Lisa bertautan.


"Hemmm.. Aku serius Lisa. Gombalan hanya untuk mereka yang tidak serius."


Lisa menggangguk, pertanda kalau dia percaya.


"Lanjut yuk. Nanggung ni." bisik Adit nakal.


Lisa memukul pelan dada suaminya.


"Kamu udah siap jadi seorang ibu?" Adit kembali berbisik sembari menggendong Lisa menuju tempat tidur.


"Kenapa tidak?" wajah Lisa berbinar.


Belum seutuhnya, tapi Adit sudah sedikit mencintai Lisa. Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, bahwa dia ditakdirkan untuk Lisa.


Adit sudah melupakan Nini. Dia memang tidak seharusnya mencintai istri adiknya.


Adit dan Lisa terus bergelut melepaskan segala hasrat mereka.


Lisa merasa bahagia, meski tidak mudah tapi dia telah berhasil mendapatkan cintanya.


Perjuangannya memang tidak sia-sia. Sungguh, perasaan yang tulus dan penantian yang didasari doa tidak akan pernah sia-sia.


Semua akan indah pada waktunya.


"Lisa, kamu mau punya berapa anak?" tanya Adit di sela gerakkannya.


"Aku pengennya 4." Lisa meringis menahan kenikmatan.


"Banyak banget?" Adit menatap istrinya.


Lisa menelan ludahnya, merasa malu sendiri.


"Emang kamu sanggup melahirkan?" Adit mengernyitkan kedua alisnya.


"Sanggup kok."


"Kalau gitu aku siap. Kan aku cuma kerja. Heheh." tawa nakal Adit.


"Emang kamu maunya berapa?" tanya Lisa.


"Kan tadi aku bilang mau berapa pun aku siap sayang. Yang penting kamu sanggup." seringai Adit membuat Lisa tersipu.


"Ya deh 4 aja."


"Hahaha.. iya deh sayang 4 aja." tawa Adit kemudian mencium lembut bibir istrinya dan kembali melakukan pekerjaannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2