
Orang-orang hanya mengenal seseorang dari katanya. Menjadikan apa yang kata orang-orang itu, sebagai sesuatu yang pasti, tanpa mau tahu apakah itu benar atau tidak. Tanpa mau tahu apa alasannya. Padahal, sikap seseorang yang asli terkadang tersembunyi, dan hanya mereka-mereka terpilih yang bisa melihatnya. —RAKARIN.
...*****...
"Kantin yok guys, gue denger-denger pak Dandan hari ini ngejual gulai. Laper gue, gak sarapan tadi pagi," ucap Audey setelah bel istirahat berbunyi semenit yang lalu.
Pak Tanfar—guru mapel mereka pagi ini, sudah keluar kelas lima belas menit sebelum bel, bilangnya, sih ada urusan mendadak. *B*ut, it's okay lah, toh sekelasan juga happy-happy aja.
"Pak Dandan, pak Dandan, muka lo tuh belom di dandanin," balas Ruth. Megan dan Cellin tertawa pelan. Sementara Rin sibuk membereskan buku-bukunya.
"Lah, namanya emang pak Dandan, ya!"
"Iya-iya, udah ah ayo ke kantin," kata Ruth yang diangguki empat temannya yang lain.
Kelimanya kemudian melangkah meninggalkan area kelas. Mengabaikan ratusan pasang mata yang memerhatikan mereka.
...*****...
Embusan angin menerpa wajah cantik Rin, membuat rambutnya berterbangan indah kesana-kemari. Saat ini Rin dan keempat temannya yang lain sedang duduk di taman, tidak jadi ke kantin karena Audey yang tidak enak.
Soalnya dia mau dandan, gak enak sama pak Dandan! Enggak banyak, sih yang dipake Audey. Paling gadis itu pake bedak lagi, lip tint, sama nebalin sekaligus merapikan alisnya. Alis dia tuh gak simetris jadi harus ekstra banget.
Rin mendongak kala menyadari ada yang mendekat. Seorang laki-laki berseragam olahraga yang tersenyum manis ke arahnya. Rin tidak kenal.
"Hai," sapa laki-laki itu yang dibalas Rin dengan anggukan kecil tanpa ekspresi.
"Boleh kenalan?"
Rin menunjuk dirinya sendiri membuat cowok di depannya mengernyit, tidak mengerti apa yang dimaksud. Melihat itu, Audey angkat bicara. "Lo ngomong sama siapa." Cowok itu ber 'oh' ria. "Sama dia," telunjuknya mengarah ke Rin.
Perlahan tangan Rin turun dan kembali di atas paha. "Kenapa?"
"Boleh tau namanya?"
__ADS_1
Ruth berdecak kesal. "Satu sekolah kenal dia. Gak mungkin lo gak kenal. To the point langsung. Segala basa-basi kayak cewek," ucapnya ketus.
"Ah, sorry-sorry. Gue Prima, masih kelas 10, salam kenal," cowok itu mengulurkan tangannya. Rin segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Membuat laki-laki di depannya ini segera menarik kembali tangannya.
Entah malu atau apa, Rin tidak peduli. Melihat itu, Audey dan Cellin buru-buru menunduk menyembunyikan tawa mereka. Sementara Megan, gadis itu sudah hanyut dalam streaming party secara virtual bersama kawanan ARMY-nya.
Ruth? Dia lagi menselonjorkan kakinya, dengan punggung yang ia sandarkan di kaki Megan yang duduk di kursi taman. Cewek itu hanya berdecak pelan, sambil memerhatikan sekelilingnya. Tidak minat.
"Kenapa?" tanya Rin lagi.
"Gue mau ngajak lo makan ma—"
"Busy."
Rin bangkit dari duduknya, menjauhi kursi taman disusul empat temannya yang lain. Membuat Prima terdiam, dengan pemikiran mengenai gelar yang tersemat pada kakak kelasnya itu benar adanya.
Ice Princess SMA Starlight.
...*****...
Megan menyeruput jus alpukatnya, lalu menyahut perkataan Audey. "Coba aja tadi mukanya pas-pasan, lo pasti bakal geli sendiri, segala kata-kata menusuk hati lo keluarin."
Audey tercengir lebar. Gadis itu menyuap gulai buatan pak Dandan. Setelah selesai memakai makeup, ia dan empat temannya buru-buru ke kantin, takut keburu bel masuk bunyi.
Rin yang sejak tadi diam dalam keheningan menikmati gulai, dengan mata yang menatap lurus ke arah depan seketika mengerjap pelan saat melihat gerombolan kakak kelas laki-laki muncul di pintu masuk kantin.
Jarak meja yang Rin duduki bersama empat temannya yang lain, dengan pintu kantin tidak terhalang satu mejapun. Rin segera saja berpura-pura menyuap gulai, padahal mulut gadis itu masih penuh.
