JENNIE

JENNIE
30 - Mulai Menjauh


__ADS_3

Awalnya terasa menyebalkan, begitu menganggu, benar-benar membuat risi. Namun, setelah perhatian yang sering didapat tak lagi diberikan, rasanya sedikit hampa. Seperti ada yang hilang, tapi diri baik-baik saja. —Rin.


...***...


Bel pertanda istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, sementara Rin masih duduk manis termenung di mejanya. Keempat sahabat gadis itu sudah sejak tadi pergi ke kantin, dan Rin memutuskan untuk tidak ikut dengan alasan mau belajar.


Sebenarnya bukan itu alasan utamanya, Rin hanya sedikit shock dengan apa yang terjadi hari ini. Pertama, Raka tidak menyiapkannya bekal seperti hari-hari biasa—bukan berharap, tapi hanya kaget saja meski itu permintaan Rin sendiri—dan kedua, Raka yang biasanya berkunjung ke kelasnya untuk menemuinya kini sejak istirahat pertama tadi tidak menunjukkan batang hidungnya. Padahal Raka masuk sekolah hari ini. Bukan, bukan Rin berharap dihampiri Raka, gadis itu hanya merasa ada yang kurang saja, agak heran dan kaget juga.


Rin menghela napas. Rasanya dada gadis itu seperti ditumpuk beberapa benda berat, benar-benar menyesakkan. Biasanya ketika tak sengaja bertemu di koridor, Raka akan menyapanya, tapi tadi dilirik saja tidak. Rin akui, ini memang permintaannya, Raka tidak perlu repot-repot membawakannya sarapan, gadis itu tidak mau merepotkan. Namun, Raka malah seakan menjauh?


Rin menepuk pelan kedua pipinya, meyadarkan dirinya kalau ini bukan masalah besar sampai harus menjadi fokus utamanya dan menghambat aktivitas sehari-hari. Big no! Ini hanya hal kecil, tentang Raka yang perlahan menjauh dari dirinya, bukan tentang apa-apa yang perlu dipikirkan sampai mempunyai tempat khusus.


Rin kemudian mengangguk beberapa kali, berusaha meyakinkan dirinya sendiri, kalau dia hanya kaget, bukan merasa kehilangan. "Lagian, bagus dong, Rin, dia ngejauh. Bukan masalah besar juga."


Iya, b**ukan masalah besar, Rin. Kamu pikirin ini daritadi karena kaget aja. Paling nanti pulang ke rumah, besok dan seterusnya bakal biasa aja.


"RIN!!"


Sang empu nama mengangkat pandangan, fokus dirinya tertuju pada Audey yang baru saja masuk bersama Megan, Cellin dan Ruth. Rin mengangkat salah satu alisnya, menunggu apa yang akan Audey katakan, tapi gadis itu malah senyum-senyum sendiri.


Rin mengerutkan kening, begitu melihat seseorang yang sejak tadi menjadi main character di pikirannya dari pagi masuk bersama enam orang laki-laki lain, gadis itu segera mendatarkan ekspresi wajahnya dan berusaha bersikap biasa saja. Sialnya, jantung Rin tiba-tiba berdetak cepat di luar batas kendalinya tanpa ada alasan yang jelas.


Damn it.


Audey menarik kursi di sebelah Rin, berbisik pelan pada teman sebangkunya itu, "Dia ke sini mau datengin Adit, member Deverald juga. Tadi gue tanya Galang, kenapa pada ngikut gue sama yang lain masuk ke kelas."


Rin menoleh, mendapati Audey tersenyum penuh makna, ia hanya mengedikkan bahunya tak acuh. "So?"


Audey seketika mendatarkan wajahnya. "Greget gue, lo akhirnya bisa liat dia! Kan dari pagi gak ketemu. Gak mau di sapa?" Rin memutar matanya malas. "Gue yang nyuruh Raka ngejauh."


