JENNIE

JENNIE
22 - Tidak Sejalan


__ADS_3

Ketika hati dan ucapan berbeda, maka di situ ada hati lain yang mati-matian dijaga, ada secuil pembohongan agar tetap seperti biasa, dan ada perasaan suka yang berusaha diabaikan. —Raka.


...*****...


Seorang laki-laki bermanik hijau menuruni motornya dalam sekali gerakan. Melepas helm full face-nya, dan menaruhnya di atas ducati merah. Berjalan dengan begitu gagah melewati ratusan motor yang sudah terparkir rapi depan sebuah gedung besar yang terlihat sangat lama, tapi begitu mewah di dalamnya, sangat rapi dan terjaga kebersihannya.


Pintu besar yang tinggi menjulang di hadapannya, Raka dorong dengan satu tangan. Ketika pintu terbuka sempurna, ratusan orang-orang berjaket kulit memenuhi dengan suara bisik-bisik, ketika laki-laki bernetra hijau itu masuk, barulah sunyi senyap menyambut dengan semuanya yang langsung berbaris rapi.


Di saat inilah, di mana semua anggota Deverald dari semua sekolah berkumpul. Baik yang masih SMA, maupun yang sudah kuliah. Tujuan mereka selain bersilahturahmi, mereka juga menunggu perintah seorang Arfano Raka Arion. Dari berbagai golongan semua bersatu dalam gedung yang sangat besar nan luas ini.


Di hadapan Raka, lima anak tangga terlihat, yang di bagian atasnya terdapat satu kursi yang merupakan kepunyaannya sebagai leader. Di masing-masing anak tangga ada enam sahabatnya yang menunggu kedatangan Raka sambil menahan tawa. Ralat, Arga, Iqbal, dan Regan saja yang rasanya ingin tertawa.


Tak!


Raka berdiri sempurna di hadapan Galang. Saling menatap dengan tatapan tajam pertanda ada sebuah dialog di antara keduanya. Selesai dengan urusan yang tidak diketahui yang lain, Raka melangkahkan kaki menaiki setiap anak tangga. Aura kharisma dan kepemimpinan begitu kuat menguar dalam dirinya.


Raka mendudukkan diri, menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Manik hijau itu menajam bersamaan dengan suaranya yang begitu dalam keluar, membuat satu ruangan heboh dalam sekejap, tak terkecuali Arga, Iqbal, dan Regan yang memang tidak tahu apa-apa.


"Gaara nantangin, besok jam dua siang di jalan Vegasus."


...*****...


hari ini bisa kan lo? gue mau bahas ini udah dari lama, tapi baru ada waktu sekarang


Rin melempar asal ponselnya ke atas kasur. Gadis itu berdecak pelan, memerhatikan pantulan dirinya di cermin. "Geez! Mau ngapain, sih? Gue kan udah gak ada urusan sama dia atau yang lain!" monolog Rin kesal sendiri.


Melirik jam yang terletak di atas pintu, menunjukkan pukul tujuh kurang. Gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi.


Telat banget dari biasanya, emang nyusahin mulu dari dulu anjir.


...*****...


"Ma, Pa, Rin berangkat dulu, ya," pamit Rin sambil mecium Ara tepat di pipi, kemudian beralih mencium punggung tangan Erland—papanya.


"Sarapan beneran kan di sekolah?" tanya Ara, pertanyaan yang sama, yang selalu dilontarkannya setiap pagi.


"Iya, Ma," balas Rin, seperti biasa, berbohong pada mamanya agar wanita itu tidak terlalu khawatir. Gadis itu bergegas keluar dapur, berjalan menuju pintu utama.


"Gak mau berangkat sekalian sama papa?" tanya Erland menyusul ketika selesai menghabiskan sarapan. Melirik jam tangan mahalnya, "Masih sempat ini nganter kamu."


"Papaaaa," kata Rin panjang sambil merengut. Melihatnya Erland terkekeh. "Iya, iya, yang udah bisa bawa mobil, udah gede, udah masuk SMA, gak mau lagi dianter Papanya," pria paruh baya itu mencebikkan bibirnya melirik Rin.


Rin memutar mata. Mengabaikan itu, ia langsung berpamitan. "Mah, berangkat dulu, ya," pamitnya lagi yang dibalas anggukan oleh Ara.


Rin tersenyum manis pada mamanya, kemudian berlalu keluar dari rumahnya yang luar biasa megah itu. Ketika memasuki Ferrari putih kesayangannya, senyum cantik itu luntur dalam sekejap, berganti dengan tatapan dingin menusuk.


Time's to using mask.


...*****...


"Morning," sapa Raka begitu Rin mendudukkan diri di kursi. Gadis itu terlihat kaget akan kedatangan Raka karena laki-laki itu baru saja masuk ketika Rin juga masuk.


"Tumben siang?" tanya Raka, salah satu alisnya terangkat. Mendapati gadis itu hanya diam sambil mengeluarkan buku pelajaran, Raka kembali berucap, "Sarapan dari gue jangan lupa dimakan."


