
Hadirnya mereka ibarat awan. Di saat mengejar yang satu, dia lari. Namun, ketika mencoba menjauh dari yang satu lagi, dia malah mengejar. —Rin.
...*****...
Sepiring rainbow cake dan satu gelas air putih kini tersaji di meja Rin. Membuat gadis yang kini rambutnya dicepol asal oleh jedai alias jepitan badai itu mengernyit heran. Ia memerhatikan sekeliling kelas, sepi dan hanya dirinya sendiri di ruangan itu. Tentunya dengan ditemani suara air conditioner yang mengisi kesunyian.
Siapa yang menyiapkan sarapan sebelum dia datang? Sekarang saja masih jam 06.00 WIB. Jangan heran jika Rin berangkat sepagi itu, soalnya kan papa, mamanya sekarang mau ke tempat omanya, jadi karena malas sendirian di rumah jadilah Rin ke sekolah lebih pagi dari biasanya.
Mata Rin kembali terfokus pada mejanya. Kemudian kerutan di dahi gadis itu semakin dalam. Ia sudah menemukan satu nama yang terduga sebagai penyaji sarapan untuknya pagi ini.
Raka.
Iya lah, siapa lagi kalau bukan laki-laki bermanik hijau yang tatapannya itu—menurut kebanyakan orang—begitu memesona?
But, Rin bukanya kepedean ya. Kemarin kan Raka yang memberikannya sarapan, walau yang makan Cellin.
Rin meletakkan tasnya dengan kasar ke kursi. Mengambil piring berisi kue warna-warni kesukaannya, dan satu tangannya yang lain memegang gelas kaca. Gadis itu berniat membuangnya.
Jangan salahkan Rin jika itu terjadi. Bukan karena ia tidak menghargai pemberian orang, atau bukan karena Rin tidak sayang makanan, hanya saja ada suatu hal yang membuatnya tidak mau memakan sarapan pagi berupa rainbow cake.
Pernah merasakan di posisi 'setia untuk satu orang yang tidak pasti' belum? Kalau sudah, pasti tahu. Maka dengan membuang apa yang Raka berikan, merupakan sebuah usaha untuk menjaga satu nama agar selalu berada di puncak kehidupan Rin. Karena dulu, sarapan pagi dengan rainbow cake, adalah kebiasaan di setiap paginya bagi gadis itu.
Baru saja ingin membalikkan badan, sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangan Rin, dan tangan satunya bergerak mengambil alih pemberiannya pada gadis itu dan kembali meletakkannya di meja. Wangi mint yang begitu maskulin menyapu indera penciuman Rin. Ia membalikkan tubuhnya ke belakang, nyaris dahinya menyentuh bibir merah milik Raka.
Rin memundurkan langkah hingga pingganya menyentuh sisi samping meja, kemudian mendongak, karena perbedaan tinggi mereka. Gadis itu mengernyit ketika laki-laki di depannya ini menatapnya tajam. Satu alisnya terangkat. "Kenapa?"
"Makan."
Rin menggeser tubuhnya lalu mendudukkan diri sambil menatap Raka menantang. "Gak." Dia memang tidak suka jika hal yang tidak mau dilakukannya, justru dipaksa harus melakukan. Dan cara untuk membalik keadaan ialah dengan menantang balik, menatap tepat di kedua manik si lawan bicara.
Raka mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas. Lalu kembali menatap Rin. "Gak mau nyoba sesuap?" tanya laki-laki itu mulai lembut.
Rin terdiam sesaat menyadari raut wajah dan nada suara Raka yang berubah begitu cepat dari sebelumnya. Gadis itu menggeleng singkat, kemudian mengeluarkan satu buku tebal berisikan materi bahasa asing dari dalam tasnya.
Melihat itu, Raka menarik kursi dan menaruhnya di samping kursi Rin lalu mendudukkan diri. Dessert plate putih polos itu kembali Raka sodorkan pada gadis di sampingnya.
Merasa jengkel karena Raka tak kunjung pergi, Rin menoleh ke arah laki-laki itu. "Gak." Sialnya, tatapan setajam elang milik Raka yang seolah menyiratkan bahwa ia tidak suka dibantah membuat Rin sedikit gentar.
