
Sebagai mantan pecinta cogan yang gampang baper, hal sekecil ini emang berhasil bikin tidak hanya hati dan perasaan, tapi juga dunia jungkir balik. —RAKARIN.
...*****...
Rin melangkahkan kaki menjauhi area lapangan. Matahari siang ini benar-benar menyengat, membuat gadis itu ingin segera kembali ke kelas. Setelah selesai olahraga yang materinya berupa permainan bola basket, di tengah teriknya matahari, tepat di tengah lapangan semua siswa-siswi kelas 11 IPA-1 dan IPA-4—yang merupakan teman kelas bareng pelajaran olahraga—berkumpul melakukan beberapa teknik bermain bola berwarna orange itu.
Rambut Rin yang terkuncir satu bergerak kanan-kiri, diikuti poni sedagunya yang ikut bergoyang mengikuti pergerakan angin. Gadis itu menuju mimbar dan mendudukkan diri di sebelah Megan. Empat sahabatnya itu sudah duduk di sini lebih dulu. Sebelumnya Rin tadi memilih untuk mencuci tangan terlebih dahulu agar rasa segar mengalir ke seluruh tubuhnya sehabis panas-panasan.
"Udah selesai kan jamnya?" tanya seorang gadis cantik mendekat, memecah keheningan di antara kelimanya.
"Iya Jes, pak Alva udah balik daritadi juga," sahut Audey sambil tersenyum.
"Okay thank's, duluan ke kantin, ya," pamit Jessica—teman Audey yang paling dekat di ekskul MD. "Yea ma boo."
Selang beberapa menit, Audey mengaduh. "Panas banget asli, kantin yok guys, beli minum, gue haus."
"Haus juga, sih, cuma mager banget mau gerak. Ngelewatin lapangan tuh rasanya kayak di lemparin bom api ke kulit," ungkap Megan memberengut.
"Lebay kata-kata lo Meg," kata Audey malas.
Derap langkah beberapa orang terdengar mendekati dari arah belakang kelima gadis itu. Sontak saja Audey menoleh karena penasaran. Mendapati Prima berjalan menghampiri bersama dua temannya sambil tersenyum ramah, membuat Audey menoleh cepat pada Rin dan menoel paha gadis itu dengan pelan membuat sang empu menoleh.
"Ada dekel yang hari itu ngajak lo dinner," bisik Audey membuat Rin mengerutkan dahi. "Ngapain?"
"Mana gue tau! Noh anaknya lagi nyamperin."
Rin menoleh ke samping ketika dirasa ada seseorang yang duduk di sampingnya. Dan benar saja, Prima menghampiri dengan senyum menawannya, tak lupa bersama dua orang laki-laki. Kening gadis itu mengernyit samar mendapati salah satu dari dua laki-laki tadi yang bersama Prima wajahnya penuh dengan lebam, serta jalan yang terpincang-pincang dengan wajah pucat pasi melihat ke arahnya.
Gitu banget ngeliat gue. Dikira gue setan kali ye.
"Nih," Prima menyodorkan sebotol air mineral yang tidak dingin.
Rin memerhatikan Prima lekat, lalu tatapannya teralih pada botol yang disodorkan. Masih tersegel. Gadis itu lantas menerima air putih tersebut dari Prima. "Thank's."
"Yoi. Gue balik ya, Kak, ntar ketauan lagi kalo gue bolos," ucap Prima menyengir yang dibalas Rin dengan tatapan setajam elang.
"Ngapain bolos?" tanyanya dingin.
"Pengen bawain lo minum aja Kak, di minum ya," sahut Prima sambil berjalan menjauh bersama dua temannya.
Rin memutar tubuhnya. "Prima," panggilnya pelan. Laki-laki itu menoleh, mengangkat sebelah alis sambil bertanya, "Iya?"
Rin tersenyum tipis. Mungkin pertemuan pertama keduanya sedikit tidak mengenakkan bagi Prima. Namun, jujur saja gadis itu jadi tidak enak sendiri ketika Prima rela bolos pelajaran hanya untuk memberikannya sebotol air mineral.
"Rin."
Mendengar itu, Prima tersenyum. "Iya, Kak. Waktu itu gue basa-basi doang, siapa, sih yang gak kenal sama Alena Rin Gracia? Ngajak dinner-nya juga buat ngetes doang, biar bisa dapet nomer lo Kak," jelas Prima sambil tercengir dengan wajah memerah malu.
"Halah ngetes apaan? Akui aja kali lo pernah ditolak! Repot banget," sungut Jay sambil menoyor kepala Prima.
"Lo sewot banget jir!" balas Prima sambil menoyor balik Jay.
