
Dinding pertahanan hati gue yang lemah, atau emang lo-nya yang berhasil menghancurkan dinding itu? —Rin.
...***...
Suara langkah kaki terdengar menggema di pagi-pagi buta di sebuah rumah megah, sang pemilik rumah berniat memuju dapur untuk membuatkan sarapan. Keningnya mengerut samar, begitu mendapati sosok gadis dengan piyama bear-nya tengah berkutat membuat nasi goreng dengan topping sosis dan telur ceplok.
"Rin? Mau bawa bekal, ya?" tanya Ara menghampiri putrinya. Sang pemilik nama menoleh, kemudian tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma."
"Pada janjian bawa sama temen?"
Rin diam sesaat kemudian menjawab, "Eum, yeah."
"Oh, mau Mama bantu?" tawar Ara sambil tersenyum lembut.
"Gak usah, Ma, tinggal masukin sosis sama telurnya aja lagi."
"Ya udah. Ini sarapannya kamu mau apa?"
Rin terlihat berpikir sejenak, gadis itu melirik kulkas dan teringat buah favoritnya masih ada. "Avocado juice aja. Nanti aku bikin sendiri."
"Gak mau makan yang lain?"
"Itu udah cukup, kok, Ma."
"Okedeh, Mama buatin papa kamu corndog aja."
"Aku bantu, ya?"
Ara tersenyum tipis. "Boleh, sini."
...*****...
"Mama, Papa, aku berangkat dulu."
Rin mencium Ara tepat di pipi kemudian menyalimi tangan mamanya itu, tak lupa bersaliman dengan Reksa juga. Setelah berpamitan, Rin segera menghampiri ferrari putih kesayangan di garasi, lantas mengendarakannya menuju sekolah.
Rin bergumam menyanyikan lagu Good 4 You by Olivia Rodrigo. Dalam hening mengemudi, gadis itu tiba-tiba teringat Prima yang pernah memberikannya air mineral. Mengawasi sekitar dengan seksama, Rin memutuskan berhenti sejenak di sebuah minimarket.
Niatnya hanya ingin mengambil sebotol air kemasan, tapi atensi Rin secara tidak sengaja mendapati sosok wanita paruh baya yang tengah berada di rak-rak roti. Tanpa sadar, langkahnya perlahan mendekati wanita tersebut.
"Aunty Naya?" tanya Rin memastikan yang membuat empunya nama menoleh, wanita itu terdiam kaget untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tatapan itu berubah sendu menatap Rin. Tangannya terulur ke atas, mengusap pelan bahu gadis remaja di hadapannya.
"How are you, dear?"
Rin menelan salivanya susah payah, mata gadis itu berkaca-kaca, segera ia menggigit bibir bawahnya agar bendungan air di kelopak matanya tidak jatuh. Sudah lama tidak mendengar suara ini semenjak sepuluh bulan yang lalu, suara seorang wanita luar biasa, yang berhasil mengubah cara pandang Rin terhadap kedua orang tuanya.
"I—I'm fine, Aunty."
Tangan Naya bergerak naik mengusap pipi Rin, tatapannya makin sendu, keningnya mengerut jelas, ekspresinya menandakan permohonan maaf yang dalam, dan bibirnya bergetar kesulitan mengucapkan beberapa kalimat. Hening meliputi, sampai akhirnya Naya memutuskan untuk melangkah menjauhi Rin.
Rin hanya diam di tempat. Namun, pertanyaan yang ia lontarkan membuat Naya menghentikan langkahnya.
"Aunty tinggal di dekat sini?"
"Cuma mampir beli beberapa cemilan."
Rin membiarkan punggung wanita itu menjauh dari jangkauan pandangannya. Suara pintu kaca didorong buka, membuat Rin spontan menoleh ke arah pintu. Wanita yang terbalut overall denim selutut itu melangkah keluar dari minimarket, menuju parkiran dan mendatangi mobil hitam yang terparkir. Ketika mobil itu bergerak menuju trotoar jalan dan melaju di jalanan, Rin akhirnya memalingkan muka. Gadis itu menunduk, menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.
__ADS_1
Cuma mampir, ya?
...*****...
Rin membuka pintu mobilnya, bisik-bisik para siswa SMA Starlight yang masih berada di parkiran sejujurnya membuat gadis itu terganggu. Sudah biasa memang, tapi gadis itu tetap merasa tak nyaman.
Rin melangkah menyusuri koridor dengan langkah cepat. Pasalnya ketika di parkiran, gadis itu sudah melihat keberadaan motor Raka di parkiran khusus roda dua. Bagaimana, ya, ia ada perlu dengan ketua Deverald itu.
"Morning, Rin, tugas sejarah lo udah?" Pertanyaan Audey menyambut ketika Rin baru saja meletakkan tasnya di meja. Gadis itu menghela napas, menatap Audey datar.
"Gak."