Kok gue kayak orang yang abis kepergok ngeliatin orang, sih?!
Rin memerhatikan Megan saat gadis itu berdiri dari duduknya tepat setelah seorang laki-laki bermanik biru dari gerombolan tadi duduk di sebelahnya. Memang, kursi panjang yang Megan duduki masih menyisakan tempat untuk tiga orang duduk, karena hanya gadis itu dan Cellin saja yang duduk di sana. Sementara Rin, Audey dan Ruth duduk di kursi panjang depannya.
Megan beralih ke meja yang lain—tepat di seberang meja Rin—tak lupa membawa gulai dan ponselnya. Tidak lama Cellin menyusul. Hal itu membuat Arga menjadi bahan olok teman-temannya.
__ADS_1
Gadis itu menoleh ke samping saat laki-laki yang paling ingin ia hindari mendudukkan diri di kursi kosong sebelah Rin. Lalu kelima teman Raka, duduk di bangku depan Rin. Dan yang satunya, si wajah datar hanya berdiri di dekat tiang sambil memerhatikan teman-temannya.
Melirik ke arah Ruth, gadis itu hanya fokus pada gulainya, tanpa mau repot-repot menanggapi laki-laki yang seingat Rin bernama Iqbal. Cowok itu sejak tadi menyapa dan menanyakan hal random pada Ruth.
Beralih pada Audey, gadis ini sedang asik dengan dunianya bersama Galang. Bercerita entah membahas apa, mengabaikan sekeliling seakan dunia hanya milik mereka.
Rin kembali menyuapkan sesendok gulai ke mulutnya. Menguyah dengan perlahan, sambil memerhatikan empat inti anggota Deverald yang lain. Cowok-cowok ini, entah apa yang ingin mereka lakukan. Tidak memesan makanan, hanya memainkan ponsel. Kecuali dua laki-laki bucin tadi, dan yang berdiri sendiri.
Kalau boleh jujur, sebelumnya, mana pernah Rin sedekat ini melihat wajah-wajah—ekhem, yang bisa dibilang cukup—tampan dari tujuh orang berpengaruh ini. Hanya mendengar kisahnya, dan menyimpulkan sesuatu.
Rin menarik napas panjang, menoleh pada Audey dan Ruth, yang juga sudah selesai memakan gulai mereka. Untungnya kedua gadis itu peka akan tatapan Rin. Ketiganya lantas berdiri.
Melihat itu membuat Galang mengernyit. "Mau kemana Dey?" tanya cowok itu. Audey tersenyum tipis. "Kelas, udah abis juga kok gulainya. Duluan, ya."
"Iyuth, juga mau pergi? Gamau lama-lama di sini? Temenin Iqbal," kata cowok dengan rambut ikal di bagian atasnya itu. Fyi, Iyuth adalah panggilan sayang Iqbal untuk Ruth. Walau sedikit pun, tidak pernah ditanggapi.
"Ngenes amat muka lo Bal, sebelas dua belas sama Arga, abis duduk langsung ditinggal! HAHAHAHAHAHAH!! Sadboy!" ucap Arka menyentil dua hati sekaligus.
Regan yang duduk di sebelahnya, menjitak kepala cowok itu kuat. "Kemakan omongan sendiri mampus lo."
"Anjir sakit bego!"
Rin tidak lagi memerhatikan mereka. Gadis itu menoleh pada Audey dan Ruth, lalu mengambil ponselnya yang semula di atas meja. Gadis itu menatap Raka yang fokus pada hpnya, menarik napas lalu berucap dengan dingin, "Minggir."
Raka mendongak, memutar badannya hingga tubuh cowok itu menghadap ke arah meja yang diduduki Megan dan Cellin, membiarkan Rin lewat. Cowok itu menoleh sesaat pada Rin. Melihat ke arah nametag gadis itu lalu kembali menghadap ke depan.
Tidak ingin membuang waktu, walau sebenarnya bingung juga, Rin akhirnya melangkahkan kaki, melewati Raka. Sebelum benar-benar keluar, Audey memanggil Megan dan Cellin hingga kedua gadis cantik itu ikut menyusul Rin serta Ruth yang sudah jauh, hilang ditelan pintu masuk kantin.
Kelimanya tidak lepas dari pandangan tajam seorang Raka. Lebih tepatnya Rin yang ditatap laki-laki itu.
"Rak," panggil Galang yang sudah bergeser ke samping Raka.
Laki-laki bernetra hijau itu menoleh. "Apaan?"
__ADS_1
"Alena Rin Gracia."
Satu sudut bibir cowok itu terangkat membentuk smirk. "Buat tau siapa dia, gue udah bikin rencana. Kalian tinggal ikutin permainan gue."