JENNIE

JENNIE
16 - Little Thing


__ADS_3

Sesuatu yang kecil pun akan sangat berharga jika setiap saat kita dapatkan. —RAKARIN.


...*****...


"Rin, lo suka rainbow cake ya? Soalnya kalo gak istirahat pertama pasti istirahat kedua lo makan tuh kue warna-warni," ucap Megan sambil meneguk strawberry milk. Rin mendongakkan kepalanya menatap Megan. Gadis itu kemudian mengangguk kecil menanggapi.


"Harusnya kalo makan begitu pagi atau enggak sore, soalnya kalo siang, kan mepet sama waktu makan, ntar malah jatuhnya berat badan naik drastis lagi," kata Megan mengerjap polos.


"Berat badan mulu yang lo pikirin, heran gue," balas Audey mengerutkan alis.


"Ngasih tau gue tuh. Lagian lo juga gitu kan? Terlalu mikir berat badan juga, berasa paling iye aja!"


"Gak berlebihan banget tapi."


"Gue emang gak suka sarapan," kata Rin menghentikan Megan yang sepertinya ingin membalas perkataan Audey.


"Loh kenapa?" tanya Cellin memiringkan kepalanya.


"Kerja otak menurun loh biasanya kalo malas sarapan, tapi herannya lo malah tambah pinter," ucap Megan sambil menempelkan botol kaca berisi strawberry milk dingin ke pipinya.


"Belajar," balas Rin singkat. Gadis itu kemudian menatap Cellin. "Gapapa."


"Jadi tiap pagi gak sarapan gitu?" tanya Megan yang segera Rin balas dengan anggukan.


"Gak—" Ruth dengan cepat memotong ucapan Megan, "Apaan, sih lo, yang gak sarapan tiap pagi gak cuma Rin, gue sama Audey juga gitu. Kenapa heboh banget?"


"Tau nih sinting," tambah Audey.


"Ih kalian mah gituuuuu," Megan mengerucutkan bibirnya."Kan aku cuma nanya."


"Tapi gue gedek, kayak gak ada topik lain aja yang bisa dibahas," sentak Audey.


"Tapi—" Ruth lagi-lagi memotong ucapan Megan, "Shut up!"


Megan memajukan bibir bawahnya dengan alis mengerut. Padahal gadis itu berusaha buat buka topik, karena selama ini dia tuh jarang ikut pembahasan, kalau pun ikut itu dikit aja dia nimbrung. Megan lebih sering nonton MV kalo ngumpul seperti sekarang ini. Singkatnya, dia pengen lebih dekat sama yang lain. But jatuhnya malah menyebalkan di mata dua temannya ini.


"Udah jangan ribut lagi," kata Cellin sambil memeluk Megan erat dari samping.


Megan melepas pelukan Cellin dengan pelan. "Gue mau streaming mv BTS. Bye guys, gue pindah ke meja pojok sana," pamit Megan sambil berdiri dari duduk, dan melangkah ke meja yang sekarang sudah diisi enam orang yang sama-sama menyebut diri mereka, ARMY.


Jangan heran kalau Megan kadang pake aku-kamu, tapi kadang pake


lo-gue juga. Soalnya dia ini dasarnya memang menggunakan aku-kamu, karena tiga temannya yang lain tidak menggunakan itu, jadilah Megan yang mengalah.


Audey berdecak sebal. "Baperan lo."


Megan mengernyit. Tanpa banyak bicara, gadis itu menunjukkan jam berwarna pink soft yang terpasang manis di pergelangan tangan kirinya pada Audey.


"Udah jam 10, jadwalnya streaming party and caper ke Weverse. Jimina udah nungguin, wle," Megan menjulurkan lidahnya keluar.


"Najong!" tukas Audey dan Ruth bersamaan membuat Megan cekikikan sambil berlalu dari sana.


Rin memerhatikan keempatnya dalam diam. Sekarang sudah hampir satu bulan gadis itu bersekolah di SMA Starlight, dan berteman dengan empat gadis cantik ini. Dan dari itu, Rin tidak heran kenapa Audey jadi sewot abis seperti tadi.


Gadis itu memang orang yang super aktif, heboh dan banyak omong, tapi bisa jadi orang sejudes Ruth kalau lagi mode galau. Contohnya seperti sekarang. Beberapa hari lalu, Galang berangkat ke sekolah dengan membonceng siswi kelas 12, teman dari ketua cewek-cewek famous seangkatan mereka.


Rin menengok ke meja pojok di mana Megan dan teman-teman ARMY-nya sedang tertawa bahagia dengan satu ponsel mahal terletak di tengah meja, memperlihatkan video tujuh laki-laki memesona sedang bernyanyi tak lupa dance, yang dilengkapi suasana mendukung.


Gadis itu kembali menghadap ke depan sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi. Audey membuka suara, membuat Rin memfokuskan atensinya pada gadis itu.


"Gue berlebihan gak, sih? Abisan lagi gak mood gini, si Megan aneh-aneh nanyanya," kata Audey galau sendiri.