Audey terdiam, menatap tidak percaya pada Rin yang kini menelungkupkan kepalanya di dalam lipatan tangan di atas meja. Samar-samar telinganya mendengar Audey berbisik, "Rin? Gila ya lo. Kok gitu, sih?"


Rin yang muak karena Audey tidak henti-hentinya menyalahkan dia, padahal itu haknya seratus persen untuk bersikap tegas, akhirnya mengangkat kepalanya dan mengahadapkan wajahnya pada Audey, menatap tajam pada gadis berambut sepinggang lebih yang kini rambutnya dicepol asal itu.


"Shut up. Berisik, Dey, it's annoying." Rin berucap dengan dingin membuat Audey menghela napas. "Maaf, Rin. Gue cuma kebawa suasana aja, jadi nyalahin lo."


Rin ikut menghela napas. "Gue juga minta maaf," ucapnya pelan sambil tertunduk.


Keduanya ditimpa keheningan yang tegang, sampai akhirnya suara bising dari gerombolan inti Deverald yang berbondong-bondong keluar dari kelas 11 IPA 1 itu terdengar, mengalihkan atensi Rin dan juga Audey. Sebelum benar-benar keluar dari kelas Raka sempat menoleh ke arah meja Rin, membuat jantung gadis itu seperti ingin melompat keluar. Keduanya saling pandang cukup lama, sampai satu suara dari arah sampingnya membuat gadis itu seperti dibiarkan jatuh dari ketinggian setelah diajak terbang tinggi.

__ADS_1


"Aman, Bang. Nanti gue tanyain tuh si Delon."


"Good, Dit. Kita pada mager, sih ke rumah tuh anak, mumpung lo masih tetanggan sama dia kan," ucap Iqbal yang tidak lama Arga menoyor kepalanya. "Stupid. Gada yang mau pindah rumah."


"Lah, iya, kan. Mumpung masih tetanggaan, siapa tau sepuluh tahun mau pindah?"


"Ngomong sama orang modelan lo emang bikin emosi banget, Bal, heran gue, bawaannya pengen gue cekek lo!" sungut Regan kesal sendiri mendengarnya yang kemudian Arga tertawa renyah hingga mata laki-laki itu menyipit. "Sial, sakit perut gue gara-gara lo Gan!"


"Ya, udah, gue serahin masalah ini ke lo. Ntar malam kabarin, Dit."


"Siap, Bang Raka!" Adit kemudian melirik Rin dengan ujung mata. "Gak mau disapa nih, Bang?"


Raka menatap Rin yang kini merunduk membaca buku. Laki-laki itu tidak berkata apa-apa, dan langsung keluar kelas disusul teman-temannya. Iqbal yang masih memerhatikan Rin, hanya menghela napas. Ia melirik Adit sekilas. "Mau fokus ke tujuan utamanya dulu." Setelah mengatakan itu, Iqbal berlari menyusul keenam anggota inti Deverald.


Adit menoleh pada Rin. "Sorry ganggu waktunya, Rin, gue mau pinjem stip-x."


Rin menatap Adit, kemudian melirik kotak pensilnya. Laki-laki itu yang paham, segera mengambil sendiri barang yang dibutuhkan. Setelah Adit pergi ke mejanya sendiri, Rin menghela napas lelah untuk kesekian kali dalam sehari ini.


Damn.


......*****......


Rin sejak tadi mondar-mandir di depan cermin wastafel di dalam kamar mandi. Gadis itu merasa ada yang hilang dalam kesehariannya setelah Raka tidak lagi muncul di depannya selama semingguan ini. Laki-laki itu tidak ada kabar, benar-benar tidak ada. Audey juga sedikit pun tidak memberitahu apa-apa tentang Raka.


Untuk kali ini, Rin akui, dia merasa ada yang hilang meski dirinya dari luar terlihat dingin seperti biasa. Ada satu dari ribuan retakan hatinya, yang menjerit di dalam sana menanyakan di mana Raka, bagaimana kabar laki-laki itu, sedang apa dan apa yang dipikirkannya.


"Sial!"