"Baru bocah kelas 10 udah sok-sokan lo," ketus Ruth tetapi detik berikutnya ia tersenyum lebar melihat ekspresi tiga laki-laki itu yang merengut.
"Belum liat pesona kita-kita ya Kak?" tanya Prima menyugar rambutnya ke atas.
"Ewh, pergi gak lo pada!" kata Audey galak. "Udah bolos modus lagi sama Rin."
Ketika ketiganya menjauh untuk balik ke kelas sambil mendumel, Rin segera menoleh pada empat sahabatnya. Mendapati mereka menatap Rin dengan teramat tajam, gadis itu mengernyit bingung. "Kenapa?"
"Enak lo dapet minum! Lah gue? Si Galang bukannya beliin gue minum, gebetan apaan itu woy?!" pekik Audey kesal.
"Jangan nyaring-nyaring kalo ngomong, tuh cowok muncul tiba-tiba mampus lo," ucap Ruth sambil melepas ikatan rambutnya.
"Huweee hausssss," rengek Megan memberengut sambil meletakkan kepalanya menyender di bahu Cellin.
"Ya udah ayok kantin," ajak Audey sambil berdiri.
"Gendong Odeyyyyyy," ucap Megan panjang sambil mengulurkan kedua tangan yang segera Audey raih hingga Megan ikut berdiri.
"Siapa aja nih yang mau ke kantin?" tanya Audey menatap satu-satu temannya.
"Gue nitip aja boleh ya? Mau langsung ke kelas," ucap Ruth memberikan selembar uang berwarna biru pada Audey. "Siap!"
"Air putih aja Dey," kata Ruth lagi.
Cellin berdiri dari duduknya. "Aku ikut," katanya tersenyum manis. "Yuk!" ajak Megan sambil menggandeng kedua lengan sahabatnya itu kemudian melangkah ke kantin.
__ADS_1
Selepas kepergian tiga gadis cantik itu, Rin segera meminum air mineral untuk menghilangkan dahaga. Menghabiskan seperempat air, gadis itu kemudian menoleh pada Ruth. "Mau?" tanya Rin menyodorkan botol minum tersebut dengan kedua alis terangkat.
Ruth mengangguk lalu mengambil alih botol tersebut, meneguknya hingga sisa setengah. "Makasih Rin."
"Iya."
Lama terjadi keheningan sampai suara bel berbunyi nyaring terdengar di seluruh penjuru SMA Starlight yang menandakan waktu istirahat telah tiba. Rin menyipitkan mata ketika melihat sosok Raka berjalan ke tengah lapangan yang berhasil mengambil atensi tiga angkatan.
Gadis itu menghela napas lega saat Raka tidak melihat kehadirannya di mimbar. Menoleh cepat pada Ruth, "Kelas yok." Mendapat anggukan setuju, keduanya lantas bangkit.
"Bentar, gue minum lagi," kata Rin kembali duduk. Sementara Ruth mulai berjalan pelan. Mendongak ke langit, dapat Rin rasakan keringat mengucur dari pelipisnya.
"Ruth, bentar dulu, gue capek masih," kata Rin membuat langkah Ruth terhenti. Ia menoleh. "Ya udah duduk aja lagi." Rin mengangguk sambil mengelap keringatnya dengan sapu tangan yang memang selalu gadis itu taruh di celana olahraganya.
Panas banget hell!
...*****...
Tujuh murid laki-laki dengan seragam putih abu-abu yang acak-acakan berjalan beriringan di koridor menuju kantin. Di tengah-tengah mereka berdiri seorang cowok dengan scarf berwarna hitam dengan motif batik, dijadikan sebagai masker itu berjalan dengan tatapan setajam elang, tak lupa memasukkan kedua tangan di dalam saku celana.
Semua murid yang berada di koridor menyingkir ke tepi agar tidak menghalangi jalan tujuh mostwanted boy SMA Startlight itu. And yeah, seperti biasa, seruan para gadis tidak pernah absen ketika mereka lewat.
Sesampainya di kantin, ketujuhnya memilih duduk di meja yang berada di pojok. Kursi yang sudah punya hak paten milik inti Deverald saja. Dan di sejejernya, kepunyaan seluruh anggota Deverald di SMA Starlight. Tidak ada yang berani menduduki meja itu, karena semua tidak ingin terkena amukan sang penguasa Deverald.
"Mau pesen apa?" tanya Iqbal kepada enam sahabatnya.
"Kayak biasa, geprek, jelly potter, jangan lupa kimchi buat gue," jawab Arga yang diangguki lima laki-laki tampan di sana.
