JENNIE

JENNIE
06 - Friends


__ADS_3

Awalnya merasa terganggu, tapi setelah bareng-bareng terus, rasanya nyaman. Mungkin karena terbiasa bersama bikin kita lebih dekat dengan seseorang. —Rin.


...*****...


"Eh guys, temenin gue ketemu Galang bentar yok, tadi dia ngajak ketemuan."


Megan berdecak. "Ngapain, sih? Kenapa gak dia aja yang datengin lo, mau-maunya diperintah."


"Sekali ini doang ya! Asal lo tau, tadi tuh katanya dia gak boleh kemana-mana sama Raka. Harus stay buat bahas sesuatu. Terus dia kangen sama gue, dan minta tolong gue nemuin dia. Jelas, sih orang kita gak ada ketemuan selama dua minggu!!" oceh Audey panjang lebar.


Megan mengibaskan tangannya di depan wajah. "Lebay banget, sih."


"YEH BIARIN AJAAA! LO KENAPA SEWOT, SIH??!" ucap Audey ngegas.


"Berisik banget ah. Dasar bucin."


"Apaan, sih Meg? Lo iri? Bete gara-gara gak di samperin kak Arga beberapa hari ini? Makan tuh si Jimin!"


"Kok jadi bawa-bawa Enchim, sih? Dia gak ada sangkut pautnya ya! Kasian calon masa depan gue batuk-batuk entar! Lagian, siapa yang bete? Terserah, sih mau gak disamperin atau apa, gue gak ngurus."


"Dasar manusia, lain di mulut, lain di hati."


"Itu untuk manusia lain, sementara manusia gue ini, enggak begitu. Hati sama mulut gue sinkron, sejalan. Kalo gue bilang Jimin, ya Jimin, gak ada orang lain." Megan berujar dengan tegas.


Rin menghela napas mendengar perdebatan keduanya. Melirik ke arah Ruth, gadis itu anteng-anteng saja dengan earphone yang terpasang. Sementara Cellin, dia lagi sibuk baca-baca soal fashion, dengan majalah yang gadis itu sendiri bawa dari rumah.


Dua minggu sejak kepindahan Rin, gadis itu sudah hapal betul sifat dan kebiasaan, hobi atau hal lain mengenai empat teman barunya itu. Awalnya Rin berpikir kalau berteman dengan empat perempuan ini hanya akan membuatnya kesusahan. But now, sedikit demi sedikit, gadis itu mulai nyaman dengan mereka.


Yeah, walaupun harus merelakan dirinya yang dikenal satu sekolah. Niat awalnya yang ingin bersembunyi dan menepi sirna. Belum lagi kata Audey, dia bahkan sudah terkenal, saat awal menginjakkan kaki di sini untuk mendaftar.


Actually, no problem, sih. Jujur, Audey, Megan, Ruth, sama Cellin itu asik orangnya. Punya ciri khas masing-masing, dan mereka juga bukan tipe perempuan yang jadi bodoh dalam hal cinta. Justru mereka menjunjung tinggi harga diri, dengan tidak membiarkan diri mereka sendiri mengejar orang yang disuka. Walau di belakang layar, heboh bukan main ketika disapa atau di senyumin.


Siapa lagi kalau bukan Audey?


"GAK MAU TAU, TEMENIN GUE KETEMU GALANGGGGG!!" teriak Audey mengagetkan Rin. Bahkan Ruth saja terkejut.


Emang the power of suara Audey ya!


"Apa, sih Deyy? Teriak-teriak gak jelas. Di hutan sana," ketus Ruth.


Audey menyengir. "Temenin makanya kalian."


"Kemana?" tanya Cellin sembari menoleh. "Ketemu Galang."


"Males," jawab Ruth cepat.


"Ruth ayolah temenin, atau gak, gue teriak gangguin lo terus!"


"RUTH, DENGER GAK LO???"


Brak!


Ruth menggebrak meja. Gadis itu berdiri dengan wajah kesal. "Buruan."


