JENNIE

JENNIE
38 - Interested?


__ADS_3

Dari sorot mata saja, semua tau kalau dia tertarik dengan gadis itu. —Deverald.


...***...


Two days ago ....


Raka menghela napas, laki-laki itu kemudian melirik enam orang yang kini terbaring tidak berdaya di atas lantai keramik yang dingin. Dengan langkah tegap penuh karisma, Raka mendekati keenam orang itu.


"Satu kesempatan lagi. Tell me, honestly."


Gilang berdecih pelan. "Lo mau ngehajar gue abis-abisan? Silahkan. Gak ambil pusing gue. Lo tanyain temen-temen gue juga, tetep gak bakal dapat info apa-apa lo. Mereka loyal anjir."


"Loyal-loyal pala lo loncat! Itu namanya stupid, nyari mati," kata Arga yang duduk di kursi samping Delon yang sepertinya pulas dalam pingsannya.


"Lo juga kalo jadi gue bakal ngomong gini, Bambang!" sungut Gilang.


"I don't care. Gue kan jadi diri gue sendiri, bukan jadi lo. Lagian siapa suruh nyenggol duluan. Ketuanya lagi, ngotak gak, sih lo sebagai ketua Zegior?!"


"Ngotak lah, kalo enggak gue gak bakal ditunjuk jadi ketua."


"Iya, sih." Arga bersedekap dada, satu tangannya memegang dagu—sok pura-pura berpikir keras.


"Woi! Lo berdua malah ngobrol," celetuk Iqbal sambil melotot garang pada Arga.


"Anjir," ceplos Arga dan Gilang bersamaan.


"Cie samaan," goda Regan, setelahnya laki-laki itu tertawa keras memenuhi ruangan.


"Hold it, guys. Kita lagi ada di situasi serius." Galang angkat suara membuat suasana di sekitar kembali terkendali.


Raka menatap Gilang dengan tajam, yang membuat ketua Zegior itu merinding. Meski ekspresinya datar, tapi jujur saja, ia ketakutan. Pilihannya sulit, antara jujur, atau jadi pengkhianat.


"Siapa yang nyuruh kalian?" Raka mengulang lagi pertanyaan yang sebelumnya sudah dilontarkan, tapi kali ini intonasi nada suaranya lebih mengintimidasi.


Gilang menyipitkan matanya. Kemudian menghela napas panjang. "Fine. Delvaros yang nyuruh gue. Lo pasti tau itu, kan? Napa jadi pura-pura bego lo Rak? Yang ngajak war Delvaros, inti Zegior ini cuma jalanin perintah doang. Clue-nya kan udah ada dari awal. Posisi gue di mana, Rin diancam sama pihak yang ada di mana. Lagian, lo pasti udah detail banget mantau kita. Lo mau ngorek informasi apaan? Siapa yang nyuruh Delvaros? Ya, mana gue tau!"


"Gue gak ada nyinggung soal Delvaros disuruh siapa."


Gilang tertawa sinis. "Enggak ada emang, tapi tatapan lo."


"Permainan kotor. Dunia bawah. Salah satu anak buah gue berhasil masuk ke situs gelap yang kalian buat."


Gilang menajamkan tatapannya. Melihat itu Raka melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Gilang yang kini mendongak menatapnya karena posisi laki-laki itu dalam keadaan tiarap.


"Gue baru tau, ternyata punya struktur juga. Ketuanya pasti punya kekuasaan sama kekuatan yang melebihi siapa pun, kan, Gilang?"

__ADS_1


Gilang mengerutkan kening. Napasnya mulai memburu, tangan laki-laki itu secara perlahan mengeluarkan keringat dingin.


"Itu sebabnya, ketua mereka tetap di atas, menjalankan hal-hal bersih ketika siang hari, tapi siapa sangka, di waktu malam ketika semua tertidur, dia memimpin organisasi gelap beranggotakan mafia, psikopat, bahkan seorang pembunuh berdarah dingin?" Raka mengangkat salah satu alisnya.


"Dan Raka sebagai ketua dari organisasi paling ditakuti di negeri ini, menjadi sasaran empuk untuk dirobohkan, dengan mengambil satu pillar penting di hidupnya." Alden berjongkok, menepuk bahu Gilang yang kini wajahnya pucat pasi. Alden membungkuk lebih dalam, membisikkan sesuatu. "Kasih tau ketua lo, kalo lawannya kali ini gak segampang itu buat diratakan."


"Alright. Lepasin mereka. Kita gak selemah itu buat ngelawan orang-orang yang cuma berani main di belakang layar."


Setelah mengucapkan itu, Raka berjalan keluar dari ruang interogasi tersebut. Langkahnya yang tegas membawa ia ke ruangan khusus inti Deverald di basecamp utama itu melakukan diskusi. Menunggu teman-temannya kurang lebih lima menit, akhirnya semua sudah berada di hadapan Raka.


"Delvaros tadi brutal banget, beberapa anggota kita ada yang luka parah, tapi sama si Arka udah di panggilin dokter. Galaxy, George, Juidith, Bastian sama Canva. Tapi, kita tetap menang, mereka mundur." Galang menjelaskan kejadian di jalan Pedjeoang.


"Iya lah mundur anjir, pada weak semua, gak seru," kata Iqbal mengibas tangannya di depan wajah dengan ekspresi tak minat.


