JENNIE

JENNIE
11 - Rin, the Mysterious Girl


__ADS_3

Kalau bisa cari aman kenapa harus cari mati? Manusia itu cuma punya satu nyawa, harus dijaga dan digunakan sebaik-baiknya. —Rin.


...*****...


Rin, Megan, Audey, Cellin dan Ruth kini memecah keheningan di koridor dengan langkah mereka yang bergema. Mata Audey sedikit memicing mendapati ruang guru dikunci. Gadis itu melirik Cellin yang menggigit bibir bawahnya pelan. Suara ribut dengan segala umpatan dan seruan makin jelas terdengar di telinga kelimanya.


Rin mendahului empat temannya yang lain, teriakan Audey ia hiraukan. Gadis itu justru mempercepat langkahnya. Dengan mulut sedikit terbuka, Rin dibuat kaget dengan adanya ratusan anak-anak Deverald.


Matanya bergerak gelisah ke arah geng motor lawan. Rin meneguk ludahnya susah payah saat matanya tidak sengaja bersitatap dengan seorang ketua Alvaska. Melempar pandang ke arah lain, Rin malah justru dihadapkan dengan pemandangan di mana Raka menyugar rambutnya ke atas, memperlihatkan keringat di dahinya yang paripurna, mengucur ke leher kokoh laki-laki itu.


Gak munafik, dia emang ganteng banget sial!


Ketika cowok itu ingin berbalik badan, Rin buru-buru menjauh, kembali berlari kecil mendekati empat temannya.


Kalau bisa cari aman, ngapain harus cari mati? Itu prinsip Rin. Makanya, gadis itu memilih mundur, berusaha menyembunyikan identitasnya.


...*****...


"Tujuan kalian ke sini ngapain?!" Raka terus melayangkan pukulan ke titik terlemah Gaara yang menjadi lawannya.


Tidak tinggal diam, Gaara juga baru akan memberi bogem mentah tepat di wajah Raka, tetapi kalah cepat dengan laki-laki bernetra hijau itu.  Cowok itu lebih dulu memelintir tangannya ke belakang.


"Gue udah bilang tadi anjing! Cuma mau mastiin aja, kenapa lo malah langsung main nyerang?!!"


"Gue tanya sekali lagi." Raka memperkuat cengkramannya di pergelangan tangan Gaara. "Lo. Ngapain. Ke sini." ucap Raka dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Hal itu berhasil membuat Gaara bergidik ngeri. "Ka—kan gue u—udah bilang ta—di!" bentaknya. Dalam hati, cowok itu merutuki dirinya sendiri yang gugup, padahal baru dibentak Raka.


"Lagian lo gak berhak tau, brengsek!"


Raka menggeram.


"Jawab yang bener! Mau mastiin apaan?!" tanya Galang menimbrung sekaligus mencegah Raka mengamuk. Cowok itu melawan salah satu anak Alvaska di dekat sang ketua, sehingga mendengar sedikit pembicaraan antara keduanya.


"HAK GUE KALO GAK MAU NGASIH TAU BNGST!"


Raka berdecak. "Sialan!" cowok itu menendang punggung Gaara kuat, hingga suara patahan tulang terdengar membuat cowok bertato itu memekik kesakitan. Tidak berhenti di situ, Raka meletakkan kakinya di atas dada Gaara yang sudah terjatuh di aspal.


"Gue udah baik-baik, lo ngelunjak, gue punya hak buat bunuh lo. Dan lagi, gue punya dendam yang belum selesai. Lo tau artinya kan? Jadi jangan nyari masalah baru."


Galang memberi tendangan kuat di perut lawan di depannya. Cowok itu buru-buru mendekati Raka, mencegah amarah pemimpinnya lepas kendali. Karena, Raka kalau sudah lepas kendali, susah untuk dihentikan. Bahkan tidak bisa.


"Alvaska kalo udah kalah, kalah aja. Gak usah cari gara-gara sama Deverald atau Starlight." ucap Galang sambil menarik Raka mundur, membuat cowok itu menyentak tangan sang wakil yang memegang bahunya.


Gaara berdiri susah payah sambil mengelap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. "Sampai kapan pun, gue, Alvaska, gak bakal ngakuin Deverald! Secara otomatis, Alvaska gak kalah. Buat setengah tahun lalu, bukan kalah, kami cuma mengalah."


Cowok itu melangkah maju, tapi langkah kaki Gaara terhenti, mendapati seorang gadis tak asing berdiri memerhatikan dari dalam gerbang SMA. Cowok itu menoleh ke depan sambil menyunggingkan senyum miring.


Tangannya terangkat. "Mundur."


Raka mengernyit, secepat ini?


"Sekarang Alvaska mundur. Tapi tunggu, kejutan dari kami."


