JENNIE

JENNIE
19 - Iridescent


__ADS_3

*Namanya juga warna-warni, pasti warna abu-abu dan hitam ada dong. —R**in*.


...*****...


"Siang sayang, gimana sekolahnya?" tanya Ara—mama Rin sambil menyambut dengan senyum sumringah di depan pintu ketika putrinya baru saja pulang. Rin tersenyum manis. "Siang juga, Ma. Seperti biasa, gak ada yang menarik," ucapnya sambil mencium pipi mamanya.


Kedua ibu dan anak itu kemudian melangkah memasuki rumah megah mereka lebih dalam, melewati ruang tengah hingga sampai di dapur. "Udah makan siang sayang?" tanya Ara lembut tak lupa masih mempertahankan senyumnya.


Rin menggeleng pelan. "Belum."


"Ya udah ganti baju dulu sana, cepetan yaa, Mama tungguin," balas Ara sambil menarik kursi, tangannya terulur ke atas, mempersilakan Rin ke kamar.


Rin berbalik badan dan segera berlalu dari hadapan Ara setelah sebelumnya membungkuk sedikit. Melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu per satu, lalu memasuki kamarnya yang berada di lantai dua.


Gadis itu melempar tasnya ke bed queen size-nya, dan segera mendudukan diri di meja belajar. Kepalanya ia biarkan menyandar di sandaran kursi, mendongak menatap langit-langit kamar dengan mata terpejam. Tangan Rin perlahan bergerak ke atas, memijit keningnya. Pusing tak tertahankan gadis itu rasakan akibat kurang tidur semalam. Untungnya perut gadis itu sudah terisi pagi tadi.


Rin kemudian bangkit dari duduknya, menghampiri kasur lalu merebahkan diri. Tangannya bergerak mengambil ponselnya dari dalam tas. Gadis itu mengembuskan napas kasar ketika membaca pesan dari seseorang yang dikirimkan padanya kemarin sore.


Rin, lo harus tau, dia gak akan balik, sebelum lo ngejalanin apa yang gue bilang waktu itu. Kalo lo gak percaya, tunggu aja. Kita lihat, apa dia bakal balik atau enggak.


...*****...


"Mah, Raka berangkat," teriak laki-laki itu sambil memasangkan white sneakers ke kedua kakinya.


Seorang wanita dengan red dress selutut menghampiri asal suara dengan sedikit tergesa. "Bentar dong Mas, kamu belum minum susu, nih." Wanita yang sudah menginjak usia 45 tahun tapi tetap cantik meski ada sedikit kerutan di wajahnya itu menyodorkan segelas susu hangat pada putranya.


Raka menghentikan langkahnya. "Oh, iya, lupa Mah," laki-laki itu menyengir dan segera mengambil alih gelas di tangan Ariana—mamanya. Kemudian meneguk isinya sampai habis.


"Pelan-pelan Mas, nanti kesedak, sambil duduk kek, malah berdiri," tegur Riana perhatian.


Seorang perempuan yang lebih tua setahun dari Raka menuruni tangga dengan heels-nya, menyebabkan suara klotak klotak terdengar menggema di rumah megah nan besar itu. Raya Lesia Arion, kakak perempuan Raka itu mendekati sang mama dan adiknya. Berniat mengerjai.


"Takut telat Mah, Raka kan mau nyiapin sarapan buat crush-nya," ucap Raya sambil menaik-turunkan alisnya menggoda.


Tidak mau kalah dari sang kakak, Raka dengan senyum menyebalkan di mata Raya tapi begitu mematikan di depan para gadis itu berucap, "Mbak Raya sendiri mau kemana? Segala pake heels begitu. Mau ketemu om-om ya?"


Riana menoleh pada putrinya itu. Mendapat tatapan penuh intimidasi dari sang mama, Raya segera berkata, "Enggak Mah! Raya mau jalan-jalan sama temen. Asal ngomong tuh si Mas."


"Masa?" Raka menaikkan kedua alisnya sambil memainkan lidah membuat Raya mendengkus. "Gak usah nyebar fitnah ya Rak, orang Mbak mau jalan sama temen mumpung libur."


"Ngapain pada ngumpul depan pintu semua? Ada banyak tempat di sini," celetuk Rama—papa Raka dan Raya, menyudahi aksi perdebatan keduanya. Pria paruh baya itu baru saja ingin berangkat ke kantor.


