JENNIE

JENNIE
43 - Weekend


__ADS_3

Ingin menghindar, lagi-lagi malah terus bertemu. Dunia memang sekecil itu, ya. —Rin.


...***...


Rin memerhatikan pantulan dirinya di depan cermin rias. Gadis itu berulang kali menghela napas lelah. Semingguan ini mood-nya benar-benar berantakan hanya karena melihat Raka dan Teresa yang kemana-mana selalu bareng. Sialnya lagi, di mana ada momen kedua kakak kelasnya itu, Rin pasti ada di sana, menyaksikannya diam-diam, and then kesal sendiri.


Gadis yang kini rambutnya tergerai bebas itu bangkit dari duduknya, mengambil ponsel di atas nakas samping tempat tidur. Rin terdiam sesaat memerhatikan hari yang tertera di beranda ponselnya.


"Ke toko buku aja kali, ya, biar gak terlalu mikirin Raka?" gumamnya berpikir keras. Gadis itu kemudian mengangguk kuat. "Iya, hidup itu harus dimanfaatkan dengan baik, jangan buang waktu berharga buat hal yang gak penting."


Rin segera memakai crop top shirt berwarna lilac, dengan bawahan baggy jeans dan juga black ankle boots, tak lupa mengambil backpack mini berwarna ivory sebagai pelengkap penampilannya. Gadis itu segera melangkah keluar, berpamitan sejenak pada Ara yang sedang duduk santai menonton televisi dengan ditemani beberapa cemilan sehat. Ia juga menghampiri Reksa yang saat ini membaca surat kabar di teras rumah.


Mendatangi mobil mahal kesayangan yang terparkir rapi di garage, Rin lantas mengemudikan white Ferrari-nya dengan kecepatan penuh, membelah sepinya jalan ibukota. Gadis itu melirik ponselnya sekilas begitu dering telpon terdengar. Ada Audey yang melakukan panggilan video, tanpa pikir panjang Rin mengangkatnya.


"Hello ma boo!!" Kening Audey terlihat mengerut. "Lo di mobil? Lagi dalam perjalanan?"


"Iya, kenapa, Dey? Ada hal penting?"


"Lo mau kemana?"


"Toko buku."


"Di?"


"Anggrek street, depan Kafe Selena, ada toko buku Prilhip. So, why you call me?" Satu alis Rin terangkat.


"Em, tadinya, sih, gue mau minta lo ke rumah, gue gabut. Tapi karena lo ke toko buku Prilhip, ya udah gajadi, hehe."


"Abis dari toko—"


"Gak, gak usah. Nikmatin weekend lo aja, gue ajak Cellin, dia free katanya, nih nongol notif wa-nya."


"Okay, gue matiin telponnya, ya?"


"Iya, matiin aja, sorry if I bothering you. Bye!!"


Rin melambai pelan kemudian segera mematikan sambungan. Gadis itu kembali melajukan mobilnya setelah tadi menurunkan kecepatan.


...*****...


Rin meremas buka yang dipegangnya dengan gregetan. Bahkan ketika ia berada di toko buku sekali pun, batang hidung laki-laki itu tetap terlihat olehnya?!


Hell ya, kenapa kesannya momen mereka ada di mana-mana? Gue mau nyantai aja susah.


Rin memejamkan matanya sejenak begitu Raka berada di seberang rak darinya. Gadis itu benar-benar muak. Dunia kenapa, sih? Dia pengen menghindari Raka sesaat, loh, tapi malah ketemu terus. Kalau bisa tiap detik, mungkin Rin akan terus melihat Raka tertawa bersama Teresa.


Mata Rin memicing tajam dengan kening mengerut kesal, begitu Teresa menyenderkan kepalanya di bahu Raka. "Gatau tempat," gumam Rin ketus dengan pelan seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.


Sebuah tepukan di bahunya, membuat gadis itu spontan menoleh dengan sorot tajam. Salah satu alisnya terangkat mendapati penjaga toko sekaligus kasir itu tersenyum padanya.


"Ya?"


"Bukunya." Laki-laki itu menunjuk buku yang kini dicengkram kuat oleh Rin. Menyadari kesalahannya, gadis itu segera berucap, "Maaf, Kak, gak sadar, sorry banget, it's my bad, gue gantiin aja bukunya gapapa?"


Laki-laki itu tersenyum hingga lesung pipinya terlihat. "Gak usah, gak robek juga. Lagian, buku itu emang punya gue, lupa ambil tadi dari rak pas beres-beres."


"Oh, gitu, ya. Makasih, maaf, ya sekali lagi." Rin menyodorkan buku tersebut pada pemiliknya.


"Btw, sakit hati di pertengahan bab atau gimana?"


"Em, tadi gue baca bukunya di bab paling akhir, kesel banget serius. Ending-nya bikin emosi, gue gak suka."


"Pardon?"

__ADS_1


"Ya?"


"The ending?"


"Yea."


Laki-laki itu menyemburkan tawanya tertahan. "Gak salah? Happy ending loh, malah jadi bab paling favorit sama pembacanya."


Rin mengerjap beberapa kali dengan cepat, napasnya tercekat untuk beberapa saat. Tidak lama, Rin meringis sambil memegang tengkuknya canggung.


Meihat respon gadis itu, laki-laki dengan undercut hairstyle itu tersenyum tipis. "Santai aja. Btw, gue Philip," ucapnya seraya mengulurkan tangan, yang segera diterima. "Rin."


Kening Philip mengernyit sesaat. "Lo sekolah di Starlight?"


