JENNIE

JENNIE
39 - A Choice


__ADS_3

Singkatnya, aku tak menyukai pilihan. Selain memberi seseorang sebuah kebingungan yang menyiksa, memilih satu di antara yang paling kita sukai atau benci, itu benar-benar menyakitkan, membuat diri secara perlahan terbunuh. —RAKARIN.


...***...


Raka melangkah cepat menuju salah satu ruangan yang berada di basecamp utama Deverald itu. Sebelum membuka pintu ruangan di sudut pojok gedung, Raka lebih dulu mengetuknya, barulah ia masuk.


Terlihat lima orang laki-laki terbaring di masing-masing ranjang dengan tubuh terlentang. Satu pria berpakaian formal dengan jas putih, dan dua wanita berseragam perawat terlihat sibuk mengobati luka-luka yang ada di tubuh lima anggotanya itu secara bergantian.


Raka memutuskan untuk duduk di kursi yang tersedia sambil menunggu anggotanya selesai diperiksa. Beberapa saat berlalu, ketiga petugas kesehatan itu keluar dari ruangan. Sang dokter sempat memberi sebuah note, Raka menyimpannya di saku untuk dibaca nanti sesuai arahan dokternya.


"Bang Raka, maaf, gue bikin malu Deverald, kan, Bang?" Canva bersusah payah mendudukkan dirinya di ranjang. Tidak lama, yang lain ikut mendudukkan diri mereka.


"Maaf, Bang, dokternya bilang jangan berdiri dulu, jadi posisi duduk, gapapa, kan, Bang Raka?" tanya Galaxy takut-takut, tapi juga penuh rasa bersalah.


Raka menghela napas. Laki-laki itu berjalan mendekati kelimanya. Ia tersenyum tipis. "Ngapain minta maaf? Lo pada gak bikin malu." Raka menyenderkan tubuhnya ke dinding sambil menatap lima adik tingkatnya itu dengan ramah. "Mau sambil baring juga gak masalah. Cepet sembuh lo berlima, ya."


Juidith mengelap matanya dengan keras. "Bang, bikin kecewa, ya? Sejujurnya kita lengah, kita sibuk ngobrol makanya sampe kena, kita pada—"


"Iya, gue tau."


George mengangkat salah satu tangannya. Raka segera mengalihkan pandangannya pada laki-laki itu. "Ya, Geor?"


"Bang Raka gak marah?"


Raka tersenyum dalam diam. "Enggak. Kalian juga gak bakal dihukum. Luka di tubuh kalian udah cukup bikin pelajaran, kan? Janji gak ngulangin lagi?"


"Janji, Bang!" seru Bastian sambil hormat membuat yang lain ikut memberi hormat pada Raka.


"Gak usah hormat-hormat. Udah kalian istirahat aja, gue duluan. Cepet sembuh."


"Makasih, Bang!!"


Raka mengangguk singkat, laki-laki itu segera melangkah keluar. Di depan pintu ruangan medis basecamp, Raka mengeluarkan note dari dokter yang menangani lima temannya. Iya, Raka tetap menganggap mereka teman. Semua yang ada di Deverald adalah teman. Teman rasa saudara.

__ADS_1


Untuk beberapa saat Raka terdiam membaca note-nya. Laki-laki itu menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.


'Luka akibat benda berkarat berhasil kami atasi, jika telat sedikit saya tidak yakin mereka akan selamat. Untuk ke depannya, tolong lebih hati-hati, ya.'


"Arka, thank's, Ka." Raka menunduk, mengepalkan tangannya kuat. Seandainya tadi Arka tidak segera menelpon pihak kesehatan, Raka mungkin akan kembali kehilangan salah satu pillar penting lain dalam hidupnya—untuk kedua kalinya.


...*****...


Udara sejuk menyambut Raka begitu ia turun dari mobilnya. Laki-laki itu memerhatikan sekitarnya, pohon-pohon rindang memenuhi kanan-kiri jalan menciptakan kesegaran yang sulit didapatkan di tempat lain.


Lengkap dengan black suit dan juga sebuah jam tangan ber-merk yang ia duga hanya ada satu di dunia—or perhaps, ada dua—Raka berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di hadapannya. Laki-laki itu ingin menguatkan niatnya, bahwa setelah apa yang terjadi hari ini, di mana ia kehilangan kontrol emosi terhadap orang lain hanya sekadar seorang gadis bernama Rin yang disekap oleh sekelompok orang-orang bodoh tidak bertanggung jawab, Raka ingin memantapkan hatinya, kalau ia ada dipihak Deverald, bukan dipihak Rin yang masih menjadi pusat kecurigaan seluruh anggota geng motor yang ia pimpin itu.