Bukannya pergi memesan makanan, Iqbal malah duduk di sebelah Regan membuat cowok berambut sedikit ikal di bagian atasnya itu mengernyit bingung. "Kenapa gak mesen?" tanya Regan.
"Yang mau pesenin kalian siapa? Gue kan cuma nanya!" ucap Iqbal nyolot yang sukses membuat keenam sahabatnya naik pitam. Melihatnya, Iqbal cengengesan tidak jelas.
"Sarap lo Bal!" sungut Galang sambil menjitak kepala laki-laki itu. "Namanya juga nanya, lo pada aja yang kepedean," balas Iqbal dengan tampang tengil sambil menjauhkan kepalanya agar tidak bisa digapai Galang lagi.
"Gue cekek juga gak lama lo," ujar Arga dengan nada kesalnya.
"Ntar kalo gue mati lo kangen lagi sama gue," Iqbal menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda. Ia melanjutkan, "Gue kan soulmate lo Ga!"
Arga berdecak malas. "Lo gak usah mancing emosi gue ye Bal."
"Diem deh lo anak dugong! Niat gak, sih mesenin kita makanan? Kalau gak ngapain segala lo nanya!" Regan berucap dengan kesal.
"Nak dugong pala lo melayang! Gue ini anaknya bapak William!" ucapnya bangga sambil memukul dadanya.
Arka mendengkus. "Ribut aja terus. Gak lama bel bunyi, gak jadi makan!" ketusnya.
"Tau nih Iqbal, minta di uleg," timpal Galang melirik sinis pada laki-laki yang sekarang hanya tersenyum menyebalkan.
"Karena gue baik terus ganteng parah, Iyuth aja sampe bertekuk lutut, gue pesenin deh lo pada makanan, tapi bayarnya jangan pake duit gue!"
Tanpa banyak bicara, Raka mengeluarkan credit card dari dompet kulitnya yang mahal, lalu menyerahkannya pada Iqbal. "Buset, peka banget lo Rak," gumam Iqbal sambil berjalan menjauh.
"Gue bantu gak Bal?" tanya Arga sedikit berteriak, Iqbal menoleh. "Bantu aja sini, gue manusia lain kura-kura yang punya sayap."
Arga terkekeh pelan. "Stupid."
Menunggu beberapa saat sampai akhirnya Arga dan Iqbal kembali membawa nampan berisi pesanan mereka. Ketujuhnya mulai menyantap makan siang, dengan ditemani keheningan di meja itu, walau di sekeliling mereka ramai bukan main.
"Besok jadi atau gak, sih?" tanya Galang membuka suara. Arga mengernyit bingung. "Hah? Emang besok ngapain?"
"Pikun lo!" kata Iqbal ngegas. "Santai aja woi, gue nanya juga!" balas Arga tak kalah ngegas.
Galang berdecak. "Ngumpul, Raka bilang kan mau bahas sesuatu."
"Sesuatu~ yang ada di hatiku ... sesuatu juga~" nyanyi Arka sambil bergoyang.
"Sarap ni bocah," kata Regan memandang Arka geli sendiri.
"Berisik." Semua kecuali Raka menoleh pada Alden yang terlihat tenang dalam mengunyah makanan, tapi tatapannya begitu tajam menatap yang lain.
"Kalo Raka sama Alden udah buka suara gue rasanya mau melayang! Suara deep kalian melemahkanku!" seru Iqbal memegangi dadanya penuh drama.
"Najis." Raka melirik Iqbal dengan tajam.
"Udah woi. Rak, beneran jadi besok?" tanya Galang lagi.
"Apaan emang?" tanya Regan kebingungan. Orang di grup juga tidak ada membahas sesuatu kok! Cuma ke-random-an dia, Arga sama Iqbal aja.
__ADS_1
"Kenapa pada lupa, sih?!" ucap Galang mulai kesal.
Arka mengernyit. "Mereka kan emang gak tau."
"Iya anjir! Eh, emang iya?"
Raka berdecak malas. "Lo, Alden, Arka aja yang tau. Mereka bertiga enggak." Singkat, padat dan jelas.
Arga menjotos bahu Iqbal dengan kuat. "Segala bilangin gue pikun, emang gak tau ya kita!" ucapnya kesal.
"Emang kita kemana waktu itu, kok gatau?" tanya Regan yang dibalas sewot-an oleh Arka, "Lo bertiga kemaren pas kumpul kan beli keripik kentang gak balik-balik njir! Pas ditanya eh malah udah pulang. Kampret!!"
"OHHHH YANG ITU!! HAHAHAHAH!" ucap triple Al marga itu berbarengan.