"Tuli? Gue bilang enggak, ya enggak." Raka menatap gadis di hadapannya dengan lekat. Seulas senyum tipis yang begitu memikat terbit. Laki-laki itu lantas berucap dengan sangat enak masuk di telinga, "Belum sarapan kan lo? Gue bawain spesial, mama yang bikin, tapi gue juga turun tangan."
Seakan tidak ingin ditolak lagi, tanpa menunggu balasan Rin, Raka segera saja menyodorkan sesendok rainbow cake pada gadis itu. Rin terdiam seketika. Tubuhnya mendadak kaku dengan fungsi otak yang seperti terhenti.
Memori lama yang masih berusaha—walau sebenarnya tidak akan mungkin—Rin hilangkan, muncul kembali di otaknya, berputar-putar tanpa henti layaknya kaset rusak. Mengenai seseorang dari masa lalu, yang berhasil membuat dunia Rin runtuh dalam sekejap karena kepergian-nya.
"Aaaa ... buka mulutnya dong cantiknya gue," ucap Raka membuat Rin menatapnya dalam.
"Ih gak mau! Kayak anak kecil tau gak disuapin gituuuuu!!" kata seorang gadis cantik yang kini tubuhnya terbalut seragam putih-abu, merengut menatap laki-laki yang setahun lebih tua darinya.
"Makanya sarapan, mama itu nitip kamu sama aku. Kamu kan jarang makan pagi, nih sekarang makan. Kalau gak mau makan, aku suapin."
__ADS_1
Si gadis berdecak sebal. "Ngaduan ya Kak kamu sekarang! Jadi males aku sama kamu, udah ah sanaaaaa," usirnya sambil membuang pandang ke arah jendela di sebelah kirinya.
Laki-laki berparas menawan itu tersenyum tipis. Dengan lembut ia bertanya, "Emang kenapa gak mau sarapan?"
"Ck! Dulu tuh aku waktu TK sering demam jadi setiap habis sarapan di minumin paracetamol dan aku eneg!"
Laki-laki itu mengangguk pelan. "Jadi kamu gak mau sarapan karena eneg itu tadi?"
"Iyalah Kak! Kebawa gitu rasanya," kata si gadis merengut.
"Waktu kecil sarapannya nasi?" tanya si laki-laki tadi, yang dengan cepat mendapat anggukan dari gadis di depannya.
"Kalau gitu, sarapan kue pelangi mau?"
Mata si gadis berbinar. "Ih! Yang bener Kak? Mau bangett! Aku tuh suka ngemil tiap sore sama teh."
"Ya udah bentar aku beli dulu."
Laki-laki berkulit eksotis itu segera bangkit dari duduknya, lalu berlari kecil keluar kelas. Menunggu setidaknya lima menit, sampai akhirnya sebotol minuman dingin menempel di pipi si gadis membuatnya meringis dan mendongak seketika.
"Kak! Dingin tauu. By the way, kok air putih? Kan kamu ke kafe Kak? Kenapa gak beliin jus aja?"
"Mager banget gue lari-lari bawa gelas dari kafe depan sampe sini. Udah minum air putih aja cantiknya gue."
Gadis bermata hitam legam dengan bulu mata lentik itu berdecak. "Gue lo nih?"
"Iya-iya maaf, udah makan sini, keburu bel. Aaaaa ...." Laki-laki itu menyodorkan sesendok kue berwarna warni dengan cream itu.
Deep voice-mu melemahkanku, Kak! Batin si gadis.
"Iya ini makan. Aaaa—nyam ... nyam ... nyam .... Enak, Kak, besok-besok sarapan ini aja ya, jangan nasi, ntar kalo mama tanya kamu aja yang kasih tau ya, biasanya mama tuh gak mau denger kalo aku yang ngomong," katanya seketika curhat.
"Iya, sayang."
"Kenapa diem?"
Rin mengerjap, segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Sial, jadi daritadi matanya ini ngeliatin Raka terus gitu?! Mampus, bisa kepedean tuh cowok!!
Kampret. Kampret. Kampret.
Mendapati Rin terdiam, Raka ber-smirk. Laki-laki itu sekarang tahu bagaimana cara agar Rin mau memakan bekal darinya.
