JENNIE

JENNIE
56 - Sebuah Perbedaan


__ADS_3

Terkadang seseorang menunjukkan sikap yang berbeda pada dua orang bukan tanpa alasan. Ketika bersama yang satu, sedikit lebih terbuka dan tidak kaku, tapi ketika bersama yang satu lagi rasanya asing dan ada jarak. Alasannya sederhana, untuk membuat orang-orang mengira kita tidak salah tingkah. —Rin.


...***...


Rin menumpukan dua lengannya pada pembatas pagar di lantai dua, tepat di depan kelasnya. Gadis itu bersama dua temannya tengah memerhatikan lapangan basket yang kini mulai ramai dipenuhi siswa-siswi.


"Gue kira pertandingan olahraganya bakal ngundang sekolah lain, ternyata cuma sekitaran Deverald aja," ucap Audey sambil meminum jelly potter choco lava di sebelah kiri Rin.


"Emang dulu gitu?" tanya Rin menolehkan kepalanya. Audey dengan segera menganggukkan kepalanya antusias sebagai bentuk tanggapan. "Hu'um, dapet undangan juga lagi. Sekarang kok enggak, ya?" Audey menoleh pada Megan penuh tanya.


"Kok liat ke gue? Lo aja gatau, apalagi gue?" Megan menyahut dengan kening mengerut. Rin tertawa pelan mendengarnya.


Audey menoleh cepat pada Rin. Gadis itu ikut tertawa, begitupun Megan. Mereka senang, menyadari kalau Rin perlahan mencair dari sifat esnya. Kedua gadis cantik itu juga tidak tahu alasan pasti Rin sekarang mulai banyak membuat ekspresi. Namun, itu semua terjadi secara bertahap.


"Rin, kita baru sahabatan, sih, tapi gue seneng banget bisa liat lo ketawa gitu, gak datar aja mukanya," ucap Audey membuat Rin tersenyum tulus mendengarnya. "Masa, sih?"


"Iya! Ah, lo mah gue udah mau terharu juga karna kata-kata gue puitis abis," kata Audey mendengkus.


"Puitis darimananya, please," ucap Megan sambil memutar matanya malas.


"Yee, lo diem aja, ya, Meg!"


Rin menggeleng pelan sambil tersenyum tipis melihat keduanya yang mulai adu mulut. Melihat ke bawah, matanya sedikit menyipit begitu menemukan perawakan tak asing seorang laki-laki di tengah ramaihnya di bawah sana. He is Prima.


Rin terus saja memerhatikan laki-laki itu yang celingak-celinguk seperti mencari seseorang, hingga Prima mendongak menatap ke arahnya, menciptakan eye contact di antara mereka selama beberapa saat.


"KAK!!"


Prima melambai pelan dengan gummy smile-nya yang khas. Rin merespon dengan anggukan beberapa kali, membuat Prima kembali berteriak, "GUE ABIS INI TANDING AMA ANAK KELAS 12 IPS 3, NONTON, YA, KAK, BIAR GUE SEMANGAT!!"


Rin tertawa melihatnya, apalagi ketika teman-teman Prima menoyor kepala laki-laki itu bergantian. Sementara pelaku keributan itu hanya merengut. Kemudian ia kembali mendongak menatap Rin penuh harap.


Rin tersenyum tipis sambil mengangguk pelan membuat Prima meloncat-loncat heboh di bawah sana. "KAK, GUE GANTI BAJU DULU, YA!!" Laki-laki itu kemudian berlari menuju ruang ganti kelas sepuluh, disusul teman-temannya.


Audey yang memerhatikan Rin masih tersenyum meski Prima sudah pergi, memutuskan menepuk bahu gadis itu beberapa kali. Rin spontan menoleh.


"Entah kenapa, gue lebih seneng liat interaksi lo sama kak Raka, sih. Menurut gue, kalian berdua tuh cocok dari segi manapun."


Rin mengerutkan keningnya. "Kenapa ngomong gitu?"

__ADS_1


"Gue liat-liat lo lebih open ke Prima daripada ke kak Raka."


"Gue, sih tim Prima, ya. Second lead character tuh menurut gue lebih menarik dan jelas perasaannya. Ibaratnya Rin main character, Raka main lead as male, second lead-nya Prima."


Audey memutar matanya mendengar ucapan Megan. "Lo keseringan nonton Drakor, sih, Meg. Ini dunia nyata, please."


"Ya, terus? Gue cuma bilang kalo perasaan Prima dari awal jelas, dia suka Rin. While Raka? Dia bahkan keliatan plin plan banget."


