JENNIE

JENNIE
18 - Him


__ADS_3

Nyatanya meski sudah ditinggalkan sekali pun, semua tentang kamu tetap tidak bisa ku lupakan. —Rin


...*****...


Rin menghela napas. Bosan dan kesal sendiri rasanya setiap pagi melihat sarapan yang tersaji di mejanya. Mana itu menggunakan dessert plate sama gelas lagi, bukan pakai kotak bekal atau botol. Lalu, kuenya juga tersaji dalam sepotong berukuran sedang tanpa penutup.


Pertanyaannya, Raka tahu Rin mau berangkat tu darimana? Sampai semua terhidang begitu apik di mejanya. Ya kali nguntit.


"Buru makan deh sarapan dari kak Raka, bentar lagi upacara," ucap Audey menginterupsi. "Lo belakangan ini siang mulu berangkat, kenapa, sih?" tanyanya.


Rin menggeleng tidak bertenaga. "Gapapa."


Jujur, tapi ini kepala Rin sakit banget, belum lagi mual karena gadis itu tidak ada makan apa-apa dari semalam. Gadis itu kemudian mengeluarkan buku paket fisikanya. Mengabaikan sarapan dari Raka.


"Yeee, di makan Rin! Itu kasian banget kak Raka bawain," kata Audey sewot.


"Berisik lo Dey, Rin gak mau ya gak usah lo paksa," ucap Ruth sambil menoleh.


"Kok lo yang nyaut, sih!"


"Udah deh gak usah ngerebutin gueee, gue tau kok gue gemesin! Hehe," Megan tercengir lebar hingga matanya menyipit.


Serempak Audey dan Ruth berkata, "Najong!" Dengan tambahan Audey yang menoyor kepala Megan dari belakang.


"Ih kalian mah!!" Megan menoleh pada Cellin. "Lin, aku gemesin kan?" tanyanya lucu yang dibalas tawa gemes dari Cellin.


Audey memutar matanya jengah. "Lo bedua gausah sok imut njir!" Tidak lama dari itu, suara bel berbunyi nyaring memekakkan telinga, pertanda upacara yang dilaksanakan setiap hari senin akan segera dimulai.


"Anu, kalian pada bawa topi kan? Soalnya OSIS hari ini mau razia," kata Cellin sambil memerhatikan temannya, mendapat anggukan dari empat gadis cantik itu, Cellin tersenyum lega.


"Ribet ya anak OSIS. Lo gak ikut-ikutan kan Lin?" tanya Audey sambil memasang topinya.


"Engga kok. Aku di barisan kelas."


"Udah yok ke lapangan," ajak Megan sambil menggandeng dua sahabatnya itu. Rin di belakang menyusul, setelah tadi memberikan sarapan dari Raka pada Arga yang baru saja tiba bersama Iqbal.


...*****...


"Panas banget elah! Tu si pak Joko bukannya udahan malah ceramah panjang lebar!" keluh Audey kesal. "Gak liat apa ni kaki gue gemeteran kayak jelly!"


Megan yang berdiri di sebelahnya menggeleng pelan. "Ribut lo Dey, ntar anak OSIS ke sini lagi."


"Ngapain njir? Sok paling iye banget!" Audey melirik Cellin yang berdiri di sebelah kirinya. "Bukan lo ya Lin, gue ngomongin anak OSIS yang belagu."


Cellin yang semula menunduk mendongak dengan mata terpejam karena silau. Gadis itu mengangguk beberapa kali. "Iya aku tau kok."


Audey yang merasa kegerahan sekaligus kepanasan karena matahari berada di depannya menoleh ke belakang. Ia mengerjap pelan ketika dari jauh netranya menangkap keberadaan seorang laki-laki dengan rompi hijau rumput, berdiri dengan gagahnya sambil memerhatikan sekeliling. Audey kemudian menghadap ke depan dengan cepat.


GANTENG BANGET WOI!!


"Meg, Meg," panggilnya gemas pada Megan. "Waeyo?"


"Lo ngomong apaan, sih!" kata Audey kesal. "Btw, tu yang pake rompi ijo anak UKS apa gimana?" tanya gadis itu sambil menunjuk orang yang dimaksud dengan dagu.


