
Bahkan sedikit perasaan simpati saja, mampu mendorong seseorang untuk berbuat baik tanpa disadarinya. —RAKARIN.
...***...
Rin melangkahkan kaki menaiki anak tangga satu-persatu. Gadis itu akan memasuki kelas fisika. Meski sekolah mengadakan lomba, kelas tambahan tetap berlangsung.
Mendorong buka pintu kayu di hadapannya, Rin mendapati kelas hanya ada lima orang siswa. Wajar, sih, apalagi jam 9 adalah waktu puncak-puncaknya lomba yang diadakan. Yeah, selain tetap ada kelas tambahan, waktu belajarnya juga dimajukan.
Rin dengan santai melangkah menuju kursinya. Gadis itu menghela napas panjang dengan lega begitu bu Agatha memasuki kelas tapi Raka belum juga hadir.
At least, gue gak perlu pura-pura lah, ya.
"Good morning, everyone."
"Morning, Ma'am."
"Saya tidak kaget, sih yang hadir cuma enam orang. Karena pasti ada yang ikut memeriahkan ulang tahun sekolah." Bu Agatha tersenyum sendu. "Saya harap, yang hari ini hadir, di pertemuan berikut-berikutnya tetap hadir, ya."
"Kasian, ya, bu Agatha," bisik seorang gadis yang entah sejak kapan duduk di sebelah Rin. Gadis itu merespon dengan kernyitan di dahi, bingung. "What?"
"Bu Agatha. Pasti beliau ngerasa gak berguna. Soalnya, yang gue denger, bu Agatha cuma ngajar khusus kelas fisika 2. Jadi, beliau sama tujuh guru di kelas tambahan yang lain pada ngajuin buat tetep berlangsung kelas mereka."
"What does that mean?"
Gadis di sebelah Rin itu menghela napas. "I mean, karena cuma ngajar satu kelas, tiga kali pertemuan di setiap minggu, tapi pihak sekolah bayarnya perbulan dan cukup besar, bu Agatha sama tujuh guru kelas tambahan lain ngerasa gak enak. Gue juga gatau pastinya gimana, tapi anak-anak ambis lain pada bilang gitu. Like, mereka gak mau makan gaji buta gitu, loh. Meski mereka nanti gak ngajar karena lomba, pihak sekolah tetap bayar."
"Ou, I see." Rin menganggukkan kepalanya beberapa kali. Jujur, Rin juga mendadak sesak. Can't imagine bagaimana kalau dia posisi Agatha.
Rin yang tenggelam dalam pemikirannya sendiri itu mengerjap bingung ketika kesadarannya kembali, dan mendapati empat orang siswi di ruangan itu maju duduk di kursi depan. Menoleh pada gadis di sebelahnya, yang mengangkat kedua alisnya sambil berucap, "Kesempatan gak dateng dua kali. Jadi mereka pada maju, termasuk gue."
"Oh, okay."
"Karena kursi depan sudah terisi semua, bisa kita mulai? Pelajarannya sampai jam 9, ya. Kalau haus, bisa izin, nanti saya izinkan."
"Siap, Bu!"
"Alright, materi minggu kemaren sampai mana?"
"Kalkulus, Bu, materi turunan atau diferensial," jawab salah satu siswi di ruangan itu.
__ADS_1
"Terimakasih, Nadin. Sekarang lanjut ke materi anti-turunan, integral. Ini sedikit rumit, ya, menurut saya personally. Tapi kita pelan-pelan aja belajarnya, biar bisa masuk ke otak."
"Iya, Bu."
"By the way, gue Martha Luciana, lo Alena Rin ... eum, Gracia, ya?"
Rin menoleh ke samping, gadis itu tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, salam kenal."
"Too."
"Sebelum masuk ke hitungan, saya jelaskan sedikit apa itu kalkulus integral." Bu Agatha mengambil kacamatanya sejenak kemudian kembali memerhatikan enam siswi di ruangan itu.
"In mathematics, an integral assigns numbers to functions in a way that describes displacement, area, volume, and other concepts that arise by combining infinitesimal data. The process of finding integrals is called integration."
Bu Agatha memerhatikan satu-persatu wajah siswinya dengan seksama. "Saya rasa tidak ada yang mengalami kesulitan memahami arti. Saya lanjut?"
"Iya, Bu," jawab Martha yang diangguki yang lain.