Arga tertawa. "Iya lo mundur. Udah pada kalah semua." Iqbal menyahuti sambil tertawa kencang, "Tinggal ngaku kalah ribet banget."

__ADS_1


"Anggotanya pada sekarat semua ya, makanya mundur sebelum semuanya rata di tangan Deverald," ucap Arka sambil joget-joget tidak jelas.


Tidak memedulikan itu, Gaara tetap mundur. Gerombolan motor anak-anak Alvaska terdengar. Suara knalpot yang nyaring memekakkan telinga beradu dengan sorak-sorai anggota Deverald.


"Gimana Rak?" tanya Alden.


"Pulang aja, Den. Untuk sekarang mungkin gak ada ancaman. Buat ke depan, gue juga gak tau. Waspada aja." Alden mengangguk. "Bubarin."


Raka menoleh ke belakang, di mana ratusan anak Deverald menunggu perintah selanjutnya dari cowok itu. "Bubar." Raka berujar tegas, suaranya menggema hingga barisan paling belakang.


Mendengar perintah itu, seluruh anggota kecuali inti Deverald berbondong-bondong menaiki lalu menyalakan motor sport mereka menjauhi SMA Starlight, membuat sekitaran jalan ramai karenanya. Ada juga beberapa yang memilih ke gedung belakang, mendatangi basecamp untuk sekadar istirahat.


Raka menghela napas berat. Otaknya tidak bisa berhenti memikirkan apa lagi rencana licik Alvaska.


"Gak usah terlalu dipikirin." Galang menepuk bahu Raka sedikit keras. Mengenal Raka cukup lama, Galang tentu saja mengerti apa yang dipikirkan ketuanya itu.


"Dia belum balik? Atau sekarang sepenuhnya dipegang Gaara?" tanya Arga mendekat bersama Iqbal.


Raka menggeleng pelan. "Bisa aja ada sesuatu yang mereka sembunyiin. Gue gak tau."


"Intinya jangan lengah," ucap Alden yang diangguki keenam temannya.


"Den, kayak biasa, beresin," kata Raka pada Alden. Laki-laki berwajah datar itu mengangguk. Inilah tugasnya, yaitu penghapus jejak.


Sehingga, walau ada perang besar sekali pun, Alden mampu menutupi bau anggota Deverald, dan tempat kejadian pun bersih tanpa jejak barang sidik jari sekali pun. Entah bagaimana cara laki-laki itu melakukannya.


Regan melirik ke arah gerbang, lalu mengernyit saat melihat kendaraan berupa tiga mobil mewah masih terparkir manis di dalam sana. "Eh woi, masih ada orang di dalem?" tanya Regan sembari menunjuk gedung SMA Starlight di depan dengan dagu.


Raka menoleh, cowok itu terdiam cukup lama. "Ikut gue!"


Menurut pada perintah sang pemimpin, ketujuh motor besar itu memasuki gerbang sekolah mereka. Iqbal menghela napas ketika Galang menyuruhnya membuka gerbang. "Anjir emang."


Memarkirkan motor tepat di samping tiga mobil itu, Raka mematikan mesin motor lalu melepas helm full face-nya. Menyugar rambut ke atas, dan merapikannya sedikit.


"Mobilnya Audey bukan, sih?" tanya Iqbal menoleh pada Galang. Cowok itu mengangguk setuju. "Iya, ini mobil calon gue."


Keningnya mengerut, lalu kembali berucap, "Kok belum pulang ya? Odey gue gak kenapa-napa kan?"


"Bucin," komentar Alden. Iqbal tertawa ngakak di motornya. Nih Alden ngapa, sih? Namanya juga gebetan, wajar dong kalo khawatir? Lagian, kalimat bucinnya di mana??


Kelamaan jadi batu, sih tu cowok!


Menyadari Raka yang diam tak berkomentar atau memperjelas kenapa mereka di sini, membuat Arga menoleh ke arah cowok itu. "Mau ngapain Rak?" Sontak perhatian mereka semua ada di Raka.


"Tungguin mereka pulang."


...*****...


"Guys, kayaknya udah pada bubar gak, sih? Gak kedengeran suara teriakan-teriakan juga kan?" Megan berujar pelan.


Rin mengangguk lantas berdiri dari duduknya, mengambil kunci ruang UKS dari saku, lalu membuka pintu. Gadis itu tadi memilih bersembunyi sebentar di sini sampai war antar dua geng motor di depan SMA Starlight selesai.


Jangan tanya kenapa kunci UKS bisa ada sama mereka. Karena di sini ada Megan yang bertugas membawa kunci ruangan obat-obatan setiap pulang sekolah.


Rin melirik empat temannya yang lain. "Pulang sekarang atau nanti?"