"Ini Pah, biasa adu mulut," adu Riana sambil memasangkan dasi pada Rama.

__ADS_1


"Mbak yang mulai Pah. Gak usah dikasih uang jajan aja nih Mbak Raya," kata Raka sambil memberikan kembali gelas minumnya pada Riana ketika wanita itu selesai memasangkan dasi pada Rama.


Fun fact, sifat Raka itu kalau sama Mama, Papa, dan Raya ya seperti ini. Soft kalau bicara, penuh dengan tawa tapi juga usil dan tidak mau kalah. Akan tetapi jika dengan orang lain, Raka jelas tidak akan bersifat demikian. Laki-laki itu akan menunjukkan kharisma dan seberapa besar kuasa yang ia punya. Sehingga orang-orang segan padanya. Separuh sifat Raka yang dilihat dalam rumah megah ini akan dapat keluar jika bersama enam inti Deverald.


Singkatnya, laki-laki bermanik hijau itu tahu dalam menempatkan dirinya dalam sebuah situasi maupun kondisi. Maka pantaslah gelar Leader of Deverald tersemat dalam dirinya, karena laki-laki itu memang sangat pantas memegang tanggung jawab besar yang diserahkan padanya.


"Udah Mas, gak usah digodain mulu Mbaknya," lerai Riana sambil geleng-geleng kepala. "Berangkat udah sana, nanti si Rin itu keburu dateng duluan."


"Mbak Raya noh mulai duluan, eh kalah juga," ledek Raka tersenyum menawan yang mendapat rotasian mata dari Raya.


"Mas!" tegur Riana mulai tegas. "Berangkat udah sana, sebentar lagi jam enam loh."


"Niat banget ya, Mas," celetuk Rama sambil cengengesan. "Belum jam enam udah stay."


Mendengar itu, Raya menaikkan satu sudut bibirnya. Kesempatan bagus untuk membalas sang adik!


"Biasa Pah, takut ke duluan yang lain, Raka kan sekarang gak laku. Orang ceweknya Ice Princess!"


Setelah mengatakan itu, Raya segera melepas heels-nya, lalu menjintingnya di satu tangan, kemudian melesat cepat meninggalkan pintu utama sambil tertawa anggun.


Yas! Kali ini gue menang.


Raka ingin membalas tapi tatapan tajam Rama membuatnya mengurungkan niat tersebut.


Anjir.


"Sarapan Rin udah?" tanya Riana mengingati, yang dibalas anggukan sekali. "Udah Mah."


Raka melangkahkan kaki menuju garasi. Menaiki sport hitamnya dalam sekali gerakan, kemudian memakai helm. Ketika visor-nya menutup sempurna, senyumnya yang tadi mengembang, sirna dalam sekejap. Mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, membelah ramainya ibukota dengan tidak sabaran.


...*****...


Suara dari motor besar milik Raka tenggelam di tengah ramainya jalan ibukota. Laki-laki itu dengan cekatan menyalip kendaraan yang lain dengan kecepatan di atas rata-rata. Hingga sampai di jalan Baboyara, tempat di mana Raka biasa bersembunyi di salah satu warung, menunggu Rin lewat.


Jalan ini termasuk satu-satunya jalan yang diketahui banyak orang agar bisa sampai di SMA Starlight. Salah satunya Rin. Berjarak sekitar 2 kilometer untuk sampai ke sekolahnya.


Setiap hari semenjak Raka tahu Rin menyukai rainbow cake, maka laki-laki itu tak pernah absen berangkat pagi dan menyiapkan sarapan di meja Rin. Walau setiap hari juga ditolak, dan berakhir dia sendiri yang memakannya, bukan masalah bagi Raka.


Menunggu sampai gadis itu lewat, karena Raka tak tahu pasti Rin itu berangkatnya jam berapa, dan lagi ia juga tidak tahu rumah gadis itu di mana. Lalu ketika Rin sudah melewati jalan Baboyara, barulah Raka menjalankan motornya kembali, dan melewati jalan tembusan dengan kecepatan penuh agar tidak keduluan Rin sampai di kelas.


Jalan lain yang hanya anggota Deverald saja yang tahu. Karena mereka lah yang membuatnya sebagai jalan untuk menyergap, menyerang, dan mengekang musuh. Ide ini tercetus dari otak cerdas Alden. Darimana Raka tahu jika itu mobil Rin? Simpel, laki-laki itu hapal plat nomornya.