__ADS_1


"Emm, menurut aku, sih berlebihan. Megan kayanya lagi nyari topik buat ngobrol sama kita, tapi kalian gitu," ucap Cellin memanyunkan bibirnya. "Jarang-jarang loh Megan kepo gitu."


"Berlebihan banget ya? Salahnya Megan juga, sih, dianya salah pilih topik. Gitu tuh kalo keseharian cuma tentang Jimin, Jimin, Jimin, jatuhnya gak bisa bedain mana topik pembicaraan yang enak dibahas, mana yang kesel orang dengernya."


Ruth memutar mata. "Shut up, Dey! Berhenti ngomongin Megan, dia lagi gak sama kita," kata gadis itu tajam.


Menyadari kesalahannya, Audey segera berucap, "Eh, sorry, asli gue gak sengaja! Bukan maksudnya mau gibahin my cute friend!"


"Udah, udah, lanjut makan aja," ucap Cellin, seperti biasa, jadi penengah suatu keributan.


Rin yang sejak tadi diam, menyungging senyum tipis. Ruth itu jutek di luar, tapi perhatian di dalam. Audey juga, dibawa perasaan banget orangnya, belum berapa lama aja udah ngerasa bersalah walau gadis itu berusaha tutupin.


Rin tidak salah pilih teman kan?


Meski harus berurusan dengan Raka, karena gabung circle pertemanan empat cewek cantik penakluk hati inti Deverald, yang tentu saja diketahui satu sekolah.


Tanpa Rin sadari, ketujuh orang berpengaruh di SMA Starlight itu duduk di kursi kedua dari pintu kantin, yang artinya berada tepat di belakang meja Rin. Percakapan teman-teman gadis itu tidak luput sekali pun dari telinga milik seorang laki-laki bermata setajam elang, dengan manik hijau memesona.


Terutama tentang, mengenai Rin yang tidak pernah sarapan.


...*****...


Gerombolan anak-anak Deverald kini memenuhi koridor kelas 10, karena mereka baru saja balik dari basecamp. Dengan Raka yang berjalan paling depan, di sebelah kanan-kirinya yang sedikit ke belakang, ada Galang yang tebar pesona dan Alden yang seperti biasa melangkah dengan wajah datar, tak lupa kedua tangan berada di saku celana. Empat anggota yang lain entah di mana mereka. Berhimpitan dengan anggota lain, untuk sekadar modusin adik kelas, mungkin?


Tentunya, gerombolan cowok-cowok tampan—yeah, not all, sih, tapi kebanyakan memang punya wajah yang mampu membuat kaum hawa menjerit—itu berhasil membuat para siswi kelas 10 heboh bukan main. Ada yang mendadak kena serangan jantung, ada yang sesak napas, ada yang bahkan sampai kerasukan saking tidak tahannya dengan aura rombongan laki-laki berjaket kulit hitam itu. Namun, ada juga yang dari toilet, dan berjalan dengan pura-pura tak acuh, membuat Regan menggodanya.


Yeyy, berhasil dong! Di modusin inti Deverald lagi!!


Terlepas dari itu semua, Raka, laki-laki yang berjalan di depan sendiri itu menatap ke sekeliling dengan tajam, menyebabkan aura intimidasi yang begitu kuat menguar dari dirinya. Dan kini, pandangan Raka jatuh pada seorang laki-laki yang menyiramkan sabun ke lantai dengan tawa jenakanya.


"Woi njir, ada kak Raka sama Deverald! Lo kalo kena mereka mampus, patah tulang bisa-bisa!" ucap teman lelakinya memperingati.


"Paling ke kantin, nunggu satu target dulu jatuh, baru gue beresin. Lo gak usah repot yee," balas laki-laki yang menyirami sabun ke lantai tadi dengan santai, sambil menyender di dinding.


Baru saja Raka ingin memacu kakinya untuk berlari ketika melihat Rin menginjak lantai yang ditumpahi sabun—membuat gadis itu oleng, tapi tidak jadi saat seseorang di belakang Rin lebih dulu memegang kedua tangannya dari belakang, sehingga tubuh gadis itu kembali seimbang.


Raka mengepalkan kedua tangannya, hingga urat-urat itu terlihat. Tatapannya menajam, menatap sosok penyebab Rin hampir jatuh tadi.


...*****...


Rin menengok ke belakang, mendapati Prima—laki-laki yang pernah gadis itu abaikan, sedang memegang kedua sisi lengannya. Ketika ia berhasil mengambil alih keseimbangan, Prima melepaskan pegangannya.


Rin tersenyum tipis. "Thank's."


Prima mengangguk dengan senyum menawan. "Hati-hati, Kak kalo jalan."


Rin menanggapi dengan mengangkat salah satu alis, disusul kedipan kedua mata. Gadis itu kemudian menatap ke arah dua laki-laki yang sudah gemeteran entah karena apa. Mengabaikan itu, Rin segera melanjutkan langkah menaiki anak tangga. Tidak ingin terlalu memperpanjang keributan. Karena sekarang, pekikan siswi kelas 10 benar-benar membuat Rin pusing sendiri mendengarnya.


