JENNIE

JENNIE
59 - Enchanted


__ADS_3

Entah sejak kapan, melihatnya tak lagi biasa saja, debaran jantung menggila, pipi yang memanas perlahan kemerahan, dan mata yang enggan mengalihkan pandangan darinya. —RAKARIN.


...***...


Rin menuruni Ferrari 488 Pista Spider bianco avus dengan satu kaki yang lebih dahulu turun, baru satu kakinya yang lain. Gadis itu menutup pintu mobil dengan perlahan, kemudian melangkah di tengah keramaian siswa-siswi Starlight yang kini menjadikannya sebagai pusat perhatian.


Rin masa bodoh saja. Dengan balutan midi dress classic model vintage by Dior di bawah lutut berwarna cream, high heels tidak terlalu tinggi berwarna senada, lengkap dengan ballon bleu de cartier watch yang membuat penampilan Rin terlihat simple tetapi begitu elegant. Belum lagi rambutnya yang ia biarkan tergerai lurus dengan indah mencapai punggung, tentu membuatnya berada di puncak kepercayaan diri.


Tidak seperti dirinya sendiri yang menganggap penampilannya cukup baik, semua yang menatap gadis itu tertegun, jatuh dalam pesona Rin yang tidak bisa ditampik, begitu menawan malam ini. Gadis itu benar-benar cantik dilihat dari berbagai sisi. Sederhana yang berhasil menciptakan keheningan luar biasa penuh kekaguman, dari yang sebelum kedatangan Rin di gerbang sekolah masih ramai.


Rin tersenyum tipis, berusaha untuk melangkah tidak terlalu cepat atau lambat, meski dalam hati rasanya ingin menunggu seseorang. Just curious, okay.


Jujur saja, Rin sedikit gugup sekarang, mengingat akan diumumkannya peringkat siswa-siswi terbaik tahun ini. Di setiap kelas akan diambil tiga besar, dan dari semua itu, akan diambil lagi tiga orang yang nilainya benar-benar tinggi.


Best of the best.


Keadaan yang tadinya hening, perlahan-lahan mulai terdengar pekikan para gadis hingga suasana ricuh tidak terkendali. Rin menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang, mendapati tujuh mobil mewah memasuki area parkiran. Gadis itu tahu dengan pasti, siapa yang ada di dalam mobil.


Langkah gadis itu terhenti, cukup penasaran bagaimana penampilan Audey, dan juga—ehm—Raka dan teman-temannya malam ini. Rin mengeratkan pegangannya pada tali sling bag hitam yang disampir pada salah satu bahu, kemudian mengatur napas dalam diam.


Damn, kenapa gue jadi salting gak jelas gini?!


Di salah satu mobil, Raka diam sesaat begitu netranya melihat sosok yang beberapa hari ini—tidak juga, sih, sudah dari awal mengetahuinya—selalu mendapat perhatian lebih dalam pikirannya. Selalu punya tempat sendiri untuk dipikirkan. Selalu ada waktu untuk memikirkannya.


Rin.


Alena Rin Gracia.


Gadis itu berdiri menanti Audey—actually, ia berharap dirinya juga dinanti—yang entah kenapa membuat Raka tidak ingin mengalihkan pandangan. Wajah Rin yang terpoles make up sangat tipis dan hanya memakai beberapa saja itu, bagi Raka terlihat sangat cantik, dan selalu membuatnya ingin melihat ke arah Rin selalu, setiap saat, dan setiap ketika dia ingin lihat.


Cantiknya yang khas menggambarkan Rin, membuat Raka rasanya ingin menyapa gadis itu, penasaran bagaimana responnya. Senyum atau hanya mengangguk samar.


"Raka?"


Laki-laki itu mengerjap, kemudian menoleh pada Teresa yang menatapnya dengan mengerutkan kening sambil menepuk bahunya pelan. "Kamu kenapa diem tiba-tiba?"


"Oh, nothing. Cuma kepikiran mama, tadi nitip parfume kalo balik." Raka menyengir lucu. Lantas kembali berucap, " Gue lupa yang mama minta yang apa."


Teresa menggeleng pelan sambil tertawa pelan. "Ya, udah, nanti aja di pikirin. Temen-temen kamu udah pada turun, loh, pada nungguin kita."


"Iya. Bentar, gue bukain pintunya."


Raka melepas seat belt-nya, kemudian memutari bagian depan mobil, dan membukakan pintu untuk Teresa. Laki-laki itu melirik Regan yang mendekatinya bersama dua perempuan, Carenina dan Maudy, dua teman dekat Teresa.


"Lo ke ruangan duluan, ya."


Teresa terdiam, maniknya bergerak mencari keberadaan satu nama yang menjadi saingan terberat. Got it.