"Next."


"Sebelum kita saling serang, Michael sempat bilang gini, musuh paling berbahaya, sebenernya ada di dekat kita."


Raka menajamkan tatapannya, kening laki-laki itu mengerut. Untuk beberapa saat terdiam hening, yang segera Alden ambil alih situasi. "We're gonna be fine."


"I agree. Gue udah pastiin keamanan Deverald 100% aman dari para mata-mata. Udah gue tingkatin," kata Arga sambil mengacungkan jempolnya.


"Good."


"Tapi itu gak menutup kemungkinan, kalo 'musuh' yang dimaksud di sini, berada di seputaran lingkaran lo, Rak." Peringat Arka sambil menarik kursi dan mendudukkan dirinya di sebelah Arga.


"Tumben bener lo," ucap Arga menyemburkan tawanya. "Sekali-kali lah njir, masa jadi orang salah mulu!"


"Ingat juga, jangan biarin diri kita ke hipnotis gitu, kalo udah ngerasa aneh, mending ngejauh. Karna pasti mainnya gak bersih, kan?" Regan ikut memberikan sarannya.


"Sip!"


"Omong-omong," kata Arga sengaja menggantung omongannya, laki-laki itu melirik Raka yang kini menatapnya penasaran. "Inget Alden bilang apa gak tadi lo pada?"


Iqbal mendelik, melirik Raka dengan senyum menyebalkan di mata sang ketua Deverald itu, kemudian Iqbal berkata dengan lantang, "Ehm, 'Raka sebagai ketua dari organisasi paling ditakuti di negeri ini, menjadi sasaran empuk untuk dirobohkan, dengan mengambil satu pillar penting di hidupnya'. SATU PILLAR PENTING DI HIDUP RAKA!!"


"WOI ANJIR BWAHAHAH!!"


"Diem."


"MENGAMBIL SATU PILLAR PENTING!!! PILLAR PENTING DI HIDUP RAKA!!!!! DI HIDUP RAKA WOIII!!!!"


"PAKETU MENEMUKAN BUKETU-NYA BWAHAHAHAHA!!"


"Diem gue bilang."

__ADS_1


"SI RIN CALON BUKETU WOI!!"


"HAHAHHAHAH!!!"


Holly ****, Raka dapat merasakan wajahnya memerah. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Anjir, si Raka blushing woi! BWAHAHAH!!"


Sialan.


Melihat Raka yang malah menyenderkan tubuhnya di kursi, dengan buku yang ia gunakan untuk menutup wajahnya, keempat sahabatnya dibuat tertawa melihat tingkahnya. Even Alden, sampai senyum loh. SENYUM.


Raka kalau salting memang jadi kayak malu-malu anjing gitu. Shy shy but cutie!


"Pantes marahnya bener-bener gak ketolong ya, Rak, ampe anak orang sekarat," kata Arga julid.


"Diem anjir gue bilang." Raka akhirnya menegapkan duduknya. Sementara teman-temannya masih menggodanya. Dengan malas Raka pun memberi penegasan. "Gue deketin Rin bukan karna bener-bener suka dia."


"Ah, masa?"


Sialan si Iqbal.


"Iya, lah."


"Terus effort lo belajar biar bisa di atas Rin tuh konsepnya gimana? Sampe begadang, mana jarang ngumpul ma kita-kita," kata Galang sambil mendengkus malas. "Gengsi amat, Pak."


"Anjir, haha!!"


"Diem." Raka menatap tajam kelima temannya.


"Alright, alright, we silent," kata Galang mulai kembali serius. Tatapan laki-laki itu menajam seketika, menatap Raka skeptis. "But, Rak, lo gak bener-bener jadiin Rin sebagai salah satu pillar penting di hidup lo, kan?"


Raka tidak langsung menjawab, laki-laki itu terdiam cukup lama. Melihat itu, Arka memgambil napas panjang. "Dari awal, gue juga gak yakin kalo lo gak bakal tertarik sama Rin."


"Emang enggak."


Regan mengangkat salah satu alisnya. "Serius?"


"Iya. Gue gak bakal tertarik. Gue effort dikit buat ngambil kepercayaan dia. Kita butuh informasi valid buat bener-bener bisa ngungkap masalah—" Raka tak melanjutkan ucapannya, laki-laki itu hanya membuang napas cukup keras. Kelima temannya juga mengerti, jadi tidak perlu diperjelas.


"Okay, we trust you as a leader, so jangan kecewain semua pihak yang lo janjiin, Rak." Galang mendekat, menepuk beberapa kali bahu sahabatnya semenjak SMP itu.


Raka mengangguk. Menatap serius ke arah teman-temannya bergantian. "Gue gak bakal tertarik. Demi keadilan, demi teman."


Arga tersenyum tipis. "Kalo lo mulai tertarik, bilang, Rak. Kita bakal nyuruh lo buat mundur. Kita gak bisa nebak, Rin bakal di pihak mana nanti di akhir. Entah dia kawan, lawan, atau sekedar siswi pindahan yang berprestasi."

__ADS_1


Raka hanya diam. Laki-laki memutuskan untuk melanjutkan membaca buku, sementara kelima temannya saling pandang dengan satu pemikiran yang sama.


Raka tertarik. Bahkan, dari awal.


__ADS_2