Rin melirik mejanya. Terdapat kue sus yang ia yakini berisi vla vanila, dan sekotak susu rasa coklat. Gadis itu menahan senyumnya. Jadi cara Raka biar Rin terus makan sarapan dia, istilahnya agar tidak bosan, begini? Lain makanan, melainkan minuman untuk sarapan pagi harinya, yang selalu berbeda di setiap hari. Soalnya beberapa hari ini beda.

__ADS_1


Seingat Rin begini,


Senin susu kotak rasa strawberry.


Selasa rasa coklat.


Rabu rasa vanila.


Kamis rasa taro.


Jumat rasa cappucino.


Dan sabtu akan berbeda sendiri, yaitu yoghurt.


Pinter juga nih cowok cara mainnya.


"Gue makan, lo pergi." Rin menatap pemilik manik hijau di depannya dengan dingin.


Raka mendengkus. Lalu melangkah keluar, menghampiri enam sahabatnya yang menunggu di dekat tangga. Keenamnya menatap Raka dengan pandangan berbeda dari biasanya, membuat cowok itu mengernyit mengangkat sebelah alisnya. "Apaan?"


Galang mengembuskan napas kasar. "Lo ngelakuin ini semua, bener cuma pengen bongkar rahasia dia aja kan? Gak lebih?"


Raka terkekeh pelan, tapi begitu mengerikan bagi enam laki-laki memesona di sana. "Iya. Cuma buat ngebongkar siapa dia. Gak lebih."


Laki-laki itu kemudian menepuk bahu Galang beberapa kali cukup kuat. "Lo," matanya bergulir menatap yang lain, "dan kalian, gak perlu takut gue kejebak pesona dia. Disini, gue main caracter-nya."


...*****...


Rin melangkahkan kaki menyusuri ramainya koridor. Melewati jalan bebatuan, untuk sampai di gedung kedua di mana kelas tambahan berada. Menoleh ke samping, dari jauh netranya dapat melihat ratusan anak motor membuat gaduh di depan gerbang, disusul pemandangan laki-laki tampan yang datang dari berbagai sekolah, mengenakan jaket kulit kebanggaan.


Pemandangan yang jarang dilihat itu berganti dengan tembok berwarna grey, ketika Rin sudah sampai di atap lorong gedung kedua. Mempercepat langkah, walau sebenarnya banyak pemikiran-pemikiran yang berlalu-lalang, meminta untuk diberhentikan dengan sebuah jawaban pasti.


Rin melirik jam tangan di pergelangan tangannya, sekarang sudah jam 13.00 WIB. Hari ini pulang lebih awal sejam dari biasanya, tidak tahu kenapa, tapi semua kelas. Dahi gadis bermanik hitam legam seperti rambutnya itu berkerut samar mendapati delapan kelas tambahan semuanya terkunci rapat.


Melirik depan belakang bergantian, dan ketika menangkap keberadaan seorang petugas TU yang baru saja turun dari lantai tiga, gadis itu mempercepat langkah menghampiri. "Permisi, ini kenapa?" tanya Rin langsung.


Perempuan paruh baya itu memerhatikan Rin sejenak lalu menyahut, "Kamu anak kelas fisika, ya? Maaf ya, Nak, tapi pak Holden ada acara, jadi kami para guru dan staff diundang. Makanya pulang lebih awal, terus kelas tambahan diliburkan."


Rin membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Kenapa bisa pas banget, sih? Btw kok gue gatau?


"Terimakasih, Bu." Rin membungkuk hormat lalu dengan gerakan kilat berlari menjauh. Dengan tergesa menuruni anak tangga.


Mungkin emang gue harus bahas ini deh. Bener apa enggaknya yang dia bilang waktu itu.


Ketika langkah Rin sampai di parkiran ia dibuat kaget karena sudah tidak ada lagi anak-anak seragam SMA Starlight. Yang ada hanya kumpulan laki-laki berperawakan badboy dengan kaos hitam dan abu-abu polos mendominasi.


Rin mempercepat langkah, mencari keberadaan mobilnya di tengah lautan motor sport bermacam warna.


Got it!


Baru satu langkah Rin mendekati kerumunan, suara sepi menyambut gadis itu, seluruh pasang mata mengarah padanya, ketika salah satu anak SMA lain seolah memberi kode jika dia akan datang.


Beneran mereka langsung sepi gini karena gue? ebuset pesona gue sekuat ini ternyata.


Rin mengendalikan ekspresi, berjalan memecah keheningan dengan pantopelnya yang bergema.

__ADS_1


"Kenapa belum pulang?" tanya seseorang di belakang Rin. Suara serak rendah seperti ini sangat gadis itu hapal milik siapa.


Rin menolehkan kepalanya, mendapati Raka mengangkat sebelah alisnya dengan kedua tangan di saku celana. Ia memberhentikan langkah, sambil berbalik badan.


Bukan karena gue ternyata.


"Kelas. Gedung dua. Free. Gatau."


Raka tersenyum tipis, tangannya bergerak memegang pergelangan tangan Rin, agar gadis itu tidak jauh-jauh darinya. "Gak buka grup?" Rin menghela napas barulah mengangguk pelan.


