JENNIE

JENNIE
50 - Be Yourself


__ADS_3

Jadi diri sendiri itu penting, tidak perlu mengikuti standar siapa-siapa. Because, kita keren dengan menjadi diri kita sendiri. —RAKARIN.


...***...


Prima mengulurkan tangannya, berniat membantu Rin untuk turun dsei kuda yang ditungganginya. Gadis itu menggeleng pelan dengan seulas senyum tipis. "Gak usah, Prim. Gue masih mau duduk sini." Rin kemudian memerhatikan sekeliling, napasnya tersengal dengan keringat mengucur deras dari pelipisnya.


Hari minggu ini Rin sengaja meminta Prima untuk mengajarinya, dan pihak sekolah terutama mr. Achille tidak keberatan justru sangat mengizinkan lapangan kuda serta beberapa kuda dipakai untuk latihan. Sudah sejak jam delapan tadi, Rin mengelilingi lapangan, meski dengan pelan-pelan dan dituntun Prima di beberapa kesempatan.


"Kak, haus gak?" tanya Prima berdongak, tapi tangannya masih sibuk mengelus lembut wajah kuda putih yang dinaiki Rin.


"Emang lo bawa air?"


"Bawa lah, bentar gue ambil dulu di kursi sana."


Laki-laki itu kemudian berlari ke arah kursi di dekat ruang ganti, dan mengambil tas punggungnya yang berwarna hitam, lalu kembali berlari menghampiri Rin. Gadis itu memerhatikan dalam diam, tak lama senyum cantiknya terbit membuat Prima yang menyodorkan air mineral seketika salting sendiri.


"Kak? Lo ... lo kenapa senyum gitu, sih?"


Rin mengerutkan kening. "Kenapa? Gue mau bilang makasih karna udah nyiapin dua botol," ucap gadis itu seraya menerima air dari Prima. Rin segera meminumnya hingga tersisa setengah.


Prima yang sudah meneguk air mineral itu menumpahkan sisanya ke rambut laki-laki itu sendiri, kemudian mengacak-acaknya asal hingga rambut indahnya berantakan, yang sialnya menambah pesona laki-laki itu. Prima kemudian menatap Rin yang kini kembali memerhatikan sekitar.


"Bilang makasih aja, Kak, gak usah sama senyum. Gue jadi salting sendiri, kan."


Rin mendengkus seraya memutar matanya malas. Melirik Prima, Rin mendatarkan tatapannya sedatar mungkin. "Lo bisa gak, sih, gak usah jujur-jujur banget? Polos apa emang sifat lo kelewat jujur?" tanyanya gemas sendiri.


"Sengaja, sih, Kak, lebih tepatnya. Love language kita selain air putih, juga kejujuran gue," ucapnya tersenyum bangga.


"Gak paham," balas Rin cuek seraya mengedikkan bahu tak acuh. Gadis itu meminum airnya yang tersisa. "Thank's for today, Prim. Sorry, gue ngerepotin lo, kan?"


"Gak lah, Kak. As your future husband, ngajarin lo berkuda itu udah jadi kewajiban gue! Biar kita bisa keliling kota berdua nunggangi kuda masing-masing. Berasa king and queen, kan?"


Rin tertawa pelan dengan kepala yang menggeleng pelan beberapa kali. "Jadi royal family gitu?"


Prima diam sesaat. Kemudian mengangguk antusias. "Yup! Kita bangun kerajaan dan buat negara sendiri, terus kumpulin rakyat. Gue jadi king, dan lo queen-nya."


"Gak bisa gitu. Aneh-aneh lo."


"Bercanda, Kak, hehe. Tapi kalo lo beneran mau jadiin gue king in your heart, it's okay, gue malah seneng banget, Kak!!"


Rin mengerutkan kening. "Lo sendiri gimana?"


"Hah?" Prima mengerjap pelan, bingung dan salting jadi satu. "Gue? Gue—ya, gue mau lo yang jadi queen gue, Kak. Gue jadi king lo."


Rin mengusap pelan puncak kepala Prima, membuat laki-laki itu diam membatu seketika. Rin menatap lurus manik Prima, kemudian tersenyum tipis tapi tulus. "Fokus kejar pendidikan sama cita-cita lo. Jangan mikirin cewek dulu, itu bisa ganggu fokus ke pelajaran. Lo kalo bisa tembus Harvard—"


"Be my girlfriend?" tanya Prima dengan senyum menawan yang penuh daya pikat.


"Nope. Dengerin sampe habis, jangan nyela makanya!"


