
Janji, ketika sudah terucap dari mulut ini, tidak akan ter-ingkari. —Raka.
...*****...
"Cewek kayak lo, mana punya cowok?"
Suara berat dari arah pintu itu masuk ke indera pendengaran Rin. Gadis itu mendongak, menghentikan sejenak aktivitas membaca bukunya. Keningnya mengerut samar. Salah satu alisnya terangkat. Raka ngapain ke kelas dia?
Rin pikir, Raka tidak akan menggangunya lagi karena chat yang ia kirimkan hanya dibaca saja oleh laki-laki itu. Nyatanya, malah main dateng-dateng ke kelas dia sembarangan, dan bikin satu kelas heboh karena perkataannya barusan.
Audey menoleh ke arah Rin. "Lo ada hubungan apaan, sih sama kak Raka? Kok gue curiga kalian ada something ya?" tanyanya berbisik seraya memicingkan mata.
Rin berdecak pelan, gadis itu pura-pura tidak mendengar perkataan Audey dan kembali ke aktivitas membacanya. Masa bodoh dengan sekitar yang sudah heboh karena kedatangan gerombolan inti Deverald.
"Kalo orang ngomong dijawab."
Rin melirik tanpa mengangkat wajahnya. Gadis itu dapat melihat Raka menarik kursi—entah punya siapa—dan mendudukkan diri tepat di sampingnya. "Gue dicuekin nih?" tanya Raka dengan sebelah alis terangkat.
Rin kembali memerhatikan setiap angka yang tertulis di buku paket. Gadis itu menggigit pipi bagian dalamnya pelan. Bingung ingin merespon apa agar cowok itu segera pergi.
Merasa diabaikan, Raka memajukan kursi yang didukinya, meletakkan kedua tangannya di atas meja, dengan salah satunya yang menopang dagu. Laki-laki itu tersenyum manis. "Belajar? Semangat ya my boo bear," kata Raka dengan deep voice-nya yang berhasil membuat sekelasan—terutama yang perempuan—kejang-kejang seketika.
"GILA ANJING ITU RAKA???!! DEMI APA DIA?? KOK MANIS SI AH, BIASANYA NYEREMIN!!"
"HUAAAAA!! Kapan gue digituin cogan coba???"
"Demi dah, my boo bear?? Mereka pacaran apa gimana si anjir!"
"SENYUMNYA RAKA OMG! MINTA DIKAWININ EMANG!!"
"Sesak dada gue ah, mau bunuh diri di pohon kentang depan rumah aja dah abis ni!!"
"Rin? Anak baru itu bukan, sih? Gila, anak baru padahal masih statusnya."
Dan teriakan lainnya yang memekakkan telinga, memenuhi hingga menimbulkan kegaduhan hanya dengan enam kata yang diucapkan Raka. Bukan hanya sekelasan, tapi keenam teman laki-laki itu juga kaget bukan main.
"RAK, AKHIRNYA KE GENTLE-AN LO MUNCUL!! NGEJAR CEWEK DULUAN!!" kata Galang heboh sendiri.
Raka mendengkus lalu memiting leher Galang. "Maksud lo apa anjir?!"
"Ini lo Rak?" tanya Arga tidak percaya.
Iqbal yang berdiri di samping Arga ikut berkomentar sembari geleng-geleng takjub. "Raka, lo temen gue kan? Ketuanya Deverald? Yang tadi ke sekolah pake motor warna hitam?"
"Lo ... gak lupa minum obat kan Rak?" tanya Regan asal.
Mendengar itu, Raka menghentikan aksi memiting leher Galang, beralih menjitak kening Regan kuat membuat cowok dengan poni depan sedikit ikal itu meringis kesakitan. "Lo pada kira gue gila? Bilang sini, acara pemakamannya mau gimana."
Arka yang sejak tadi hanya menyimak dengan mulut terbuka lebar ikut menimbrung. "Ini kenapa gue kagak ngarti ada apaan, sih anjir? Gue nyasar apa gimana woi?"
Arga terkekeh pelan. "Goblok."
Megan yang sejak tadi tidak ambil pusing, menolehkan kepalanya pada Rin yang kini masih menunduk. Sepertinya gadis titisan Elsa itu benar-benar tidak tertarik sedikit pun dengan semua ini.
"Baru dua minggu udah ngegaet anak motor aja lo, ketuanya lagi. Lah gue? Tujuh tahun lebih, belom bisa ngegaet Jimina!" kata Megan menggebu, yang berhasil membuat Rin mendongak.
Mendengar itu, Arga segera menyahut. "Sama gue aja Meg, lo gak perlu berjuang mati-matian, hati gue udah kebuka lebar buat nerima lo."
"NAJIS!" sungut Iqbal sambil menempeleng Arga.
"Anjir lo, sakit bego!"
