
Hanya orang-orang spesial yang akan dipertemukan dengan orang tua melalu dinner bersama. So? —RAKARIN.
...***...
"Rin, temen kamu udah jemput tuh," ucap Ara seraya membuka pintu kamar Rin.
"Seriusan? Kok gak ada ngabarin?"
"Ya, Mama gatau, intinya dia udah di ruang tamu, nunggu kamu ditemeni papa. Mereka ngobrol-ngobrol tuh." Ara kemudian memicingkan matanya curiga. "Itu beneran cuma temen kamu? Masa gara-gara mau jalan bareng dia harus secantik ini? Serapi ini pakaian kamu? Segala minta temen buat milihin outfit yang bagus, sampe datang ke rumah juga."
Rin berdecak malas. "Ma, jangan nyaring-nyaring dong. Lagian, ini acara formal, dinner with his parents. Masa iya pake baju tidur? Aku gak biasa pake style formal gini, jadi minta temen."
"Kan bisa bilang Mama."
"Malas. Belum juga mulai, Mama udah nanya aneh-aneh," kata Rin seraya mengambil infinitum chain wallet berwarna dusty pink yang sudah disiapkan Megan di atas ranjang. Gadis itu kemudian melangkah menghampiri Ara yang kini meninggunya di depan pintu.
"Mungkin dia mau PDKT sama kamu, masa main ajak kenalan sama ortu gitu?"
"Ma, udah, ah."
Ara mengangguk paham beberapa kali. Wanita itu lantas menggandeng lengan Rin untuk keluar bersama. Begitu menuruni anak tangga, Raka sontak mengalihkan pandangannya ketika suara high heels hitam milik Rin yang beradu dengan lantai, menggema hingga ke tempatnya duduk.
Pandangan Rin dan Raka bertemu sesaat. Mereka sama-sama saling mengamati penampilan satu sama lain. Di mana Rin yang memakai tweed blazer and skirt berwarna putih, dengan kaos polos yang berwarna serupa, tak lupa rambut yang terikat satu di bawah, tampak lurus berkilau memanjakan mata. Raka sendiri memakai chino pants by H&M hitam sebagai bawahan, dan kemeja berwarna serupa untuk atasan dengan lengannya yang sengaja ia gulung.
Rin—di mata Raka—sangat cantik sekarang. Dan Raka—di mata Rin—benar-benar penuh pesona dengan karisma yang menguar kuat.
Raka berdiri dari duduknya diikuti Reksa. Pria paruh baya itu menatap Rin takjub. "Cantiknya anak Papa," katanya sambil memberikan tangannya untuk disalimi Rin. "Makasih, Pa."
"Aunty, Uncle, saya izin ajak Rin dinner sama keluarga saya, boleh?"
Reksa terlihat berpikir sejenak, kemudian menghela napas panjang. "Boleh, tapi pulangnya jangan sampai lewat dari jam sebelas, apapun alasannya. Paham, Raka?"
"Paham, Uncle, makasih buat kepercayaannya."
"Jaga Rin, ya."
"Pasti, Aunty."
Rin memeluk Ara sejenak, kemudian melangkah menyusul Raka yang sudah cukup jauh di depannya. Melewati pekarangan rumah yang sejujurnya sedikit memakan waktu, membuat Rin memanfaatkan kesempatan untuk berlari pelan mengejar Raka.
Ketika berhasil mengimbangi laki-laki itu, Rin segera berkata, "Lo maksa gue buat ikut, tapi jalannya aja duluan."
__ADS_1
Raka tersenyum tipis. "Oh, diizinin." Laki-laki itu kemudian menggenggam tangan Rin dan menuntunnya ke Lambirghini Aventador berwarna black and white yang terparkir rapi di dekat gerbang area dalam pekarangan.
Membukakan pintu, Raka mempersilakan Rin masuk. Setelah memastikan gadis itu memakai seatbelt-nya, Raka menutup pintu dengan pelan kemudian memutari mobil bagian depan dan duduk di kursi kemudi. Mobil mahal itu pun dijalankan dengam kecepatan standar sambil menikmati taburan bintang yang berhambur di atas sana.
Rin melirik tangannya, gadis itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya kembali menatap langit. Tidak seharusnya ia membiarkan Raka menggenggam tangannya. Rin hanya takut, itu membuat Raka berpikir bahwa ia mendapat lampu hijau. Padahal, tidak. Rin lebih ke arah shock dan memilih mengikut saja karena malas.
Jangan baper, ya, Rak.
...*****...
Raka mengulurkan tangannya, Rin menghela napas berat dan menerima uluran tangan tersebut. Keduanya pun segera melangkah menuju pintu utama dari mansion luar biasa megah kepunyaan Arion's Family.
Pintu menjulang tinggi di hadapan Rin terbuka begitu ia dan Raka sampai di depannya. Dua orang laki-laki berpakaian formal dengan jas menyambut indra penglihatan, mereka berdiri tegap di sisi masing-masing pintu.
