JENNIE

JENNIE
42 - Jealous atau Salting?


__ADS_3

Mau galau gitu kan kayak orang-orang karena jealous, tapi gajadi, ada yang ngehibur terus bikin salting. —Rin.


...***...


Brak!


Rin menutup pintu mobil cukup keras, lantas melangkah penuh percaya diri di tengah keramaian siswa-siswi yang ada di parkiran. Keningnya mengerut samar, begitu dari belakang tampak sepasang siswa-siswi berjalan beriringan. Saat tahu keduanya siapa, Rin memutarkan matanya malas.


Langkahnya perlahan memelan, kurang lebih tiga meter ia menjaga jarak. Rin berniat mengamati Raka dan seorang kakak kelas yang seingat dia namanya Teresa.


Puk!


Tepukan pelan di bahu Rin membuat gadis itu spontan menoleh, satu alisnya terangkat mendapati Arga memberikan hormat dua jari padanya. Laki-laki pemilik netra biru lantas berseru, "Morning, calon Buketu!"


Teresa spontan menoleh dengan senyum lebar yang terpatri. "Mor ... ning ...." Gadis itu menghentikan langkahnya dengan tatapan yang sulit diartikan, menatap lurus pada Rin yang kini berekspresi datar.


Tiba-tiba ide brilliant muncul di otaknya. Rin tersenyum manis hingga matanya menyipit pada Arga, yang tentu saja membuat laki-laki itu terkejut, juga lima inti Deverald yang lain, tidak lupa Raka yang bahkan tidak berkedip menatap Rin.


"Morning."


Rin melanjutkan langkahnya yang tertunda, senyum itu masih menghiasi wajahnya. Begitu melewati Raka dan Teresa, Rin berlalu saja tanpa melirik sang ketua Deverald itu. Dirasa cukup jauh dari kedelapan orang itu, senyum yang tadinya mengembang cantik seketika hilang, berganti tatapan menusuk setajam elang.


Permainan ekspresi wajah. Jangan lupakan satu fakta itu, kalau Rin benar-benar lihai dalam memainkan mimik wajahnya.


...*****...


Rin menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di kamar mandi sambil menghela napas panjang. Gadis itu izin sebentar pada guru pengajar jam ketiga dan keempat dengan alasan ingin cuci tangan, kebetulan juga materinya sudah selesai dibahas, jadi Rin diizinkan.


Mengingat kejadian tadi pagi, entah kenapa Rin jadi kesal sendiri. Semacam ada gejolak emosi yang tak terbendung, meminta untuk dikeluarkan haknya. Seperti dorongan kuat dari dalam dirinya untuk berkata pada Raka, please, jauh-jauh dari Teresa.


Rin menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Akhir-akhir ini—tidak, selama Raka mulai menjauh—gadis itu merasa seperti dirinya terlalu banyak memikirkan sang pemilik netra hijau itu. Berkali-kali ditepis, tidak membuat semua pemikirannya tentang Raka hilang, tapi justru membuat diri tambah kepikiran.


Rin sekali lagi menghela napas panjang. Setelah merapikan seragamnya sedikit, ia memutuskan keluar kamar mandi segera. Menyusuri koridor kelas yang sepi, membuat langkahnya bergema. Jauh di depannya, ada Raka dan—lagi-lagi—Teresa yang terlihat menuruni anak tangga di samping kelasnya.


Damn. Padahal Rin lagi badmood parah, tapi kenapa malah ketemu Raka lagi, sih?


Rin melirik dengan ujung mata ke arah Raka begitu keduanya berpapasan. Fakta bahwa Raka tidak menyapanya untuk pertama kali selama ia bersekolah di Starlight, berhasil membuat Rin seakan tertampar kuat-kuat. Rasanya jantung gadis itu berhenti berdetak untuk beberapa detik.


Memejamkan mata seraya menggelengkan kepalanya pelan, Rin memutuskan mempercepat langkahnya yang tadi melambat sesaat. Napas gadis dengan rambut dicepol asal itu memburu, ada pandangan kosong di kedua matanya yang tajam, masih mencoba membiarkan otaknya mencerna apa yang terjadi.


Raka gak nyadar ini gue kan? Iya, pasti dia gak sadar. Rambut gue kan gue cepol, bener, bener.

__ADS_1


...*****...


Rin menyuapkan sesendok bruschetta ke mulutnya dengan tidak semangat. Tatapannya menatap datar dua meja yang berada di depannya, di mana Raka sedang tertawa renyah bersama Teresa.