"Pulang sama siapa?" tanya Raka lagi, netranya memerhatikan sekeliling lalu menatap manik gadis di hadapannya itu lagi.


Daripada menjawab, Rin lebih tertarik dengan kehadiran seseorang yang baru ia sadari sejak tadi berjalan di belakang Raka. Menatap lekat gadis berambut pirang itu, yang tidak lama kemudian menatap balik mata Rin. Gadis itu memerhatikan dari atas sampai bawah penampilan Rin, membuat Rin balas menatap dengan tatapan menilai.


Menyadari Rin yang malah salah fokus, senyum penuh arti terbit di bibir Raka. Smirk mematikan tapi memesona perlahan muncul di wajahnya yang tampan.


"Jealous? "


Rin tersentak, secepat kilat memutuskan pandangan pada gadis di belakang Raka, dan kembali menatap manik hijau laki-laki di hadapannya ini. Memutar matanya malas, sambil berkata, "Dia natep gue, ya gue tatap balik, lah."


Rin kemudian berbalik badan, dan disambut tatapan takjub orang-orang di sekitarnya. Ya, karena gak pernah ada yang gituin Raka! Gadis itu kemudian melangkahkan kaki dengan kepala terangkat untuk menunjukkan seberapa besar kuasa yang tersembunyi dalam dirinya, agar tidak ada yang memandangnya remeh.


Raka terdiam cukup lama. Otaknya berpikir keras akan sikap Rin yang berbeda dari biasanya. Nada suara gadis itu tidak sedingin biasanya, tatapan gadis itu tidak setajam biasanya, dan ekspresi Rin tidak sedatar biasanya. Yang Raka lihat adalah, di mana Rin yang berkata dengan nada suara super sewot, menatapnya dengan kesal, dilengkapi ekspresi gadis itu yang terlihat bete entah karena apa.


Raka menghela napas pelan. Ada perasaan aneh yang menjalar dalam hati laki-laki itu, yang ia tahu pasti apa artinya. Sesuatu yang tidak diharapkan kehadirannya, malah masuk begitu saja. Rasa penasaran akan Rin tidak sebatas penasaran biasa, melainkan terselip sebuah perasaan, yang membuat laki-laki itu semakin tertarik lebih dalam mengenai sosok gadis pemilik mata legam itu.


Raka tersenyum tipis dengan tatapan dalam menatap ke depan. Daya pikat lo bikin gue hampir ganti tujuan, Rin. Raka membatin.


"Hati-hati," ucap Raka tanpa suara ketika Rin melihat singkat ke arahnya sebelum memasuki mobil.


Selepas mobil itu menjauh, Raka mendatarkan wajahnya membuat anggota Deverald yang tadi heboh bukan main akan ketua mereka yang jarang senyum—tapi hari ini senyum-senyum sendiri karena seorang gadis—langsung diam seketika.


"Berangkat sekarang," ucap Raka, tatapannya menggelap, suaranya menggema penuh penekanan.


Berbondong-bondong menaiki motor sport masing-masing, mereka semua yang ada di sana selain inti menggas-rem dengan dilengkapi teriakan-teriakan semangat yang saling menyahut. Seorang laki-laki melajukan motornya dari belakang, melewati Raka, juga melaju melewati kerumunan dan memberhentikan kendaraannya di barisan paling depan.


Membuka visor helmnya, Arka menoleh ke belakang ketika suara Raka kembali terdengar. "Inget, ribut demi harga diri atau diam tidak ada harga diri. Mereka yang mulai, jadi jangan segan buat musnahin."


Kemudian suara knalpot yang menimbulkan bising mengisi setiap sudut jalanan, mereka menjalankan kendaraan ketika Arka tadi dengan lantang menyerukan, "JALAN!"


Raka menoleh pada Arga dan Iqbal yang baru saja balik dari wamade ketika keduanya bersiul menggoda. "Gue anter Teresa, lo berdua susul yang lain," perintah Raka mutlak tak ingin dibantah.


"SIAP!" keduanya memberi hormat lalu melangkah menuju motor masing-masing, dan segera menyusul anggota yang lain.


Raka menoleh dan tatapannya berubah lembut menatap Teresa. "Ayo pulang."


"Aku gak ngerepotin kamu kan Rak?" tanya Teresa tidak enak sendiri. Raka tersenyum manis. "Enggak kok."


Teresa terdiam sesaat. Bukan perasaan tenang yang ia dapat ketika melihat senyum Raka, melainkan sesak tak tertahankan entah karena apa. "Senyumnya kamu yang begini ... pernah Rin liat?" tanya Teresa sambil masuk ke mobil ketika Raka membukakannya pintu.


"Jalanin misi Res, gak lebih. Lo tau kan, gue sukanya sama siapa? Teresa Agnes," balas Raka tenang, tatapannya menyelam pada manik biru langit di hadapannya.


Gadis berambut pirang itu tersenyum cantik. "Dih, iya-iya percaya."


Raka menutup pintunya perlahan, memutari bagian depan mobil lalu membuka pintu bagian kemudi. Percayalah, hati dan ucapan laki-laki itu sedang tidak sejalan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2