Megan menoleh ke belakang, mengikuti arah tunjuk Audey. Lalu menatap gadis di sampingnya malas.


"Kunjungan alumni UKS yang sekarang pada kuliah ambil jurusan kedokteran. Mereka cuma sekedar mampir doang, besok, sih katanya mau ngejalanin tugas. Tau tugas apaan," balas Megan tak acuh.


Hening beberapa saat, sampai akhirnya Audey kembali berucap, "Ganteng, ya."


Megan mengernyit. "Nugu?"


"Bahasa lo njir!" sungut Audey kesal. Megan cengengesan. "Mianhae."


"Bomat ah!" kata Audey ngambek.


"Iya, iya maaf. Yang lo bilang ganteng tadi siapa?"


"Itu kakak rompi ijo. Mana gayanya cool, kayak cowok dingin gitu gak, sih? Style-nya juga bukan sembarangan! Tau gaya nih cowok, bisalah gue modus hehe, mana anak kedokteran lagi!" ucap Audey nyengir.


Megan memutar matanya. "In my opinion, masih gantengan Taehyung, dingin-an Yoongi, lebih holkay Hobi, cool-an Jungkook, masih pinteran Namjoon, by the way si kakak rompi ijo itu pasti gabisa masak kayak Jin, and again dia gak sesempurna Jimina, my masa depan."


Audey berdecak. "Stupid. Dasar tukang halu lo. Heran banget gue, setiap bahas cogan, lo malah larinya ke mereka!"


"Up to me dong, wle!"


Audey menatap Megan sinis. Kemudian melirik ke arah laki-laki yang menggunakan rompi hijau, anak kuliah tadi. Tidak lama dari itu, seruan heboh di barisan kelas 11 IPS-2 terdengar, yang kemudian suara melengking seorang perempuan terdengar, "Kak, ada yang pingsan!"


Tepat saat itu, laki-laki yang sejak tadi jadi objek cuci mata Audey melesat cepat ke arah gadis yang baru saja ambruk itu. Dalam sekali gerakan, membopongnya menuju UKS yang segera disusul para anggota UKS Starlight.


Audey mencengkram bahu kiri Megan dengan gregetan. "Meg! Gue punya ide bagus!!" ucapnya nyaris memekik saking bahagianya.


"Sakit!" kata Megan sambil menjauhkan tangan Audey dari bahunya. "Apaan, sih?"


"Gue mau pura-pura pingsan!" seru Audey. "Lo nanti tahan tubuh gue, okay?" Gadis itu kemudian menoleh pada Cellin. "Linnnnn, gue mau pura-pura pingsan, lo akting khawatir gitu yee mukanya."


"Bisa banget modus lo," celetuk Ruth yang berdiri di depan Audey sambil menoleh sedikit. "Ntar gue bantu teriak."

__ADS_1


"Aaaaa!!" pekik Audey tertahan. "Lo semua emang sahabat gue!"


Rin yang berdiri di depan Megan menoleh. "Gue?"


"Lo juga sahabat gue. Tapi kan gak mungkin mau lo disuruh beginian. Intinya muka lo dibuat panik dikit lah biar kakaknya percaya," ucap Audey nyengir.


Rin mengangguk beberapa kali. Iya, gadis itu ingin ikut berkontribusi dengan ide Audey. Hehe.


"Udah balik tuh," kata Ruth menunjuk si laki-laki yang setelah diketahui namanya adalah Anhaf atau biasa dipanggil kak An.


Jangan bingung jika Audey berhasil mengetahui nama laki-laki itu, gadis yang wajahnya mirip dengan salah satu penyanyi ternama kelahiran Florida itu punya mata yang tajam untuk membaca nametag yang tersemat di rompi hijau kak An.


"Gue ni ntar masang muka gi—"


"KAK ADA YANG SEKARAT NIH!!" teriak Ruth begitu keras memotong ucapan Audey.


Audey melotot lalu detik berikutnya melemaskan tubuhnya yang segera ditahan Megan dan Cellin dari belakang. Kedua gadis itu mati-matian menahan tawa melihat Audey yang malah cekikikan.


"Dodol lo Dey, cepetan pasang muka sekarat!" ucap Ruth greget.


"Pfft—gimana woy?! Gue kan belum pernah sekarat!"