Sementara Audey, Cellin, dan Ruth sibuk menceritakan hal kemarin pada Megan. Gadis ARMY itu dengan antusias mendengarnya, dan sesekali mengangguk lucu sebagai tanggapan.


"Kita kemaren ke fun zone juga, kapan-kapan kalo Megan ada waktu, bilang ke kita, ya, jadi bisa berlima seru-seruannya," kata Cellin seraya merapikan poni sedagu Megan yang sedikit berantakan.


"Aku gak janji tapi Lin, hehe."


"Fyi aja buat lo Meg," kata Audey cepat.


"Oh? Okay."


Rin segera berdiri begitu makanannya sudah habis. Gadis itu tidak tahan melihat Raka yang terus-terusan tersenyum lebar pada Teresa. Teriakan Audey ia hiraukan, Rin benar-benar sudah panas sendiri.


Kok gue jadi kesel, sih? Sial.


"Kak? Muka lo kenapa jutek?"


Rin mengangkat pandangannya, terkejut mendapati Prima tahu-tahu kini melangkah beriringan dengannya. "Since when?"


"Apanya, Kak?"


"Dari lo keluar kantin tadi, Kak, terus gue ikutin." Prima menyisir rambutnya ke atas menggunakan jari, kemudian melanjutkan ucapannya. "Ada yang bikin lo badmood, ya, Kak?"


Exactly!


"Enggak."


Prima memicingkan matanya. "Kak, gue suka sama lo, ya kali gue gak tau lo gimana."


Mendengar itu, Rin spontan menghentikan langkahnya, kemudian menoleh pada Prima dengan kening mengerut. "What do you mean?"


"Gue suka sama lo, Kak."


Sial, diperjelas lagi.


"Alright. Tapi hubungannya lo suka gue apaan?"


"Ya, karena gue suka sama lo, gue tau beberapa ekspresi lo yang mewakili hati. Salah satunya ini. Muka lo jutek, Kak, pasti lagi kesel setengah mampus sama seseorang, kan?"

__ADS_1


Rin menghela napas panjang. "Greget. Kesel sama diri sendiri juga. Harusnya gue bodo amat. Gak peduli ke orang yang mau coba masuk merapikan. Makin berantakan kalo dia cuma datang berkunjung, tapi bukan buat menetap. Dan malah, membuat berantakan yang lain, yang sebelumnya gapapa." Napas Rin memburu, sesuatu di dalam dadanya benar-benar menyesakkan hingga membuatnya perlu menghirup banyak oksigen.


Prima hanya menepuk pelan bahu Rin sebagai bentuk perkataan, you not alone, I'm here for you. Laki-laki itu sengaja tidak menyela perkataan Rin ataupun bertanya perihal yang diucapkan gadis itu untuk menjaga perasaannya.


Terkadang, seseorang hanya perlu didengarkan.


Menyadari kesalahannya, Rin segera membungkuk sedikit pada Prima. "Sorry, Prim, lo risih kan denger gue ngomong barusan? Gak nyambung."


"Jujur, iya, Kak."


Rin mengerjap beberapa kali dengan cepat, kemudian menoleh pada Prima dengan tatapan polos. "Eh?"


"Gak nyambung banget malah. Tapi gue paham maksdunya." Prima tersenyum hingga matanya menyipit karena paparan sinar matahari. Untuk beberapa saat, Rin terdiam menatap wajah adik tingkatnya itu.


"Kak?"


"Em, ya?"


"Gue izin anterin lo ke kelas, boleh?"


Rin tidak langsung menjawab, menimbang beberapa persoalan. Beberapa detik setelahnya, gadis itu mengangguk. "Boleh."


Yup, Rin gajadi mempertimbangkan apa-apa. Malas mikir dia.


Mendapat persetujuan, Prima segera mengulurkan tangannya pada Rin dengan tubuh sedikit membungkuk. "Your Majesty."


Melihat tingkah adik kelasnya itu, Rin sontak saja tertawa dibuatnya. Prima tersenyum tulus melihat Rin akhirnya mulai terbuka padanya.


"Kak."


"Iya?"


"Ambil tangan gue, pegel nih!"


"Alright, alright, here."


Keduanya kemudian melangkah beriringan dengan Prima yang menggenggam erat tangan Rin. Laki-laki itu menoleh pada kakak kelasnya.


"Kak?"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Senyum lo cantik."


__ADS_2