JENNIE

JENNIE
28 - Blushing


__ADS_3

"Guys, ke lapangan basket yok, yang indoor. Hari ini inti Deverald pada main, kita main-main di sana."


"What do you mean, Odeyyy?" tanya Megan tidak habis pikir. Mau main-main apa mereka di sana?


"Kita jalan-jalan gitu loh."


"Lo tadi bilangnya main-main. Lagian, jalan-jalan ngelilingin lapangannya? Mau caper apa gimana, sih weh?"


"Duduk santai di bangkunya Megan! Lo mah bikin emosi bawaannya, mager gue."


"Udah, udah, daripada ribut, mending langsung aja ke sana. Jangan banyak diskusi, ga jadi loh nanti," ucap Cellin, seperti biasa, gadis itu menengahi pertikaian di antara dua sahabatnya.


"Gue gak ikut," kata Rin mengambil alih atensi empat gadis cantik di hadapannya itu.


"Ikut aja lah Rin, lo ngapain sendirian di kelas?" Audey berdiri dari duduknya kemudian menggenggam tangan Rin. "Ayo ikut, gak bosen di kelas mulu?"


Megan mengerutkan alisnya. "Gue juga gak ikut, ya?"


Rin yang tadinya berdiri, kembali duduk mendengar perkataan Megan. "Tuh, ada temen," ucapnya pada Audey.


"Gak ada. Ayo ikut lo berdua!! Masa bertiga aja, sih? Kalian mah, ngapain, sih duduk diem di kelas?"


"Gue juga gak ikut, capek, mau tidur, bye." Setelah mengatakan itu Ruth segera menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan di atas meja.


Audey merengut, melepas genggaman tangannya pada Rin, lantas berjalan keluar menggandeng lengan Cellin yang setia berdiri di sampingnya sejak tadi. "Kita berdua aja Cel, emang gak bener tuh cewek tiga," bisik Audey pada Cellin, yang hanya dibalas anggukan pelan.


Rin memerhatikan kedua temannya, sebelum Audey dan Cellin keluar dari pintu, gadis itu segera bangkit dan berlari pelan menyusul. Keduanya yang menyadari, segera menoleh pada Rin.

__ADS_1


"Dih, ikut juga kan lo."


Rin tersenyum tipis. Gadis itu tidak enak hati apalagi ketika melihat raut wajah Audey yang murung. Begitu sampai di hadapan Audey, Rin langsung menggandeng lengan gadis berkulit sedikit tanned itu.


Ketiganya menoleh pada Megan yang melambai kecil. Cellin memutuskan untuk mengajak Megan, tapi gadis itu menolak dengan sopan. Sebenarnya mau ikut, sih, hanya saja Megan tidak mau meninggalkan Ruth yang sepertinya sudah lelap dengan tidurnya seorang diri di kelas.


"Kalo mau nyusul, kita di indoor room basketball, ya!" pekik Audey sebelum akhirnya ketiga gadis cantik itu saling bergandengan tangan keluar kelas.


Megan tersenyum tipis, ia melirik Ruth yang kini napasnya teratur. Gadis itu memutuskan untuk menonton drama Korea di ponselnya tak lupa menggunakan airpods.


Selain ingin menemani Ruth di kelas, Megan juga malas bertemu Arga. Bagaimana, ya, menjelaskannya, laki-laki itu terlalu memberi perhatian, dan Megan tidak enak jika menolak kehadirannya secara terang-terangan seperti yang dilakukan Rin pada Raka di awal-awal. Namun, karena tidak pernah adanya sebuah penolakan, Arga pasti berpikir bahwa Megan juga punya perasaan sama dia. Gadis itu hanya tidak ingin membuat orang lain sakit hati. Karena jawaban akhirnya, ia tetap hanya mau Jimina—bias-nya.


...*****...


Rin, Audey dan Cellin melangkah beriringan memasuki ruangan basket yang kini ramai dipenuhi siswa-siswi. Memerhatikan semua kursi yang penuh, ketiga gadis cantik itu memutuskan berdiri saja.