"I mean, gini loh, karena sering watching movie or Drakor, lo gue perhatiin always support and lebih pro ke second lead-nya. Jadi kayak, kebawa di dunia nyata."


"Tapi emang bener. Second lead always lebih paham soal perasaannya sendiri."


"Kan itu film, Megan. Lo bisa bilang gitu, karena lo liat dari semua point of view-nya para pemain." Audey memutar matanya malas.


"Sometimes, I watch a movie or Korea Drama yang point of view-nya focus to main character."


"Duh, Meg, greget gue. Ini dunia nyata, lo gak bisa bandingin sama film gitu."


"Yeah, I know, tapi kebanyakan Drakor yang gue tonton based on true story. Like, kehidupan di sekitar kita gitu."


"Ditambah bumbu, Megan. Namanya juga film, gak bakal sama, sama dunia nyata. Boleh ambil sedikit gambaran, tapi jangan semua diambil mentah-mentah."


Rin menghela napas. "Udah, ya. Gak usah dilanjut. Gue gak suka dua-duanya."


Perkataan gadis yang rambutnya kini dicepol asal itu sontak membuat Audey mendelik. "Lo. Gak. Suka. Kak. Raka?!" tanyanya penuh penekanan ketika berucap sebagai bentuk keterkejutannya.


"Iya."


"Gosh, kok bisa?!"


"Ya bisa." Rin menyahut tak acuh membuat Megan tertawa pelan dengan anggun. "Rin tuh fokus ke pendidikan. Gak kayak lo, cowok mulu pikirannya."


"Dih, kayak lo enggak aja! Jimin tuh apa?!"


"At least, dia sebagai salah satu support system," balas Megan sambil mengulum senyum.


Sebelum Audey menyahuti, Rin lebih dulu angkat suara. "Ayo, ke bawah. Habis kelas Prima main, giliran yang perempuan yang main. Kelas kita lawan kelas 11 IPA 6. Anyway, kelas kita Ruth ketuanya, kan, ya?"


"Yap. Btw, fun fact nih Rin, Ruth tuh jago pake banget main basket! Dulu waktu kelas 10 dia pernah battle sama kak Iqbal dong!!"

__ADS_1


"Siapa yang menang?" tanya Rin penasaran.


"Ruth. Skornya 5-1. Ruth menang telak, sih kata gue," ucap Audey berdecak kagum. "Mana skill mainnya gak ada tanding!"


"Wow, interesting. Kisah mereka dimulai dari sana?"


Audey melotot menatap Rin, membuat Rin merutuki dirinya karena kelepasan.


"OMG! OMG! LO NANYA SOAL ITU RIN?!! SERIUOSLY??"


"Yeah, just curious." Rin segera melirik Megan setelah berucap demikian. Megan yang paham sontak menepuk bahu Audey membuat gadis itu tidak jadi berucap.


"Ayo ke bawah."


"Okay, gue abisin minum gue dulu, biar gak ribet," balas Audey yang dibalas Megan dengan aggukan pelan.


Rin menghela napas lega melihat itu. Entah kenapa, Rin tadi langsung melirik Megan yang ajaibnya gadis ARMY itu paham. Rin memerhatikan Megan seksama dalam diam.


Gatau kenapa, Meg, gue ngerasa lo kayak peka dan ngerti situasi banget.


"Btw, Cellin mana?" tanya Megan celingak-celinguk, gadis itu ketika menghampiri Audey dan Rin setelah streaming party with her ARMY friends, tidak menemukan keberadaan Cellin. Megan mengira gadis itu pergi ke toilet tadinya.


"Dia ditunjuk jadi panitia bagian konsumsi. OSIS kan panitia utama birthday Starlight. Dari pagi udah sibuk." Audey menjabarkan. "Lo, sih, tadi dateng-dateng bukannya ke kelas malah ke kelas sebelah."


"Biasa, hehe."


"Ya, udah, yok ke bawah," ajak Audey seraya menggandeng lengan Rin dan Megan di kedua sisinya.


Baru saja mengambil beberapa langkah menjauh dari tempat semula, suara seseorang menyambut membuat ketiga gadis cantik itu menolehkan kepala mereka.


Raka, laki-laki itu bersama enam temannya tengah berjalan mendekati Rin dengan mata sedikit menyipit akibat paparan sinar matahari. Begitu sampai tepat di depan Rin, Raka menyodorkan sebotol air mineral.


Rin mengerutkan kening. "Buat apa?"


"Lo mau nonton Ruth main, kan?"


Rin terdiam. Gadis itu menatap Raka cukup lama, sampai akhirnya ia dapat mengendalikan dirinya untuk melirik ke arah lain.


"Thank's."

__ADS_1


__ADS_2