Raka sesekali membungkuk begitu melewati beberapa batu nisan yang agak keluar jalur termakan usia. Kembali melanjutkan langkahnya, menuju ujung dari lapangan pemakaman yang terhampar luas di bawah sinar matahari. Rerumputan hijau yang tumbuh segar terawat Raka lewati dengan hati-hati sambil di mulut berucap kata permisi.


Well, di sini lah Raka. Di depannya, sebuah batu bertuliskan Albert Barney terpampang jelas di kuburan bagian atas—kepalanya, dengan tinta yang masih terbilang masih baru. Raka membungkuk, mencabut beberapa rerumputan yang tumbuh di tanah makamnya.


Hening meliputi, Raka hanya diam memandangi batu nisan Barney—adik kelas yang sangat ia percaya lebih dari siapa pun di Deverald, termasuk anggota inti sekali pun. Orang yang akan ia berikan jabatannya sebagai ketua Deverald. That's too bad, dia dipanggil lebih awal, sebelum Raka menjadikannya sebagai ketua Deverald batch 35.


Raka memerhatikan jamnya. Huruf A rait tercetak besar berada dalam kaca, di atas titik pusat jarum jam, tepat di bawah angka dua belas. Raka menghela napas. Kalau diingat-ingat, selama ia mendekati Rin, Raka tidak lagi pernah melihat gadis itu memakai jam dengan model bentuk yang sama seperti yang ada di tangannya ini.


Jika saja Rin tidak berhenti memakai jam tersebut, pasti semua akan lebih mudah. Ia tidak perlu mengusahakan dengan sungguh-sungguh agar bisa mendekati Rin dan mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari gadis itu.


Raka menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya untuk berpikir sesaat. Setelahnya, laki-laki itu menatap nisan milik Barney dengan tatapan sulit diartikan.


"Bar, gue di pihak lo sampe akhir."


...*****...


"Gaara."


Laki-laki yang namanya dipanggil itu menghela napas panjang, fokusnya yang semula bermain ponsel seketika teralih. Ia menoleh dengan malas.


"Apaan?"

__ADS_1


"It's about Rin."


Gaara mengangkat salah satu alisnya. "Tell me about it."


"Rin disekap Zegior atas perintah ketua Delvaros, Michael yang udah ngasih sejumlah uang yang katanya tembus 1M cuma buat bikin emosi Raka kepancing."


Ketua Alvaska itu mengernyit. "Salah satu pillar penting Raka, I know right?"


Rio, laki-laki itu mengangguk. "Atau mungkin, satu-satunya, juga bisa." Gaara tersenyum penuh makna mendengarnya. "Gue penasaran gimana ceritanya. Ada video di mana Raka jadi gelap mata?"


"Nothing. Tapi dari informasi yang gue dapet, ketua Zegior, Gilang, sama kelima anggota intinya dihajar habis-habisan."


Gaara tertawa sinis. "Udah gue duga."


"Jadi, soal Rin, lo gak mau nanya apa-apa soal dia ke gue? Kondisinya? Kabarnya? Perasaannya?"


"Gimana emang?"


"Kondisinya baik. Udah dianter pulang Raka sampe ke rumahnya. Rin bawa mobilnya sendiri, Raka buntutin di belakang pake motor dia."


Gaara mengangguk beberapa kali. Kemudian berpikir sejenak sembari memandang langit-langit di ruangan tersebut. Bergumam panjang dengan salah satu tangan memegang dagu, Gaara akhirnya menjentikkan telunjuknya.


"In a week or two weeks, tell to Rin, if I want to talk with her."


"As you wish, Gaara."


"Thank's."


"Btw, gue keluar bentar, jalan sama Natalie. Sore juga gak ikut ngumpul. Mau ketemu Reva. Malamnya, gue ada janji sama Dinda."


"Hm, up to you. Asal jangan nyenggol Rin."


Rio tertawa keras. "Gak lah. Ya udah, gue cabut."

__ADS_1


Setelah Rio keluar dari ruangan tersebut, Gaara menerbitkan smirk memesonanya sambil membayangkan tanggapan Rin mengenai ancamannya kali ini. Laki-laki itu jadi tidak sabar menantikan pertemuannya dengan Rin.


Jadi Rin, pilihan lo apa kali ini?


__ADS_2