Di depan sana, Arga memegang kuasa terhadap bola, memantul-mantulkan ke lantai kemudian melempar dari jarak cukup jauh bola berwarna orange ke dalam ring. Setelah bola jatuh, ada Raka yang mengambil alih, berlari sambil memainkan bola ke arah ring lawan, kemudian melemparkan bola sambil sedikit melompat dengan jarak yang menurut laki-laki itu pas. Namun, perkiraan Raka meleset. Bola terus melambung tinggi, melewati ring, dan keluar dari batas garis lapangan, nyaris mengenai kepala seorang gadis yang berdiri memerhatikan dengan wajah datar.


"Gue seneng lo ke sini. Lagi merhatiin gue, kan?" tanya Raka dengan smirk seraya mengambil alih bola dari tangan Rin. "Nanti ada kelas tambahan fisika, gue tunggu depan kelas lo. Barengan."


Setelah mengatakan itu, Raka mengacak pelan rambut Rin kemudian berlari masuk ke dalam area lapangan dan melanjutkan permainan. Apa yany Raka barusan lakukan, tidak hanya membuat para siswi di ruangan itu terkejut, atau teman-teman Raka dan Rin melongo, tapi juga membuat Rin sendiri shock dengan perlakuan Raka.


Sial, jantung gue kenapa detaknya gini banget?


Rin menoleh pada Audey yang menatapnya penuh tanda tanya. Gadis itu berbisik pelan. "Dey, kantin."


Audey yang paham kalau Rin badmood memilih menurut saja, bersamaan dengan Cellin, kedua gadis cantik itu keluar ruangan menyusul Rin yang sudah jauh di depan. Dari arah lapangan, sepasang manik hijau tak lepas memerhatikan, sebuah tatapan yang sulit diartikan karena pemilik mata hijau sang ketua Deverald itu juga sulit menjelaskan bagaimana perasaannya terhadap Rin. Apa yang dilakukannya tadi pada gadis itu, percayalah, itu refleks yang tidak bisa Raka kendalikan karena merasa gemas sendiri pada Rin.

__ADS_1


Sialan.


...*****...


Rin menghela napas pelan begitu ia keluar kelas, ada Raka yang duduk di kursi. Ketika menyadari kehadiran gadis itu, Raka lantas berdiri dan mengajak Rin untuk bersama-sama menuju gedung seberang.


"Sorry buat yang tadi Rin. Gue reflek, gemes liat lo," kata Raka jujur.


"Yang tadi yang mana?" Rin balik bertanya dengan sedikit mengerutkan alis. Raka diam beberapa saat mendengar pertanyaan itu, jadi tidak terlalu berkesan ya bagi Rin. "Yang di ruang basket tadi."


Rin mengangguk beberapa kali, gadis itu lebih memilih menutup rapat mulutnya. Keheningan yang awkward tercipta, untuk kali ini Raka bingung ingin memulai topik apa agar Rin bisa ikut andil secara imbang dalam conversation dengannya.


"Rin?"


"Ya?"


Raka bungkam. Kebingungan sendiri. Rin melirik sekilas kemudian menahan tawanya. Baru ingin berucap sepatah kata, seruan seorang perempuan dari arah belakang membuat Rin mengurungkan niatnya. Baik Raka maupun Rin sama-sama menoleh, dan mendapati Teresa berlari kecil menghampiri dengan seulas senyum menawan.


"Raka! Kamu ada kelas tambahan, ya?"


Raka tidak langsung menjawab, tapi melirik Rin terlebih dahulu. Merasa diperhatikan, Rin segera berucap, "Gue bukan siapa-siapa lo. Up to you dong kalo mau respon cewek selain gue." Gadis itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Raka dan Teresa.


"Rin tunggu bentar, barengan." Raka menoleh pada Resa yang ekspresinya sedikit masam. "Gue duluan, ya, Res. Nanti malam kita jalan, gue mau ngajak ke suatu tempat. Jangan sekarang, okay?"


Raka kemudian berlari pelan menyusul Rin, begitu berhasil menyamai langkahnya dengan gadis pemilik gelar ice princess itu, Raka segera menggenggam tangan Rin membuat gadis itu menoleh dengan tatapan tajamnya.


Raka menyengir. "Udah gak usah jealous, dia cuma temen sekelas gue."

__ADS_1


"Sialan," ceplos Rin tanpa sadar, menyadari dirinya kelepasan, gadis itu melepas genggaman Raka, dan mempercepat langkahnya. Raka tertawa pelan memerhatikan yang justru membuat wajah Rin memerah diam-diam tanpa disadari.


Mampus gue kalo ketauan blushing. Raka sialan!


__ADS_2