"Makan ... atau gue suapin."
Rin menoleh cepat ke arah Raka. "Hah?"
"Gue suapin? Oke."
Rin membelalakkan matanya terkejut, sedetik kemudian cepat-cepat mengubah ekspresinya kembali datar. Menepis tangan Raka yang ingin menyuapinya.
__ADS_1
"Gak."
Raka menaikkan satu alisnya. Melihatnya membuat Rin mendengkus jengkel.
"Gue makan sendiri."
Raka tersenyum puas.
"Tapi satu suap, baru lo pergi."
"Tiga."
"Ga—"
"Gue di sini sampe pulang."
Damn.
"Okay."
Rin mengambil alih piring berisi kue favoritnya itu, dan mulai menyendokkan ke mulutnya. Hingga dua suapan, dan suapan ketiganya Rin terdiam sejenak, lalu menoleh pada Raka. Laki-laki itu hanya diam, memerhatikannya begitu lekat.
"Apa?" tanya Rin sewot dengan ekspresi wajah datar.
"Cantik."
Terdiam lima detik, Rin kemudian menjawab, "Because I'm girl." Raka tertawa pelan, tangannya tanpa sadar terangkat naik dan mengacak pelan rambut Rin.
Rin dengan cepat menepisnya. "Pergi," ucapnya datar sambil menyuapkan rainbow cake yang ketiga kali. "Udah tiga kali."
Mendapati Raka tak kunjung bangkit, dan malah senyum-senyum tidak jelas Rin berdecak. "Lo ngapain? Pergi. Besok-besok gak usah bawain gue ginian. Lagian, perjanjiannya kalo lo berhasil ngalahin gue, baru gue mau nerima lo."
Raka mengerutkan alis. "Perjanjiannya kalo gue berhasil ngalahin lo, lo jadi pacar gue. Bukan gak boleh menangin hati lo."
Rin memutar matanya malas. "Gak usah sok-sokan mau menangin hati gue. Lo belum tentu bisa di atas gue nilainya."
"Bisa. Kalo gue usaha." Raka menarik napas panjang. "Besok gue bawain sarapan lagi. Biar ntar kita pacaran, lo nerima gue bukan karena perjanjian, tapi emang dari hati."
Raka berdiri dan segera berlalu dari sana. Langkahnya terhenti sejenak lalu menoleh ke belakang dan memberikan hormat dua jari pada Rin, tidak lupa senyumnya yang mematikan. Ketika laki-laki itu keluar, mata Rin nyaris keluar karena kaget dengan kemunculan Megan diambang pintu. Cepat-cepat Rin merubah ekspresinya.
"Lo—"
"Iya, tadi gue udah masuk, terus pas Raka mau keluar gue buru-buru keluar. Dan yaa, gue denger semua ... dari awal. Soalnya Raka masuk gak lama gue juga masuk."
Melihat raut panik Rin yang berusaha gadis itu sembunyikan, Megan berkata, "Tenang aja Rin. Aku ga bakal ngomong ke yang lain kok. Karena mereka juga pasti bakalan kesel, Audey sama Ruth, sih. Jadi, aku bakal pura-pura gatau apa-apa, dan nunggu kamu siap buat cerita. Karena cerita yang didengar langsung dari seorang sahabat, lebih kita sukai daripada denger dari orang."
Rin tersenyum samar dan tanpa sadar menghembuskan napas lega. Ia memang belum menceritakan soal perjanjiannya dengan Raka waktu itu, tapi pasti akan Rin kasih tahu kok pada tiga sahabatnya yang lain. Hanya saja tidak sekarang, gadis itu belum siap.
Bagaimana ya, dia belum mau mendengar ocehan Audey yang akan heboh sendiri sambil berkata, PLIS LAH YA RIN! RAKA ITU GINI ... RAKA ITU GITU ... dan blablabla. Iya, Rin gak mau opini dan keyakinannya mengenai Raka yang tidak bisa mengalahkannya, dipatahkan oleh Audey.
__ADS_1
Gadis itu mendongak, menatap Megan dalam, gadis ARMY itu kini sibuk streaming dengan volume suara cukup keras hingga menggema di sekitar ruangan yang hanya berisi mereka berdua.
Megan, makasih.