Audey mengerjap cepat beberapa kali kemudian tersenyum kikuk. "Hah? Gak? Oh, enggak, kok. Gue gak ada niatan mau nyontek, ya! Lo jangan nethink gitu lah ke gue Rin."
"Halah, bullshit, lo katanya nungguin Rin lama banget, mau nyontek," ucap Ruth sambil menolehkan kepalanya ke belakang. Gadis itu tertawa pelan melihat ekspresi jengkel Audey. "Udah, tungguin si Megan sama Cellin aja. Siapa suruh gak dikerjain kemaren, waktunya seminggu padahal. Tapi, itu pun kalo lo dikasih, haha!!"
"RUTH!!" Audey memekik kesal. "Lo tuh ya! Mentang-mentang ngerjain sok-sokan. Besok kalo ada pr gue kerjain, mudahan lo gak bisa jawab, gue gak bakal kasih. Gak bakal."
Ruth menyemburkan tawanya dengan alis mengerut. "Are you serious? Gue bisa minta pap Megan dari malam, sih."
Audey berdecak pelan, kenapa tidak kepikiran untuk minta fotokan tugas sejarah sama Megan semalam, ya? Gadis itu menoleh pada Rin, baru ingin bersuara, teman esnya itu lebih dulu berucap.
"Ambil di tas."
Rin kemudian melangkah keluar dengan paper bag di tangannya. Melihat itu Audey mengernyit bingung. "Rin, mau kemana?"
Rin membalikkan badannya. "Ada urusan." Ia kembali melangkah keluar kelas. Kakinya menuntun gadis itu untuk menaiki anak tangga di samping kelas.
Untuk beberapa sekon, jantung Rin seakan tidak berdetak, yang tidak lama berdegup kencang seperti habis lari maraton. Gadis itu mengangkat kepalanya, melangkah menyusuri lorong kelas 12 dengan pandangan fokus ke depan, berusaha keras mengabaikan beberapa tatapan sinis dari kakak kelas perempuan. Entah perasaan Rin saja, ia merasa satu tingkatan ini memerhatikan dia dengan intens.
Laki-laki dengan manik hijau bercahaya itu memerhatikan Rin dengan salah satu alis terangkat, begitu pun Alden yang menatapnya dengan kerutan samar di dahi. Rin merasakan jantungnya seperti ingin meledak, apalagi Raka menatapnya lekat.
Sial. Jantung, please ya, tolong kerja sama-nya.
Begitu sampai di depan meja Raka, Rin lantas mengeluarkan sekotak bekal pagi yang tadi dibuatnya sendiri. Raka mengernyit, melirik sekilas kotak bekal bergambar teddy bear di atas meja, lalu kembali menatap Rin.
"Makasih buat yang kemaren lusa." Rin menatap Raka seksama, sebuah tatapan yang tak pernah Raka lihat sebelumnya. Tatapan teduh yang di dalamnya terdapat ketulusan yang dalam.
"Gak usah bilang makasih, udah jadi tugas gue buat jaga lo."
Sial. Rin—untuk pertama kalinya—menahan senyumnya mati-matian akibat perkataan Raka barusan. Sensasi butterflies yang berterbangan di dalam perut membuat Rin merasakan debaran jantung menggila. Gadis itu dengan segera pura-pura batuk agar bisa menunduk begitu ia menyadari kalau kedua pipinya perlahan memerah.
"Sorry, gue telat. Lo pasti takut, kan, Rin?" Raka menatap Rin khawatir. Gadis itu menggeleng pelan sebagai respon. "Forget it."
Rin mengernyit, melirik sekitar, di mana para siswi di kelas ini berbisik-bisik mengenai dirinya. Sebenarnya bukan bisik-bisik, ya, soalnya suara mereka cukup keras hingga Rin bisa mendengarnya—meski samar-samar.
Menyadari Rin yang fokusnya terbagi, Raka segera mengambil kotak bekal milik Rin. Ia menyuapkan sesendok pertama nasi goreng, kemudian tersenyum tipis sambil menatap ke arah Rin.
"Enak. Rasanya pas, siapa yang masak?"
Rin kembali menatap Raka. Gadis itu mengerjap pelan. Tiba-tiba dia teringat ketika sebulan yang lalu ia menolak mentah-mentah bekal dari Raka. Bahkan berniat membuangnya. Tanpa perasaan, Rin juga senantiasa memberikan bekal dari Raka ke orang lain tepat di depan mata laki-laki itu. Dan sekarang, Raka mengatakan masakannya enak.
"Gue."
Raka melahapnya sambil menahan senyum. Melihat itu, Rin menghela napas pelan. "Itu sebagai ucapan makasih." Raka mengangkat pandangannya, laki-laki itu menganggukkan kepalanya. "Makasih udah repot-repot. Gue abisin sendiri, tenang."
Rin meringis dalam hati. Raka sedang menyindirnya, kan?