"Noh si Iqbal kebelet jadi pulang deh, kan gue, Iqbal numpang mobil si Arga," ucap Regan tertawa ngakak di kursinya.
"Diam."
Mendengar suara sedingin es, dengan wajah sedatar tembok tak lupa tatapan tajam bagai elang yang menemukan mangsanya itu, tapi tetap terlihat tenang berhasil membuat kelima temannya yang sejak tadi ribut entah apa yang dibahas itu terdiam seketika.
"Jam sembilan malam, lo berenam udah harus ada di markas." Raka kemudian menoleh pada Arka yang merupakan panglima perang Deverald itu. "Kumpulin semua anak Deverald nanti malam. Yang telat, gue gak akan segan."
Wajar jika Raka bersikap tegas, itu juga agar anggota yang ratusan jumlahnya itu bisa bersikap disiplin akan waktu, sehingga tidak ada keterlambatan jika dalam hal penting. Cepat bergerak ketika yang lain membutuhkan, salah satunya.
Regan menelan salivanya susah payah. "Siap, Rak!" Yang kemudian mendapat seruan yang sama dari temannya yang lain.
Raka mengangguk tegas. Netranya beralih pada tiga gadis cantik yang baru saja memasuki kantin. Kerutan samar di dahi muncul ketika menyadari Rin tidak ada di antara ketiganya.
"Ebuset, Iyuth gue kenapa gak bareng mereka?" celetuk Iqbal sambil melambai pada tiga gadis tadi.
"Kenapa Kak?" tanya Audey sambil tersenyum pada Galang.
"Yang ngelambai gue Dey, bukan Galang." Iqbal julid sendiri.
"Sewot aja lo," kata Galang tak kalah julid.
"Rin mana?" tanya Raka membuat semua memerhatikan cowok itu.
"Di lapangan tadi sama Ruth," jawab Audey.
Raka berdiri dari duduknya. Tanpa banyak bicara, tanpa menyahuti perkataan teman-temannya, laki-laki itu pergi dari kantin. Dengan langkah panjang, menuju ke lapangan.
Senyum penuh arti terbit di bibir Raka kala melihat seorang gadis yang selalu menarik perhatiannya lebih dalam. Tatapannya menajam, ketika menyadari gadis itu sepertinya tidak sadar ada yang salah dari dirinya.
Mempercepat langkah menghampiri gadis yang sepertinya ingin segera kembali ke kelas itu, hingga ketika jarak sudah dekat Rin merasakan kehadiran seseorang.
Di sisi lain, dari arah belakang, terdengar suara langkah kaki mendekati Rin. Yang kemudian kepala gadis itu sedikit tertarik ke belakang akibat ulah seseorang yang menarik ikat rambutnya.
Rin menoleh, membuat rambut hitam panjangnya yang berkilau memanjakan mata itu berterbangan bebas tertiup angin. Ketika berbalik sempurna, gadis itu mendengkus saat tahu siapa pelakunya. Harusnya tadi langsung kelas, gak usah segala duduk diem dulu.
"Balikin," ucap Rin tanpa ekspresi.
"Gak mau," balas Raka yang juga memasang wajah datar.
Rin berdecak. "Kurang kerjaan."
"Lo gak sadar? Jatuh ntar gimana?" tanya Raka dengan suara rendah.
Rin bergidik. Dan sepersekian detiknya, jantung gadis itu berdetak bagai diskotik, yang serasa ingin melompat keluar.
Jantung gue kenapa? Ya kali serangan jantung gue.
"Ya udah ambil aja. Gue masih banyak ikat rambut begituan."
Rin berbalik badan, hendak melangkah meninggalkan kakak kelas yang seenaknya saja ingin masuk ke hidupnya itu, tapi sialnya ia malah seperti sedikit demi sedikit tertarik jatuh pada pesona pemilik netra hijau itu.
"Gak usah, gue balikin. Gue tadi cuma mau ngasi tau tali sepatu lo belum keiket."
Raka menggapai salah satu tangan Rin, lalu membuka genggaman gadis itu dan mengembalikkan ikatan rambut berwarna pink itu. Dengan smirk yang begitu memesona Raka berjongkok dan mengikatkan tali sepatu Rin.
Damn it.
Jantung Rin kenapa makin kenceng, sih detaknya?
"Udah," bisik Raka sambil mengacak rambut Rin lembut lalu pergi dari sana dengan tidak hanya meninggalkan rambut gadis itu yang sedikit berantakan, tapi juga hati, perasaan dan otaknya.
SIAL AAAAA!! I'm not fine, damn.
__ADS_1