"Mangap-mangap aja," kata Rin dengan ekspresi datarnya.


"Anjir," ceplos Audey dan Ruth berbarengan. Sementara Megan dan Cellin entah bagaimana ekspresi mereka saking menahan tawa agar aktingnya maksimal.


"Dey cepetannnn, itu anak UKS pada kesini!" kata Megan panik sendiri.


"Gue yang sekarat lo yang panik," cibir Audey.


Sekeliling kelima gadis itu hanya memerhatikan dalam diam. Ada yang penasaran, ada juga yang memberi tatapan sinis. Siapa lagi kalau bukan geng Regina? Si cewek cempreng yang gak banget tingkahnya, tapi sialnya sekelas sama Audey and the gang.


"Anj—DEY!!" Ruth menepuk lengan Audey beberapa kali. "Apaan dah?"


Rin ikut menoleh pada Ruth, lalu mengikuti arah pandang gadis itu. Matanya sedikit melebar dan dengan cepetan memberitahu, "Dey yang datengin bukan kak An, tapi om-om!" Gadis itu kemudian menghadap ke depan dan berdiri tegap dengan cepat disusul Ruth. Please lah ya Rin ikutan panik nih!


Megan yang memerhatikan dengan seksama mengerjap. "Loh ... Rin?" gumamnya bingung sendiri akan nada suara Rin barusan yang tidak terkesan dingin seperti biasanya.


"Kampret," ucap Audey lalu berdiri tegap bersamaan dengan Cellin. Kemudian Megan melakukan hal serupa ketika kesadarannya ditarik ke dunia nyata lagi.


Gadis itu memerhatikan sekeliling sambil memberikan tatapan tajamnya. "Ada yang nunjuk gue, gue aduin Galang!" Kalau punya gebetan anak motor itu harus dimanfaatin lah! Orang Audey aja juga sering di baperin tapi sekadar bercandaan doang bagi Galang.


"Siapa tadi yang sekarat?" teriak pembina UKS, Damar. Pria yang sudah mulai berkumis itu memerhatikan barisan kelas 10 dengan teliti. Mendapati semua barisan dari IPA sampai IPS rapi, lelaki itu mengernyit. "Sudah dibawa ke UKS? Kapan? Terbang, makanya saya tidak lihat?"


"Najis tu orang. Pake acara nyindir segala. Ew banget gue digendong ama modelan gitu!" gerutu Audey sambil bergidik jijik.


"Ya kan gue cari simpenan siapa tau Galang gak ada rasa sama gue," kata Audey merengut.


"Jangan terlalu baper atau bawa ke hati sama perlakuan dia ke kamu. Karna belum tentu itu tulus, bisa aja dia cuma main-main," ucap Megan memberi saran sekaligus memperingati.


"Seandainya gue itu lo Meg, pasti enak, gak bakal ada baper sama setiap cowok yang deketin."


Megan tersenyum tipis tanpa berniat membalas.


"Audey, itu kak An datang kesini," kata Cellin memberitahu. Reflek Audey menoleh ke belakang dan mendapati kakak alumni itu sedang berbincang dengan Damar.


Kesempatan bagus gurl!


"Eh gue mau pura-pura pingsan sekarang, tahanin yaa," bisik Audey pada Megan dan Cellin.


"Masih," ucap Megan menggelengkan kepalanya heran. "Udah ah tahanin aja!"


Baru ingin menjatuhkan tubuhnya, seorang laki-laki lebih dulu menggendong Audey ala bridal style membuat gadis itu mengerjap cepat. Ketika mendongak, terlihat jelas wajah seseorang yang gadis itu ingin hindari hari ini.


Galang.


MAMPUS GUEEE!!


"Eh, lo mau ngapain? Upacara ya masih, ngapain gendong gue?!" tanya Audey memberontak ingin diturunkan, tapi tatapan Galang membuat gadis itu diam.


"Hahahahahah udeh selesai kali Dey," ucap Regan sambil tertawa keras. Laki-laki itu datang bersama rombongan inti Deverald.


"Baru bangun tidur apa gimana nih cewenya Galang," ucap Arga sambil tersenyum jahil pada Audey, tak lupa menaik-turunkan alisnya menggoda.


"Eh, udah selesai?" tanya Cellin bingung.