Raka menuntun Rin melewati beberapa ruangan berdominasi putih gading dan krem, menambah kesan elegan yang mahal. Hingga sampai di meja makan, terlihat dua orang perempuan dan dua orang laki-laki sudah menunggu di kursi masing-masing.
Seorang wanita paruh baya berdiri, mendekati Rin sambil tersenyum sangat cantik, membuat Rin ikut tersenyum. "Kalau saya tidak salah ingat, ini Alena Rin Gracia, right?"
"Iya, Tante."
Wanita itu melirik Raka. Senyumnya seketika luntur. "Mas kenapa lama banget?"
"Tadi Raka sebelum jemput Rin ada urusan bentar, Mah, hehe," ucap laki-laki itu tercengir.
Raka menanggapi penuturan kakaknya itu dengan memutar mata. "Apa, sih, Mbak?"
"Enough, Papah gamau ada keributan, ya, di sini. Ada Rin, ada Richard juga. Gak malu kalian?" Rama menatap kedua anaknya bergantian.
Raya hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Maklumin aja, ya, Rin." Wanita itu lantas menuntun Rin menuju meja makan.
Rin kini duduk berhadapan dengan Raya, di sebelah kanannya ada Riana dan di sebelah kiri ada Raka. Richard berhadapan dengan Raka, Riana berhadapan dengan suaminya.
"Sebenarnya ini makan malam sederhana, kok pada pakai formal-formal, sih? Rin sama Richard?" tanya Riana mencairkan suasana yang menurutnya cukup kaku di antara mereka. Berhubung para pelayan masih menyediakan makanan ke piring masing-masing.
"Iya, Tante, soalnya kan mau ketemu orang penting, hehe. Harus rapi." Richard menjawabnya dengan seulas senyum manis tak lupa membenarkan jasnya dengan sengaja.
Riana tertawa anggun mendengarnya. "Kamu bisa aja."
Raka melirik Rin ekspresi wajahnya terlihat berpikir keras. Meski tidak terlalu tampak, tapi karena Raka terlalu memerhatikan jadi dia sadar.
"Dia pacar mbak Raya, itu yang tadi ngomong lo pacar gue," bisik Raka sambil menunduk.
__ADS_1
"Gue bukan pacar lo, Rak." Rin membalasnya dengan tegas, tapi dalam ranah bisik-bisik.
"Gue jelasin biar lo gak bingung."
"Kalau Rin? Pakai apa aja boleh loh sayang, kamu gak gerah pake blazer gitu? Lepas aja gapapa, ini pertemuan keluarga biasa, kok. Kasian kamu keringetan nanti," kata Riana perhatian.
Rin melirik Raka panik, laki-laki itu mengangguk pelan. Rin tersenyum tipis dan menyahut perkataan Riana. "Iya, Tante, aku izin lepas blazer sebentar."
"Silahkan sayang."
"Stop." Raya menatap Rin dengan mata menyipit. "Aku bantu sini."
Raya lantas berdiri dari duduknya, gadis itu melepas jas yang dipakai Richard, kemudian menghampiri Rin dan membantu gadis itu melepas blazer-nya. Raya lantas menyerahkan dua luaran tersebut pada salah satu pelayan, meminta tolong untuk disimpankan.
Setelah Raya kembali duduk, Rin segera berucap, "Terima kasih, Kak, maaf merepotkan."
"Gak usah formal-formal. Ulang."
Raka mendelik. "Ya udah, sih, Mbak, udah bilang makasih juga. Sengaja banget."
"Bukan gitu elah!"
"Mas, Mbak, masa kelahi depan pacar kalian?" tanya Rama tak habis pikir pada keduanya.
Rin yang lagi-lagi dikira pacarnya Raka itu hanya bisa menghela napas panjang diam-diam. Ngeselin banget serius, Raka pasti sengaja ngerjain dia, kan?
"Mbak tuh, biarin aja, sih formal atau enggak."
"Biar gak kaku Mas Raka," ucap Raya gregetan.
"Ya—"
Rin segera menyenggol pelan lengan Raka, membuat laki-laki itu tak melanjutkan perkataannya.
Rin kemudian tersenyum tipis pada Raya. "Makasih, Kak."
Mendengar itu, Raya mati-matian menahan tawanya. Ia menatap Rin dengan kening mengerut. "Gue suruh gak usah formal-formal, bukannya nyingkat kalimat."
"Mbak Raya!"
"Mbak udah dong, Masnya jangan dibikin kesel terus. Rin juga masih gak nyaman mungkin, baru pertama kali. Wajarlah kalo kata Mamah. Udah, semuanya ayo siap-siap makan."
__ADS_1
Riana mempersilakan Rama untuk memimpin dan kemudian setelahnya keenam orang di ruangan itu memulai makan bersama dalam keheningan. Sudah sangat jelas, kalau salah sati etika makan itu tidak berbicara, tentu mereka menikmati makanan di piring masing-masing dalam hening.