__ADS_1


"Sekarang lah! Gue takut tiba-tiba ada tawuran lagi. Kan ngeri kalo jadi tawanan. Tapi kalo ditawan sama orang ganteng, beda cerita," ucap Audey cengengesan.


"Jaga hati Dey. Lo nyuruh Galang gak boleh lirik-lirik, tapi lo-nya sendiri melototin cowok lain," tegur Megan dengan sedikit menyindir.


"Candaan doang elah! Hati gue udah cukup dan terkunci cuma buat Galang."


Megan bergidik. "Iiii, kok gue geli, sih? Aduh, udah deh, gak usah bucin-bucin gituuu."


"Kenapa? Lagian bucin di mananya? Bilang aja lo juga pengen bucin sama Arga, cuma gengsi!"


"Nope tuh. Hati gue udah gue kunci rapat-rapat, cuma Jimin yang boleh menetap, dan enam member lain yang sekedar berkunjung."


Ruth memijit pelan keningnya. Kalau dibiarkan, pasti akan ribut mereka berdua. "Shut up!" katanya tajam.


"Ya udahlah ayo pulang," ajak Megan sambil menggandeng lengan Rin.


"Wait, aku mau nelpon mama dulu yah," ucap Cellin yang diangguki empat temannya.


Setelah Cellin selesai menelpon, kelimanya lantas berjalan keluar, dengan Megan yang tak lupa mengunci pintu. Mereka menyusuri koridor hingga sampai di area parkir. Sedikit kaget mendapati inti Deverald di samping mobil tiga orang di antara kelimanya.


Audey menahan diri agar tidak menjerit saat melihat Galang duduk di atas motor. Gantengnya berkali-kali lipat woy!


Menolehkan kepalanya, Audey mendadak salting saat di senyumi Galang. Cowok itu turun dari motor sport-nya, berjalan mendekat ke arah gadis itu.


Demi apa aja, Audey nahan napas sekarang! Jedag-jedug udah jantungnya! SKSKSKSK!!


"Baru pulang? Ngapain tadi?" tanya Galang tanpa basa-basi. Audey yang semula tersenyum manis, langsung melunturkannya. "Numpang ac bentar. Lo tau kan Lang, tadi tuh panas banget."


Galang mengangguk singkat. "Terus?"


"Terus? Emm, pas Rin keluar gerbang, dia balik lagi buat nyuruh sembunyi di UKS. Ngecek situasi maybe. Soalnya dia bilang ada tawuran tadi. Udah itu aja."


Raka menoleh. Tatapannya langsung tertuju pada Rin yang kini melebarkan sedikit matanya. Entah dorongan darimana, Rin juga menatap ke arah Raka.


Jantung Rin berdetak lebih kencang dari biasanya tanpa persetujuan gadis itu. Sialan sekali, kenapa Audey pake acara ngomong segala, sih? Kan bisa bilang, kalau mereka nyantai-nyantai aja?!


Hening meliputi, sampai akhirnya Megan pamit karena mobil jemputan maminya sudah tiba. Tidak lama supir pribadi yang disuruh mamanya untuk menjemput Cellin juga datang.


"Oh iya Lang, lo gapapa kan? Habis tawuran tadi? Anggota Deverald yang lain juga gapapa kan?"


"Gak usah tanya yang lain, cukup tanya soal gue aja," sahut Galang dengan nada tidak suka. Audey tersenyum menggoda. "Kenapa emang? Cemburu?"


"WOI HARGAIN YANG JOMBLO DI SINI!" teriak Arga kesal.


"BENER, HARGAIN JUGA KETUA LO!" Iqbal tercengir saat Raka meliriknya tajam.


"Berisik lo pada ah," ucap Galang. Ia lantas menarik pergelangan tangan Audey lembut, menyuruh gadis itu masuk ke mobil dan segera pulang.


Audey, sih manggut-manggut aja, soalnya dia juga pengen cepat-cepat pulang.


Rin melangkahkan kakinya, berusaha keras mengendalikan ekspresi, agar tidak terlihat begitu mencurigakan. Di sampingnya, ada Ruth yang memasang wajah jutek. Eh, enggak, sih. Wajahnya Ruth tuh emang jutek alami.


Kedua gadis itu kemudian memasuki mobil mereka, menyusul mobil Audey yang sudah jauh. Mengabaikan tatapan tujuh inti Deverald yang sejak tadi memerhatikan.


Sebelum benar-benar keluar dari area parkir SMA Starlight, Rin melirik Raka, cowok itu tidak sedikit pun mengalihkan pandangan darinya ke arah lain.

__ADS_1


Jantung, liat situasi kondisi bisa gak? Gue lagi panik, jangan berdetak cepat karena hal selain itu.


__ADS_2