Rin menatap dirinya sekali lagi di depan cermin. Mencuci tangannya sebelum akhirnya gadis itu beranjak keluar. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi khusus laki-laki di depannya juga terbuka. Raka dan enam temannya ikut keluar dengan rambut basah yang membuah ketujuh laki-laki tampan itu terlihat segar. Sudah dipastikan, mereka pasti habis membasuh wajah.


Napas Rin untuk beberapa sekon terhenti begitu ia dan Raka melakukan kontak mata. Arga, Regan dan Iqbal yang awalnya tertawa, seketika terdiam menciptakan keheningan yang canggung. Rin lebih dulu memutuskan kontak mata, dan segera menjauh dari sana. Baru beberapa langkah, deep voice yang Rin ingin dengar selama seminggu itu memanggil namanya.


Raka tersenyum tipis. Sedikit heran mendapati tatapan Rin tidak setajam biasanya, wajah gadis itu yang tidak sedatar biasanya, dan ekspresinya yang tidak sedingin biasanya.


"Gue minta catatan minggu kemaren, boleh? Gue gak minat nyatet kalo belajarnya online," ucap Raka sambil memiringkan sedikit kepalanya menatap Rin.


Rin menggigit pelan bibir bawahnya. "Iya. Nanti ambil aja ke kelas."


"Okay, thank's."

__ADS_1


Rin mengabaikan itu, ia segera berlalu dari sana. Jantungnya benar-benar tidak bisa diajak kerja sama, gadis itu takut kalau sampai terdengar Raka, membuat malu saja.


Gadis itu tiba-tiba berhenti, wajahnya seperti ditepuk beberapa kali. Rin mengernyit pelan begitu dia merasa seperti berbaring. Sekuat tenaga gadis itu bangkit, dan akhirnya terduduk. Rin mengerjap pelan memerhatikan sekelilingnya yang berwarna hijau.


Wait, bukannya ini di UKS?


Rin dengan bingung menuruni kasurnya, atensi gadis itu teralih pada sepiring nasi dengan lauk ayam geprek dan segelas air putih dan juga promaag yang tersaji rapi di atas nakas di samping ranjang UKS.


Rin jadi bingung sendiri. Perasaan tadi dia habis bertemu Raka, terus tiba-tiba kok jadi di UKS, sih?


"Rin? Gimana perasaannya? Udah baikan?" Rin menoleh, ada Megan yang menghampirinya dengan semangkuk sereal susu di nampannya, tak lupa segelas susu putih. "Gue kenapa di UKS?"


"Lo tadi pingsan pas upacara. Gak sarapan lagi kan lo?"


Rin menghela napas pelan. Memejamkan matanya sejenak sambil menertawakan dirinya dalam hati.


Mimpi ternyata. PLEASE GUE MAU NANGIS SAKING NGAKAKNYA. LMAO.


"Terus ini di meja punya siapa?"


"Punya lo."


"Terus di tangan lo?"


"Punya gue lah. Gue tadi ke kantin bentar. Gak sarapan juga. Cuma karena jaga di UKS jadi gak pingsan. Tadi emang lama banget, sih pak Damar pidatonya, banyak yang pingsan cuma udah pada balik."


"Sekarang jam berapa?"


"Jam sembilan kurang. Lo gak perlu ke kelas. Penjas juga, lagian udah gue izinin."


Rin menghela napas lega. Ia melirik sepiring nasi dan ayam geprek yang terlihat begitu lezat. Duh, Rin ini lapar pake banget tolong, semalam lupa makan gara-gara belajar sampai ketiduran. Paginya ia malas sarapan, yeah seperti biasa.


"Buru makan, Rin. Keburu bel pergantian jam bunyi. Matematika habis penjas, kalo lo lupa."


"Lo yang beliin?"


"Emang siapa lagi yang mau beliin?"


"Makasih, Megan."

__ADS_1


Megan tersenyum tipis. Gadis itu membuka ponselnya sejenak, kemudian mengetikkan pesan pada seseorang.


sarapannya dimakan.


__ADS_2