"Iya, baru aja," balas Ruth sambil berbalik.


Galang segera saja melangkah dengan Audey di gendongannya. Laki-laki itu berniat ke UKS, karena tadi mendengar teriakan Ruth yang berteriak bahwa ada orang yang sekarat. Dan Galang tahu, teman-teman Audey hanya mengikuti keinginan gadis itu untuk modus.


"Mau modus?" tanya Galang dengan sebelah alis terangkat.


Audey mengalihkan pandangan pada Megan, lewat tatapan mata meminta tolong. Namun, Megan hanya meringis sambil melambai kecil.


Temen sialan emang.


Di sisi lain Rin mengerjap beberapa kali dengan kepala menunduk, kemudian menggandeng lengan Ruth dan berbisik, "Kelas."

__ADS_1


Peka dengan kondisi Rin yang sepertinya kurang sehat karena tangan gadis itu begitu dingin, Ruth segera menginterupsi dua temannya yang lain. "UKS, numpang dingin." Baru ingin melangkah, tetapi seketika tertahan ketika Raka berjalan mendekati.


"Lo gak sarapan," ucap Raka tajam, dengan manik hijau itu yang menatap tepat pada manik hitam legam milik Rin.


"Lain kali seenggaknya kalo gak mau makan sarapan dari gue, beli. Asal lo sarapan, biar gak pingsan pas upacara."


Raka berjalan melewati lima temannya menghampiri Rin lebih dekat membuat Megan dan Cellin yang berdiri bersebelahan sambil bergandeng tangan itu sedikit mundur memberikan laki-laki itu jalan.


Raka menyisir rambutnya ke belakang menggunakan tangan dengan kepala mendongak, lalu menunduk dan kembali menatap Rin ketika sudah berada di hadapan gadis itu.


"Kenapa gak sarapan, hm?" tanya Raka mengangkat salah satu alisnya.


Rin berdecak malas. Kepala sama perut dia lagi sakit, tapi kenapa harus berurusan sama Raka segala, sih? Rin cuma pengen cepat-cepat duduk.


"Up to me."


"Satu ...," Raka mulai menghitung entah untuk apa. Rin mengernyit, sambil menatap balik mata Raka batinnya berucap, sinting. Ngapain coba segala hitung begitu? Belajar ngitung apa gimana?


"Dua ...."


Megan, Cellin, dan Ruth saling berpandangan bingung, begitu pun lima teman Raka yang juga sama bingungnya akan tingkah ketua mereka itu. Rin sendiri ingin berbalik badan dan berniat tidak ingin ambil pusing pada apapun yang dilakukan Raka, agar ia bisa segera ke kelas, tapi sialnya Raka menahan pergelangan tangannya dengan cepat.


Please lah ya, mata Rin buram banget udah ini. Si Raka ngapain, sih?


"Ti—"


Bruk!


Rin tak dapat lagi menopang tubuhnya sendiri. Sebelum benar-benar matanya menutup sempurna dan kesadarannya hilang, gadis itu dapat melihat Raka menahan dirinya sehingga tubuhnya tidak sempat terjatuh.


Manik hijau itu seakan membius sesaat sebelum kegelapan menyambut Rin.


...*****...


"Rin kenapa Meg?" tanya Raka tak sabar pada Megan yang mencatat keadaan sahabatnya itu, setelah diperiksa oleh Astrid selaku dokter pribadi SMA Starlight. Beliau kini sudah kembali ke ruang laboratorium karena ia dibutuhkan di sana, dan menyerahkan sisanya pada Megan.


"Emm," Megan masih sibuk mencatat, dan memahami apa yang Dokter Astrid jelaskan secara singkat padanya tadi. Kemudian menatap Raka ketika sudah selesai.


"Dari pemeriksaan dokter Astrid, kayaknya Rin gaada makan dari semalam, tubuhnya butuh asupan agar dapat memproses sesuatu dan menjadikannya tenaga, belum lagi matanya yang kelihatan lelah, pertanda dia kurang tidur."


Mata Raka membulat sempurna, dengan gerakan kilat ia berlari keluar ruangan. Megan menatap ke ranjang sebelah di mana ada Audey yang pura-pura tidur, lalu pandangannya jatuh pada Galang yang duduk di kursi samping ranjang, memerhatikan Audey sejak tadi.