Prima seketika murung. "Iya, Kak, maaf."


"Lo kalo lolos Harvard, orang tua lo pasti bakal bangga banget. Bukan gue jadi pacar lo."


"Lo gak bangga, Kak?"


"Gak."


"Kok gitu?"


"Gak bangga, but I ... proud of you. Sooo much."


Prima tersenyum lebar. "Bener, ya?"


"Iyalah! Siapa yang gak bangga lo bisa tembus univ terbaik dunia."


"Berarti lo nge-idolain gue dong, Kak?"


"Gak. Karna pas lo jadi maba Harvard, gue katingnya." Rin mengangkat dagunya penuh percaya diri.


"Buset, tapi gapapa, sih, Kak, bisa ketemu lo terus," ucap Prima tertawa pelan, Rin hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Btw, Kak, gimana kesannya waktu belajar naik kuda? Gue baru pertama kali ngajarin, dan itu cewek yang gue suka, damn. Mudahan kesannya bagus, ya."


"Biasa aja." Rin menghela napas panjang begitu Prima menatapnya skeptis tidak percaya. "Yeah, actually, gue agak capek, sih."


"Udah gue duga. Muka lo keliatan banget, Kak. Sempet pucat juga tadi."


"Lo berentiin latihannya tadi, bukan karena alasan terik, kan?" tanya Rin memicingkan mata.


"Hehehehe."


"Lo tuh."


"Gak usah kerja keras banget, Kak. Udah bisa bawa si kuda ngelilingin nih lapangan aja udah keren banget sebagai pemula yang baru tau basic."


Rin menghela napas. "Gue gak minat olahraga berkuda gini, sih, jujur, Prim."


Prima menyipitkan matanya. Satu alis laki-laki itu terangkat. "Terus kenapa sampe minta gue buat ngajarin lo? Tadi juga kenapa ngelingin lapangan hampir tiga jam tanpa istirahat?"


"Lo napa jadi marah?"


"Lo mau capai tingkat tertentu atau ngerasa mau nyaingin seseorang?" tembaknya tepat sasaran. Sejujurnya Prima ingin mengatakan ini dari awal, tapi takut Rin jadi malas sama dia. Namun, sepertinya Prima harus bisa bersikap tegas, sedikit. "Kalau iya, mending gak usah aja belajar. Kasian lo, Kak."


"Gue baru aja mau jujur, lo udah marah-marah!" Rin ikut kesal sendiri.


"Ya, udah, apa? Gue dengerin nih, Kak." Prima memasang wajah lucu sambil tersenyum menampakkan gummy smile-nya yang memang secandu itu dilihat.


"Gak jadi. Lo marah ntar."


"Gak, gue dengerin lo, Kak."


Rin melirik Prima kemudian menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Lo tau satu cewek kakel kita yang kemaren itu, kan?"


"Teresa?"


"Tumben gak pake embel-embel 'kak', biasanya kan gitu?"


"Gak lah, ngapain. Khusus buat lo, sama temen-temen lo aja, Kak, biar mereka ngerestui gue ama lo." Prima kemudian menyengir.

__ADS_1


"Ck, lo tuh."


"Iya-iya, lanjut."


"Pas dia di samperin Raka sama temen-temennya, dia sempet ngelirik gue dengan tatapan yang seakan-akan bilang gini, 'Keren, kan gue bisa equestrian sport, bisa narik perhatian Raka, while you ....' terus ngeliatin gue dari atas sampe bawah."


Rin mengembuskan napas panjang kesekian kali. Jujur, ini seperti bukan dirinya yang biasanya. Rin juga menyadari hal itu. Tumbenan dia mau cerita panjang lebar ke orang lain, apalagi ini laki-laki. Namun, bagaimana, ya? Gadis itu juga butuh pendengar, ada kebingungan sekaligus sedikit perasaan tersinggung atas lirikan Teresa kemarin yang mungkin seharusnya itu tidak memengaruhi Rin sampai se-nekat ini.


Kecuali ...,


"Lo gak bakal terpengaruh lirikan Teresa, kalo lo gak punya rasa ke Raka."


Rin mengangkat wajahnya, gadis itu menatap cakrawala dengan perasaan tidak karuan. Menyadari sesuatu, gadis itu segera menunrunkan pandangannya pada Prima, yang kini mengusapi wajah kuda dengan lembut.


Dia mungkin butuh seseorang untuk mendengarkan, tapi Rin juga harus paham, tidak semua orang yang ada didekatnya ia bagikan curahan hati. Apalagi ini, Rin jelas sangat tahu, kalau Prima menyukainya.