"Rumus integral tentu bisa ditulis sebagai berikut, perhatikan papan tulis." Wanita itu mengambil spidol hitam dan menuliskan huruf serta beberapa simbol matematika yang tak asing.
a∫b f(x)dx \= f (b) - f (a)
Melihat enam siswi di hadapannya merespon dengan aggukan beberapa kali, yang artinya mereka paham, Agatha kembali melanjutkan ucapannya. "Kalau begitu, sekarang saya buat contoh, lalu masukkan angka. Kasih tau Ibu kalau di antara kalian berenam merasa tertinggal, ya."
Baru ingin masuk ke dalam contoh soal, ketukan di pintu membuat Agatha menolehkan kepalanya. Wanita itu terlihat terkejut sekaligus bingung sendiri.
"Raka? Kamu ngapain di sini?"
Raka masuk ke dalam kelas sambil mengerutkan kening. "Kan saya juga murid Ibu?"
Agatha mengerjap cepat. "Eh? Oh, iya. Ya, udah, masuk. Kamu duduk di belakang sendiri gapapa, ya?"
Martha menggeleng pelan. "Gak usah, Bu. Saya pindah ke belakang. Ini kan tempat dia."
"Gak usah, lo aja yang duduk di situ."
Raka kemudian duduk di kursi tepat di belakang Rin. Laki-laki itu tidak egois-egois amat, lah, ya, meskipun dia sangat ingin duduk di sebelah Rin. Namun, Raka menyadari, kalau perempuan duduk di belakang sendiri, pasti merasa terasingkan, jadi Raka memutuskan mengalah. Toh, dia sama Rin juga masih ada di satu ruangan yang sama.
"Okay, saya ulang sedikit, ya. Raka, kita masuk materi integral, karena sedikit rumit, saya harap diperhatikan dengan baik."
__ADS_1
Raka mengangguk. "Iya, Bu."
...*****...
Rin mendudukkan dirinya di anak tangga paling bawah, menunggu Raka keluar. Tadi dia beranjak lebih dulu bersama Agatha kemudian memutuskan duduk menunggu di tangga dan membiarkan teman barunya itu pergi lebih dulu menuju kantin. Rin hanya ingin berbicara berdua dengan Rakaz tanpa dicurigai hal aneh-aneh oleh Martha.
"Rin? Gue kira lo duluan."
Rin menoleh, memerhatikan Raka yang mengangkat satu alisnya dengan tangan kiri diletakkan di saku celana, berjalan menuruni tangga menghampirinya. Tak lupa tas hitam yang disampir di salah satu bahu.
"Gue cuma mau bilang makasih udah masuk kelas tadi," ucap Rin begitu Raka sudah berdiri di hadapannya.
"Gak usah bilang makasih, sih harusnya. Gue emang mau belajar, gak mau ketinggalan materi."
"Selain itu, lo berhasil bikin bu Agatha ngerasa semeng."
Raka mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Guru bakal ngerasa dihargai, kalo salah satu murid laki-lakinya yang harusnya pergi main, malah datengin dia buat belajar."
"Hah?"
Rin berdecak. Raka lantas menyemburkan tawanya. "Iya, iya. Paham. Udah, ngomong itu aja?"
"Iya. Duluan."
Raka menganggukkan kepalanya beberapa kali. Memerhatikan Rin dalam diam, hingga punggung gadis itu hilang ditelan ujung lorong. Raka kemudian mengembuskan napas cukup keras.
"Rin, kira-kira kalo gue beneran suka sama lo, gue bakal dapet plot twist gak, ya?"
Raka menyenderkan tubuhnya di pegangan tangga. Laki-laki itu memejamkan matanya sejenak, menikmati embusan angin segar yang melambai-lambai di wajah tampan simetrisnya.
Ketika kelopak itu membuka, menampilkan manik hijau yang di dalamnya terdapat tatapan keraguan juga bingung. Raka berdiri tegap, tatapannya menajam. Langkah kakinya membawa ia berjalan menyusuri koridor menuju basecamp. Penuh intimidasi, membuat beberapa siswa-siswi yang ada di sekitarnya segera menyingkir begitu Raka melewati mereka dengan sorot seperti itu.
Rin yang memerhatikan dari lantai dua, hanya menghela napas. Kemudian berbalik badan dan menyenderkan tubuhnya di pembatas pagar mini lantai dua.
Harusnya gue gak ngasih dia harapan. Nanti di akhir pasti bakal rumit.
Rin memejamkan matanya sejenak dengan kening mengerut dalam. I know that.
__ADS_1