Rin, gadis itu berada tidak jauh dari area parkir roda empat. Teresa kemudian menatap Raka sambil tersenyum simpul.


"Rin lagi, ya, Rak?"


Raka mengangkat kedua alisnya terkejut, laki-laki itu tidak menjawab, dan memilih diam saja. Bingung juga ingin mengatakan apa.


"Ya, udah, aku duluan, Raka."


"Res, gue—" Raka tak bisa melanjutkan kata-katanya, Teresa menepuk lengan laki-laki itu pelan. "Cuma jalanin misi. I know right? Kamu udah sering ngomong gitu sama aku. I believe you, kok, Rak. Cepet selesai, ya. Bye!"


Teresa menggandeng lengan dua temannya, dan berjalan menjauh menuju aula. Raka menatap punggung itu dengan tatapan sulit diartikan. Bahkan untuk menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui ucapan Teresa barusan, Raka kesulitan.

__ADS_1


"C'mon, Rak! Lo malah ngelamun," tegur Iqbal seraya merangkul laki-laki itu. Raka hanya tersenyum tipis. Melirik Galang yang tengah digandeng Audey, berjalan menghampiri Rin, Raka memutuskan untuk mengkuti.


"RIN!!! OH MY GOSH, YOU LOOK SOOOOO PRETTY!!" pekik Audey seraya berlari kecil mendekati Rin, kemdian memeluk gadis itu. "Please, look at you, Dey!" Rin balas memeluk Audey.


Gadis berkulit tanned itu tampil cantik dengan balutan dress berwarna hitam yang kemarin dibelinya bersama Rin, Ruth dan Celin. White outer di bawah lutut yang mana sedikit lebih panjang dari dress-nya nampak menawan dipakai Audey.


"Lo kesini bareng—" Rin sengaja tidak melanjutkan perkataannya, laki-laki itu hanya melirik ke arah Galang yang diangguki Audey sambil tersenyum malu-malu. "Iya. Jujur gue deg-degan banget pas semobil tadi. Dia muji gue mulu. Omg!!"


Rin tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. "Btw udah jadian?"


Audey merengut. Menoleh sejenak pada Galang yang masih berada jauh di belakang, kemudian kembali menatap Rin.


"Belum. Kita masih sebatas deket doang."


"Poor you."


"Damn."


Kedua gadis cantik itu sedikit menepi agar beberapa siswa-siswi yang ingin lewat tidak terhalangi oleh mereka. Keduanya memutuskan menunggu Ruth dan Celin. Kalau Megan, gadis itu tadi sudah bilang di grup, dia akan bersama teman-teman ARMY-nya.


"Hi, guys, nunggu siapa?"


Rin dan Audey serempak menoleh ke belakang, begitu Ruth dan Celin berjalan mendekat dari lorong menghampiri. Audey segera angkat suara. "Kalian kapan nyampenya?"


"Daritadi." Ruth menyahut. Gadis yang hanya mengenakan midi dress selutut berwarna hitam dan white sneakers itu mengedikkan bahu tak acuh. Keningnya kemudian mengerut samar. "Kalian di sini ngapain?"


Audey memutar matanya malas. "Listen, gue sama Rin niatnya mau nungguin lo berdua. Eh, ternyata udah duluan."


"Maaf, ya." Celin menyahut tidak enak. "Tadi rame banget, jadi aku langsung ke aula. Pas nyari kursi, ada Ruth nyamperin." Celin yang memakai white midi dress di bawah lutut dan high heels tidak terlalu tinggi berwarna dusty pink itu menyengir kikuk.


"Ya, udahlah, gapapa. Toh, kita gak janjian juga," ucap Audey menyudahi, ia tidak ingin membuat Celin dan Ruth merasa bersalah. "Bercanda doang tadi, hehe."


"Omong-omong kalian berdua cantik banget, huhu!" seru Celin gemas sendiri.


"Hadeh, mulai." Ruth memutar matanya.


"Widiiii, pada ngumpul nih my girls, hehe. Pada bahas apaan nih?" Iqbal menyapa keempat gadis cantik itu.


Galang dan Alden reflek menoyor kepala Iqbal. "My girls, my girls, ngaca njir! Satu aja nolak, apalagi empat gini. Iya kalo gantengnya kelewatan kayak gue!" seru Galang tidak terima. Sementara Alden hanya melemparkan tatapan tajam pada Iqbal.


"Buset, santai dong! It was just a joke, damn." Iqbal berucap kesal yang langsung ditertawai oleh Arga. "Makanya, jangan sok ganteng lo. Untung paketu gak ikut-ikutan."


"Anjir," celetuk Regan tertawa keras. "Bisa-bisa si Iqbal masuk rumah sakit kalo paketu turun tangan."


"BWAHAHAHAH!!" Regan, Arga, Arka dan Galang tertawa hingga bahu mereka bergetar.