You stupid, Rin!


Rin memutuskan untuk menuruni si kuda, yang membuat Prima dengan cepat membantu, tapi gadis itu menolaknya. "Gue bisa sendiri."


"Hati-hati, Kak."


Rin menoleh pada Prima, gadis itu tersenyum tipis. "Sorry."


"What for?"


Rin hanya diam, dan Prima segera menganggukkan kepalanya. "Santai aja, Kak. Tapi kalo boleh kasih saran ...."


"Please."


Prima tersenyum tipis. "Terkadang, jadi bodo amat itu perlu. Entah untuk hal sepele atau serius, karna bisa nyelamatin your self dari membuang waktu dan memaksakan diri di luar batas kemampuan."


Rin terdiam. Ada benarnya. Tidak perlu melampaui siapapun.


"Cukup jadi diri sendiri, Kak. Kalo emang suka, ya kekurangan lo sebanyak apapun, tetep bakal suka."


Prima kemudian menunjukkan gummy smile-nya. "Like me. Lo gak perlu jago naik kuda. Gue tetep suka, kok!"


Rin memutar matanya. "Please, jangan kelewat jujur, Prim. Lo ngadi-ngadi."


Gadis itu kemudian menuntun kudanya menuju kandang, tak lupa mengikatnya ke tiang, dan segera keluar dengan mengunci pintu. Langkah gadis itu menuntunnya ke ruang ganti, di mana di kursi tunggu yang di depan gedung tersebut terdapat Raka dan enam inti anggota Deverald lain, juga dua perempuan berpakaian sport dan Teresa menunggang kuda terlihat.


Rin spontan menoleh pada Prima. "Lo udah daftarin gue ke ekskul ini?"


"Belum. Gue udah curiga dari kamis itu, masa lo tiba-tiba pengen bisa berkuda."


"Jadi kemaren lo bohong gitu ke gue? Segala bilang udah."


"Iya, hehe."


Rin menatap laki-laki itu tajam yang dibalas cengiran oleh Prima, yang tak lama Rin tersenyum. "Gapapa, sih. Thank's, yeah. Gue gak mau capek-capek belajar naik kuda. Mau baca buku aja biar beneran jadi kating lo di Harvard."


"Kak?" Prima kemudian tertawa pelan. "Gila, full senyum lo hari ini, Kak. Gue juga jadi ikut full senyum. Malah bisa-bisa gak bisa tidur gara-gara kebayang senyum lo."


"Gak usah berlebihan. Btw lo ke parkiran, deh."


"Lo gak takut digebuk inti Deverald?"


"Oh, I see. Raka kan ngejer-ngejer lo juga. Tapi, gue tetep anterin lo sampe depan pintu, sih. Gini-gini gue sabuk hitam taekwondo, Kak!"


Mata Rin berbinar exicited. "Seriously? Gue juga minat banget sama taekwondo. Dari kecil udah diajarin my uncle."


"Wih, keren banget lo, Kak. Serius dari kecil? Sekarang masih suka latihan gak?"


"Gak pernah lagi. My uncle yang ngajarin pindah kewarganegaraan Jepang pas gue SMP kelas tiga."


"Wow, selain pinter, jago bela diri juga, jadi future wife gue beneran aja, yok!"


"Gak."


Prima merengut. Rin sontak memutar matanya. "Udah balik sana. Mereka ada tujuh."


"Keep calm, Kak. Mereka gak bakal main kroyokan, yang ada ciwi-ciwi pada pindah haluan jadi suka ke gue! Tapi tenang, gue tetep fokus sama lo, gak bakal lirik cewek lain, kok, Kak!!"


"Up to you."


Prima tersenyum senang mendengarnya. Keduanya pun lantas mepercepat langkah mereka. Rin sebisa mungkin mengabaikan tatapan teman-teman Raka yang melongo, pun laki-laki itu yang melemparkan tatapan tajam.


"Rin," sapa Arga sambil tersenyum, gadis itu mengangguk singkat dengan seulas senyum tipis. Dengan cepat ia masuk ke ruang ganti, sementara Prima menyender menunggu Rin di luar.


Rin memerhatikan wajahnya di cermin full body kemudian menghela napas kuat-kuat. Setelahnya gadis itu mengganti pakaiannya berupa hoodie putih dengan bawahan tennis skirt berwarna biru muda, dan white sneakers. Pakaian berkudanya tadi segera Rin letakkan ke dalam mesin cuci yang tersedia, lalu ia segera mengambil tasnya di loker nomor dua belas.