__ADS_1
Megan menipiskan bibirnya dengan alis menyatu ketika memerhatikan kedua kakak kelasnya itu. Memilih untuk tidak peduli lagi, ia kembali melanjutkan streaming party bersama kawan-kawan ARMY-nya yang lain.
Di bangku paling belakang, Audey menahan tawa. Gadis itu menoleh pada Rin, menarik pelan lengan bajunya, lalu berbisik, "Lo kasih apaan si Raka? Tuh cowok nyeremin ya, masa jadi manis kayak tadi?! Terus dia juga batu banget jadi orang, mana pernah deketin cewek duluan, selalu cewek yang deketin dia!"
Rin menggeleng pelan. "Emang kenapa?"
"Lah si anjir!! Lo gimana, sih? Telinga lo kesumpel esnya si Elsa apa gimana?? Masa gak denger Raka tadi ngomong apaan?"
Rin mengedikkan bahu. "Enggak," jawabnya cuek.
"Rin," panggil Raka pelan.
"Ya?" tanya Rin sambil kembali fokus membaca buku matematikanya.
"Lo beneran udah punya pacar?" tanya Raka pelan—sangat pelan—dengan suara berat dan dalam, berbisik tepat di telinga Rin. Tentunya, gadis itu kaget. Menjauhkan kepala Raka, barulah Rin menoleh ke arah cowok itu. "Emang kenapa?"
"Kalo belum punya, entar status jomblo lo gue ambil."
Rin melipat tangan di atas meja. Menghadapkan wajahnya pada Raka. "Kalo udah?"
"Gue rebut lah. Cowok lo yang sekarang, siapa pun dia, kalah jauh sama gue."
Rin mengernyit sambil mati-matian menahan tawa. Untung saja dia mampu mengendalikan ekspresi.
"Apa nih bisik-bisik?" tanya Iqbal mengalihkan atensi Rin dan Raka pada cowok berambut ikal di bagian atasnya itu.
"Goblok, lo ngapain?? Ganggu aja lo ah, sapa Ruth sono, di diemin aja si Iyuth-nya daritadi," kata Arga sembari mendorong Iqbal ke meja Ruth.
"Kepentok kursi pe'ak perut gue!! Untung bukan aset," ucap Iqbal mengelus perutnya yang nyut-nyut menabrak kursi Cellin. Gadis dengan brown hair alami itu menoleh lalu memajukan kursinya. Membiarkan kakak kelas yang menyukai salah satu sahabatnya lewat.
"Cantik banget Lin," kata Regan memuji. Dan entah dorongan darimana, Cellin melirik kursi depannya, di mana Alden lah yang duduk di sana. Cowok itu memandang datar ke arah Regan, yang langsung dihadiahi cengiran.
Ruth yang pertama berdiri, gadis itu sudah muak melihat wajah Iqbal yang menyebalkan—menurutnya, dan segala omongan tidak berguna laki-laki itu. Lalu ada Cellin, gadis itu menolehkan kepalanya. Ia menatap Megan sejenak, lalu Rin yang yang sedang membereskan buku-bukunya. Cellin ikut berdiri. Menggandeng lengan Megan dan melangkah keluar.
"Mau kemana?" tanya Audey sembari mendongak, sejak tadi gadis itu hanya menunduk, melihat kaki jenjang Rin yang berdiri, tentu Audey buru-buru mengangkat wajah. Saat ini, gadis itu sedang menghindar dari Galang. Ceritanya dia ngambek sama tuh cowok. Siapa suruh kemaren ada bule cantik lewat depan rumah Audey, langsung diajak kenalan?!
"Kantin."
Audey tersenyum senang. "Ayo!" seru gadis itu sambil menggandeng lengan Rin.
Melewati Raka, cowok itu menahan pergelangan tangan Rin. "Gue belum selesai."
"Besok-besok aja deh," kata Audey sambil menjauhkan Rin dari Raka. Keduanya lantas menjauh, menyusul ketiga teman mereka yang mungkin sekarang sudah berada di lantai satu.
Keadaan hening meliputi tujuh cowok tampan di kelas 11 IPA-1 itu. Alden yang pertama membuka suara.
"Jelasin, Rak."
...*****...
Saat ini Raka dan keenam temannya sedang berada di warung mak Ude, yang merupakan tempat lain berkumpulnya anggota Deverald. Warung yang terletak di belakang sekolah itu tentu bukan tanpa alasan dijadikan tempat kumpul-kumpul mereka selain di dua basecamp utama.
Mungkin sebagian sudah tahu, bahwa hampir seluruh anggota geng motor besar itu adalah orang terpandang. Namun, tentunya tidak semua. Ada juga yang dari keluarga sederhana.
Dengan tingkat solidaritas yang dijunjung tinggi sejak generasi pertama, warung mak Ude dijadikan tempat berkumpul oleh semua anggota dari berbagai kalangan. Hingga, tidak ada lagi yang menjadikan kondisi keuangan sebagai alasan untuk tidak ikut kumpul.
