
Plin plan dan bego itu beda tipis. Sialnya, kedua sifat itu ada dalam diri. —Rin.
...***...
"Rin!"
Sang pemilik nama menghela napas panjang sebelum akhirnya menghentikan langkahnya, menunggu sosok laki-laki yang kin berlari menghampiri. Raka, ia tersenyum lebar pada Rin, yang dibalas gadis itu dengan memutar matanya malas. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya bersama Raka.
"Good morning, Rin."
"Ya."
Raka terlihat berpikir sejenak, kemudian menarik napas dalam, dan mengembuskannya perlahan. "Rin?"
"Hm?"
"Sebagai ucapan maaf karena gue nyuekin lo semingguan kemaren—"
"I forgive you. So, gak usah dibahas terus. Gue gedeg, Kak."
"Enggak Rin, bukan gitu, I mean, sebagai ucapan maaf—"
"You really annoying." Rin berucap dingin sambil melirik Raka tajam. "Please, stop bothering me."
"Lo dengerin gue dulu, Rin. Ngerti basa-basi gak, sih?" tanya Raka tersulut emosi, masalahnya dia tidak suka kalau perkataannya dipotong terus oleh orang lain.
"Lo minta dihargai? Lo siapa sampe gue harus ngehargai lo?" Rin balik bertanya dengan nada merendahkan. Raka spontan menahan pergelangan tangan Rin, membuat gadis itu memberontak tidak terima. Raka hanya diam, tapi genggamannya makin erat, sorot mata laki-laki itu penuh intimidasi, membuat Rin seketika diam.
"Dengerin gue ngomong dulu, baru lo ngomong."
Rin berdecak, ia menghempas tangan Raka dengan kuat. Gadis itu kemudian mendengkus. "Whut?"
"Nanti malam yang rapi, ya, gue mau ajak lo dinner sama keluarga gue." Melihat Rin ingin bersuara, Raka kembali mengucap, "Bukan soal tanda permintaan maaf, ini emang dinner tahunan, dan gue pengen ajak lo."
"Me? Why me?"
"Why not?" Raka mengangkat salah satu alisnya.
"Raka, gue gak mau, ya. Lo apa-apaan, sih, kenapa ngajak gue? Kenapa gak yang lain aja?"
"Emang kenapa?"
Rin berdecak, terlihat gregetan sendiri sama Raka. "Kita gak deket, please. Ngapain ngajak gue, sih?!"
Raka mengedikkan bahunya tidak peduli. Laki-laki itu segera melangkah menjauh, sebelum benar-benar hilang dari pandangan Rin, ia sempat menoleh lantas berucap cukup keras dengan tegas, "Gak ada penolakan, ini perintah."
Rin berlari pelan mengejar Raka, bisik-bisik dari sekitarnya ia abaikan. "Wait."
__ADS_1
"Apaan lagi? Bingung kesananya gimana? Gue yang jemput, tenang. So, gak ada alasan."
"Gak bisa gitu dong!"
"Bisa."
Rin berdecak kesal. "Raka! Gue gak deket sama lo. Gak usah sok akrab, ya. Lo dateng pun nanti, gak bakal gue peduli. Lagian, gak usah minta maaf kali, itu hak lo buat cuek ke siapa."
"Rin, lo paham gak, sih? Ini bukan sebagai tanda permintaan maaf. Gue emang ngajak lo."
"Alright, alright, but gue gak mau."
"Ya, udah, mau gak mau, lo tetep harus nemenim gue."
"Lo bisa gak usah maksa gak, sih? Gue gak mau, ya, gak mau, Raka!"
Raka mengangguk, tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala Rin. Senyum penuh daya pikat perlahan terbit di wajah laki-laki bernetra hijau itu.
"Jam delapan gue jemput."
Setelahnya Raka pergi, meninggalkan Rin—yang tidak hanya rambutnya saja yang berantakan tapi juga hati gadis itu yang ikut porak-poranda di dalam sana. Rin menghela napas panjang dengan sedikit kesusahan.
Sial, kenapa malah diajak ke rumah dinner sama ortunya, sih?!
...*****...
"Rin, jangan lupa, ya," ucap Raka entah darimana asalnya secara tiba-tiba ketika Rin ingin memasuki mobilnya. Jam pulang sudah berbunyi sepuluh menit lalu, dan kini parkiran sangatlah ramai. Satu yang membuat Rin heran, Raka ini tahu saja dirinya ada di mana.
Setelah parkiran sedikit longgar, Rin segera melajukan mobilnya menuju jalanan ibukota. Mengendarai roda empat kesayangan dengan kecepatan di atas rata-rata. Rin sebenarnya bisa saja menolak, tapi jujur, gadis itu merasa sedikit hutang budi pada Raka yang menyelamatkan dirinya ketika disekap. Meski dirinya pasti akan baik-baik saja bila Raka tak membantu, Rin hanya berusaha menghargai effort dan kekhawatiran laki-laki itu.
Setelah ini, gue bisa ngejauh bentar dari Raka, satu bulan perayaan birthday sekolah, gue bisa menjernihkan pikiran bentar.
Rin mengambil napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan.
Dan yang paling penting, gue harus tau dengan pasti, perasaan gue ke dia tuh gimana.