"Heheheheh, Rin, Cel ayooo," ucap Audey seraya menarik tangan keduanya. Gadis itu menoleh ke arah Megan. "Ayo masa depannya Jimin!!"


Megan menahan senyum malu-malu. "Okayy."


Kelimanya lantas melangkah keluar. Sedikit kebingungan ingin pergi kemana, karena Galang tidak memberi tahu lokasinya ada di mana!


"Nah kan, muter-muter," ucap Megan memberengut.


"Cari tempat biasa gimana?" saran Cellin.


"Gila aja lo Cel, mereka tuh gak nentu ada di mana. Gak sempet kalo ngitarin semuanya!" balas Audey tak santai.

__ADS_1


"Tanya," kata Rin membuat atensi empat gadis cantik itu terarah padanya.


"Tanya? Siapa? Tanya orang?" Rin mengangguk menanggapi Audey.


"Oke deh." Audey menoleh kanan-kiri, segera menghadang jalan dua orang perempuan yang hendak melewatinya.


"Wait, gue mau tanya bentar, lo pada liat Galang gak?"


Salah satu perempuan itu menjawab. "Tau, tapi gue gak saranin lo kesana."


"Lah kenapa?" tanya Audey agak kesal. Masa iya dia dilarang buat ketemu crush-nya, sih?!


"Lagi berantem. Ada penyusup."


Kening Rin mengernyit samar.


Penyusup? Ada yang nyari masalah sama Deverald?


"Udah gapapa! Di mana?" desak Audey tak sabar. "Belakang sekolah."


"Okay, thanks."


Kelimanya kini segera berlalu dari sana, mempercepat langkah ke belakang sekolah.


"Mending gak usah aja gak, sih? Situasinya gak tepat banget," kata Megan mengingatkan.


"Nanggung ah, udah keliatan juga mereka," jawab Audey memerhatikan tujuh orang yang berada di tengah tanah rerumputan itu. Dengan di sekeliling—pinggiran dekat gudang—kumpulan orang berjaket kulit memenuhi.


BUGH!


BUGH!


"Jawab gue bilang!" tajam seorang laki-laki bernetra hijau, sambil menyisir rambutnya ke belakang. Meperlihatkan keringat yang menetes dari dahi turun hingga ke leher kokoh laki-laki itu.


"Oh my gosh! Rin coba liat cowok yang mencolok sendiri itu!! Lo kenal dia gak?"


"Dia Arfano Raka Arion, kakak kelas kita yang juga ketua dari Deverald. Ketua motor itu Rin!!" seru Audey, nyaris ingin teriak jika saja gadis itu tidak tahu situasi.


Oh, jadi itu orangnya?


Rin mati-matian menahan diri agar tidak melotot, atau menampilkan ekspresi kaget. Dengan bakat barunya—mengendalikan ekspresi—Rin terlihat biasa saja di mata Audey dan yang lain.


Tau gue gak ya? Tapi waktu itu, gue langsung turun, gak ikut maju. Lagian, gue aja gak tau dia, masa dia tau gue.


"Deverald itu tuh, terkenal banget udah di dunia permotoran Indonesia, mereka dikenal sebagai penguasa jalanan!!" pekik Audey tertahan.


"Ketuanya yang sekarang Arfano Raka Arion, gila, sih ganteng banget! Kak Raka tuh, orangnya humoris, humble tapi kadang dingin, cuek, galak. Susah ditebak orangnya gimana. Tapiiiii, itu kayak ciri khas seorang Raka gituuu!!" lanjut Audey.


Rin menggigit pipi bagian dalamnya pelan, tiba-tiba merasa hawa di sekitarnya tidak baik. Gadis itu punya feeling kalau dia tetap di sini lebih lama, akan menyebabkan hal buruk entah sekarang atau di kemudian hari.


Baru saja ingin menyuarakan ke kelas, Audey lebih dulu bersuara. "Ke sana yok!" ajak Audey lebih dekat. Rin hanya pasrah ketika tangannya ditarik oleh Audey.


