Janji Suci

Janji Suci
Bab 69


__ADS_3

"Mbak Nini." ucap Maya hampir berteriak. Dia berlari mendekati Nini yang sedang duduk di ranjang.


"Ya ampun mbak. Kok sampai kurus begini?" mata Maya berkaca-kaca hampir menangis.


"Ehemm." Johan berdehem saat keluar dari ruangan pakaian. Dia baru saja mandi dan memakai pakaian.


"Selamat malam tuan." Maya menunduk hormat.


Doni berdiri santai tanpa menyapa bosnya.


"Sejak kapan kalian di sini?" tanya Johan. Dia berjalan mendekati Doni.


"Barusan Han." jawab Doni santai.


"Hemmm.." gumam Johan.


"Han.. Kamu sama Doni bisa keluar sebentar?" ucap Nini.


"Tentu." senyum Doni merekah. Dia melirik Maya.


"Mbak, aku kangen." ucap Maya tulus.


"Maaf ya. Aku selama ini sakit."


"Tega banget ya mbak. Kok sakit separah ini gak bilang-bilang?" wajah Maya cemberut. Dia sudah duduk di samping Nini.


"Hahah.. Maaf Maya. Lagian selama aku sakit mana bisa aku pegang ponsel?" Nini sedikit tertawa.


"Iya juga sih mbak."


"Lantas siapa yang kasih tahu ke kamu kalau aku sakit?"


"Pak Adit mbak."


"Ohh.." Nini menjawab santai.


"Gimana sama anak mbak? " tanya Maya dengan wajah was-was.


"Baik-baik aja kok." jawab Nini penuh keyakinan. Dia belum juga tahu kalau anaknya sudah tiada.


"Syukurlah mbak. Aku khawatir banget loh." wajah Maya terlihat senang.


"Iya May. Paling beberapa bulan lagi kamu udah punya keponakan." Nini tertawa geli membayangkan.


"Heheh, iya mbak. Aku dipanggil tante aja ya nanti." Maya juga ikut membayangkan.


"Iya deh. Tante jomblo. Hahaha." mereka tertawa bersama.


"Oh ya mbak, aku dengar si Amel udah masuk penjara?"


"Iya. Dia yang melakukan semua kejahatan itu May. Bahkan dia juga menghasut mbak Lisa untuk menyingkirkan aku." Nini menunduk.


"Maksud mbak istrinya pak Adit?" Maya membuka mulutnya lebar tak percaya.


"Iya. Untung saja semua bisa ditangani." Nini tersenyum simpul.


"Dasar ya nenek sihir." geram Maya.


"Udah ah, kan semua udah selesai." Nini mengusap bahu temannya.


"Tapi mbak tetap aja bahaya. Kalau dia bebas nanti, bisa-bisa makin parah urusannya." Maya mengepalkan tangannya.


"Terus sekarang mau kamu apa?" ujar Nini dengan malas.

__ADS_1


"Yahh.. Sebenarnya aku pengen kenalan sama dia mbak. Aku juga pengen jambak rambutnya."


"Hadeehhh.. Pusing deh." Nini menggeleng.


"Hehehe.. Maaf ya mbak." Maya mengusap bahu Nini.


"Aku pulang dulu ya mbak. Udah malam banget ni." Maya berdiri.


"Lohh buru-buru amat? Kita makan dulu." tawar Nini.


"Kapan-kapan aja mbak. Aku juga belum mandi." pinta Maya sambil memelas.


"Hemmmm... Besok ke sini ya." Nini melirik kesal.


"Besok Sabtu mbak."


"Kan gak kerja. Pokoknya harus ke sini."


"Setuju. Besok kita akan makan bersama, untuk merayakan kesembuhan Nini." sahut Doni dari arah pintu.


Nini dan Maya berbalik serempak ke arah suara itu.


"Modus." ucap Johan, berjalan menuju sofa dan duduk bersandar.


"Iya. Besok malam jam 7 ya." Nini tersenyum bahagia.


Tiba-tiba muncul ide dalam pikirannya ingin menjodohkan Maya dan Doni yang sama-sama jomblo.


Maya berpikir sejenak, mengingat jadwalnya besok.


"Gimana Maya?" ujar Doni dengan tatapan jahil.


"Iya deh mbak." bukannya menjawab Doni, Maya malah menjawab pertanyaan Nini.


"Gak usah. Aku punya mobil sendiri kok." jawab Maya ketus.