"Iya." Rin menatap Philip lekat, menuntut penjelasan.


"Ah, adek gue sering nyeritain soal lo."


"Who is he?"


"Ada, entar dia turun dari lantai atas, lagi istirahat bentar. Lumayan rame tadi pagi. Mau duduk bentar nungguin dia?"


Rin menggeleng pelan, buang-buang waktu, of course. "Gak usah, gue mau pilih beberapa buku teenfic, ada recommend dari lo?"


"About what?"


"Kingdom, royal family in fantasy world, but the genre ... I want teefiction. Dia putri mahkota, penerus tahta, tapi her problem seputar anak-anak remaja umumnya like us gitu."


"Waduh, Kak, mending bikin cerita sendiri, imajinasi lo terlalu wah, di luar nalar bahkan tembus galaxy!"


Rin reflek menoleh begitu mendengar suara tak asing di belakangnya. Kening gadis itu mengernyit samar, mendapati Prima dengan kaos putih polos dan celana pendek hitamnya berjalan menghampirinya.


"Kak?"


"Ah, I see."


"Alright, gue hapal semua buku yang ada di sini, letak-letaknya ada di mana. So, mau gue temenin sekalian gue jelasin dikit, Kak? Siapa tau tertarik sama satu buku. Atau ke gue juga gapapa, Kak, hehe."


Philip menoyor kepala adiknya dengan keras. "Bisa-bisanya lo modus. Udah bantuin dia cari sesuatu yang bikin mood bagus pas dibaca." Laki-laki itu kemudian pergi menuju meja kasir.


Rin tersenyum tipis. Adik-kakak ini memang sama-sama peka mengenai mood seseorang, ya.


"Ayo, Kak? Mau genre apa dulu nih?"


"Royal family, tapi dia pewaris tahta, gue gatau itu masuk genre apa."


"Sama, sih, Kak," ucap Prima menyengir lebar yang dibalas helaan napas panjang dari Rin. "Tadi lo bilang hapal semua."


"Gak semua juga, Kak. Gue gak ngomong semua, gue—"


"Iya."


Prima tertawa pelan. "Sorry, sorry, semenjak lo ketawa sama gue, gue jadi ngerasa kita makin deket, Kak. Gue juga jadi makin suka."


Please deh, ya, si Prima ini jujur banget, gue jadi malu, sial!


"Gak ada yang bisa di rekomendasiin?"


"Gak—"


"Ya, udah, gue pulang—"


"Ada. Ada, Kak. Genre teefiction. Gue suka banget sama nih cerita, feel-nya dapet banget. Sampai sekarang, nih buku satu-satunya yang gue suka di antara semua novel yang ada. Relate soalnya."

__ADS_1


"*Interesting. By the way, a*bout what?"


"Jadi ada cewek ice princess yang sering banget jutek ke cowok hyperactive, ngeselin parah si ceweknya, nolak cowoknya terus, padahal tulus banget loh! Di perjuangin gimana pun tetep acuh. Untung di akhir mereka jadian."


Rin entah kenapa merasa tersinggung. "Lo ngarang? Nyindir gue?"


"Hah? Enggak, Kak, emang ceritanya gitu."


"Nope, lo nyindir gue."


Prima mengernyit bingung, laki-laki itu berpikir keras. Selang beberapa menit dalam keheningan, Prima akhirnya menyadari srsuatu. Laki-laki itu sontak menahan senyumnya. "Kalau dipikir-pikir emang mirip kita, sih, Kak. Tapi emang ending-nya bakal sama?"


"Lo berhasil milikin gue?"


Prima menatap Rin lekat. "Iya."


"Gak."


"Udah gue duga, sih, di ceritanya juga gitu. Padahal dalam hati, lo pasti deg-degan parah, nahan salting setengah mati, kan, Kak?" tanya Prima tepat sasaran.


"Gak lah. Lo kenapa jadi percaya ceritanya?"


"Mirip kita, Kak. Gue yakin lo pasti bakal mikir hal yang sama abis baca tuh buku."


"Alurnya aja, ending-nya beda."


"Who knows, Kak?"


Rin berdecak pelan. "Emang lo siapa nentuin akhirnya?"


"Orang yang suka sama lo."


"Ya."


"Dari awal ketemu, udah suka sama lo."


"Ya."


"Gue suka sama lo, Kak."


"Ya."


"Jadi, ada kemungkinan gue bisa milikin lo, kan, Kak?"


"Yea, up to you."


"Lo milik gue?"


"Iya."


Skak! Kena jebakan.


Rin membulatkan matanya begitu sadar dirinya dikerjain. "Damn it?"


Respon Rin itu berhasil membuat Prima tertawa puas, tangan laki-laki itu reflek terangkat merapikan anakan rambut Rin yang sedikit berhamburan mengenai pipi gadis itu. Prima masih tertawa meski Rin melemparkan tatapan permusuhan.


"Mana bukunya? Lo daritadi ngomong gak jelas."


"Iya, iya, btw Kak, actually nih ya, kita daritadi muterin satu toko. Gue sengaja biar bisa jalan-jalan sama lo. Buku yang gue maksud, tepat ada di rak awal tadi, deket pintu."


Rin memejamkan matanya sejenak. Si Prima ini mulai kelihatan tingkah aslinya, ya. Ngeselin parah.


"Damn it, Prim." Mendengar itu, Prima tertawa hingga bahunya bergetar yang membuat Rin ikut tertawa melihat laki-laki itu. Tanpa keduanya sadari, sepasang manik hijau menatap tajam ke arah mereka sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2