Salah seorang yang menyadari kehadiran lima gadis cantik itu menoleh, wajahnya yang semula sangar, langsung tersenyum lembut ke arah Audey. Melambai kecil, Audey menahan dirinya agar tidak berteriak heboh. Menggigit bibir bawahnya pelan, saat Galang juga melambai ke arahnya.


"Nah Rin, dia Galang Devon Adelard, wakil dari Raka. My crush juga hehehe. Gue sama dia tuh sebenarnya gatau statusnya apa. Pacaran enggak, tapi dia bilang gue boleh ngakuin dia sebagai pacar gue ke lo berempat. Banyak yang bila—"


Suara Audey tenggelam dalam lamunan Rin, tidak lagi jadi fokus utamanya. Gadis itu lebih memilih memerhatikan Raka yang sedang menghajar si penyusup tanpa ampun. Entah kenapa, jauh di dalam hati Rin, satu nama yang pernah terukir di sana, mengingatkannya dengan sebuah kebiasaan kecil laki-laki spesial—yang bahkan sampai sekarang masih saja punya tempat khusus.


Mengenai laki-laki itu yang semula manis akan berubah menjadi devil dalam sekejap jika menemui penyusup atau pengkhianat. Menghabisinya tanpa rasa belas kasih, yang membuat Rin mau tidak mau harus turun tangan. Menenangkan, hingga akhirnya melunak.


Rin hanyut dalam kepingan masa lalu yang berusaha ia tutup tapi tidak bisa. Melihat sosok Raka, kembali membuka memori lama.


Hingga tak sadar, bahwa Audey sudah daritadi menepuk-nepuk bahunya. "Rin! Ihhhhhh, lo gak dengerin gue ngomong ya?? Kok malah ngelamun, sih?!"


Rin mengerjap, keempat temannya memerhatikan dia dengan bingung. Walau ragu, gadis itu menoleh pada Audey. "Sorry, ulangin lagi aja, gue dengerin."

__ADS_1


Audey berdecak. "Lo kira gak capek ngomong panjang lebar apa?! Lagian, lo kenapa ngelamun, sih? Mikirin apaan?" Rin tidak menyahut, hanya menggeleng pelan.


"Susah banget emang ngomong sama titisan Elsa!"


Karena merasa tidak enak, Rin berucap, "Intinya aja kasih tau gue, biar gak capek lo jelasin dua kali."


"Males, sih udah keburu gak mood. But it's okay, gue jelasin ulang. Di sekolah ini itu ada geng motor namanya Deverald, dipimpin sama kak Raka, yang terkenal dengan gelar, Sang Raja Jalanan. Bukan berarti dia anak jalanan loh ya!" kata Audey.


"Anggep anak langit aja Rin kalo gak mau bingung," tukas Megan.


Audey menoleh ke arah gadis itu dengan kesal. "Lain! Raja Jalanan yang gue maksud itu artinya, setiap war sama geng motor yang jadi musuh Deverald, dan kalau itu yang mimpin kak Raka, 100% pasti menang!"


Tidak menggeleng, Rin justru tanpa sadar mengangguk. Karena, memang benar.


"Lo tau begituan darimana, sih Dey?" tanya Megan yang dibalas cengiran dari Audey. "Galang. Sama itu, akun gosip hehe."


Megan memutar matanya malas.


"Well Rin, inti Deverald itu ada 7 orang. Arfano Raka Arion sebagai pemimpin, Galang Devon Adelard wakilnya kak Raka. Terus ada Alden Raffano yang paling pendiam, gak banyak omong, pokoknya misterius banget orangnya." jelas Audey.


"Susah buat milikin dia," gumam salah satu dari kelimanya.


"Di situ juga ada anak sultan seratus turunan, namanya Arka Damares. Ke sekolah aja nih Rin, gonta-ganti mobil. Misal kemaren pake Lamborghini, hari ini pake Bugatti, besoknya dia make BMW! Gak kebayang yang jadi ceweknya bakal seberuntung apaa!! Mandi susu tiap hari kali, ya."