Melihat itu, Iqbal mendengkus. Namun, laki-laki itu memutuskan untuk diam dan tidak menyahut. Kalau beneran Raka turun tangan, bisa abis dia!


Mau nyenggol Raka, nyindir laki-laki itu, tapi tidak jadi, deh. Iqbal masih mau gapai cita-cita dia.


"Oh, iya, Megan mana? Kok gak sama kalian?" tanya Arga celingukan.


Audey menghela napas. "Sama temen ARMY-nya. Mau pada streaming party."


"Belum dateng?"


"Tadi, sih di aula, ga ada liat Megan," sahut Celin sambil tersenyum pada Arga. Arga balas tersenyum ramah. "Oh, iya, makasih, Lin."


"Muka lo kagak usah kusut-kusut Ar, toh dia di sini juga lo tetep di cuekin. Yang di hatinya cuma ada oppa Korea, bukan lo!" sungut Iqbal, balas dendam.

__ADS_1


"Diem lo sadboy!"


Iqbal mendelik. "Lo juga sadboy, sial!"


Sindiran pun berlanjut dengan adu bacot. Raka yang jengah menoyor satu-satu kepala dua temannya itu.


"Diem. Lo berdua sama. Sadboy."


Arga mendengkus dalam hati protes dengan mengatakan bahwa Raka juga sadboy. Begitu pun Iqbal yang berpikiran sama dengan Arga. Biasa, soulmate.


"Tapi gue masih bisa di maklumin, sih. Gak kayak Iqbal." Arga membela diri. "Sama aja njir. Lo tetep ditolak, ya, sama Megan, Ar!" balas Iqbal tidak terima.


Keduanya baru ingin melanjutkan perdebatan adu mulut, tetapi Audey lebih dulu menginterupsi. "Please, deh, jangan rusak mood kita! Kalo mau ribut, jauh-jauh sana."


Ruth mengangguk setuju. "Berisik. Kekanakan banget."


Arga dan Iqbal saling pandang. Keduanya diam seketika dan segera membuntuti Audey yang sudah berjalan memimpin langkah mereka. Disusul Galang, Regan dan Arka yang cengengesan, sementara di belakangnya ada Ruth. Celin ikut menyusul, yang entah sejak kapan di sebelahnya ada sosok Alden yang melangkah beriringan dengannya.


Rin baru saja ingin melangkah, tapi deep voice milik Raka membuatnya mengurungkan niat, dan menoleh pada pemilik suara.


Selama beberapa waktu, Rin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Raka. Laki-laki itu tampan sekali. Memakai kemeja putih yang tidak terkancing di bagian atasnya serta bagian lengan yang sedikit di gulung ke atas. Kemeja putih itu membentuk tubuh proposional Raka dengan sempurna. Sampai akhirnya Rin bisa mengontrol diri untuk melihat ke sekeliling.


Raka yang sejak tadi memerhatikan Rin lekat itu pun berdehem pelan. "Good evening," sapa Raka tersenyum.


Rin mengangguk pelan. "You too."


Hening meliputi, Rin memutuskan melangkah menyusul teman-temannya dengan perlahan, yang sebelumnya sempat memberi Raka kode agar laki-laki itu mengikuti. Rin hanya tidak ingin jadi pusat perhatian.


Keduanya kini melangkah beriringan. Rin menarik napas diam-diam kemudian mengembuskannya perlahan. Melirik Raka, kemudian berucap, "Congrats."


Raka mengernyit. "Buat apa?"


"Basket kemaren."


Raka menahan senyumnya. "Lo seneng gue menang?"


"Your team."


"Iya, maksud gue itu."


Rin mengedikkan bahunya. "Gak juga."


"Buat lo juga. Selamat." Rin menoleh cepat pada Raka. Satu alisnya terangkat. "Piano? Di final Megan yang menang."


"Gitar."


Rin mengerjap beberapa kali. "How do you know?" tanyanya mengerutkan kening.


"Lo fokus utama gue, Rin, ya kali gue gatau."


Damn it.


Raka dan Rin merutuk dalam hati bersamaan. Rin yang bisa-bisanya jadi salting dan Raka yang malu sendiri karena keceplosan. Untungnya, baik Raka maupun Rin sama-sama bisa mengontrol ekspresi mereka hingga terlihat biasa saja dan cenderung tak acuh.


"Thank's."


Tidak banyak yang tahu kalau Rin ikut lomba main gitar. Bahkan keempat temannya. Soalnya dia diam-diam saja.


"Lo juga jadi pemenang buat malam ini."

__ADS_1


Rin berpikir keras. Dia tidak banyak ikut lomba. Menyerah, gadis itu segera menoleh pada Raka. "Apa? Gue gak ikut lebih dari dua lomba."


Winner in my heart, Rin.


__ADS_2