Janji Suci

Janji Suci
Bab 23


__ADS_3

Sudah hampir malam. Nini sudah sampai di depan pintu kamar mereka. Dengan ragu dia membuka pintu itu perlahan. Tidak ada Johan di sana, dia menghembuskan nafas lega lalu berjalan masuk. Menaruh tasnya di atas meja dekat pintu. Duduk di ranjang,melepas sepatu, berjalan menuju kamar mandi. Sepatu tadi diletakkan di dekat pintu kamar mandi, nanti akan ada pelayan yang datang membereskan semua.


Di kamar mandi, Nini merendam tubuhnya dengan air hangat dalam bak mandi. Dia menambahkan beberapa tetes parfum ke dalam air sehingga aromanya membuat tubuh dan pikiran semakin tenang. Nini memejamkan matanya perlahan menikmati sensasi mandinya yang mewah itu.


Betapa kagetnya Nini ketika membuka matanya keadaan sangat gelap. Dia sangat takut gelap, nafasnya mulai sesak.


"Ahhh, tidak. Ahhh.. Tolongggg!!" Nini berteriak sangat kencang, sambil memejamkan mata dan menutup telinganya erat


"Tolonggg!!!" Nini kembali membuka mata, keadaaannya masih saja gelap


"Tolongg!!! Aku takut gelap! Hikss. Hikss.." Nini sudah menagis.


Tidak ada yang menjawabnya. Ruangan itu kedap suara.


Semakin lama semakin sesak nafasnya, dia berusaha bangkit dan keluar dari bak itu. Nini kebingungan harus berjalan ke arah mana, dia berputar meraba sana sini. Nafasnya sudah tidak bisa lagi terkontrol akhirnya dia pingsan.


Johan sedang dalam perjalanan pulang, di tengah jalan dia melihat listrik dipadamkan secara menyeluruh. Beberapa detik kemudian, ada pesan dari PLN setempat yang menyampaikan permohonan maaf karena ada beberapa kendala yang harus diselesaikan. Johan hanya meliriknya sebentar lalu kembali fokus pada jalan.


Sampai di rumah, listrik darurat sudah dinyalakan. Johan memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju kamar.


Dia membuka pintu kamar, ruangan itu masih gelap. Listrik darurat di kamar itu, belum dihidupkan. Johan menghidupkan senter pada ponselnya lalu berjalan menuju kontak listrik dan menekannya. Lampu darurat langsung menyala. Dia melihat sudah ada tas dan sepatu Nini di sana.


*K*emana orang ini, dia bahkan tidak menyalakan lampu.


Johan duduk di sofa, melonggarkan dasinya, membuka jam tangannya lalu mulai melepaskan sepatu serta pakaiannya satu persatu.


Dia membuka pintu kamar mandi, berjalan mendekati kontak listrik cadangan dan menekannya.


Ketika berbalik ingin menuju bak mandi, Johan tersentak kaget melihat Nini tergeletak tidak sadarkan diri di lantai tanpa dibaluti sehelai benang.


Johan mendekatinya menyentuh nadi di leher dan pergelangan tangan Nini.


Dia menyentuh kepala Nini.


"Astaga dia nyctophobia (fobia terhadap gelap). " Johan menggendong tubuh istrinya ke atas ranjang.


Dia mengeringkan tubuh Nini dengan handuk. Kemudian menutupnya dengan selimut sampai dadanya.


Tangan Johan mengelus rambut Nini. Dia memperhatikan seluruh garis wajah Nini dengan teliti.


*K*amu sangat cantik, maaf jika harus hadir dalam hidupku.


Johan mencium kening istrinya lembut, lalu kembali lagi ke kamar mandi.


Hampir 30 menit Johan membersihkan dirinya. Dia keluar dengan memakai handuk di pinggang. Dia melihat Nini sudah bangun dan sedang duduk di ranjang.


"Kau sudah sadar?" tanya Johan sambil mengibaskan rambut basahnya dengan tangan


"Emm.." Nini hanya bergumam

__ADS_1


"Baiklah." Johan berjalan menuju ruangan pakaian.


Beberapa detik kemudian Johan keluar, dia sudah memakai pakain santai. Di tangannya dia memegang baju untuk Nini.


"Ini pakailah. Aku takut akan terangsang lagi jika melihatmu seperti ini." goda Johan.


Nini hanya menerima pakaian itu tanpa membalas perkataan Johan. Dia menatap Johan, pertanda ingin lelaki itu keluar agar dia bisa memakai pakaian itu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Johan mendelikkan matanya.


"Keluarlah sebentar." pinta Nini dengan suara yang terdengar sedikit berbisik


"Aku akan berbalik dan tidak akan melihatmu." dengan cepat Johan membalikkan tubuhnya.