Believe it or not, mereka-mereka yang kumpul di basecamp utama, pastinya pakaian yang digunakan tidak sembarangan. Belum lagi kendaraan mewah yang dipakai. Walau rasa solidaritas itu ada dalam setiap anggota, tetap saja rasa tidak nyaman atau insecure ada.
Kalau di warung mak Ude kan, bisa bebas siapa saja. Soalnya pakaian juga seragam sekolah, kendaraan ada di parkiran. So, semua terlihat sama jadinya. Mau bebas ngobrol juga bisa. Enak gitu, gak ke halang sama ini itu.
"Gak mau cerita nih?" tanya Iqbal, masih setia di posisi awal, yaitu berjongkok di hadapan Raka yang duduk di kursi wamade—warung mak Ude.
__ADS_1
Abisnya, si Raka daritadi gak cerita-cerita soal hubungan dia sama Rin. Gak tahu apa tuh cowok, kalau Galang, Arka, Arga, Iqbal, sama Regan, tingkat keponya udah diambang batas?!
Alden juga kepo, sih, tapi sedikit aja. Inget, sedikit. Yang banyak itu, rasa ngantuk dia, bawaannya mau tiduran di kasur mulu.
"Gimana mau cerita, lo pada ngerumunin gue. Gerah. Mager mau cerita jadinya," kata Raka sambil menyedot es teh manisnya. Mata cowok itu bergerak tak tentu arah, memerhatikan para anggotanya yang lain, sedang mengobrol entah membahas apa.
Raka kemudian melirik lima teman gilanya ini, mereka sedang duduk mengepung dia, seakan tidak memberinya kesempatan untuk menghirup udara bebas. Untungnya Iqbal berjongkok, sehingga bukan wajah jelek cowok itu yang ia lihat.
"Alasan lo Rak," kata Arga yang duduk berdempetan dengan Raka.
"Alasan apa anjir, gue gerah males mau cerita. Sesak napas duluan."
Galang berdiri dari duduknya sambil tertawa. Cowok itu kemudian menarik kerah baju Regan dan Arka menjauh. Sadar diri, Arga dan Iqbal ikut beranjak.
"Cerita, Rak."
Suara berat itu berasal dari Alden. Laki-laki yang sejak tadi diam tidak bersuara itu, kali ini berbicara dengan tegas, terselip nada dingin mengintimidasi di dalamnya. Mendengar itu, Raka mendadak semangat untuk bercerita. Daritadi kan teman-temannya yang lain pada main-main. Jadi males Raka.
"Gak ada hubungan apa-apa gue sama dia." Itu kalimat yang pertama keluar dari bibir penuh Raka.
"Gak ada hubungan apa-apa, tapi kenapa sweet banget tadi? Lo gak ngehargain gue yang jomblo Rak?" tanya Regan dengan nada suara yang seakan tersiksa.
"Sok kesiksa banget lo kampret," kata Iqbal menoyor kepala Regan kuat.
"Jomblo aja minta dihargain, gak tau malu lo," ucap Galang sambil tertawa setan.
Tidak ingin ketinggalan mengejek orang, Arga berkata, "Dih, meratapi nasib lo?"
"Bacot anjing. Dengerin gue ngomong baru lo semua ngomong. Ngerti gak?!" tanya Raka, tapi terdengar seperti sebuah perintah yang tidak boleh dibantah.
Melihat teman-temannya kembali diam, Raka bersuara. "Lo pada masih inget soal gue yang pernah bilang rencana buat nyari identitas Rin?"
"Masih, dan sampe sekarang lo belum ngasih tau," sahut Galang mulai serius.
"Perasaan gue kok gak enak ya, Ga," bisik Iqbal pada Arga. Cowok bernetra biru itu mengangguk saja. Soalnya, dia juga merasa begitu.
"Ya ini," kata Raka penuh makna.
"Hah?"
"Ya ini apaan?"
"Ini apaan woi?"
"Ya ini?"
"Apaan si Rak?"
"Hm?"
Keenamnya serempak bersuara. Menyerukan sebuah pertanyaan dari apa yang Raka ucapkan barusan. "Take her, become my girlfriend."
Keenam cowok tampan di sana memasang wajah takjub. "Terus?" tanya Alden saat berhasil mengendalikan diri.
"Cari tau identitas dia, kalo ada hubungannya sama jam, sesuai janji gue waktu itu."
Semuanya menelan ludah susah payah.
"Kalo gak ada?" Kali ini Galang yang bertanya. Raka menarik satu sudut bibirnya ke atas, menciptakan smirk yang membuat enam temannya bergidik.
"Buang. Gue gak suka cewek cuek modelan dia."
__ADS_1