Megan menahan tawa. Untung saja hanya Raka dan Galang saja yang ikut masuk ke UKS. Kalau lima teman mereka ikutan masuk juga, Megan tidak tahu mau menaruh wajahnya ini di mana saking malu sendiri punya teman seperti Audey.


Maaf banget, tapi itu aktingnya Audey gak banget! Masa matanya kedip gemetar gitu, sih?!


Tidak berapa lama Raka kembali dengan menenteng plastik berisikan makanan, bersamaan dengan suara bel pertanda seluruh siswa-siswi SMA Starlight untuk segera masuk ke kelas, karena pembelajaran akan dimulai.


"Belum bangun?" tanya Raka pada Megan, tapi tatapannya tidak teralihkan sedikit pun dari Rin.


"Seperti yang dilihat. Biarin aja istirahat dulu."


Raka mengangguk. Kemudian meletakkan bungkusan sarapan untuk Rin di samping nakas gadis itu tidur. Lalu berbalik badan sambil menepuk bahu Galang sekali dengan kuat. "Balik."


Galang berdiri, sebelum keluar menyusul Raka, laki-laki itu mengusap lembut kepala Audey. "Gue sayang lo."


Ketika dirasa kedua laki-laki itu sudah jauh, Audey menyingkap selimut dan mendudukkan diri dengan cepat sambil memegangi dadanya.


"Geez! 'Gue sayang lo.' Galang ngomong gitu ke gue Meg!!" pekik Audey senang bukan main.


"Husst! Rin masih tidur."


"AAAA—okeh, hebohnya tunda dulu." Audey mengatur napasnya. Kemudian menatap Megan. "Rin gimana? Gapapa kan tapi walau gak sarapan sama makan malam gitu."


"Gapapa, nanti kalau dia bangun gue suruh makan."


Audey berdiri lalu berjalan mendekati Rin. Megan ikut mendekat. Mendapati Rin yang kini perlahan membuka matanya, kedua gadis itu merapat.


Cahaya terang menyilaukan mata menyambut Rin ketika matanya perlahan membuka. Pusing yang tidak tertahankan menyerangnya membuat gadis itu reflek memegangi kepala dengan satu tangan. Rasa mual yang sempat hilang, kembali datang, membuat mata Rin sedikit berair.


Megan menyodorkan segelas air hangat pada Rin. Audey sendiri membantu temannya itu untuk duduk agar dapat minum lebih mudah. Setelah menghabiskan setengah gelas, Rin kembali menyerahkan gelas tersebut pada Megan.


"Makasih," kata Rin tulus, dibalas anggukan Megan dan seulas senyum.


"Nih sarapan Rin, gak usah tanya dari siapa. Intinya makan," ucap Audey seraya mengambil bungkusan dari Raka di nakas. Mengeluarkan isinya yang berupa sebungkus nasi goreng dan sebotol air putih.


Rin hanya diam menatap bungkusan nasi goreng tersebut. Kemudian menatap Audey. "Makasih."


Dengan dibantu Megan yang menyiapkan makanan tersebut di piring yang ada di UKS, Rin mulai menyuapkan sesendok demi sendok ke mulutnya.


Audey membukakan minum dan menyodorkannya pada Rin ketika makanannya habis. "Nih minum."


Setelah selesai dengan sarapannya, Rin memeluk Megan dan Audey tanpa aba-aba membuat kedua gadis cantik itu kebingungan, tapi membalas pelukan Rin. Percayalah, gadis es ini, bukan benar-benar sosok Ice Princess, dia hanya berperan sesaat, menunggu sampai akhirnya seseorang yang memiliki kehangatan mampu mencairkan sedikit kebekuan dalam hatinya.


Itu saja.


Sayangnya, Rin sudah punya satu nama yang dia tunggu. Seseorang yang sempat singgah lalu pergi. Orang yang membuatnya menjadi sebeku es, tapi masih diharapkan kehadirannya kembali dengan membawa kehangatan. Walau masih berharap orang itu kembali, nyatanya mustahil untuk jadi nyata.

__ADS_1


Semua harapan Rin, hanyalah sebatas angan yang kelabu.


__ADS_2