Raka bersiul sambil memainkan ponselnya. Pagi ini Raka tidak membawakan sarapan dengan menu seperti hari biasanya. Alam bawah sadar laki-laki itu seakan berkata untuk membawakan sarapan lain. Karena bisa saja sesuatu pernah terjadi pada Rin, sehingga gadis itu enggan memakan makanan favoritnya di pagi hari. Buktinya Raka selalu melihat Rin memakai kue warna-warni itu ketika siang hari.

__ADS_1


Raka menyenderkan tubuhnya ke dinding sambil memerhatikan jalan di depannya. Semilir angin sepoi-sepoi menyambut permukaan kulit Raka membuatnya memejamkan mata merasakan dinginnya udara pagi hari.


Raka tidak menaruh rasa sedikit pun pada Rin. Semua yang dia lakukan ini, sebatas menarik perhatian gadis itu agar jatuh dalam pesonanya, lalu mengungkap rahasia besar yang masih menjadi misteri sampai sekarang sejak setengah tahun lalu.


Raka hanya ingin maksimal dalam menjalankan tugasnya. Tidak lebih.


...*****...


Seorang laki-laki bermanik hijau melesat dengan kecepatan kilat menyusuri koridor kelas 11. Langkahnya terhenti di kelas paling ujung dekat tangga, 11 IPA-1. Membuka pintu dan merapikan meja paling belakang. Lalu meletakkan sarapan pagi ini untuk seseorang di sana.


Laki-laki itu kemudian keluar, tak lupa menatap manik seorang gadis yang duduk di sebelah orang yang ia siapkan sarapan. Mengerti arti tatapan itu, si gadis mengangguk. Selesai dengan urusannya, ia bergegas menaiki anak tangga, menunggu seorang gadis masuk dari balik dinding, di anak tangga kelima.


...*****...


Rin mengernyit samar ketika melihat di atas mejanya tersaji kue sus dan segelas susu rasa strawberry. Gadis itu mendudukkan diri dengan pandangan penuh tanya. Memerhatikan dengan seksama bungkusan mika berukuran kecil di hadapannya yang berisikan dua kue sus.


Rin berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk beberapa kali. Sudah tahu orang yang menyiapkannya sarapan.


Siapa lagi kalau bukan seorang laki-laki yang memiliki inisial nama depan R, dengan huruf terakhir namanya A. Tentu huruf K dan A melengkapi nama laki-laki tersebut.


Iyalah. Orang gelas kacanya sama seperti yang kemarin-kemarin. Terdapat tulisan rait huruf A besar di bagian tengah depan gelas tersebut.


Pengusaha gelas?


Rin menahan tawa. Gadis itu kemudian menggeleng pelan. Raka pasti bukan dari keluarga sembarangan. Gelas saja punya hak paten. Pfft.


Berhubung Rin tidak sarapan di rumah—selalu, sih, dan sekarang yang tersaji di mejanya bukan kue warna-warni, gadis itu akan menerima sarapan dari Raka.


Lumayan lah ya.


Tidak apa kan mencoba sekali makanan yang diberikan Raka?


Rin mulai membuka bungkus mika berukuran kecil berisikan kue sus pemberian Raka. Saat menggigitnya, lumeran vla vanila yang menyentuh lidah membuat rasa lapar di perutnya makin menjadi.


Rin meraih susu kotak dan meminumnya dalam diam. Jujur saja, sudah lama sekali ia tidak pernah sarapan. Memerhatikan sekeliling, yang ternyata sudah mulai ramai siswa-siswi memasuki kelasnya. Rin menoleh pada Audey yang menatapnya tidak percaya.


"Enak ya Rin? Tumben di makan hehe," ucapnya kikuk.


"Ya."


"Terus kemaren-kemaren kenapa enggak? Padahal kan lo suka aja tuh makan tiap istirahat. Kenapa gak punya kak Raka aja, kenapa harus beli di kantin?"


Rin tersenyum tipis.

__ADS_1


Gue mau jaga hati, dan rainbow cake cukup dia aja yang ngasih. Gue pengen sejarah warna-warni di kehidupan gue, tercipta karena dia ... bukan orang lain.


Walau gak bisa dipungkiri, warna kelabu juga mencetak sejarah dan mengambil bagian di hidup aku.


__ADS_2