Beberapa detik kemudian, Nini mengatakan dia sudah selesai.


Johan pun berbalik ke arah Nini.


Gadis itu sudah kembali duduk di ranjang bersandar pada sebuah bantal.


Johan mendekati Nini dan meremas jemari istrinya lembut.


"Apa kau takut gelap?" tanya Johan lembut


Nini hanya menjawab dengan mengganggukkan kepala.


Johan langsung memeluk kepala Nini dan menyandarkannya di dada.


Nini mengangkat kepalanya menatap Johan.


" Apa kau akan berjanji untuk ini?"


"Ya aku berjanji." Johan mencium kening Nini.


Johan merasa takut jika terjadi sesuatu kepada Nini. Baginya kehilangan Jessika di masa lalu sudah cukup.


*Y*a memang aku belum mencintaimu, tapi apa pun yang terjadi aku sudah berjanji pada Tuhan bahwa aku akan selalu mendampingimu sampai akhir hidup ini.


"Sudah hampir jam 8, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Johan


"Iya, aku udah lapar ni." suara Nini sudah terdengar santai.


"Baiklah. Aku akan meminta pelayan mengantarkan makanan." kata Johan sambil meraih ponselnya dan menelpon seseorang.


Tidak lama kemudian, 2 orang pelayan wanita membawakan makanan. Nini memperhatikan mereka dengan teliti.


*A*h, mereka yang waktu itu mengambil barang di kontrakan.


Ketika para pelayan itu ingin keluar, Nini menahan mereka.

__ADS_1


"Hei tunggu!" dia berlari pelan menuju 2 orang wanita itu. Johan hanya memperhatikannya


"Di mana foto- foto keluargaku?" tanya Nini cemas


"Sudah disimpan di ruangan galeri keluarga non." jawab seorang pelayan yang terlihat lebih tua


"Ruang galeri?" Nini terlihat kebingungan.


Johan mendekat ke arah mereka, menyuruh kedua pelayan itu pergi.


Mereka menunduk hormat


"Kembalilah ke sini jika aku menelpon." perintah Johan.


"Baik tuan." keduanya menjawab bersamaan,lalu keluar dan menutup pintu perlahan.


Johan menarik tangan Nini menuju meja yang telah dihidangkan beberapa menu makanan.


"Sebentar, di mana ruang galeri itu? Aku ingin melihat foto keluargaku." Nini menepis tangan Johan lembut


"Kau tidak perlu khawatir, para pelayan di sini selalu bekerja dengan baik dan jujur."


Johan kembali menarik tangan Nini.


Keduanya menikmati makanan tanpa berbicara.


Nini memikirkan foto-foto keluarganya sedangkan Johan tidak memikirkan apa-apa dia hanya fokus pada makanannya.


Selesai makan,Johan menelpon lagi dan tidak lama 2 orang pelayan yang sama masuk dan membersihkan meja tadi. Kemudian mereka membawa keluar piring dan gelas yang tadi dipakai tuan dan nona mereka.


Johan duduk di sofa sambil membaca buku yang kemarin dibacanya.


Sedangkan Nini bersandar di ranjang sambil memainkan ponselnya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing.


Setelah bosan dan merasa kantuk, Nini mematikan ponselnya lalu berbaring terlentang. Sayup-sayup matanya mulai tertutup. Tiba-tiba listrik padam lagi. Nini langsung membuka matanya dan berteriak histeris, tangannya menutup kedua telinga lalu memejamkan matanya


"Tidakkk..!!!"


Johan yang sudah hafal setiap detil ruangan itu, langsung berlari memeluk tubuh Nini. Membenamkan wajah Nini dalam dekapannya


"Tenang. Tarik nafasmu dalam-dalam secara perlahan." kata Johan sambil mengambil ponsel dalam saku celananya. Dia menghidupkan senter dari ponselnya. Nini merasa lega dengan sedikit bantuan cahaya itu.


Nini melakukan apa yang diminta Johan tadi. Menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Johan dengan sedikit cemas


Nini hanya mengganggukkan kepalanya perlahan. Johan melepaskan pelukannya. Membaringkan tubuh Nini perlahan, lalu meletakkan ponselnya di meja kecil dekat Nini. Dia berbaring dekat dengan Nini, kembali memeluk dan membenamkan wajah istrinya dalam pelukan.


"Kau tidak perlu takut, beberapa menit lagi listrik akan kembali dihidupkan." kata Johan sambil menepuk pelan bahu Nini

__ADS_1


Benar saja, tidak butuh waktu lama listrik kembali dihidupkan. Johan tersenyum lega, ketika ingin melepas pelukannya Nini justru sudah terlelap. Dia tidak tega harus melepaskan pelukannya, dibiarkan saja Nini tertidur demikian sampai pagi.


Bersambung......


__ADS_2