Jujur saja, Rin juga merasa dirinya sedikit plin plan dan lugu masalah hati dan sejenisnya. Diawal merasa Raka begitu mengganggu, perlahan-lahan mulai nyaman tapi gengsi, Raka yang hilang dan menjauh tiba-tiba berhasil bikin Rin uring-uringan tidak jelas, ke gentle-an Raka ketika menyelamatkannya membuat Rin blush tanpa disadari, sempat jealous—maybe—begitu Raka mengabaikannya dan dekat dengan Teresa, and now, ketika Raka kembali mendekatinya, Rin malah ingin laki-laki itu enyah sejauh-jauhnya.
Bener, ya, lo itu rumit banget, Rin. Gue aja capek, pantes dia pergi ninggalin lo, haha.
...*****...
Rin berkacak pinggang di depan lemari pakaiannya yang kini terbuka lebar. Gadis itu berpikir keras kira-kira apa yang bagus untuk ia pakai nanti malam?
"Sembarang aja, sih, Rin, toh dinner sama Raka juga. Gak usah bagus-bagus, biar dia malu terus jauhin lo." Gadis itu menatap dirinya di cermin dengan mata memicing tajam. "Pake baju tidur juga, why not?"
Setelah satu jam berlalu, kamar gadis itu terlihat seperti kapal pecah. Pakaian branded dari berbagai brand ternama berhamburan sana-sini, sementara sang pemilik kamar menenggelamkan kepalanya di atas lutut di pojok dinding. Gadis itu benar-benar kebingungan tidak tertolong mengenai apa yang harus ia pakai.
__ADS_1
Niatnya memang ingin biasa saja, tapi ada secuil dari diri Rin yang menginginkan dirinya berpenampilan rapi dan sopan. Apalagi ini akan bertemu orang tua Raka.
Rin berdiri dari duduknya, ia mondar-mandir di delan cermin rias sembari menggerutu tidak jelas. Sosok yang katanya ice princess ini, nyatanya hanyalah gadis biasa yang sebenarnya juga punya sisi random dan aneh. Hanya saja, karena sesuatu hal membuatnya jadi sedingin sekarang.
Yeah, tidak bisa dipungkiri, Rin pelan-pelan kembali jadi seperti dirinya ketika bertemu dengan Megan, Audey, Ruth dan Cellin. Lalu, Raka serta Prima. Dirinya yang es-pun, perlahan tapi pasti, mulai mencair.
"Alright, nanti malam ini gue gimana??" Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin dengan frustasi. Hening penuh keputus-asaan itu berlangsung selama beberapa menit, hingga akhirnya Rin nekat untuk menelpon salah satu temannya yang sangat amat tahu tentang style.
...*****...
"Hi, Meg, sorry, ya, bikin lo sampe repot-repot kesini," ucap Rin tak enak hati seraya mempersilakan Megan masuk ke dalam kamarnya. Gadis dengan balutan kaos putih polos dan rok lipit di atas lutut berwarna lilac itu menanggapinya dengan seulas eye smile yang lucu. "Gapapa, santai aja. Kebetulan mami sama papi lagi pergi keluar bareng."
Rin mengangguk beberapa kali. "Btw, lo pake apa kesini?"
"Maserati, sih, bawa sendiri, soalnya ga punya private driver kayak Cellin, hahah."
Rin tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Jadi ini mau di siapin apa?"
"Eh? Oh, ga usah, ga usah. Langsung aja."
Rin menghela napas berat, malu sendiri karena kamarnya masih berantakan. Sementara Megan, gadis itu tidak banyak berkomentar, tidak ingin membuat Rin merasa makin malu.
"Kalau boleh tau, untuk acara yang gimana?" tanya Megan seraya melihat-lihat koleksi pakaian Rin yang berada di mana-mana.
"Dinner formal."
"Formal tingkat apa?"
"Sama orang penting, Meg."
Megan menganggukkan kepalanya beberapa kali, gadis itu mulai mengambil satu hingga dua baju dan menjintingnya, tanpa menyadari kalau Rin merutuki dirinya sendiri karena salah ngomong. Gadis itu melirik Megan yang fokus dengan tugasnya, Rin lantas menghela napas lega.
Untung lo orangnya bodo amatan, Megan.
"Rin, tolong kesini bentar dong."
Rin segera menghampiri Megan yang berdiri di depan cermin oval fullbody di sebelah meja rias. Gadis itu menoleh pada Megan, menunggu temannya itu berucap sesuatu.
"Kamu coba pake ini, terus atasannya ini, aku mau mastiin di kamu cocok apa enggak."
"Aku-kamu?"
Megan mengerjap beberapa kali dengan tatapan polos. "Eh? Ah, I mean, lo coba aja dulu, hehe, sorry-sorry."
"Gak usah minta maaf Meg, gue kaget aja. Ya, udah, gue ke kamar mandi."
"Iya."
__ADS_1
Rin segera meninggalkan Megan, keningnya mengerut dalam. Gadis itu menggeleng beberapa kali, berusaha mengabaikan opini-opini yang menuntut untuk dicari tahu kebenarannya.
Fokus buat nyari outfit yang cocok, Rin!