Pakaian yang dicucinya itu tadi, nanti akan dikeringkan oleh penjaga yang mengecek setiap ruangan lima belas menit sekali. But, honestly, pakaian berkuda yang disiapkan mr. Achille itu untuk beberapa orang yang berminat equestrian sport tapi tidak mendaftar ekskul tersebut. Karena yang mengikuti ekskul ini, wajib punya pakaian dan perlengkapan berkuda masing-masing.


Baru ingin beranjak menjauh dari cermin, tapi urung begitu dari kaca dilihatnya Teresa yang berjalan mendekat dengan tatapan merendahkan. Gadis itu kini sudah berdiri tepat disamping Rin.


"Abis belajar naik kuda?"


Rin tidak menjawab, gadis itu hanya fokus memandangi dirinya di cermin. Melihat itu, Teresa kembali berucap, "Yeah, gak masalah, sih. Tapi, mau seberusaha apapun lo, tetep gak bakal menang sama gue."


Rin menoleh pada Teresa. "Let me get this straight." Gadis itu menatap Teresa datar. "Gue gak kenal lo."


"Gak usah pura-pura gatau."


Rin mengedikkan bahunya tak acuh. "Duluan." Gadis itu kemudian melangkah keluar, yang dengan segera Teresa menahan pergelangan tangannya.


"Lo kesini karna pengen narik attention Raka biar always focus on you, I know right?"


"Whut?"


"Lo gak mau kalah saing dari gue, kan?"


Rin menghempas tangan Teresa dari pergelangan tangannya, gadis itu kembali menoleh dengan sorot malas. "What do you mean?"


"Lo gak mau Raka ngalihin perhatiannya ke gue, kan? Lo pikir gue gak tau kalo mulai hari kamis sampe kemaren siang pas lo nemenin temen lo latian, lo jealous sama gue gara-gara Raka sama temen-temennya datang mulu buat nyemangatin gue?"


"Terus?"


"Gue liat lo natap lama banget ke arah Raka, terus ngelirik gue sinis. Like, lo tuh cuma adek kelas yang satu-satunya nyuekin Raka, makanya dia sedikit penasaran sama lo, abis itu udah. Dia gak bakal ngejer lo lagi. Jadi, sadar diri lah, ya."

__ADS_1


Rin mengernyit. Ini si Teresa kenapa, sih? Ini pertemuan empat mata mereka buat pertama kalinya, loh. First impression yang sangat tidak jelas, masa dia tahu-tahu dilabrak gini?


"Paham gak lo?"


"Eum?"


"Gini, ya, *****, gue perjelas. Sekuat apapun pesona lo, di hati Raka tetep gue. Gue yang jadi pemenangnya."


Rin menahan tawanya. "Excuse me? What's wrong with you?"


"Lo lemot ya ternyata?!"


Rin menghela napas. "Lo kalo suka sama Raka minimal sadar diri. Gue yang jelas-jelas di spesialin dengan begitu spesialnya aja, gak ngaku-ngaku."


Gadis itu berbalik badan, lantas segera melangkah keluar meninggalkan Teresa yang ternganga kaget tidak percaya. Rin menahan dirinya agar tidak tertawa.


Begitu keluar pintu, Iqbal menyapa dengan senyum lebarnya. "Rin, abis latihan, ya, tadi?"


"Lo daftar ekskul kuda?" tanya Regan menambahkan.


"Enggak, gue nemenin Prima. Tadi coba-coba aja, makanya ganti."


Rin kemudian menoleh pada Prima yang kini sibuk memainkan ponselnya. "Ayo, Prim, gue mau pulang."


"Bentar, Kak, nanggung banget ini," ucap laki-laki itu asik sendiri.


Raka dengan sigap berdiri dan mendekati Rin. "Pulang sama gue aja, mau?"


Prima yang mendengarnya segera mengangkat pandangannya. "Gak, ayo pulang sama gue, Kak. Orang tadi perginya sama gue."


"Rin, pikiran dia masih ke game, gue gak mau lo kenapa-napa." Raka menatap Rin penuh harap.


Rin melirik sejenak ke arah Prima yang memberengut seperti anak kecil. Kemudian kembali menoleh pada Raka. "No, thank's."


"Prim, sini kunci mobil lo, gue yang nyetir, lo lanjutin aja mainnya." Gadis itu melangkah menjauh lebih dulu, kemudian disusul Prima yang antusias di belakang. Setelah menyerahkan kunci, laki-laki itu kembali melanjutkan game online-nya yang terhenti sejenak tadi.