__ADS_1
"Iya."
Rin berbalik melangkah keluar kelas. Raka tidak memanggil namanya atau menahan pergelangan tangannya agar tidak pergi, laki-laki itu membiarkannya terus melangkah menuju pintu. Sebenarnya tidak ada yang salah, hanya saja, hal itu membuat hati Rin mencelos terjun bebas dari ketinggian.
Lo berharap apa, sih, Rin?
Di depan pintu, Rin ragu sendiri, gadis itu memutar otak, ketika mendapatkan alasan yang tepat, ia segera berbalik badan, berniat menghampiri Raka lagi dengan alasan yang sudah ia persiapkan matang-matang di otak agar laki-laki itu tidak kepedean. Baru diambang pintu, langkahnya terhenti begitu mendapati Raka kini tengah membaca sambil menyuapkan sesendok nasi goreng.
Rin memerhatikan Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ternyata alasan laki-laki itu datang lebih awal dan tidak ikut kumpul bersama teman-temannya adalah ..., belajar?
Menyadari Raka ingin mengangkat kepalanya, Rin buru-buru melangkah mundur dan menyenderkan tubuhnya ke dinding. Gadis itu harap-harap cemas semoga Raka tidak memergokinya sedang memerhatikan dia.
"Rin? Ngapain?"
Gadis itu tersentak, segera menoleh ke samping, untuk beberapa detik ia diam mematung begitu mendapati lima anggota inti Deverald tengah duduk di kursi panjang depan kelas. Since when?
Galang kembali melontarkan pertanyaan begitu Rin masih diam saja. "Mau ketemu Raka?"
Rin mengerjap. "Enggak."
"Kalo kangen Raka bilang Rin, jangan malu-malu gitu," ucap Arga sambil tersenyum menggoda yang segera mendapat toyoran di kepalanya dari Regan. "Diem dodol!"
Rin sendiri hanya tersenyum kikuk, tiba-tiba lupa caranya mendatarkan ekspresi wajah. Samar tapi disadari, Rin menoleh ke belakang, ia seperti mendengar suara seseorang yang dikenalnya. Dan benar saja, Prima beserta teman-teman sekelasnya yang sekarang memakai pakaian olahraga itu bergerombol memenuhi lorong.
Manik keduanya bertemu, Prima segera saja menghampiri Rin. Laki-laki itu tersenyum penuh daya pikat. "Kok lo di sini, Kak?"
Rin memutar otaknya, kemudian teringat sesuatu. Gadis itu segera mengeluarkan botol minum dari paper bag di tangannya. Ia menyodorkan air mineral itu pada Prima.
"Kak?"
"Yang waktu itu. Kebetulan juga lo ternyata jam olahraga."
Prima tertawa pelan. "Gak usah juga gapapa, Kak, tapi makasih, ya." Rin mengangguk. "Iya."
"Waduh, berani banget anjir lo Prim!" celetuk salah satu temannya.
"Apaan?"
"Di depan kelas kak Raka woi," bisiknya sambil melotot.
Prima menoleh ke belakang, lima senior laki-laki yang termasuk anggota inti Deverald kini menatapnya tajam. Rin yang menyadari itu, segera menepuk pelan bahu Prima, membuat atensi laki-laki yang kini poni rambutnya itu dikuncir satu menatapnya.
"Dia bukan siapa-siapa gue, gak usah ambil pusing." Rin mengucapkannya pelan. "Ya, udah gue duluan."
"Makasih, Kak," ucap Prima sebelum akhirnya Rin melangkah pergi dari sana.
"Gue sebenernya suka sama lo, sih, Prim, tapi kalo saingan gue kak Rin, ya gue mundur perlahan. Secantik itu saingan gue anjir," ucap Jane—teman sekelasnya—sambil menepuk bahu Prima dengan ekspresi penuh drama.
Prima hanya menggelengkan kepalanya, kemudian lanjut melangkah menuju rooftops untuk memulai materi olahraga pagi ini, senam aerobik. Jane di belakangnya membuntuti Prima, melirik ke arah jendela pojok belakang sekilas, gadis itu menyadari, dibalik gelap kaca jendela tersebut, ada sosok yang berdiri tegap memerhatikan dirinya. Tidak, tidak, lebih tepatnya Prima.
Sementara itu, di sisi lain, Raka menajamkan matanya. Kesal sendiri, tapi ia menyadari kalau Rin nyaman mengobrol dengan laki-laki yang ia duga masih tingkat 10.
"Rak."
Raka menoleh pada Alden, laki-laki itu menyodorkannya selembar kertas berisi cara mengerjakan persoalan fisika materi mekanika kuantum. Raka mengambilnya, berdecak pelan kemudian dengan susah payah memahami.
Effort gue udah sebesar ini, tapi kalo yang lo pilih cowok tadi gue bisa apa anjir.
__ADS_1