Nini menggeleng.


Pantesan masih aja jomblo kamu Maya, sama cowok seganteng Doni aja kamu jutek. Batin Nini sambil tersenyum tipis.


"Aku juga gak suka ya ditungguin." Maya menatap sinis Doni.


"Kan gak salah?" Doni mencibir.


"Kalau kamu mau makan di sini, harus mau dijemput sama Doni. Kalau gak mau juga gak papa, asal jangan lagi temui istriku." ujar Johan dengan suara datar.


"Ahh.. Maaf tuan." Maya terlihat takut.


Doni tersenyum puas.


"Aku pamit ya mbak Nini. Tuan." Maya menunduk dan pergi.


Doni meliriknya lagi sambil tersenyum. Aroma parfum Maya tercium saat melewatinya.


Emmm, masih aja wangi. Batin Doni.


"Woahh.. Kamu kok pandai banget ya ngancamnya?" Doni menumbuk pelan bahu Johan.


"Aku cuma kasihan sama kamu, ditolak mentah-mentah kayak tadi." Johan tertawa sinis.


"Ahh.. Biarin aja Han. Aku suka kok sama tantangan. Mau lihat aja, sejauh mana dia akan menolakku." Doni menatap dinding kamar dengan khayalannya.


"Sok perkasa." ujar Johan sambil menggeleng.

__ADS_1


"Ehh.. Maya bukan bahan percobaan ya." celutuk Nini kesal.


Doni berbalik ke arah ranjang dan tersenyum lebar.


"Siapa yang jadiin dia bahan percobaan Ni? Emang lagi melakukan eksperimen Laboratorium IPA? " sanggah Doni tapi wajahnya berbinar.


"Awas aja kalau dia terluka." ancam Nini serius.


"Jangan khawatir sayang. Jika dia melukai Maya, maka aku yang lebih dulu menghajarnya." sahut Johan santai.


"Hahaha.. Kalian berkata seolah aku ini penajahat cinta." protes Doni.


"Ya takut aja Don." sambung Nini.


"Gak bakalan kok. Aku juga mau nikah, orangtua aku nuntut banget."


"Emang kamu yakin mau nikah sama Maya?" Johan melirik heran.


"Iya. Yakin banget." ucap Doni.


"Gila. Emang kamu yakin banget kalau Maya mau terima kamu?" Johan mengernyit.


"Ahhh.. Sedikit ragu sih."


"Makanya jadi cowok itu jual mahal dikit Don. Bukan cuma cewek doang." kata Nini.


"Hahaha.. Kalau cowok jual mahal, ntar ceweknya bakal direbut yang lain." Doni melongo.


"Ya biarin aja direbut. Intinya gini, kalau jodoh gak akan tertukar." Nini masih ingin meyakinkan.


"Iya. Tapi gini loh Nini, aku juga dituntut harus secepatnya menikah."


"Iya tahu kok. Dari tadi kamu bahas itu aja, tapi si Maya itu gak suka sama cowok yang agresif." celutuk Nini kesal dengan Doni yang tidak mau mengerti.


"Masa sih aku agresif?" tunjuk Doni pada dirinya sendiri.


"Bangett." Johan berteriak tepat di telinga Doni.


"Sialan." Doni memukul Johan dengan bantal sofa.


"Heh, jangan genit ya sama suami orang. Mentang-mentang jomblo, kamu asal embat aja." kata Nini sambil tertawa.


"Ledek terosss.." Doni memancungkan bibirnya.


"Hahaha.. Maaf deh Don. Ya sudah, aku dukung kok kalau kamu sama Maya." kali ini Nini berkata serius.


"Makasih." jawab Doni ketus.


"Selamat berjuang." Johan menepuk bahu sahabatnya.


"Cepat turun dan bawakan makanan ke sini, aku sudah lapar." perintah Johan tanpa rasa bersalah.


"Telepon aja Han. Tega banget kamu sama aku." protes Doni.


"Aishhh.. Sesekali lah kamu juga layanin aku di rumah ku." tawa Johan terlihat nakal. Dia ingin membuat Doni kesal.


"Keterlaluan kamu." Doni mendorong tubuh Johan dan berlalu menuju ruangan makan.


Nini tertawa pelan melihat wajah Doni yang tampak kesal.


Untung aja ada Nini. Coba gak ada, sudah aku jitak kepalamu Han.Batin Doni kesal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2