Melihat Prima yang fokus pada ponsel tanpa memerhatikan jalan, Rin segera mengulurkan satu tangannya pada Prima, takut laki-laki itu terjatuh. Sialnya, Prima justru menghiarukan. Gadis itu berdecak pelan. "Tangan gue dianggurin?"


"Tapi mainnya butuh dua tangan, Kak," ucap Prima merengut.


"Dih, lo tuh." Rin dengan malas menarik baju lengan atas Prima, jaga-jaga kalau laki-laki itu terpeleset, Rin bisa membantunya agar tidak jatuh.


"Sayang banget padahal gue juga mau gandengan, tapi ini bentar lagi, Kak!"


"Ya."


"Yah, cuek. Kak, jangan ngambek dulu, dong. Gue jadi gak fokus main, mikirin lo ntar cuek lagi ke gue. Jangan, ya, Kak?"


Gemesin banget, sih!


"Iya, elah. Gue gak marah. Cuma megangin baju lo biar gak jatuh."


"Sweet banget, Kak. Emang paling bener jadi future wife gue aja."


"Up to you."


Raka yang sejak tadi memerhatikan mengembuskan napasnya kasar. Kesal sendiri tapi Rin juga kelihatannya lebih sefrekuensi dan akrab dengan Prima ketimbang dirinya.


Sialan.


"Rak, bukan mau bikin lo kesel, tapi dia kayaknya lebih nyaman sama tuh dekel daripada lo."


"Lo bisa diem gak Bal? Gue tau!"


Keenam temannya menahan tawa mati-matian agar tidak kena amuk. Tak lama Arga menoyor pelan kepala Iqbal. "Gak usah diperjelas anjir."


Teresa yang berdiri dibalik pintu itu hanya terdiam. Sebenarnya dari awal, Raka memang lebih tertarik pada Rin daripada dia. Namun, pura-pura tidak tahu, dan tetap mendekati laki-laki itu tidak apa, kan?


...*****...


"Hati-hati, Prim. Fokus nyetir, jangan game yang dipikirin."


Prima mengangguk dari dalam mobil. Setelah melambai pelan, laki-laki itu segera menjalankan mobilnya keluar dari perumahan Rin. Gadis itu menoleh begitu mendapati mamanya berdiri di sampingnya entah sejak kapan.


"Itu siapa? Kok beda sama yang ngajak dinner kamu?"


"Temen, Ma."


Ara mengangguk beberapa kali. Tidak berniat bertanya hal lain seperti habis darimana, karena wanita itu tahu, putrinya butuh privasi. Rin juga sudah besar, jika memang mau, dia akan bercerita sendiri, jika tidak maka Ara tak terlalu ambil pusing, asal masih dalam ranah baik.


"Ya, udah, ayo masuk. Kamu udah makan siang?"


"Udah, tadi mampir bentar ke kafe favorit dia. Mama sendiri udah makan?"


"Belum, niatnya nungguin kamu. Makan buah aja buat ganjel perut."


"Maaf, ya, Ma. Rin udah makan di luar," ucap gadis itu menunduk. Ara mengusap lembut bahu Rin sambil menggeleng pelan. "Gapapa, ya udah, Mama duluan masuk, ya."


"Iya."


Rin menatap langit sejenak, gadis itu melepaskan sneakers yang dikenakannya, kemudian menginjakkan kakinya langsung menyentuh rerumputan segar. Dengan embusan angin sejuk, pemandangan langit yang membawa ketenangan membuat Rin tanpa sadar tersenyum.


Be yourself.


Rin mengerutkan keningnya. Tatapannya makin menelisik setiap bentuk awan yang dilihatnya.


Be myself, ya? Alright, prosesnya sekitar 41%, dan butuh 59% lagi, hahah!!


Ketenangan itu sedikit terganggu begitu getar ponselnya berbunyi pertanda ada pesan. Rin dengan malas mengeluarkan ponselnya dari saku hoodie yang dikenakannya.


Kening Rin mengerut dalam, mendapati satu pesan dari sosok yang—dulu—pernah memberi sedikit warna sebagai pelengkap bersama beberapa orang lain. Gadis itu membaca pesannya dari notifikasi, dan seketika blank.


ga kenal, makasi


rin, bisa ketemuan?


ada yang mau gue bahas sama lo


it's about him

__ADS_1


__ADS_2