Please lah ya, dengung ini telinga dia!!


"Anjir, gue tadi mau ngerjain lo Prim, kenapa bisa jadi tuh kakel yang kena!" ucap Sanjaya—si pelaku, panik sendiri.


"Udah gue ingetin juga lo, ngeyel kan! Tuh cewek tadi incerannya kak Raka woi!" ucap Jay menepuk bahu Sanjaya beberapa kali dengan kuat.


Prima memijit kening. "Untung aja kak Raka gak li—"


Bugh!


Bugh!


Bugh!

__ADS_1


Belum sempat ucapan Prima selesai, ketua dari geng motor terbesar itu sudah lebih dulu memberi bogem mentah di pipi Sanjaya. Menghujam laki-laki itu dengan pukulan teramat kuat di wajah, hingga Sanjaya sedikit kesusahan bernapas.


"RAK, LO MAU BUNUH ANAK ORANG APA GIMANA NJIR?!" teriak Arga berlari cepat menghampiri Raka.


"Udah Rak, gila lo, mati anak orang woi!" ucap Galang berusaha menghentikan Raka. But, yeah, vain. Karena, Raka kalau sudah marah, tidak bisa dihentikan.


"Rak, udah." Alden berucap dengan tegas, sambil membawa bangkit tubuh Raka berdiri sempurna, karena posisi laki-laki itu tadi menduduki perut adik kelasnya. Raka tentu memberontak, berusaha melepaskan diri dari kurungan Alden yang mengalungkan satu tangannya di leher Raka. Dari arah samping, Iqbal datang dengan wajah penuh drama dan memeluk Raka dari depan.


"Jerk, lo ngapain!" sentak Raka kesal, berhasil melepaskan diri dari Alden dan orang gila di depannya ini.


Laki-laki itu kemudian menatap Prima yang diam mematung menatap temannya, Raka ikut mengalihkan pandangan pada Sanjaya yang sudah terkapar di lantai tak sadarkan diri.


"Lo," Raka menunjuk wajah Jay yang pucat pasi dengan telunjuknya. "Kasih tau temen lo itu, kalo mau usil, jangan sampai Rin yang jadi kena sasaran."


Perkataan Raka barusan, membuat enam temannya terbelalak. Sejak kapan Raka menghajar anak orang hanya untuk seorang perempuan?


...*****...


Rin menarik kursi, lalu segera mendudukkan diri. Gadis itu kemudian meraba-raba lacinya, dan menemukan satu buku. Dengan cepat ia menariknya keluar.


"Kenapa Rin?" tanya Audey ketika melihat Rin terlihat menahan kesal. Tanpa banyak omong, Rin mengangkat buku matematika wajibnya, dan melirik ke arah laci.


"OHH! SORRY RINNNN, GUE LUPA MASUKIN TAS LO!!" pekik Audey membuat atensi seisi kelas tertuju padanya.


"Masih pagi, teriak-teriak aja udah lo," kata Megan menoleh ke belakang.


"Gue lupa masukin buku Rin ke tasnya kemaren!"


"Pikun," ucap Ruth ketus.


"Ihh, gue beneran lupa!" Audey menoleh pada Rin. "Maaf yaa, lo jadi buru-buru sekarang ngerjainnya."


"Mtkw jam pertama lagi, masih muda udah pelupa aja lo," kata Megan menahan tawa.


"Ck, lo apaan, sih, gue lupa ya gimana!"


Rin memutar matanya malas, lalu memaksa senyum tipis. "Gapapa."


"Beneran Rin, gue lupaaa, tapi ini tugasnya kemaren udah gue kerjain kok, yang disuruh gambar kubus itu aja kan?"


"Pantesan grup gak rame, tugasnya gambar doang ternyata," ucap Ruth sambil mengambil buku matematika Megan. Untuk orang malas seperti dia, bisalah dimaklumi belum mengerjakan.


"Nyaut malah lo Ruth." Audey mendengkus. "Rinn, gapapa kan?" tanyanya tak enak hati.


Rin mengangguk. "Iya."


"Mau liat?" tanya Audey meringis.


"Gak."


"Kok gitu?"


"Gue bisa sendiri," balas Rin tak acuh.


"Sebelum ngerjain, sarapan dulu."


Rin mendongak, menatap pemilik suara serak yang terdengar begitu dingin, sepersekian detik atensinya tertuju pada sepiring rainbow cake dengan di sampingnya segelas air putih tersaji di atas mejanya.


Ketika ingin mengembalikan apa yang Raka bawa, laki-laki itu sudah keburu keluar bersama enam temannya, dengan lima di antara mereka bersiul menggoda. Rin berdecak sebal. "Ada yang mau?" tanyanya lantang.


Tidak ada jawaban, Rin kembali berucap, "Gue buang."

__ADS_1


Dengan cepat Cellin menghampiri, membuat Rin yang sudah berdiri kembali duduk. "Buat aku aja hehe, aku lupa sarapan. Daripada kamu buang, iya kan?"


"Ya."


__ADS_2