"Pacarnya dekel yang matre anak IPS itu kan?" tanya Ruth yang dibalas anggukan dari Audey. "Iyapss, kok lo tau?" Audey memicingkan matanya pada Ruth.


"Kemaren gue liat ceweknya ke mall pake bikini."


"Ke mall pake bikini? W—what?" tanya Cellin dengan suara lemahnya yang dipadukan ekspresi lembut gadis itu.


"Gue rasanya pengen ngasih tau, cuma namanya kak Arka udah cinta buta ya gimana. Banyak yang udah ngasih tau dia, tapi dia gak percaya. Bodolah, ganteng-ganteng keras kepala."


Audey mengibaskan tangannya di depan wajah. "Lanjut. Tiga inti Deverald yang lain itu, ada Arga Atharrazka Aldevaro, Iqbal Alfareza, sama Regan Alvaro. Triple 'Al' marga. Tukang rusuh woi mereka tuh, mana pecicilan banget lagi gilaa, herannya wajah mereka tuh gantengnya bikin perawan jejeritan!"


Rin megangguk-anggukan kepalanya.


"Kalo bikin perawan jejeritan, berarti bisa bikin janda lompat terbang juga dong?" tanya Megan dengan tatapan polos yang dihadiahi jitakan pelan dari Audey.


"Stupid, gak gitu juga lah kang halu!"


Megan dan Cellin tertawa pelan, sementara Ruth menarik napas pelan, capek. Lalu Rin, gadis itu hanya menggeleng pelan, tidak tahu harus berekspresi bagaimana. Walaupun tahu, Rin juga tetap tidak akan berekspresi, sih.


"Oh iya, kalo lo ada niat deketin, deketin ketuanya, atau gak kak Regan aja. Itu yang rambut bagian atasnya ikal nutupin dahi." Audey menunjuk salah seorang yang berjongkok di samping laki-laki bernetra biru.


"Yang lain hatinya udah gak available lagi. Kak Arga sukanya sama Megan, kak Iqbal sukanya sama Ruth, si Cellin suka sama kak Alden, kak Arka cinta buta sama cabe dan gue sukanya sama Galang."


Megan mendengkus. "Ngomong aja males, ngapain ngurus begituan. Rin, 2020."


Tertawa pelan, seketika kelimanya terkesiap kala melihat Raka membalikkan badan. Cowok itu menatap Rin lamat-lamat membuat gadis itu tercekat selama beberapa saat. Apalagi tatapan tajamnya yang menusuk, seolah mengintimidasi. Rin menegakkan tubuhnya, mengangkat wajah, agar Raka tidak menduga bahwa ia merasa demikian.


Please, lo gak liat gue waktu itu.


Raka melangkahkan kakinya, bahkan setiap langkah yang cowok itu ambil, membuat Rin nyaris keringat dingin. Meneguk salivanya susah payah, Rin berusaha menstabilkan ekspresinya tetap datar.


Menghela napas dalam diam, Rin beruntung Raka, si ketua Deverald itu hanya melewatinya. Terlepas dari ketegangan beberapa saat tadi, Rin bisa menarik napas lega, karena Raka tidak tahu identitasnya.


"Pulang sama gue ya Deyy, cuma mau bilang itu, sorry ngerepotin sampe datengin gue segala," ucap Galang lembut. "Maaf juga buat kemaren."


Audey tersenyum manis lalu mengangguk pada laki-laki yang kini berdiri di hadapannya.


JANTUNG PLEASE JANGAN COPOT DULUUUU!! KERJASAMA BENTAR YA AMA GUE!


"Sorry, gak lama ngobrolnya, lagi sibuk. Pulangnya aja ya," kata cowok itu sambil mengacak rambut Audey dan setelahnya berlari kecil menyusul teman-temannya yang lain.


"ASJKLBDBH—yang diacak rambut gue, yang berantakan hati gueee!!" jerit Audey gregetan.

__ADS_1


Yeah at least, feeling Rin tidak benar kali ini. Namun, kalau boleh jujur, feeling gadis itu tidak pernah salah sebelumnya.


__ADS_2